Oleh: S. N. Aisyah
Siang ini amat panas. Sinar matahari jatuh tepat di wajahku, membuatku sesekali harus mengerjapkan mata. Udara gersang seperti menguar dari hamparan tanah liat kuning. Keringat mengalir di dahiku. Membosankan. Tidak ada hal yang dapat kulihat selain hamparan tanah yang sudah teruk dikeruk. Bekas kerukan tanah itu botak, tak seperti hamparan tanah di kejauhan yang tampak hijau, disesaki pepohonan. Kukira hanya masalah waktu saja tanah hijau itu akan bernasib sama, digunduli dan menjadi gersang.