Minggu, 31 Agustus 2025

Cerpen: Batu Tujuh dan Anak Bawang

Oleh: S. N. Aisyah


Lala bersembunyi di balik sebuah drum yang besar. Dari tempatnya bersembunyi, Lala melihat Kak Alfi sedang menyusun batu-batu yang mereka lempar tadi. Lala gelisah, perutnya terasa melilit. Saat kembali melihat Kak Alfi, ternyata Kak Alfi juga melihat Lala. Gawat, Lala ketahuan.

Bagian Dua: Sambutan Pinggir Kota

Oleh: S. N. Aisyah


Siang ini amat panas. Sinar matahari  jatuh tepat di wajahku, membuatku sesekali harus mengerjapkan mata. Udara gersang seperti menguar dari hamparan tanah liat kuning. Keringat mengalir di dahiku. Membosankan. Tidak ada hal yang dapat kulihat selain hamparan tanah yang sudah teruk dikeruk. Bekas kerukan tanah itu botak, tak seperti hamparan tanah di kejauhan yang tampak hijau, disesaki pepohonan. Kukira hanya masalah waktu saja tanah hijau itu akan bernasib sama, digunduli dan menjadi gersang. 

 

Jumat, 29 Agustus 2025

Book: Memandang Hidup dari Mata Ahmad Tohari

Oleh: S. N. Aisyah 

Judul        : Mata yang Enak Dipandang
Penulis     : Ahmad Tohari
Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan   : Kedua
Tahun       : Maret 2015
Tebal        : 216 hlm, 20 cm
ISBN         : 978--602--03--0045--0

Mata adalah jendela jiwa. Konon, dengan dari matanya, kita dapat mengenal dan memahami pribadi atau seseorang. Dari mata kita juga dapat saling mengerti dan saling berempati. Mata seseorang bercerita banyak tentang dirinya sebab mata menyiratkan jiwa manusia. 

Mungkin saja kita dapat mengenal jiwa Ahmad Tohari dengan menatap lekat pandangan terhadap hidup yang telah ia rekam dalam antologi cerpen Mata yang Enak Dipandang ini. Buku ini berisi 15 kumpulan cerpen Ahmad Tohari yang telah terbit di media massa dari rentang tahun 1983 hingga 1997. Judul Antologi ini diambil dari salah satu cerpennya yang terbit dalam harian Kompas pada 29 Desember 1991. 

Thought: Apa Kabar Negeriku?

Sekarang, keadaan negara tak baik-baik saja. Ketidakpuasan terhadap kinerja dan kebijakan-kebijakan pemerintahan dapat di dengar di seluruh penjuru negeri. Kita bersuara bukan tanpa alasan. Sedih sekali melihat daftar merah kelakuan pejabat negara itu yang kian hari kian bertambah. 

Kian hari, kebijakan-kebijakan yang disuarakan kian mencekik rakyat. Penaikan tunjangan pejabat yang tak masuk akal, di sisi lain pajak rakyat terus melambung. Pernyataan-pernyataan yang mereka lontarkan kerap kali tak berpihak pada rakyatnya. 

Para wakil rakyat itu berjoget-joget ria di gedung DPR atau serah terima penghargaan di tempat yang tak dapat terjangkau rakyatnya. Ketika rakyat sedang berdemo minta didengar, mereka tutup telinga. Gila!

Kemarin, 28 Agustus 2025, di tengah riuhnya perjuangan rakyat mencari keadilan, Affan Kurniawan, driver ojek online, berpulang kepada Tuhan. Ia dilindas polisi. Aparatur negara yang mestinya melindungi itu melindas putra bangsa yang tengah membela keadilan. Hati siapa yang tak patah? Pantaskah seorang yang dipercayai untuk melindungi berlaku demikian? 

Adakah jalan keluar dari keadaan ini?
Apa yang dapat kita lakukan jika pemimpin kita berlaku zalim? Kepada siapa kita akan bernaung jika bukan pada Tuhan Yang Maha Adil?

