Selasa, 25 November 2025

Book: Kekuasaan dan Keadilan dalam Tangis Rembulan di Hutan Berkabut

Oleh: S. N. Aisyah


Judul        : Tangis Rembulan di Hutan Berkabut

Penulis     :  S. Prasetyo Utomo

Penerbit    : H2O Publishing

Tahun        : Cetakan I, Februari 2009

ISBN         : 978-979-19367-0-5

Tangis Rembulan di Hutan Berkabut di tulis oleh S. Prasetyo Utomo, seorang sastrawan kawakan Indonesia yang tulisannya kerap bersileweran di media massa sejak ia menjadi mahasiswa hingga menjadi dosen di perguruan tinggi. Kepiawaiannya dalam menuliskan keresahan dalam masyarakat terekam jelas dalam Novela ini. 

Panji, seorang wartawan yang baru saja hengkang dari tempat kerjanya memilih untuk mengunjungi saudaranya, Mas Gun yang tinggal di daerah pedalaman. Siapa sangka keinginannya untuk menenangkan diri dari riuh kota dan patah hati akan idealisme dalam bekerja--yang tak lagi sejalan dengan kantor lamanya--malah membawanya pada keresahan lain yang mesti ia lawan dalam perjuangan. Bahkan, setelah ia tinggal jauh di pedalaman desa, di perut hutan sekalipun, kebusukan dunia mengikutinya. 

Dalam pertapaan sunyinya itu, Panji melewati banyak hal. Ia lagi-lagi menyaksikan betapa keadilan dapat digilas oleh para penguasa dan pengusaha. Tak hanya itu, di kedalaman hutan, Panji juga menemukan dinamika karakter manusia, kesemerawutan moral saat manusia dihadapkan dengan hasrat dan kesenangan yang didambakannya. Pemuda itu juga mendapatkan pelajaran berarti akan cinta, pengkhianatan, dan keikhlasan. Ia akhirnya juga dapat mengenal sosok Mas Gun, kakaknya yang dahulu minggat dari rumah. 

Konflik-konflik internal dan interpersonal dalam novel ini disajikan dengan gaya santai namun menohok. Bahasa yang lugas dan sesekali poetic menghiasi perjalanan kita dalam merenungkan nasib hutan yang dikelola menjadi kota modren dan nasib warga di daerah hutan tersebut yang menyayat hati. 

Penduduk desa tengah bersitegang dengan para penguasa dan pengusaha yang bersepakat untuk membuka  hutan menjadi kota baru. Mereka dipaksa tunduk dengan merendahkan martabat mereka sebagai seorang manusia, dibayar hanya dengan kesenangan fana yang bersifat sementara. Sedangkan yang tak tunduk diancam sedemikian rupa hingga disakiti, jika memang diperlukan. Lahan-lahan penduduk desa dirampas dengan keji. 

Mereka yang melawan, ditangkap dan dipenjarakan, sehingga tak lagi ada yang berani melawan. Tidak seorang pun kecuali Lik Sukro dan Mas Gun. Dua pejuang tangguh, Lik Sukro yang kehilangan akal sehatnya dan Mas Gun yang dengan teguh memegang amanah sebagai polisi hutan memberikan kita pelajaran akan arti memperjuangkan kebenaran, keteguhan hati mempertahankan apa yang kita percayai, tak peduli dibayar seharga apa. 

Banyak sudah tulisan yang mengangkat tema keadilan di mata para penguasa. Namun, di setiap tulisan itu, kita selalu saja menemukan hal baru, sudut pandang baru, dan juga pembelajaran sama dengan pengemasan yang baru. Membahas tentang keadilan, tidak pernah membosankan, terutama bagi manusia yang rindu akan keadilan tersebut. Mungkin dengan membaca novela Tangis Rembulan di Hutan Berkabut Ini, kita akan kembali menyiram nurani tentang nilai-nilai kemanusiaan yang kerap kita damba. 

Senin, 24 November 2025

Bila esok

Bila esok hari, di kota ini turun hujan lagi, barangkali aku akan tetap tersenyum. Bukan karena bahagia sudah bersemayam kukuh dalam hidup. Aku hanya sekadar mensyukurinya. Hujan dengan segala kebaikan yang telah dibawakannya. Kasih sayang Tuhan yang melekat dalam setiap partikelnya. Suatu keindahan di dalam muram yang berdiam. Bila esok hari di kota ini turun hujan, aku mungkin juga akan mengingatnya. Bahkan bila hujan sudah pergi meninggalkan bumi. Kebaikannya tetap mengalir di setiap permukaan dan meresap ke jantung kehidupan mana saja. Bila esok hujan turun atau tidak, katakan, bagaimana mungkin aku tidak akan memikirkannya?

Senin, 24 November 2025

Sabtu, 22 November 2025

Fiksi Mini: Meteor

Baru saja kemarin, sebuah meteor jatuh di bukit sunyi. Burung-burung berhamburan, meninggalkan rumah-rumah mereka yang terbakar bara api. Para cacing terkejut, kumbang-kumbang dan serangga lainnya terbatuk-batuk. Meteor panas itu menjelma altar persembahan di puncak bukit berhantu. Tempat tuna-jiwa menyembah setan yang mengkhianatinya.

Jumat, 21 November 2025

Thought: Hidup

Lalu ada apa sebenarnya di balik kehidupan manusia? Apakah mereka juga menemukan kebingungan seperti seekor anak kucing yang terdampar di hutan belantara? Jauh di dalam pekatnya hijau dedaunan dan matahari yang hanya sebayang dalam telau-telau di atas kepala. Apakah mereka juga mengeong ketakutan dan kedinginan saat hujan datang? Meriang dalam lapar akan kasih sayang yang tak dapat diobati selain dengan belaian lidah dan liur di kepala, tak dapat diobati selain dengan air susu ibu yang dapat menawar luka. Berharap dapat berlindung kembali dalam pelukannya, bergelung di dada dan melengkung di perut lembutnya. Apakah mereka juga pernah minta dikembalikan dalam rahim? Atau menyesali keangkuhan diri-- menyanggupi kehidupan yang kini tak lagi ingin digeluti?

Jumat, 21 November 2025

Rabu, 12 November 2025

Niaga

Setelah menjatuhkan diri dan kalah di medan perang dengan emosi dan pikiran, kuputuskan untuk beridiri lagi. Aku tahu, aku tak ingin menyerah. Meskipun terlihat begitu. Selalu begitu. Apa akhirnya, pertarungan ini hanyalah kekonyolan ego dalam diri. Peperangan melawan sisi kelam yang enggan kita akui. 

Sabtu, 08 November 2025

Fiksi Mini: Siluet

Oleh: S. N. Aisyah

Sudah pukul setengah sembilan. Anak-anak yang mengaji telah pulang satu per satu. Menyisakan aku dan adikku. Tetapi, Ayah belum juga datang menjemput. Keluarga Ustaz Susilo sudah bersiap-siap akan makan malam. Rasa segan merayapi diriku. Ketika diundang makan malam, aku dan adikku mohon  izin pamit, beralasan bahwa Ayah sudah terlihat di ujung gang. Datang menjemput. Maka setelah menyalami ustaz dan istrinya, kami berlarian menuju gang itu.

Kamis, 06 November 2025

Bulan

Kemarin supermoon. Kabarnya makin malam makin dekat ke bumi. Sayang sekali melewatkannya. Hanya melihat sekitar pukul sembilan malam? Itu saja sudah sangat indah sekali. Diliputi awan-awan strato tipis dengan latar langit hitam yang tenang, cahaya putih kekuningannya sangat terang. Bersinar dengan anggun dan penuh ilham. Tentu saja, tak lupa lukisan motif legendaris orang menenun atau kelinci yang sedang membuat mochi--atau apapunlah itu-- di permukannya. 

Kukira, aku memiliki kesamaan dengan bulan. Tidak, bukan tentang keindahannya. 

Bulan itu terlahir dari puing-puing, hasil benturan bumi dan Theia. Permukaannya tak rata. Terbentuk dari bebatuan bekas gunung berapi,  sisa lava yang telah beku, serta bopeng kawah-kawah hasil tubrukan. Daya tariknya lemah, medan magnetnya kecil. Atmosfirnya yang nyaris hampa, membuatnya tak memiliki pertahanan sendiri. Warnanya sangat kelam, hanya sedikit lebih cerah dari warna aspal cair. 

Dapat kukatakan kami serupa dalam hal-hal tersebut. Bulan tak memiliki cahaya sendiri, tetapi ia menyandang pantulan cahaya matahari. Aku pun sama. Tak memiliki cahaya meski nama terindah disematkan sebagai doa di dadaku. 

Aku mengaguminya, Bulan itu. Ingin menjadi sepertinya. Tidak, bukan terlihat Indah dan menyenangkan mata, menenangkan hati. Bagian itu telah lama kulepaskan. Aku tahu itu tak akan mungkin. 

Saat kukatakan aku ingin seperti bulan, yang kumaksud adalah meskipun ia tak memiliki cahaya sendiri, namun, ia tetap berusaha sebaik mungkin untuk memantulkan cahaya matahari, menerangi malam. Menjaga kestabilan iklim bumi, dengan mempertahankan kestabilan miring porosnya. Bulan membatasi dan memperlambat rotasi bumi agar bumi tak mati beku. Mempertahankan ekosistem dengan gravitasinya terhadap pasang-surut air laut. 

Meskipun terlahir dari puing-puing. Meskipun permukaanya tandus, tak mulus dan kelabu. Meskipun tak punya cahaya sendiri. Ia tetap memberikan usaha terbaiknya agar bermanfaat bagi kehidupan. 

Aku tak hanya ingin berbagi ketandusan dan puing-puing dengannya. Aku pun ingin seperti bulan. Seutuhnya. 

06.57 WIB
Kamis, 06 November 2025

Mental Health

Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpus...