Tampilkan postingan dengan label Poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poem. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 April 2026

Poem: Dua Malam

Oleh: S. N. Aisyah 

Tiap kali kutatap langit 
Dedaunan seperti mendayu
Ditiup angin yang syahdu
Riuh di kejuahan memudar
Mewujud senyap
Ketenangan yang tak dapat
Kubeli di langit-langit mana saja

Lama sudah aku berbaring
Di puing-puing bawah tanah
Kamar pengap tempat mimpi
Jadi bangkai dan belulang
Berulang, 
Menyebar momok dan aroma busuk 
Mengaduk perut, memuakkan 

Mungkin saja kematian-kematian
Harapan hanyalah pelipur lara
Yang kerap diputar ulang pada gawai;
Sebuah pelarian dan pengkhianatan kecil
Dari raksasa yang menyuruk di bawah kolong-kolong yang ditemuinya;
Anak dari badai es dalam dada dan kobaran api di kepala
Siap menebas dan membakar 
belukar dan rambat "si dingin" 
Memecah cermin jadi beribu ingin

Telah lama aku berbaring 
Di ranjang reot yang tak dapat menjamu kantuk
Melahirkan rutuk yang selalu kukutuk
Ya. Aku mengutukmu, rutuk.
Menyiram tahi dengan air seni. 
"Kerja tak guna," begitulah kata guruku. 
Kesia-siaan telah susupi materi putih. 
Otakku jadi kotak-kotak
Serupa permainan balok di 
taman kanak-kanak;
Selalu saja kehilangan tabung
Memicu tangis yang dibendung

Kata Ibuku ...
Ah, sial. Aku sudah lupa apa kata ibu
Sedang Ayah sudah lama menyimpan suara
Mungkin itulah sebabnya segala bunyi
menjelma gaduh saja
Buah dari kesopanan anak durhaka

Lagi-lagi aku bertanya,
Jika saja kutengadahkan kepala,
Pantaskah kiranya kuhaturkan asa
berkawankan angkasa,
Menyapa bintang,
Biarpun nanti hanya dibalas sunyi--
Dan setangkai
mawar putih di atas peti? 


Kota Bertuah, 10 April 2026





















Selasa, 23 Desember 2025

Poem: Pulang

Oleh: S. N. Aisyah 

Jika bisa, nanti kita pulang
Kembali dalam rumah hangat
Dengan bolham kuning yang menyengat
Izinkan kembali kususuri 
Rambut abu yang kian menipis itu 

Salahkan saja aku yang tak pernah mengaku padamu
Juga menutup telpon terburu, 
padahal kau sedang rindu

Jika bisa, nanti kita pulang
Biar kuhidang kembali kudapan terakhir itu
Lebih matang, di rumah yang tak kurang tabung gas atau kayu bakar
Hingga tubuhmu tak lagi dingin, sebab mengunyah kenyang

Jika saja aku pulang,
Akankah kau menyambutku dengan senang
Ataukah air mataku yang akan berlinang? 

Selasa, 23 Desember 2025

Senin, 01 Desember 2025

Poem: Kali Ini Sumatra

Amboi, Sayang
Terlalu lama kita 
Dinina bobo lagu-lagu
para insan belagu

Di sepanjang Khatulistiwa 
Hutan, laut, tanah ,udara
Tempat dapur
Tempat tuah
Tempat marwah
Dibabat hingga punah

Tangan-tangan besi
Mengeruk bumi
Meneguk air mata
Jiwa-jiwa yang mesti dijaga

Amboi, Sayang
Langit bergemuruh 
Laut megaduh
Udara mengeruh
Angin bertiup rusuh

Hujan yang biasa menyapa 
Diselingi tawa dan canda
Kini berubah menjadi bah
Tanah tak dapat lagi menadah
Rumah-rumah luluh lantah 
Pepohonan larut tak tersanggah
Jiwa-jiwa direnggut jadi arwah
Yang ditinggal rapuh dalam derita
Tak dapat ditawar kata merdeka
Sedang pria-pria dan wanita-wanita 
Di selubung kuasa duduk 
Kepalanya menengadah
Tak hendak tepati sumpah
Mengelak telah teken 
tinta hulu derita
Tunjuk alam sebagai
Kawan yang berkhianat 
Tuduh Tuhan sebagai pembawa takdir
Yang tak bersahabat

Amboi, Sayang
Terlalu lama kita 
Dinina bobo lagu-lagu
para insan belagu
muak sudah kita
Tidur ayam dalam
Kandang dengan dendang
Kebohongan 

