Sabtu, 11 April 2026
Poem: Dua Malam
Selasa, 23 Desember 2025
Poem: Pulang
Senin, 01 Desember 2025
Poem: Kali Ini Sumatra
Senin, 24 November 2025
Bila esok
Bila esok hari, di kota ini turun hujan lagi, barangkali aku akan tetap tersenyum. Bukan karena bahagia sudah bersemayam kukuh dalam hidup. Aku hanya sekadar mensyukurinya. Hujan dengan segala kebaikan yang telah dibawakannya. Kasih sayang Tuhan yang melekat dalam setiap partikelnya. Suatu keindahan di dalam muram yang berdiam. Bila esok hari di kota ini turun hujan, aku mungkin juga akan mengingatnya. Bahkan bila hujan sudah pergi meninggalkan bumi. Kebaikannya tetap mengalir di setiap permukaan dan meresap ke jantung kehidupan mana saja. Bila esok hujan turun atau tidak, katakan, bagaimana mungkin aku tidak akan memikirkannya?
Senin, 24 November 2025
Selasa, 28 Oktober 2025
Poem: Sumpah Tanah Surga
Selasa, 14 Oktober 2025
Poem: Usang
Oleh: S. N. Aisyah
Malam ini
Jari-jariku kembali beku
tinta darah
pekat, lengket, mengental
mengikat erat, menggumpal
di ujung pena
Aku bermenung
melayat kata
diam
diliput kabung
dolly usang memaku tapak
di pinggir makam
dalam liang 10 kaki
ikan-ikan mengambang
bermata merah, kembung, dan mati
bau busuk menguar,
aroma yang amat kukenal
dari lubuk kegelapan
yang tiap malam merayap
menuju dipan
Oh, Ibu! Celakahlah anakmu!
otaknya telah ditanak
lebur, hancur, bubur
kacau, tak lagi dapat menjangkau
kecuali racau-meracau
sumpah serapah telah lama jadi rumah
beranak cucu sajak-sajak
ragu
kaku
palsu
dari
hati
yang
batu
Selasa, 14 Oktober 2025
05. 44
Rabu, 01 Oktober 2025
Poem: Katakan Saja
Rabu, 17 September 2025
Poem: Bayang
Oleh: S. N. Aisyah
Dalam kegelapan
Angin berhembus
nyalakan gemertak dari dahan-dahan
yang digerus musim panas,
tanah-tanah
di lintasan itu merekah sudah
setiap retaknya antarkan sebuah ingatan:
sol sepatu bertambah inchi
berdempul tanah kuning,
malam sebelum pendakian ke sekolah,
hujan bertandang
badai air dan udara,
gelegar petir,
juga sambaran kilat di atas pasir putih
menyatu dalam bingkai jendela
biru kelabu
kadang kala bayang-bayang itu datang
samar-samar
amat samar
semakin samar
hingga aku tak lagi tahu
arti secarik kenangan
yang datang seperti hantu itu
ranting-ranting bergemeretak
daun-daun mati jatuh
berderai
pulang pada
kehampaan malam
yang tak kunjung usai
Kamis, 04 September 2025
Poem: Ternyata
Oleh: S. N. Aisyah
Kemarin aku lihat
seekor tikus
lucu
kami bernyanyi tikus makan sabun
Kini aku paham kenapa
kasus korupsi tak pernah bersih
Selasa, 19 Agustus 2025
Poem: Nyanyian Alpa
Oleh: S. N. Aisyah
Ibu menyulam lagu kebangsaan pada borci
Saban senin, dilantunkan satu stanza
Indonesia Raya dalam suka-duka
Akankah cinta nan ruai
Mampu menopang tanah pusaka?
Ikrar telah digaungkan:
Di sanalah Aku Berdiri, Jadi Pandu Ibuku,
Benarkah demikian?
sedang kitab pandu semakin usang
Berdebu dan bermiang
rantai tak lagi menambatkan kapal
Ia mengungkung kaki-kaki dan tangan-tangan kurus, busung kering, dan kacung-kacung bersaku robek
Yang kerap mengantri di kantor-kantor
Dengan alas kaki lusuh,
Berharap segera diurus
Kemarin, pohon beringin dikencingi pangeran-pangeran dan abdi buncit
Yang menyaru, berseru-seru
"Bersatu! Bersatu!"
Sedang kian lama, meja jamuan
Kian digeser ke tungku
Jadi kayu bakar, menjelma abu
Banteng-Banteng mengamuk
Seruduk ladang, perkampungan, sungai, lautan, gunung,
sekolah, pasar, dapur, puskesmas
Juga buku undang-undang
Padi dan kapas
Sudah ranggas
Kemarau berkepanjangan
Hutan-hutan mulai gundul
Terserang kanker pembanguna mangkrak
Atau amplop-amplop yang tak dapat dielak
80 tahun Indonesia merdeka,
lara Ibu abid,
putra-putri belajar durhaka
Masih sucikah ia,
Saat meja hijau hanya sekadar
tempat bertandang dan berdagang?
Putra-putri adu galah, menjengkal ibu--
tinggalkannya, dirundung susah-payah
Air mata Ibu tumpah
Dalam diam
Ia bermunajat
bisikkan stanza dua dan tiga
Yang kerap terlupa
Di bawah naung bintang
Suara ibu menggema
Bergetar tercekat serak,
berurai airmata, ibu
Menyanyi syahdu:
Suburlah Tanahnya, Suburlah Jiwanya, Bangsanya, Rakyatnya, Semuanya.
Sadarlah Hatinya, Sadarlah Budinya, Untuk Indonesia Raya.
S’lamatlah Rakyatnya, Slamatlah Putranya, Pulaunya, Lautnya, Semuanya.
Majulah Negrinya, Majulah Pandunya, Untuk Indonesia Raya,
17 Agustus 2025
Rabu, 06 Agustus 2025
Poem: Kapas yang Tersisa
Senin, 21 Juli 2025
Poem: Untuk Tuan dan Hujan (Jika saja sajak ini dapat kuterjemahkan)
Oleh: S. N. Aisyah
Tuan, ini kali ketiga kita bersua
Kulihat lindu di matamu
Kau ulas senyum di bibirmu
Tuan, tahukah engkau?
Embusan angin mengelus pipiku perlahan
Berulang kali, hendak menyudahi air mataku
Tak tahu ia, sebab bekuku, dingin nan tak kunjung usai
Tuan, tahukah engkau?
Di sela-sela hujan yang menghunjam
Gagak berteduh dengan sayap basah
Daun trembesi riang tak kepalang
Bangku-bangku taman jilah kembali
Orang-orang bernostalgia, pun menanti bianglala
Sedang aku, duduk berdiam diri
Memintal-mintal mantra dalam sepi
Menjampi rasa dalam sunyi
Tuan, di dekapan hujan nan merajam
Kukatakan sekali lagi,
Perkara hatiku, biarlah ia bergeming
Perkara hatimu, biarkan ia berpaling
Senin, 07 Juli 2025
Poem: Anjing
Oleh: S. N. Aisyah
Keterlaluan!
lagi-lagi anjing menyalak
garang,
menggonggong,
memecah malam yang sunyi
memaki tiap kali
mataku terpejam
Dasar!
saban siang, kerjanya hanya tidur saja!
terpekur
di lekuk-lekuk otak
mendengkur
dalam kotak-kotak
Apa maunya?!
Kini pagi jadi malam
siang jadi petang
dan malam tempat kami bertandang
07 Juli 2025, 05.05 WIB
Rabu, 02 Juli 2025
Poem: Pagi
oleh: S. N. Aisyah
Angin
Belai kepala
Usir kantuk dan rutuk
Matahari
Menyundul langit
Bikin mata menyeringit
Kurentang lengan
Berkawan dengan angan
Meski barang sebentar
Menghadap diri
dengan sabar
June, 2025
Selasa, 17 Juni 2025
Poem: Labirin
Rabu, 11 Juni 2025
Poem: Merpati Putih Juni (Kepada Nona N.S.)
Selasa, 03 Juni 2025
Poem: Dukhovny Bliznets Fyodora
Selasa, 20 Mei 2025
Poems: Rumah Duka
oleh: S. N. Aisyah
Lalu harus ke manakah duka akan dibawa?
apakah pada sungai yang tak lagi mengalun
tak lagi menerjang bebatuan
dengan sapaan syahdu?
apakah pada langit yang selalu muram
acap kali lupa undang mentari,
sibuk berkabung dengan awan hitam?
apakah pada lautan yang tak lagi
mengirim ombak ke tepian
sebab angin enggan singgah barang sebentar?
Ke manakah duka harus bersemayam
jika tidak pada makam
yang telah kusediakan?
Negeri Bertuah, 18 Mei 2025
Rabu, 19 Februari 2025
Puisi
Igau Pujangga
: R, padamu jua sajakku berlabuh
(oleh: S. N. Aisyah)
Kau mendongak ke langit paling pekat
--Legam, serupa kopi nan kauteguk sehari-hari—
berjalan menuju kawah rawa
tempat segala buaya menanti mangsa
kunang-kunang terbang
jalinan waktu minta dikenang-kenang
lewati saban detik, titi papan bederik
Cahaya matahari jatuh di gulungan awan
Memberi kelam pada bumi yang sawan
Malam-malam jelma makam
Kawan-kawan adalah amam
Di naung kabut dini dan asap kalbu,
Kau dan aku duduk: kusesal impi, kauusap bahu
Berkilah mengutuk nasib abu-abu
Memilih buku-buku, rambu-rambu, dan kubu-kubu semu
Mencari tanya yang tak tentu, melempar jawab nan tak perlu
Kerap, saat fajar, suara-suara dalam kepala kita rekah;
Mencari jawab, usir amarah:
Adakah menara yang lebih rapuh dari raga
berumah jaring laba-laba?
akankah kita melangkah meski kopi tak lagi dapat kaunikmati?
Akankah kebebasan kita rangkul saat mengalah?
Kepada siapa kita ‘kan berserah?
Mahato, 25 Juli 2022
Senin, 10 Februari 2025
Poems: Percakapan Hujan
Malam ini, kudengar percakapan
hujan dan genteng
Begitu riuh dan langgeng
Berceloteh riang
Mengisahkan bulan,
Yang tiap malam berputar,
kadang temaram, kadang benderang,
kadang ia padam.
Juga tentang pohon,
Kendati diterpa badai dan geledek
Teguh mengakar, tak merengek.
Serta tanah, tak tahu lelah
Biarpun tinggi, tak ‘kan lebih
Dari telapak kaki
Malam ini,
kudengar pula
Percakapan dalam kepala
Memaki tiap muram, keluh,
pun gerutu
Hati dan benakku
Tak henti berseteru
merajam kalbu
buat saraf beku
Di balik tempurung kepala
Gemuruh angin mengoyak plafon,
dingin hujan jatuh berderu
hunjam hening
di wajahku
Runung, 10 Februari 2025
01: 07 A.M.
Mental Health
Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpus...
-
Mungkin hal yang paling berat tetapi paling meringkankan adalah memaafkan. Kata sederhana yang rumit. Perlu kebesaran hati dan lapang dada u...
-
Oleh: S. N. Aisyah Kau tahu seberapa bodoh manusia? Ia hanya akan mendengar apa yang ingin ia dengar. Ia hanya akan melihat apa ...
-
5 Rekomendasi Buku Nonfiksi Untuk meningkatkan Kualitas Hidup sumber foto Januari hampir berakhir, nih. Semangat memulai hidup baru di a...
-
sumber gambar Identitas Buku Judul : Atomic Habits Penulis : James Clear Penerjemah : Alex Tri K...