Mungkin, usaha dan suara kita akan mengering di telinga mereka. Tetapi Allah Maha Mendengar. Mungkin inilah saat yang paling tepat untuk memohon pada-Nya. Langitkanlah doa-doa untuk negeri ini. Doa-doa untuk pemimpin-pemimpin serta rakyatnya. Doa-doa untuk tanah air kita. Mari kita lengkapi ikhtiar kita dengan doa yang tak putus. Sebab, Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ia Maha Adil. Akan datang setiap engkau memanggil. Tak satu doa-pun pulang dengan sia-sia. Hal yang paling dekat yang dapat kita lakukan dalam memperjuangkan bangsa--di samping aksi-aksi dari seluruh pejuang bangsa (dulu, kini dan nanti)--adalah berbenah diri sendiri. Sebab, pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Mereka lahir dari kita. Semoga saja dengan berbenah diri, membangun kesadaran diri, berusaha dan--yang paling penting-- berdoa, dengan bantuan Allah, kita dapat mengubah keadaan bangsa ini. Dan, sungguh perjuangan semua pembela kebenaran dan keadilan tak ada yang sia-sia. 

Manusia boleh zalim, tetapi Allah Maha Adil.


Kamis, 28 Agustus 2025

Fiksi Mini: Jam Raksasa

Oleh: S. N. Aisyah


Jarum jam  berdentang. Ya, berdentang. Suaranya menggema di gendang telingaku. Jantungku bedenyut kuat. Seperti digengam erat dalam kepalan tangan yang semakin lama, semakin meremukkannya. Mendorong aliran darah ke tengkuk, terus kedalam tengkorak. Kepalaku sepertinya akan meledak. Setiap garis  tampak berbayang. Aku tak mau mati di sini. 

Opini: Politik Pendidikan dan Pendidikan dalam politik

Mungkin saya bukanlah orang yang tepat untuk bicara tentang pendidikan, tetapi mengenyam belasan tahun dia bangku sekolah mengajarkan saya betapa pentingnya berpikir. Tulisan ini hanyalah untaian pemikiran yang mengendap dalam kepala saya. 

Jumat, 22 Agustus 2025

Thought: Merdeka

Merdeka. Mengapa saya tak pernah benar-benar mengerti apa arti kemerdekaan? Bagi saya, merdeka suatu entitas yang nyaris mistis.  Apakah di dunia ini benar-benar ada kemerdekaan? Bagaimana pun juga, tak seorang manusia pun yang lepas dari jerat, kungkungan atau belenggu. Ketika seseorang berkata merdeka, apakah yang ia maksud dengan merdeka itu? Apakah hidup dengan sesuka hati adalah suatu kemerdekaan? Apakah kebebasan adalah suatu kemerdekaan? Apakah kemerdekaan sekadar terbebas dari penjajahan? Apakah ia sekadar dapat berdiri sendiri? Jika benar demikian, mengapa banyak kemerdekaan itu malah menjerumuskan manusia pada hal yang lebih merusaknya? 

Kamis, 21 Agustus 2025

Fiksi Mini: Belang

Kami tidak banyak bicara. Perjalanan panjang selama 8 jam telah menguras tenaga. Maka, begitu tiba di rumah Nenek pukul 8 malam, kami bersegera membersihkan diri, makan, dan bersiap berangkat tidur. Namun, adikku yang baru berusia 4 tahun tiba-tiba datang menghampiri. 

Selasa, 19 Agustus 2025

Poem: Nyanyian Alpa

Oleh: S. N. Aisyah


Ibu menyulam lagu kebangsaan pada borci

Saban senin, dilantunkan satu stanza

Indonesia Raya dalam suka-duka

Akankah cinta nan ruai 

Mampu menopang  tanah pusaka?


Ikrar telah digaungkan: 


Di sanalah Aku Berdiri, Jadi Pandu Ibuku,


Benarkah demikian? 

sedang kitab pandu semakin usang 

Berdebu dan bermiang


rantai tak lagi menambatkan kapal 

Ia mengungkung kaki-kaki dan tangan-tangan kurus, busung kering, dan kacung-kacung bersaku robek

Yang kerap mengantri di kantor-kantor 

Dengan alas kaki lusuh, 

Berharap segera diurus


Kemarin, pohon beringin dikencingi pangeran-pangeran dan abdi buncit

Yang menyaru, berseru-seru 

"Bersatu! Bersatu!"

Sedang kian lama, meja jamuan 

Kian digeser ke tungku 

Jadi kayu bakar, menjelma abu


Banteng-Banteng mengamuk 

Seruduk ladang, perkampungan, sungai, lautan, gunung,

sekolah, pasar, dapur, puskesmas 

Juga buku undang-undang


Padi dan kapas

Sudah ranggas

Kemarau berkepanjangan 

Hutan-hutan mulai gundul

Terserang kanker pembanguna mangkrak 

Atau amplop-amplop yang tak dapat dielak


80 tahun Indonesia merdeka, 

lara Ibu abid, 

putra-putri belajar durhaka


Masih sucikah ia,

Saat meja hijau hanya sekadar

tempat bertandang dan berdagang?


Putra-putri adu galah, menjengkal ibu--

tinggalkannya, dirundung susah-payah


Air mata Ibu tumpah

Dalam diam 

Ia bermunajat

bisikkan stanza dua dan tiga

Yang kerap terlupa 



Di bawah naung bintang

Suara ibu menggema 

Bergetar tercekat serak, 

berurai airmata, ibu

Menyanyi syahdu:


Suburlah Tanahnya, Suburlah Jiwanya, Bangsanya, Rakyatnya, Semuanya.


Sadarlah Hatinya, Sadarlah Budinya, Untuk Indonesia Raya.


S’lamatlah Rakyatnya, Slamatlah Putranya, Pulaunya, Lautnya, Semuanya.


Majulah Negrinya, Majulah Pandunya, Untuk Indonesia Raya,



17 Agustus 2025

Sabtu, 16 Agustus 2025

Cerpen: The Tales of The Grand Old Man

 Oleh: S. N. Aisyah


Di nagari Koto Gadang, di tanah Agam, di lindung bukit-bukit yang tinggi, Sutan Mohammad Salim dan Siti Zaenab menerima sebuah anugerah yaitu kelahiran seorang putra. Mungkin saja, keinginan hati terdalam mereka untuk membela kebenaranlah yang membuat mereka menyematkan doa itu dalam nama putranya. Maka, pada hari ke-18 di bulan Oktober 1884, putra mereka lahir dengan menyandang nama Mashudul Haq, Pembela kebenaran.

Jumat, 15 Agustus 2025

Thought: Random Saja

Welcome Back! Jadi, ada hal menarik yang saya temui. Baru saja selesai membaca buku Kalau Tak Untung karya Selasih. Jika dipikir-pikir, rata-rata buku yang saya baca itu penulisnya laki-laki. Dapat dihitung penulis perempuan yang saya baca karyanya. Yah, menimbang sempitnya khazanah membaca saya. Penulis perempuan itu antara lain: Enid Blyton, Carol S. Dweck, J. K. Rowling, Jane Austen, Emily Bronte, Harper Lee, Agatha Christie, Suzanne Collins, Marry Shelley, Senja Rindiani, Daras. Yah. Sejauh ingatan saya, setidaknya, selusin penulis perempuan inilah yang bukunya saya baca from cover to cover. Itu pun tak semua karya mereka. Pernah baca N.H. Dini, hingga sekarang belum tamat buku itu. Sudah bertahun-tahun lamanya. Pernah membaca sangat sedikit dari Mira W, tidak pernah menyelesaikannya. Anehnya, saya belum pernah mencicipi karya Dee Lestari, Ayu Utami, Leila S. Chudori, Ziggy, Asma Nadia, Helvi Tiana, dan banyak penulis lainnya. Oh, tentu saya harus mencobanya. Ya, kenapa tidak? 

Kamis, 14 Agustus 2025

Fiksi Mini: The Ghost Writer

Oleh: S. N. Aisyah


Sudah sepuluh bulan aku berdiam di kos-kosan Bu N. Tak ada yang kukeluhkan dari kos-kosan ini selain perkara kecil yang kadang menyebalkan, yaitu hilangnya barang-barang tertentu saat aku hendak menggunakannya. Pada mulanya, kukira aku yang ceroboh ini mungkin telah salah menaruhnya. Wajar saja, kebiasaan kurang tidur dan makan yang tak karuan membuatku kerap kali berjalan seperti mayat hidup, kehilangan fokus dan  sedikit emosional. Tetangga yang tingal di sampingku kerap mengataiku si gotik. berolok-olok bahwa aku seperti cenayang yang berdiam dalam gua hantu. Hanya karena aku dapat sedikit menerka-nerka kelakuan orang sepertinya.

Rabu, 13 Agustus 2025

Book: Dari Bung Hatta untuk Negeri Tercinta

Oleh: S. N. Aisyah


Jika ditanya tentang buku favorit, maka autobigrafi Moh. Hatta ini adalah salah satunya. Mungkin tak perlu penjelasan panjang lebar mengapa. Bukankah judul dan nama penulisnya saja sudah menjelaskan itu semua? Akan tetapi, kali ini menuliskan review ini bukanlah semata untuk memberikan rekomendasi dan penimbangan yang baik untuk pembaca. Hal itu dapat Anda cari di tempat lain dengan kualitas yang lebih apik tentunya. Kesampingkan tentang self-awarness ini, yang terpenting adalah, saya akan tetap menuliskan mengapa buku ini layak dibaca dari sudut pandang seorang awam: sejarah, teknik menulis, pengalaman hidup, dan buku bacaan seperti saya. Untuk kesenangan dan keperntingan pribadi. Haha. Yeah. That's it!

Sabtu, 09 Agustus 2025

Esai Reflektif: Teko yang Tak Menuangkan Isi

Oleh: S. N. Aisyah


Mungkin, tulisan ini tidak akan berkenaan dengan penulis kawakan. Sebab, saya menuliskannya dari sudut pandang seseorang yang ‘ingin’ menulis. Bukan dari sudut pandang penulis. Untuk kawan-kawan yang juga ‘ingin’ menulis seperti saya, apakah kalian pernah merasakan kebuntuan, macet ide, dan kedangkalan luar biasa saat menulis? Pernahkah kalian bertanya-tanya, ”Mengapa saya tak bisa menulis meskipun sangat ingin menulis?” Tulisan ini saya tujukan kepada diri sendiri dalam upaya mencari jawaban atas kegelisahan terhadap kebuntuan menulis. Setelah merenung sejenak, maka saya menarik kesimpulan bahwa 3 alasan inilah yang menyebabkan tulisan-tulisan dalam laci pikiran tak pernah rampung atau bahkan tak pernah ada sama sekali.

Jumat, 08 Agustus 2025

Thought: Kepikiran

Saya kepikiran tentang teori kepribadian. Ada beberapa teori kepribadian yang pernah saya dengar. Misalnya ada teori Big Five, Human Design, MBTI, Enneagram, Empat Tempramen, Dark Triad, dan mungkin masih banyak yang lainnya. Dari semua teori ini, adakah yang bisa menjamin akurasinya seratus persen? Saya rasa hampir tidak ada. Akan tetapi, menariknya, selalu saja ada kemiripan atau pola-pola tertentu yang membuat teori-teori ini muncul. Keenam teori di atas, memiliki vektornya masing-masing. 

Misalnya Big Five yang menilik kepribadian dari sudut pandang lima faktor, yaitu: Keterbukaan (Openness), Kehati-hatian (conscientiousness), ekstraversi (Extraversion), Kemudahan bergaul (Agreeableness), dan Neurotisisme (Neouroticism). Jadi, kepribadian seseorang dilihat dari kadar lima faktor tersebut yang ia miliki dalam dirinya.

Kamis, 07 Agustus 2025

Fiksi Mini: Tetangga

Oleh: S. N. Aisyah


Sudah dua malam ini, aku menginap di rumah kakak. Menemaninya dan kepokanakn kecilku yang manis sebab suami kakak dalam perjalanan kerja ke ibukota provinsi. Dua malam di sini, tidak begitu buruk. Meski terletak di sudut pedesaan dengan jarak antar rumah yang relatif jauh, ketenangan dan keheningannya memberikan sedikit hiburan pada sarafku yang kenyang menelan bising kota. 

Rabu, 06 Agustus 2025

Poem: Kapas yang Tersisa

Lalu, 
Agustus tiba
Sisa-sisa kapas
Telah lepas dari pohonnya
Menari bersama seorang bocah
"Salju! Salju!"
Seru si bocah 
Gantikan duka

06 Agustus 2025

Jumat, 01 Agustus 2025

Thought: Seven --Too personal-- Things From July

Jadi, di sinilah kita. Jam enam pagi  belum unggah postingan, tetapi baru mulai menulis. Tantangan dua minggu kemarin, benar-benar memberikan pelajaran yang nyata. Terutama, saya menjadi belajar banyak hal tentang diri sendiri. About myself, I can say, "It is so bad", but that's the point! To find your weakness and improve it to be better,  if you can't kill it entirely. 

Let's talk about the good things for that two weeks challenge!

Mental Health

Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpus...