Sabtu, 28 Juni 2025

Cerpen: Seorang Kawan

Oleh: S. N. Aisyah


Sedari kecil, sepanjang ingatanku, aku tak pernah benar-benar memiliki harapan tertentu dalam hidup. Mungkin itu pulalah yang jadi sebabku mati suri. Aku tak melabeli diri sebagai manusia dingin dan tak berperasaan seperti yang digandrungi manusia-manuisa sakit abad ini. Lalu berbangga diri karenanya sebab memiliki kecenderungan psikopatis. Tidak. Hal itu hanya dilakukan oleh jiwa yang terperangkap dalam fase remaja pemberontak, ingin tampak berbeda, dan haus akan perhatian. Menurutku itu konyol dan—menghindari kata menjijikkan—itu menggelikan. Oh, tentu saja menyedihkan pula.

Jumat, 27 Juni 2025

Thought: Maaf, Curhat.


Suatu waktu dalam hidup, saya pernah merasa sangat ingin sendiri. Saya merasa sangat buruk tentang diri sendiri. Bahkan sampai pada titik ingin memutus hubungan dengan siapa pun. Ya, saya melakukannya. Bukan karena membenci atau orang lain bersalah. Murni hanya karena perasaan benci yang dalam terhadap diri sendiri. Rasa-rasanya ingin membuang apapun yang mengingatkan saya pada diri saya dan hal-hal yang pernah menjadi bagian dari hidup saya. Saat itu, saya cut off semua orang baik dan tak bersalah itu dari hidup saya. Saya hengkang dari grup-grup dan kawan-kawan yang membantu saya berkembang. Saya tak lagi pernah mengirim teks duluan dan bertukar kabar dengan siapa pun. Saya bahan memblokir orang-orang yang sangat berarti bagi saya di media sosial dan lainnya. Aneh sekali tingkah itu. 

Kamis, 26 Juni 2025

Fiksi Mini: Merah


Oleh: S. N. Aisyah


Jalanan amat sepi. Bagaimana tidak? Sudah pukul sebelas malam. Hentakan kakiku bergaung. Aku tak dapat menahan diri, menoleh ke belakang hanya untuk mendapati gang yang kosong dan lengang. Dengan perasaan tak nyaman, kupercepat langkah. Lalu buru-buru membuka pintu begitu tiba di kamar kos. 

Rabu, 25 Juni 2025

BOOKS: La Petite Prince , Sebuah Kritik Tajam Jiwa Kanak-Kanak terhadap Orang Dewasa

Oleh: S. N. Aisyah

Suatu hari, seorang pilot yang mengalami kerusakan mesin pesawat terdampar di gurun pasir yang luas. Seorang diri di hamparan panas terik, di antah berantah, ia bertemu dengan seorang pangeran cilik. Suatu hal tak terduga yang tak pernah ia bayangkan. Apa yang dilakukan oleh seorang pangeran kecil di gurun ini? Pertanyaan itu ia lontarkan, namun mendapatkan jawaban langsug bukanlah hal yang mudah. Ia habiskan waktu berhari-hari sambil memperbaiki pesawatnya untuk mendengarkan kisah perjalanan Pangeran Cilik yang sangat menggugah pikiran.

Sabtu, 21 Juni 2025

Cerpen: Tujuh Hari Kematian Rahmat

 Oleh: S. N. Aisyah


Kamis, 31 Oktober 2024

Bulan sabit tak lagi tampak. Langit teramat gelap. Hujan turun mengguyur. Petir menyambar. Kilat menerobos jendela sebuah rumah yang gelap. Menyingkap penampakan yang mengerikan. 

Jumat, 01 November 2024

Dini hari, kerumunan itu berdesak-desakan menjauhi mulut pagar griya mewah yang suram. Sirine ambulans dan mobil patroli polisi menggaung, menyibak kepala-kepala agar beranjak, terpaksa melawan gelombang hasrat melit dalam dada mereka. Di bawah siraman sinar kemuning bulan baru, bayang-bayang pohon merambat bak cakar-cakar yang mencengkram malam. Pantulan cahaya redup dari lampu-lampu serta angin beku awal November yang terus bertiup menegaskan betapa mencekamnya keadaan di dasar ngarai itu. 

Jumat, 20 Juni 2025

Thought: Laron-Laron



Suatu hari, saya bercakap-cakap dengan ayah saya. Saya tak begitu ingat apa yang menyeret kami pada perbincangan ini, barangkali laron-laron yang berterbangan setelah hujan yang menjadi pencetus obrolan itu. Sepotong kisah itu membekas di hati saya. Ya, malam itu, Ayah bercerita tentang laron. Kira-kira begini ini kata Ayah, yang kemudian saya sadur menjadi,"Seperti itulah dia (laron), menghendaki cahaya terang, terus mengejarnya, tapi bisa terbang cuma sampai setinggi pohon nira." 

Kamis, 19 Juni 2025

Fiksi Mini: Brothers

S.N. Aisyah



Hari itu, di tepian Sungai Siak. Di sanalah kami menemukan Si Jenius Dani, terapung tak bernyawa. Siapa sangka, anak yang selalu dapat diandalkan membuat kegaduhan yang menggemparkan.

Selasa, 17 Juni 2025

Poem: Labirin

Oleh: S. N. Aisyah

Tuhan,
Apa yang telah kami lupakan?

Rasanya sungguh janggal,

Saat saudara-saudara kami
Dilanda derita hebat
Sedang kami masih bernapas
Di dunia yang berkelebat
Hanya singgah sebentar di layar
Melihat hidup mereka yang kelat

Memang,
Tenggorokan kami tercekat,
Mata berlinang, tangan gemetar,
Hati memanas,
dilanda gundah dan amarah
Mengapa nasib mereka
tak kunjung berubah?

Kami pontang-panting 
Usir gusar di dada, cari segala cara
Untuk memanggul barang sedikit 
Beban mereka
Melakukan apa yang kami bisa
'tuk berada di pihaknya
Coba hentikan 
laju rudal sengsara biadab
Yang tak tahu diadab

Tetapi, mengapa kemudian 
Hidup berjalan kembali
Seperti sedia kala?
Seperti tangisan mereka
Tak pernah sampai di daun telinga

Seolah kehidupan membatu,
Bungkam seribu bahasa
Sedang kematian mereka
Tak ditawar dengan sedikit
Saja segala macam perjanjian 
Damai dunia

Rasanya sungguh janggal,

Tangan kami masih saja bergelimang 
Darah dan debu
Dosa-dosa 
hati yang kelabu

Benarkah sudah kami berikan
Usaha terbaik kami, Tuhan?

Apa yang telah kami lewatkan?
Apakah karena sujud kami yang kerap 
Selayang di atas bumi
Tanpa sejenak tuma'ninah ini?

Siapakah yang terselamatkan,
Jiwa-jiwa mereka 
Ataukah 
Jiwa kami yang 
Gersang dan kerontang?


Kota Bertuah, 17 Juni 2025

Sabtu, 14 Juni 2025

Cerpen: Si Anak Sekolah

 Oleh: S. N. Aisyah


Ini terlalu terik. Matahari terlalu garang, seakan ia hendak menantang bumi. Sinarnya menyeruak ke segala permukaan bumi belahan timur,  tepatnya di tempat aku berada saat ini. Bahkan, di kejauhan, fatamorgana mulai terlihat—atau sepertinya hanya bagiku saja?  Udara terasa begitu panas, segala benda yang mengandung air segera menguap. Deru kendaraan bermotor yang lalu-lalang menambah ketidaknyamanan suasana siang ini. Polusi yang dihasilkan oleh mesin-mesin itu seolah ikut mengejek kami yang tengah berbaris dan menikmati siang yang gila.

Jumat, 13 Juni 2025

Thought: Not So Late-(Night)Thought?

Sebenarnya, untuk rubrik Thought kali ini, saya lagi-lagi tak tahu harus menulis apa. Seharusnya saya sudah unggah tulisan jam enam pagi ini. Kenyataannya, di sinilah saya, pukul sebelas siang masih duduk di depan layar, berpikir tentang hal yang harus saya tulis dalam rubik Thought minggu ini. Akan tetapi, atas dasar komitmen dan disiplin (baiklah yang saya lakukan saat ini tak dapat disebut disiplin) diri dalam membangun sistem menulis (ya, saya pinjam istilah ini dari NNL), jadi saya akan 'bicara' random saja. Saya kira banyak hal terjadi tetapi di saat yang sama seperti tak terjadi apa-apa. Membuat saya berpikir lagi tentang teori  atomic habit dan teori evolusi. Hal-hal kecil yang terjadi atau yang kita lakukan di setiap harinya memang benar membentuk diri kita di masa depan (baik atau buruk). Perjalanan membentuk diri itu seperti udara yang tak terlihat namun sumbangsihnya nyata dalam kehidupan kita. Kita tak menyadari kehadirannya hingga suatu hari, saat segalanya terasa buntu, kita merenung dan menyadari betapa hal-hal telah berubah. Bahwa diri kita telah berubah. 

Kamis, 12 Juni 2025

Fiksi Mini: Kera-Kera.

Oleh: S. N. Aisyah

Sudah dua bulan lamanya kera-kera itu berkeliaran mengusik perkampungan kami. Mereka mengeluarkan suara-suara aneh. Menyerbu masuk ke rumah warga lalu hilang begitu saja saat hendak ditangkap. Apalagi di malam hari. Ya, padahal kera-kera itu bukan Aotus--si hewan malam, mereka bukanlah hewan nokturnal. 

Tidak hanya itu masalah yang kampung kami hadapi. Sejak kemunculan makhluk itu, selalu ada hal aneh yang terjadi. Salah satunya kejadian malam itu.


Aku yakin saat itu adalah bulan purnama penuh.Saat pertama kali kami melihat sosok yang bergelayut, mengayun, mendayu-dayu di ambang jendela. Kupikir itu adalah seekor kera. Dari kejauhan tampak begitu. Aku dan Bang Aswan yang  sedang berpatroli ronda, memilih untuk mempercepat langkah. Merasakan ada hal ganjil yang membuat hati tak nyaman. Terutama di rumah kosong Pak Rahmat.

"Ayo kita jalan saja," ujar Bang Aswan semakin mempercepat langkahnya.

"Tetapi, itu siapa?" tanyaku hendak memastikan, meskipun dalam hati juga mengira bahwa makhluk itu  pasti si kera.

Terdengar suara bantingan dan pecahan benda-benda. Riuh sekali. 

"Siapa lagi kalau bukan kera-kera itu. Mereka belakangan memang sering datang, 'kan?" Bang Aswan meneruskan langkah, berlawan arah dengan rumah Pak Rahmat. 

"Bagaimana kalau dia merusak rumah Pak Rahmat?" Aku menahan langkah. 

Hening. Betapa Bang Aswan enggan untuk ke sana, terlihat jelas di wajahnya. 

"Bukankah kita beronda untuk menjaga lingkungan kondusif, agar warga merasa aman?" Aku bertanya pelan. 

"Kau benar. Ah, Pak Rahmat. Mau berapa lama lagi ia keluar kota, ya?" Mau tak mau ia berbalik arah, memandu langkah. 

"Mengapa tak ada yang menjaga rumahnya?" tanyaku tak perlu.

"Mana kutahu. Ayo," titah Bang Aswan itu kami amini dengan mulai memasuki pekarangan kediaman Si Tuan Tanah yang 'angkuh'.

Kami berjalan menuju rumah kosong Pak Rahmat. Di kejauhan, suara burung wak-wak terdengar. Juga suara menyeramkan lainnya dari hutan. Angin bertiup kencang, menderu di telinga kami. Rembulan menyinari atap rumah Pak Rahmat dengan sendu. Saat  mulai dekat dengan satu-satunya jendela yang terang, perlahan siluet makhluk itu semakin tampak jelas. Untuk sesaat aku dan Bang Aswan saling pandang. Berusaha saling meyakinkan bahwa kami tidak salah lihat.  Jarak kami terhitung sepuluh langkah saja darinya,  sosok yang bergelayut itu akhirnya tak lagi bergerak. Aku dan Bang Aswan membatu. Itu bukan kera, itu Pak Rahmat yang tergantung di ambang jendela rumahnya. Pucat pasi. Tak bernyawa. 


12 Juni 2025

Rabu, 11 Juni 2025

Poem: Merpati Putih Juni (Kepada Nona N.S.)

Sudah Juni lagi
Bukankah
Masa bergulir kencang
Seperti angin yang tiada henti 
Menerbangkan ujung gamismu? 

Waktu berlalu begitu buru-buru
Baru saja mata mengerjap
Sebelas hari sudah berlari
Tinggalkan kau di garis termuka
Dengan tanya dan terka

Kau paling paham
Ini bukan perlombaan 
Yang mesti kita menangkan

awan-awan 
Yang menanggung hujan-hujan,
Itulah engkau
Yang luruh
Satu per satu
Bukan karena lemah atau kalah

Sebab kau tahu
Jalan mana
Yang harus dipilah
Jalan mana
Yang pada-Nya
Kau berserah

Maka, Nona,
untukmu tahniah 
Biar lilin waktu semakin terbakar
Di hatimu menjulang sabar

Untukmu, tahniah
Semoga di hari lahirmu
Tuhan limpahkan barokah


10 Juni 2025

Senin, 09 Juni 2025

Book: E-Book untuk Penulis Era Digital

Untuk kamu yang sering nge-scroll, pernah  nemu tulisan-tulisan yang bagus dan ngena di hati? Tulisan yang bikin kamu kagum dan bertanya-tanya, "Kok bisa, ya, nulis bagus gini, relatable lagi? Mau juga bisa nulis gini."  

Kamu kepikiran buat nulis tapi nggak tahu harus mulai dari mana. Belum lagi  ada suara-suara rese' kayak gini: 

Relevan , ya, di era serba canggih ini masih nulis? Masih zaman gitu  belajar nulis?  Apa-apa bisa tanya AI tahu. Lagian banyak prompt juga tuh yang bisa di copy paste.  Penulis mah bentar lagi nggak bakal dipakai, orang AI udah bisa niruin, lebih murah dibandingkan bayar jasa penulis, kan? Lagian jadi penulis dapat berapa, sih? Bisa hiudp dari nulis?

Sabtu, 07 Juni 2025

Cerpen: Sebuket Kebodohan Kita

Oleh: S. N. Aisyah


Kau tahu seberapa bodoh manusia? Ia hanya akan mendengar apa yang ingin ia dengar. Ia hanya akan melihat apa yang ingin ia lihat. Dan ... tentu saja, ia hanya akan memercayai apa yang ingin ia percayai. Manusia bodoh itu seperti kau, seperti dia, dan tentu saja seperti aku.

***

Untuk pertama kalinya, aku menemukan seseorang yang merenggut sebagian besar hidupku. Namun, tak pernah aku keberatan akan hal ini. Sebab, ia pula-lah yang mengisi kembali setiap inchi yang hilang itu. Membuatku menaruh hati padanya. Arum, namanya.

Jumat, 06 Juni 2025

Thought: Entahlah

Benarlah bahwa manuisa harus menyelesaikan perkara dirinya sebelum ia terjun dalam kehidupan orang lain. Agar ia tak merusak kehidupan orang lain.  Ya, ini adalah pandangan yang benar. Tetapi akankah  bila seseorang  masih memiliki kekurangan yang harus ia perbaiki berarti ia harus sepenuhnya menjauh dari manusia lainnya?  Seakan  perkara  diri  manusia adalah sesuatu yang statis dan  tak akan mengalami perubahan sampai kapan pun. Seolah  manusia yang 'selesai'  itu suatu kemutlakan yang dapat diukur dengan pasti.  Seolah manusia bukanlah makhluk dinamis yang mengalami pasang surut dalam dirinya. Apakah dunia diciptakan untuk orang yang sudah 'selesai' alias matang saja, atau juga untuk setiap manusia, baik yang matang atau berkembang? Pada akhirnya, tak ada yang bertanggung jawab atas hidup kita selain diri kita sendiri. Sepenuhnya, seutuhnya. Bukankah kita dapat sama-sama belajar dari manusia satu dan manusia lainnya? Mungkin ini tak sepenuhnya benar dan tak juga sepenuhnya tertolak. Permainan sudut pandang memang menarik dan kadang menjerumuskan.  Mungkin yang perlu kita lakukan hanyalah berusaha, berproses untuk menjadi lebih baik sebisa mungkin. Walaupun usaha itu hanya sekadar 1 persen saja. Seperti yang dikatakan dalam buku Atomic Habit, 1 persen itu akan memberikan dampak yang significant jika dikerjakan secara terus menerus.  Lalu dapatlah kita tambahkan bahwa  dalam setiap usaha yang 1 persen itu, berikanlah 100 persen dirimu.  Entahlah. 

Kamis, 05 Juni 2025

Fiksi Mini: Kunjungan yang Menjijikan

Oleh: S. N. Aisyah



Sudah bertahun-tahun sejak kejadian itu, aku tetap tak bisa tidur nyenyak. Sepertinya ada sesuatu yang selalu mengawasiku dari sudut-sudut gelap. Apalagi saat-saat kondisiku kesehatan sedang tidak baik. Selalu ada saja hal aneh yang terjadi. 

Selasa, 03 Juni 2025

Poem: Dukhovny Bliznets Fyodora

Oleh: S. N. Aisyah

Hujan turun lagi
Datang dengan angin dan dingin
Padanya, kusimpan segala
tentang kau

Barangkali aku Si Dungu Petrovich
Sinting dalam bayang-bayangmu

Malam-Malam Putih kugantung di awan kelabu
Lalu ia luruh, sepenuhnya, sederas-derasnya
Bawa guruh, kacaukan kepalaku

Kau Si Lembut Hati!
Tariklah pelatuk itu! Di sini, di dahiku!
Berpalinglah bila kau suka,
Jangan ragu!
Sebab aku Kejahatan dan kau Hukumannya

Ini perjudian yang datang bersama hujan
Saat-saat siluetmu memeluk luka
Saat-saat aku bebas dalam penjara
Ini keadilan yang datang bersama hujan
Luapkan segala asa di kawah dada

Ambillah Tuan,
Sebuah Catatan dari Bawah Tanah
Untukmu

"Sialan!
Cinta seperti apa yang dibawa hujan, 
Hingga kusembunyikan kau
di balik nama itu?"


Negeri Bertuah, 01 Juni 2025

Mental Health

Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpus...