Puisi
Igau Pujangga
: R, padamu jua sajakku berlabuh
(oleh: S. N. Aisyah)
Kau mendongak ke langit paling pekat
--Legam, serupa kopi nan kauteguk sehari-hari—
berjalan menuju kawah rawa
tempat segala buaya menanti mangsa
kunang-kunang terbang
jalinan waktu minta dikenang-kenang
lewati saban detik, titi papan bederik
Cahaya matahari jatuh di gulungan awan
Memberi kelam pada bumi yang sawan
Malam-malam jelma makam
Kawan-kawan adalah amam
Di naung kabut dini dan asap kalbu,
Kau dan aku duduk: kusesal impi, kauusap bahu
Berkilah mengutuk nasib abu-abu
Memilih buku-buku, rambu-rambu, dan kubu-kubu semu
Mencari tanya yang tak tentu, melempar jawab nan tak perlu
Kerap, saat fajar, suara-suara dalam kepala kita rekah;
Mencari jawab, usir amarah:
Adakah menara yang lebih rapuh dari raga
berumah jaring laba-laba?
akankah kita melangkah meski kopi tak lagi dapat kaunikmati?
Akankah kebebasan kita rangkul saat mengalah?
Kepada siapa kita ‘kan berserah?
Mahato, 25 Juli 2022
Komentar
Posting Komentar