Petang hari, di penghujung September, angin musim hujan mulai mengiring Kota Bertuah. Udara terasa sedikit lembap. Sesekali deru angin menyenggol palang rambu pemberhentian bus hingga membuatnya seolah berayun mendayu. Palang itu terlihat semenyedihkan halte yang bertengger setia di sampingnya -- tak berpenghuni selain semilir dan deru angin yang sesekali menghampiri. Selang lalulnya beberapa kendaraan, sebuah bus biru merapat. Berpasang-pasang kaki menapaki halte, mengantar kepala-kepala memenuhi halte sempit, melepasnya dari kungkungan sepi. Di antara barisan kepala itu, Ru menyelinap keluar halte. Berjalan tergesa menyeberangi trotoar. Menyusuri dua blok pergedungan, kemudian memasuki salah satunya.