Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Poem: Dua Malam

Oleh: S. N. Aisyah  Tiap kali kutatap langit  Dedaunan seperti mendayu Ditiup angin yang syahdu Riuh di kejuahan memudar Mewujud senyap Ketenangan yang tak dapat Kubeli di langit-langit mana saja Lama sudah aku berbaring Di puing-puing bawah tanah Kamar pengap tempat mimpi Jadi bangkai dan belulang Berulang,  Menyebar momok dan aroma busuk  Mengaduk perut, memuakkan  Mungkin saja kematian-kematian Harapan hanyalah pelipur lara Yang kerap diputar ulang pada gawai; Sebuah pelarian dan pengkhianatan kecil Dari raksasa yang menyuruk di bawah kolong-kolong yang ditemuinya; Anak dari badai es dalam dada dan kobaran api di kepala Siap menebas dan membakar  belukar dan rambat "si dingin"  Memecah cermin jadi beribu ingin Telah lama aku berbaring  Di ranjang reot yang tak dapat menjamu kantuk Melahirkan rutuk yang selalu kukutuk Ya. Aku mengutukmu, rutuk. Menyiram tahi dengan air seni.  "Kerja tak guna," begitulah kata guruku.  Kesia-siaan telah ...

Postingan Terbaru

sekilas racauan

Homepage--homesick-home

Thought: Ini Bukan Jumat Tetapi Tak Mengapa

Apa dan Mengapa

Ya, Ahjuma!

Poem: Pulang

Poem: Kali Ini Sumatra

Book: Kekuasaan dan Keadilan dalam Tangis Rembulan di Hutan Berkabut