Sumatra, 01 Desember 2025





Senin, 24 November 2025

Bila esok

Bila esok hari, di kota ini turun hujan lagi, barangkali aku akan tetap tersenyum. Bukan karena bahagia sudah bersemayam kukuh dalam hidup. Aku hanya sekadar mensyukurinya. Hujan dengan segala kebaikan yang telah dibawakannya. Kasih sayang Tuhan yang melekat dalam setiap partikelnya. Suatu keindahan di dalam muram yang berdiam. Bila esok hari di kota ini turun hujan, aku mungkin juga akan mengingatnya. Bahkan bila hujan sudah pergi meninggalkan bumi. Kebaikannya tetap mengalir di setiap permukaan dan meresap ke jantung kehidupan mana saja. Bila esok hujan turun atau tidak, katakan, bagaimana mungkin aku tidak akan memikirkannya?

Senin, 24 November 2025

Selasa, 28 Oktober 2025

Poem: Sumpah Tanah Surga

Oleh: S. N. Aisyah

“Orang bilang tanah kami tanah surga”
Laut bergelombang, tempat samudera bertemu sapa
Ikan-ikan beranak pinak tiada tara
Rumput laut dan batu karang 
saksi syair-syair berenang
Namun di siang benderang
menjala ikan, kami dikekang

“Orang bilang tanah kami tanah surga”
Tanah gembur, tempat biji dan umbi menari
Rempah-rempah bagai remah-remah
buah-buah ranum walau kami lelap dalam naum

Amboi! 
saban mahkota pindah kepala
Cangkul kami tumpul, saku kami mesti didempul

"Orang bilang tanah kami tanah surga" 
Tua-muda, tinggi-pendek, gelap-terang, utara-selatan, barat-timur, gepuk-kurus
Semua kami punya urus

Duhai! 
di meja hijau kami mendengus

Kami muda-mudi tanah surga 
Kian lama kian lelap dalam tanya
Adakah hati kami berkata:

Kami putra putri tanah surga mengaku berkalang tanah 
Sedikit lupa marwah,
Kami putra –putri tanah surga mengaku berlaga, saling cakar hendak kuasa rimba
Kami putra-putri tanah surga mengaku berbahasa uang di bawah meja


Konon Tanah Surga, 26 Oktober 2023

Selasa, 14 Oktober 2025

Poem: Usang

 Oleh: S. N. Aisyah


Malam ini 

Jari-jariku kembali beku

tinta darah

pekat, lengket, mengental

mengikat erat, menggumpal 

di ujung pena


Aku bermenung

melayat kata

diam 

diliput kabung


dolly usang memaku tapak

di pinggir makam


dalam liang 10 kaki

ikan-ikan mengambang 

bermata merah, kembung, dan mati


bau busuk menguar,

aroma yang amat kukenal

dari lubuk kegelapan

yang tiap malam merayap

menuju dipan


Oh, Ibu! Celakahlah anakmu!

otaknya telah ditanak

lebur, hancur, bubur

kacau, tak lagi dapat menjangkau

kecuali racau-meracau

sumpah serapah telah lama jadi rumah

beranak cucu sajak-sajak

ragu

kaku 

palsu 

dari 

hati

yang

batu


Selasa, 14 Oktober 2025

05. 44




Rabu, 01 Oktober 2025

Poem: Katakan Saja


Oleh: S. N. Aisyah

Katakan saja pada gundukan 
Tanah tempat kau bersemayam--
6 Kaki dari pijakan manusia, 
Tentang luka-luka yang kau terima

Di jembatan penyeberangan lapuk
Di Jalan Jenderal Sudirman 
Bukankah dering ponsel itu begitu panjang,
Hanya untuk sepatah
Kalimat yang tak cukup menaut sayatan nan kian marak kau emban?

Aku di sini tak lagi dapat menelan asam atau asin
Tak dapat mencicip pedas dan manis
Hanya pahit berduri
Tidak. Bukan semacam simalakama
Bukan pula rebung atau ilalang
Yang siap sedia:
Menyiang atau disiang

Semua tertuang dalam periuk
Jadi tempat semut bersarang 
Juga jentik-jentik,
Mulai menggelitik,
merangsek dalam tubuhmu

Maka, katakan pada cacing-cacing itu
Tentang kata-kata yang disematkan 
Di bahumu

Tentang dosa-dosa 
Nan tak mungkin kau ceritakan
Pada napas-napas
Yang belum berpulang 

Kota Bertuah, 25 Agustus 2025

Rabu, 17 September 2025

Poem: Bayang

Oleh: S. N. Aisyah 


Dalam kegelapan

Angin berhembus

nyalakan gemertak dari dahan-dahan

yang digerus musim panas,


tanah-tanah 

di lintasan itu merekah sudah

setiap retaknya antarkan sebuah ingatan:


sol sepatu bertambah inchi

berdempul tanah kuning,

malam sebelum pendakian ke sekolah,

hujan bertandang 


badai air dan udara, 

gelegar petir, 

juga sambaran kilat di atas pasir putih

menyatu dalam bingkai jendela

biru kelabu


kadang kala bayang-bayang itu datang

samar-samar 

amat samar

semakin samar

hingga aku tak lagi tahu

arti secarik kenangan 

yang datang seperti hantu itu


ranting-ranting bergemeretak

daun-daun mati jatuh

berderai

pulang pada 

kehampaan malam 

yang tak kunjung usai




Kamis, 04 September 2025

Poem: Ternyata

Oleh: S. N. Aisyah

Kemarin aku lihat

seekor tikus

lucu

kami bernyanyi tikus makan sabun

Kini aku paham kenapa 

kasus korupsi tak pernah bersih


Selasa, 19 Agustus 2025

Poem: Nyanyian Alpa

Oleh: S. N. Aisyah


Ibu menyulam lagu kebangsaan pada borci

Saban senin, dilantunkan satu stanza

Indonesia Raya dalam suka-duka

Akankah cinta nan ruai 

Mampu menopang  tanah pusaka?


Ikrar telah digaungkan: 


Di sanalah Aku Berdiri, Jadi Pandu Ibuku,


Benarkah demikian? 

sedang kitab pandu semakin usang 

Berdebu dan bermiang


rantai tak lagi menambatkan kapal 

Ia mengungkung kaki-kaki dan tangan-tangan kurus, busung kering, dan kacung-kacung bersaku robek

Yang kerap mengantri di kantor-kantor 

Dengan alas kaki lusuh, 

Berharap segera diurus


Kemarin, pohon beringin dikencingi pangeran-pangeran dan abdi buncit

Yang menyaru, berseru-seru 

"Bersatu! Bersatu!"

Sedang kian lama, meja jamuan 

Kian digeser ke tungku 

Jadi kayu bakar, menjelma abu


Banteng-Banteng mengamuk 

Seruduk ladang, perkampungan, sungai, lautan, gunung,

sekolah, pasar, dapur, puskesmas 

Juga buku undang-undang


Padi dan kapas

Sudah ranggas

Kemarau berkepanjangan 

Hutan-hutan mulai gundul

Terserang kanker pembanguna mangkrak 

Atau amplop-amplop yang tak dapat dielak


80 tahun Indonesia merdeka, 

lara Ibu abid, 

putra-putri belajar durhaka


Masih sucikah ia,

Saat meja hijau hanya sekadar

tempat bertandang dan berdagang?


Putra-putri adu galah, menjengkal ibu--

tinggalkannya, dirundung susah-payah


Air mata Ibu tumpah

Dalam diam 

Ia bermunajat

bisikkan stanza dua dan tiga

Yang kerap terlupa 



Di bawah naung bintang

Suara ibu menggema 

Bergetar tercekat serak, 

berurai airmata, ibu

Menyanyi syahdu:


Suburlah Tanahnya, Suburlah Jiwanya, Bangsanya, Rakyatnya, Semuanya.


Sadarlah Hatinya, Sadarlah Budinya, Untuk Indonesia Raya.


S’lamatlah Rakyatnya, Slamatlah Putranya, Pulaunya, Lautnya, Semuanya.


Majulah Negrinya, Majulah Pandunya, Untuk Indonesia Raya,



17 Agustus 2025

Rabu, 06 Agustus 2025

Poem: Kapas yang Tersisa

Lalu, 
Agustus tiba
Sisa-sisa kapas
Telah lepas dari pohonnya
Menari bersama seorang bocah
"Salju! Salju!"
Seru si bocah 
Gantikan duka

06 Agustus 2025

Senin, 21 Juli 2025

Poem: Untuk Tuan dan Hujan (Jika saja sajak ini dapat kuterjemahkan)

Oleh: S. N. Aisyah


Tuan, ini kali ketiga kita bersua
Kulihat lindu di matamu
Kau ulas senyum di bibirmu

Tuan, tahukah engkau? 
Embusan angin mengelus pipiku perlahan
Berulang kali, hendak menyudahi air mataku
Tak tahu ia, sebab bekuku, dingin nan tak kunjung usai

Tuan, tahukah engkau? 
Di sela-sela hujan yang menghunjam
Gagak berteduh dengan sayap basah
Daun trembesi riang tak kepalang
Bangku-bangku taman jilah kembali
Orang-orang bernostalgia, pun menanti bianglala

Sedang aku, duduk berdiam diri
Memintal-mintal mantra dalam sepi
Menjampi rasa dalam sunyi

Tuan, di dekapan hujan nan merajam
Kukatakan sekali lagi, 
Perkara hatiku, biarlah ia bergeming
Perkara hatimu, biarkan ia berpaling

Senin, 07 Juli 2025

Poem: Anjing

Oleh: S. N. Aisyah


Keterlaluan!

lagi-lagi anjing menyalak

garang,

menggonggong,

memecah malam yang sunyi

memaki tiap kali 

mataku terpejam


Dasar!

saban siang, kerjanya hanya tidur saja!

terpekur

di lekuk-lekuk otak

mendengkur

dalam kotak-kotak


Apa maunya?!

Kini pagi jadi malam

siang jadi petang

dan malam tempat kami bertandang


07 Juli 2025, 05.05 WIB



Rabu, 02 Juli 2025

Poem: Pagi

oleh: S. N. Aisyah

Angin

Belai kepala

Usir kantuk dan rutuk


Matahari

Menyundul langit

Bikin mata menyeringit


Kurentang lengan

Berkawan dengan angan


Meski barang sebentar 

Menghadap diri 

dengan sabar


June, 2025

Selasa, 17 Juni 2025

Poem: Labirin

Oleh: S. N. Aisyah

Tuhan,
Apa yang telah kami lupakan?

Rasanya sungguh janggal,

Saat saudara-saudara kami
Dilanda derita hebat
Sedang kami masih bernapas
Di dunia yang berkelebat
Hanya singgah sebentar di layar
Melihat hidup mereka yang kelat

Memang,
Tenggorokan kami tercekat,
Mata berlinang, tangan gemetar,
Hati memanas,
dilanda gundah dan amarah
Mengapa nasib mereka
tak kunjung berubah?

Kami pontang-panting 
Usir gusar di dada, cari segala cara
Untuk memanggul barang sedikit 
Beban mereka
Melakukan apa yang kami bisa
'tuk berada di pihaknya
Coba hentikan 
laju rudal sengsara biadab
Yang tak tahu diadab

Tetapi, mengapa kemudian 
Hidup berjalan kembali
Seperti sedia kala?
Seperti tangisan mereka
Tak pernah sampai di daun telinga

Seolah kehidupan membatu,
Bungkam seribu bahasa
Sedang kematian mereka
Tak ditawar dengan sedikit
Saja segala macam perjanjian 
Damai dunia

Rasanya sungguh janggal,

Tangan kami masih saja bergelimang 
Darah dan debu
Dosa-dosa 
hati yang kelabu

Benarkah sudah kami berikan
Usaha terbaik kami, Tuhan?

Apa yang telah kami lewatkan?
Apakah karena sujud kami yang kerap 
Selayang di atas bumi
Tanpa sejenak tuma'ninah ini?

Siapakah yang terselamatkan,
Jiwa-jiwa mereka 
Ataukah 
Jiwa kami yang 
Gersang dan kerontang?


Kota Bertuah, 17 Juni 2025

Rabu, 11 Juni 2025

Poem: Merpati Putih Juni (Kepada Nona N.S.)

Sudah Juni lagi
Bukankah
Masa bergulir kencang
Seperti angin yang tiada henti 
Menerbangkan ujung gamismu? 

Waktu berlalu begitu buru-buru
Baru saja mata mengerjap
Sebelas hari sudah berlari
Tinggalkan kau di garis termuka
Dengan tanya dan terka

Kau paling paham
Ini bukan perlombaan 
Yang mesti kita menangkan

awan-awan 
Yang menanggung hujan-hujan,
Itulah engkau
Yang luruh
Satu per satu
Bukan karena lemah atau kalah

Sebab kau tahu
Jalan mana
Yang harus dipilah
Jalan mana
Yang pada-Nya
Kau berserah

Maka, Nona,
untukmu tahniah 
Biar lilin waktu semakin terbakar
Di hatimu menjulang sabar

Untukmu, tahniah
Semoga di hari lahirmu
Tuhan limpahkan barokah


10 Juni 2025

Selasa, 03 Juni 2025

Poem: Dukhovny Bliznets Fyodora

Oleh: S. N. Aisyah

Hujan turun lagi
Datang dengan angin dan dingin
Padanya, kusimpan segala
tentang kau

Barangkali aku Si Dungu Petrovich
Sinting dalam bayang-bayangmu

Malam-Malam Putih kugantung di awan kelabu
Lalu ia luruh, sepenuhnya, sederas-derasnya
Bawa guruh, kacaukan kepalaku

Kau Si Lembut Hati!
Tariklah pelatuk itu! Di sini, di dahiku!
Berpalinglah bila kau suka,
Jangan ragu!
Sebab aku Kejahatan dan kau Hukumannya

Ini perjudian yang datang bersama hujan
Saat-saat siluetmu memeluk luka
Saat-saat aku bebas dalam penjara
Ini keadilan yang datang bersama hujan
Luapkan segala asa di kawah dada

Ambillah Tuan,
Sebuah Catatan dari Bawah Tanah
Untukmu

"Sialan!
Cinta seperti apa yang dibawa hujan, 
Hingga kusembunyikan kau
di balik nama itu?"


Negeri Bertuah, 01 Juni 2025

Selasa, 20 Mei 2025

Poems: Rumah Duka

oleh: S. N. Aisyah


Lalu harus ke manakah duka akan dibawa?


apakah  pada sungai yang tak lagi mengalun

tak lagi menerjang bebatuan

dengan sapaan syahdu?


apakah pada langit yang selalu muram

acap kali lupa undang mentari, 

sibuk berkabung dengan awan hitam?


apakah pada lautan yang tak lagi 

mengirim ombak ke tepian

sebab angin enggan singgah barang sebentar?


Ke manakah duka harus bersemayam

jika tidak pada makam

yang telah kusediakan?


Negeri Bertuah, 18 Mei 2025




Rabu, 19 Februari 2025

Puisi

 

Igau Pujangga

: R, padamu jua sajakku berlabuh

(oleh: S. N. Aisyah)

Kau mendongak ke langit  paling pekat

--Legam, serupa kopi nan kauteguk sehari-hari—

berjalan menuju kawah rawa

tempat segala buaya menanti mangsa

kunang-kunang terbang

jalinan waktu minta dikenang-kenang

lewati saban detik, titi papan bederik

Cahaya matahari jatuh di gulungan awan

Memberi kelam pada bumi yang sawan

Malam-malam jelma makam

Kawan-kawan adalah amam

Di naung kabut dini dan asap  kalbu,

Kau dan aku duduk: kusesal impi, kauusap bahu

Berkilah mengutuk nasib abu-abu

Memilih buku-buku, rambu-rambu, dan kubu-kubu semu

Mencari tanya yang tak tentu, melempar jawab nan tak perlu

Kerap, saat fajar,  suara-suara dalam kepala kita rekah;

Mencari jawab,  usir amarah:

Adakah menara yang lebih rapuh dari raga

berumah jaring laba-laba?

akankah kita melangkah meski kopi tak lagi dapat kaunikmati?

Akankah kebebasan kita rangkul saat mengalah?

Kepada siapa kita ‘kan berserah?

Mahato, 25 Juli 2022

Senin, 10 Februari 2025

Poems: Percakapan Hujan


Oleh: S. N. Aisyah

Malam ini, kudengar percakapan 

hujan dan genteng 

Begitu riuh dan langgeng

Berceloteh riang

Mengisahkan bulan,

Yang tiap malam berputar, 

kadang temaram, kadang benderang, 

kadang ia padam.

Juga tentang pohon, 

Kendati diterpa badai dan geledek

Teguh mengakar, tak merengek.

Serta tanah, tak tahu lelah

Biarpun tinggi, tak ‘kan lebih

Dari telapak kaki


Malam ini,

kudengar pula

Percakapan dalam kepala

Memaki tiap muram, keluh, 

pun gerutu

Hati dan benakku 

Tak henti berseteru

merajam kalbu

buat saraf beku


Di balik tempurung kepala

Gemuruh angin mengoyak plafon,

dingin hujan jatuh berderu

hunjam hening 

di wajahku


Runung, 10 Februari 2025

01: 07 A.M.

Mental Health

Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpus...