Jumat, 31 Oktober 2025

Thought: My Shining Knight


Pertama kali lihat kesatria beneran. 

So, we--me and my nephew-- were playing together. At first, it was a zombie battle where we were friends (usually we're enemies) fighting the imaginary zombies in our fantasy realm. It was a tough battle. We were really in dangerous position. We were collaborating to fight those zombies.

Till suddenly ... 

Kamis, 30 Oktober 2025

Fiksi Mini: Nek Ana

Oleh: S. N. Aisyah


Saat itu, magrib menjelang. Aku dan kawan-kawanku tengah asyik bermain. Tidak menyadari bahwa matahari sudah menyerupai semburat  merah-oranye. Suara burung wak-wak menggema dari jauh. Mendengar teriakan ibuku yang memanggil pulang, kami segera bergegas menyudahi permainan lomba memanjat, meninggalkan halaman belakang Nek Ana. Rumah Nek Ana hanya berjarak dua rumah dari rumahku.

Rabu, 29 Oktober 2025

Day 31 Breaking The Prison of Mind's Cage

 Well, What a week of emotional fluctuations! Benar nyatanya, keyakinan kita, kata-kata kita itu, akan ditagih kebenarannya. Ayo lebih commit lagi dengan perkataan dan keyakinan kita. Ingat, tak ada yang akan berubah jika tak ada usaha. Kamu bisa bilang A sampai Z tapi, tanpa tindakan nyata dan tanpa mewujudkannya, semua hanya akan sia-sia. Memang benar, kita pasti akan jatuh lagi, negatif thinking lagi, overthink, baper. Tetapi, seperti yang dikatakan dalam buku Mengapa Tidak Pernah Ada yang Memberitahuku?, pikiran itu bukan fakta. Opini bukan fakta ia bisa jadi benar, bisa jadi salah. Lucu sekali saat kita menegtahui teori tetapi menjadi gagu saat mempraktekkannya. Be negative, Be Overthink, Be extra but don't stop there. You can slowly reduce it. You also can do better. 

Anyway. Please bear with me. Give us chance, yeah? Okay? 

Rabu, 29 Oktober 2025

Selasa, 28 Oktober 2025

Poem: Sumpah Tanah Surga

Oleh: S. N. Aisyah

“Orang bilang tanah kami tanah surga”
Laut bergelombang, tempat samudera bertemu sapa
Ikan-ikan beranak pinak tiada tara
Rumput laut dan batu karang 
saksi syair-syair berenang
Namun di siang benderang
menjala ikan, kami dikekang

“Orang bilang tanah kami tanah surga”
Tanah gembur, tempat biji dan umbi menari
Rempah-rempah bagai remah-remah
buah-buah ranum walau kami lelap dalam naum

Amboi! 
saban mahkota pindah kepala
Cangkul kami tumpul, saku kami mesti didempul

"Orang bilang tanah kami tanah surga" 
Tua-muda, tinggi-pendek, gelap-terang, utara-selatan, barat-timur, gepuk-kurus
Semua kami punya urus

Duhai! 
di meja hijau kami mendengus

Kami muda-mudi tanah surga 
Kian lama kian lelap dalam tanya
Adakah hati kami berkata:

Kami putra putri tanah surga mengaku berkalang tanah 
Sedikit lupa marwah,
Kami putra –putri tanah surga mengaku berlaga, saling cakar hendak kuasa rimba
Kami putra-putri tanah surga mengaku berbahasa uang di bawah meja


Konon Tanah Surga, 26 Oktober 2023

Senin, 27 Oktober 2025

So ...

Reading slump dan writing block. Benar-benar parah. Sudah seminggu atau mungkin dua minggu stuck di lembaran awal bab dua dari Buku Mengapa Tidak Pernah Ada yang Memberitahuku. Sejauh--yang tak jauh-- yang sudah dibaca, saya menemukan poin menarik. Dr. Julie Smith menggaris bawahi bahwa, hubungan antara pikiran dan perasaan merupakan hubungan dua arah yang saling mempengaruhi. Jadi, bukan pikiran saja yang dapat mempengaruhi perasaan tetapi juga sebaliknya, perasaan kita dapat mempengaruhi cara berpikir kita pada saat itu. 

Mungkin itulah yang saat ini terjadi dalam reading slump dan writing block ini. Saya jadi ingat teori kepribadian MBTI dengan melihat function stack. Mungkin dapat diibaratkan keadaan terjebak dalam fluktuasi suasana hati dan emosional serta overthinking seperti looping dalam dominant function dan tertiary function. Lalu, saat ingin membebaskan diri dari looping dengan cara yang kurang tepat, akan terjatuh pada kondisi grip. Entahlah. 

Jika terjebak dalam looping, yang perlu dilakukan adalah menstabilkan keadaan dengan mengaktifkan fungsi auxiliary. Jika terjatuh dalam grip, kita perlu kembali terkoneksi dengan fungsi dominan. Begitulah kira-kira, setidaknya yang saya pahami. 

Namun, apakah mungkin seseorang melompat dari loop ke grip, grip ke loop, dari waktu ke waktu, dalam jangka panjang, dan jarang sekali berada dalan keadaan healthy? Itu akan menjadi petaka.

Seperti terjebak dalam loop fluktuasi suasana hati dan emosi, dan ketika berhasil keluar dari lingkaran setan itu, ternyata dalam pelarian grip, melakukan tindakan impulsif yang hanya membuat kita menyesal. Itu memang petaka jika kita tidak segera menstabilkan fluktuasi tersebut. Kembali menggunakan fungsi dengan seimbang. 

Entahlah. 

Btw, What's your type? 

Kamis, 23 Oktober 2025

Day 30 Breaking The Prison of Mind's Cage

Sudah tiga puluh hari. Tetap lanjutkan, ya. Jadikan tiga puluh hari ini pembelajaran buat kita. Di hari ke-30 ini, mari tuliskan kata-kata yang kita tempel di dinding kala itu, kata-kata yang kita lahirkan sesaat sebelum meringkuk dalam penjara ini. 

1. Satu kata dalam satu hari akan menjadikannya satu kalimat. Satu kalimat dalam satu hari akan menjadikannya satu paragraf. Satu paragraf dalam satu hari akan menjadikannya satu wacana.

2. You can't throw away the past. But every time you wake up and breath you still have a new chance,  new sheets to write on

3. Jika ditunda terus tanpa ada uzur, tanpa terasa waktu akan habis.Yang tertinggal hanyalah penyesalan.

'Jika saja kulakukan lebih awal. Jika saja dulu kulakukan.' Yakinlah kau tidak menginginkannya! Kau punya waktu sekarang. 

4. Penundaan akan menjadi baik atau buruk. Kukira salah satu hal yang berperan penting dari itu adalah niat dan perhitungan.

5. Masa lalu adalah tempat untuk belajar bukan tempat untuk hidup!

Sepertinya lima ini cukup untuk sekarang. Ini adalah tulisan dari dinding beberapa tahun lalu. Tak  menyangka pernah berpikir seperti ini.  Those days, just a few days after the downfall. Look how hard you keep maintain your mind. You tried. And You still trying. Those words on the wall, those thoughts on your mind, those are yours. Gift from God through life, people, and experiences. I know, you too so grateful for that, right? Cause I do too. Let's keep going. Let's keep trying untill the breath is not ours to take. 

Kamis, 23 Oktober 2025

Fiksi Mini: Sunset in July

Hamparan ilalang berayun, menenggelamkan kepalaku. Ilalang-ilalang kering dan kuning, ditimpa oranye petang. Aku berlari. Mendaki, terus mendaki. Meniti puncak, menuju barat. Kian lama, matahari kian tergelincir. Semburat cahayanya perlahan menjadikan langit merah muda--di hamparan awan-awan musim panas yang menggantung seperti permen kapas. Mungkin tak berapa lama lagi, ia akan terbenam dalam kegelapan malam. Habis ditelan dingin. Digulung Agustus yang lebih berwarna. Aku masih membencimu, tentu saja. Namun, kuakui, tak ada sunset yang lebih indah dibanding sunset Juli yang membara, seperti angkara yang bersemayam di dada--untukmu. Mungkin saja aku akan terjun bersamanya--matahari terbenam Juli. Hal yang dapat membuatku mencintai musim panas--yang tak pernah kusuka. Tak ada yang kusesali--tak ada yang ingin kusesali. Bahkan, biarpun nanti langit tak lagi merah muda. 

Kamis, 23 Oktober 2025

Rabu, 22 Oktober 2025

Day 29 Breaking The Prison of Mind's Cage

Kemarin nulis tentang 'lakukan saja.' Tadi, lihat salah satu postingan Dr. Julie Smith, ada dua poin yang menarik perhatian saya. Poin pertama, otak belajar melalui bukti dan poin kedua, otak juga belajar melalui repetisi. Ini mengingatkan saya tentang teori growth mindset dari Mindset,  teori snap judgment dari Blink, dan teori identitas serta teori dua menit dari Atomic habit.  Sangat masuk akal jika dikatakan bahwa kita dapat me-reset otak kembali. Sebab, memulai sesuatu yang baru adalah belajar dari nol hingga menguasainya. 

Dr. Smith berkata bahwa otak belajar dari bukti. Oleh sebab itu, membangun, membentuk, atau mewujudkan suatu hal tak cukup hanya dalam pikiran atau ucapan saja. Otak memerlukan bukti nyata.

Contohnya kita berjanji akan berubah menjadi lebih baik atau akan melakukan sesuatu. Kita serius akan hal itu, terus memikirkannya dan membicarakannya. Dua hal tersebut tak akan membantu otak untuk mempelajari cara mewujudkan perubahan atau mengerjakan hal yang ingin kita kerjakan itu tanpa diiringi bukti. 

Bahkan, hanya membicarakannya terus menerus dapat  menghasilkan gratifikasi instan dari rilisan dopamin yang menipu diri, memberikan kesan seolah hal itu telah terjadi atau dilaksanakan. Padahal, kita perlu mengajari otak untuk percaya bahwa kita bisa berubah dan mencapai sesuatu itu. Otak hanya memerlukan bukti untuk mempercayainya. Bukti itu dapat kita peroleh dari tindakan nyata. Doing our saying is the best way to become someone that you trusted. To get that confident. 

Otak belajar dari repetisi. Maka, untuk menguasai atau menjadi ahli kita hanya perlu mengajari otak untuk mengenalinya dengan melakukan hal tersebut berulang kali hingga membentuk kebiasaan, bahkan jati diri.

Mengadopsi mindset berkembang, dengan mempercayai proses dan menjadikan kegagalan sebagai bagian dari proses tersebut adalah cara pandang yang tepat untuk tetap berjalan mewujudkan tujuan kita. Berdasarkan teori identitas, kita dapat membangun diri dengan mengadopsi identitas yang kita inginkan kemudian berlaku seperti identitas tersebut. Jika berat, terapkan teori dua menit, perlahan dari skala kecil hingga skala maksimal yang dapat membawa kita pada tujuan itu. Terus secara berkala dan berkesinambungan. Kemudian, seiring dengan pengalaman dan kemampuan yang terus diasah berulang-ulang inilah yang  membuat otak kita terbiasa mengenali suatu pola bahkan secara subtle. Kemampuan yang terus diasah akan menjadikan kita ahli. Akumulasi data, pengalaman, latihan, dan keahlian dalam waktu yang lama inilah yang menyebabkan seseorang dapat berpikir cepat, menilai sesuatu dengan hasil yang baik dalam hitungan sekejap mata, snap judgment. 

Oh, ya. Saya jadi ingat saat dulu mengaji, dikatakan bahwa Iman itu diyakini dalam hati, diucapkan oleh lidah, dan dibenarkan oleh tindakan. Seperti memberikan bukti pada otak. Menjadikan ia sesuatu yang nyata dan dapat dipercaya oleh diri sendiri. Lalu, di dalam agama, disiplin dan repetisi itu diajarkan dengan nyata. Salah satu contohnya solat. Dalam islam, sekurangnya seorang muslim hendaknya solat lima kali dalam sehari, membaca Al-fatihah (yang berisi tentang pengakuan kita atas Tuhan, pengakuan diri sebagai hamba-Nya, dan memohon petunjuk dari-Nya) di setiap raka'at. Dalam sehari minimal 17 rakaat. Tujuh belas kali repetisi surah Al-Fatihah. Dan ...ada begitu banyak ibadah lainnya yang mendekatkan kita kepada kebenaran dan kebaikan. Menumbuhkan iman/keyakinan. Bukankah ini juga seperti mengajari otak cara untuk membangun keyakinan dan kebiasaan? Mengajari kita cara menjadi pribadi yang dapat dipercaya? Atau seperti itulah kira-kira yang saya pahami tentang hal ini. Bisa saja saya salah memahami, Allahu alam.

Rabu, 22 Oktober 2025

Selasa, 21 Oktober 2025

Day 28 Breaking The Prison of Mind's Cage

Mungkin cara terbaik untuk sekarang adalah tindakan. Meskipun sederhana. Meskipun kecil. Lakukan saja dulu selama itu hal yang baik. Kita memang memiliki gambaran masa depan yang kita inginkan, tetapi tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tak perlu terlalu khawatir berlebihan. Mungkin kita belum orang yang baik. Belum menjadi orang yang pantas dan masih memiliki banyak kesalahan. Yang dapat kita lakukan adalah mencoba dan terus mencoba. Seperti pepatah, jika kita terjatuh 1000 kali, maka, sekurang-kurangnya kita harus bangit 1001 kali. Jangan nyerah, ya. Mungkin coba terapkan lagi teori yang sudah dipelajari. Tindakan juga sama pentingnya dengan pikiran. Begitu pula keteguhan hati. Bukankah dari tiga hal tersebut manusia dapat diukur? Namun, ini bukan hanya tentang siapa yang lebih atau siapa yang kurang tetapi siapa yang terus berusaha berjuang hingga waktunya datang. 

Selasa, 21 Oktober 2025


Senin, 20 Oktober 2025

Day 27 Breaking The Prison of Mind's Cage

Dua belas tahun lalu, guru puisi saya bertanya, "Mengapa menulis?" 

Tanpa tahu jawabannya, saya berkata, "Saya ingin menulis dari sudut pandang sendiri." 

Terdengar bodoh dan egois. 

Meskipun begitu, kebodohan dan keegoisan itu masih berjuang untuk terus menulis. 

Entah mengapa. 

Tetap menawarkan satu sudut pandang kecil dari miliaran pandangan di dunia. 

Sampai saat ini, masih belum menemukan jawaban pasti atas pertanyaan itu. 

Namun, satu hal nyata yang tak dapat dipungkiri. 

Menulis menolong jiwa saya dari kesengsaraan dunia. 

Senin, 20 Oktober 2025

Day 26 Breaking The Prison of Mind's Cage

Hampir melewatkan menulis hari ini. Ingin menyerah, tetapi itu bukan pilihan. Kembali ingat apa yang dikatakan Abang saat di rumah sakit hari itu. Kira-kira beliau berkata, "Apapun yang terjadi, semua adalah bagian dari takdir, kehendak Tuhan. Semua sudah tertulis di Lauhul Mahfuz. Baik itu hal yang kita anggap baik maupun buruk. Yang paling penting adalah bagaimana kita menerima, menghadapi, dan menjalani takdir itu." 

Jadi ingat lagi, kalau tidak salah, Takdir itu ada yang bersifat tetap dan ada yang dapat diubah. Takdir yang tetap sudah tertulis sejak sebelum kita lahir. Lalu ada takdir yang ditulis secara tahunan, ini menjelaskan bagaimana manfaat Lailatul Qadar itu dapat terlihat. Saat takdir dituliskan kembali. Kemudian ada takdir yang ditulis harian, berdasarkan keputusan-keputusan yang kita ambil. Kalau tidak salah begitu. Belum bisa kasih referensi. Nanti insyaallah saya cek lagi. 

Minggu, 19 Oktober 2025

Sabtu, 18 Oktober 2025

Day 25 Breaking The Prison of Mind's Cage

Membaca beberapa tulisan lama. Ada perasaan yang aneh. Ke manakah orang yang menulis itu sekarang? Dulu selalu yakin bahwa seiring berjalan waktu manusia akan terus berkembang, akan terus berevolusi. Sudut pandang yang terlalu sempit untuk jiwa anak muda. Tidak pernah terbayangkan bahwa otak dapat menyusut. Sebab sebelumnya tak pernah berpikir akan berhenti dalam keterpurukan. Masih percaya bahwa manusia dan otaknya akan selalu berkembang, bukan dalam bentuk fisik, namun kemampuannya. Berkembang ke arah yang baik atau yang buruk.Ya, berkembang ke arah yang buruk bukanlah perkembangan tetapi degradasi. Namun, satu hal yang mesti diingat, otak, otot, mental, dan spirirtual itu sama. Semakin diasah, semakin tajam dan jernih ia. Semakin digunakan, bukannya semakin aus, namun, semakin kuat. 

Itulah yang membedakannya dengan material-material tak bernyawa. Bahkan benda-benda tak bernyawa pun akan hancur jika didiamkan dalam waktu yang lama. Kecuali ia hasil tempaan yang tak biasa. 

Intinya, tempa diri aja, udah. 

Sabtu, 18 Oktober 2025

Jumat, 17 Oktober 2025

Day 24 Breaking The Prison of Mind's Cage

Mungkin hal yang paling berat tetapi paling meringkankan adalah memaafkan. Kata sederhana yang rumit. Perlu kebesaran hati dan lapang dada untuk dapat memaafkan. Namun, dari berbagai macam bentuk maaf itu, yang manakah yang paling sulit? 

Thought: Well ...

Well, beberapa kali ingatin diri kalau nulis langsung di blog nggak bakal jamin pasti aman. But, i didn't consider it as that priority karena ini cuma tempat latihan nulis. And ... boom! Beberapa draft yang udah selesai kehapus karena buka dari apps hp. My awkward hands and stupid brain who can't even focus! It has no trash icon in it. Even tho, tried some way, still I can't recover it. I was panic but told myself not to. I knew it will happen and decided it wasn't my priority before. Actually i never really thought the digital media/gadget as my priority right now (yeah, what and odd way to be a conventionalist). I mean, isn't it good to write in other platform like Medium or elsewhere. I brushed it off cause It is just some practice things. No one read it anyway. And it hits me now. Losing that finished little garbage drafts somehow sting me. My works. My garbages. Anyway. Learn my lesson. Should back it up all, I think. Suddenly it happened to be matter. Even if it's just practice field. Alright. feel free to judge. I am judging myself too right now, 

Kamis, 16 Oktober 2025

Fiksi Mini: Gerimis

Oleh: S. N. Aisyah



Sore itu, seperti biasa, aku kembali mengasuh bocah kecil ini sementara ibunya--kakakku--menjemput kakaknya di sekolah. Seperti biasa pula, bocah manis tiga tahun itu menendang dan melayangkan tinju ke udara seolah sedang melawalan monster dan zombie lucu seperti film kesukaannya. Ia berkeliaran dengan lincah. Ia akan meminta ikut bermain jika ia ingin, jika tidak, maka lebih baik untuk tidak menganggu transformasinya dan kegilaannya akan super hero. 


Si kecil berambut mangkuk ini mondar-mandir di ruang tamu. Lalu, tiba-tiba ia berlari ke teras, mengejar zombi. Aku mengikutinya. Memintanya untuk bermain di dalam. Namun ia menolak. Dan ... memaksanya bukanlah hal yang baik, maka aku duduk di ambang pintu. Mengawasinya sambil sesekali mengedar pandang. 

Sore itu sangat dingin. Langit gelap, awan-awan hitam bergelantungan seperti kapas berdebu. Angin menderu. Jalanan sepi, tidak seperti biasanya. Ada ketengangan yang aneh. Ponakan manisku masih saja bergulat dengan musuh-musuhnya. Sangat lucu. Tanpa kusadari, senyum terkembang melihat tingkahnya yang mulai berubah menjadi Hulk. 

Dari kejauhan, terdengar suara anak ayam mencicit. Sekali lagi kuedar pandang. Namun, saat itu kudengar ponakan manisku berteriak ketakutan. Ia berlari memelukku dengan erat. Tak menjawabku kecuali dengan tangis yang keras saat kutanya mengapa. Kulempar pandang berkeliling. Tak ada hal yang mencurigakan. Tak ada manusia selain kami, tidak pula hewan. Aku menggendongnya ke dalam rumah. Mengunci pintu.

Segera kupastikan ia tak terluka. Ia terisak bukan main. 
"Adek, kenapa?" tanyaku halus seraya memeluknya. Awalnya ia belum juga bisa menjawab. 
"Adek nggak pa-pa?" tanyaku lagi. 
"A-ada ... antuu," ucapnya disela isak. 
"hush, hush, udah, ya, Hantu itu nggak ada." Sebisa mungkin aku berkata dengan lembut, menenangkannya seraya melihat ke luar jendela. Di sana, dalam gerimis, seorang wanita berbaju putih melayang, rambutnya panjang, matanya merah, dan kakinya berlumur darah. 


Kamis, 16 Oktober 2025

Selasa, 14 Oktober 2025

Day 21 Breaking The Prison of Mind's Cage

Hari ke-21. BPMC hari ke-20 tak layak konsumsi publik. Maka tak dirilis. 

Anyway. Di hari ini, mari bicarakan tiga kata.

Poem: Usang

 Oleh: S. N. Aisyah


Malam ini 

Jari-jariku kembali beku

tinta darah

pekat, lengket, mengental

mengikat erat, menggumpal 

di ujung pena


Aku bermenung

melayat kata

diam 

diliput kabung


dolly usang memaku tapak

di pinggir makam


dalam liang 10 kaki

ikan-ikan mengambang 

bermata merah, kembung, dan mati


bau busuk menguar,

aroma yang amat kukenal

dari lubuk kegelapan

yang tiap malam merayap

menuju dipan


Oh, Ibu! Celakahlah anakmu!

otaknya telah ditanak

lebur, hancur, bubur

kacau, tak lagi dapat menjangkau

kecuali racau-meracau

sumpah serapah telah lama jadi rumah

beranak cucu sajak-sajak

ragu

kaku 

palsu 

dari 

hati

yang

batu


Selasa, 14 Oktober 2025

05. 44




Senin, 13 Oktober 2025

Mental Health

Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpustakaan Soeman H.S., Riau. 

Minggu, 12 Oktober 2025

Book: Kisah-Kisah dari Kafka

Oleh: S. N. Aisyah 
Kafka, salah satu penulis paling otentik yang dimiki oleh dunia sastra. Keunikannya dalam menuangkan imajinasi  melahirkan istilah baru Kafkaesque. Kafkaesque istilah yang digunakan untuk mendefinisikan keadaan surealis, absurditas, dan kekelaman seperti yang digambarkan Kafka dalam kisah-kisahnya. Penyerapan istilah Kafkaesque tak hanya digunakan dalam dunia literatur akan tetapi juga telah merambah pada ranah lainya, seperti dalam dunia politik yang juga telah meminjam istilah Kafkaesque dalam mendefinisikan keadaaan perpolitikan yang absurd. 



Saya kembali membuka catatan saya terkait buku Metamorphosis And Other Stories versi Indonesia. Sebuah kompilasi karya Kafka cetakan penerbit Immortal Publishing, cetakan pertama pada tahun 2018. Memuat 10 judul cerpen dan novela Kafka, buku ini mampu menarik perhatian saya. Masih ingat bagaimana saya tak bisa berhenti membacanya dalam sekali duduk. Ya, membaca sampai larut malam. Sepuluh cerpen ini memuat absurditas dan surealisme yang kental. 

Dibuka dengan cerpen pertama yang berjudul 'Pesan Kaisar', Kafka memberikan sindiran atau mungkin sebuah kenyataan yang menampar dunia modren. Pesan Kaisar bercerita tentang seorang Kaisar yang tengah sekarat meminta seseorang untuk membawakan pesannya pada masyarakat. Begitu menerima pesan tersebut, Sang Pembawa Pesan terjebak dalam acara seremonial, ia terjebak di antara orang-orang yang berbondong  dan melakukan berbagai seremoni mengantar kematian Kaisar. Mereka berkerumun  ingin melihat mayat Kaisar namun, tak pernah mengetahui pesan apa yang ingin disampaikan Kaisar. Tak ada yang pernah benar-benar tahu derita seorang Kaisar dan tak pernah ada yang tahu rahasia, kemalangan ataupun kesenangan yang disembunyikan di balik istana, tidak rakyat sang Kaisar. Tidak pula para pembaca.

Kisah kedua, Metamorphosis. Mungkin semua orang sudah tahu tentang kisah ini. Namun, yang saya dapatkan dari kisah ini adalah bagaimana Gregor Samsa (yang tiba-tiba menjadi serangga itu) menjadi simbol kelamnya keadaan mental seseorang yang mengalami depresi dan krisis ekstensial. Begitu banyak hal yang dapat dikuliti dari kisah ini. Terlalu dalam dan mengesankan cara Kafka membuat pengibaratannya. Perasaan keterasingan, ketidakberdayaan, namun juga keinginan untuk menjadi berguna, perasaan bersalah, serta cinta yang dalam dan menyedihkan dalam hubungan keluarga direkam dengan pahit-getir. Absurditas metamorfosa Gregor adalah simbolisasi yang sangat menohok.

Kisah ketiga, berjudul 'Keputusan' tidak kalah gelap. Ini benar-benar menyayat hati. Kisah keempat, 'Juru Api', yang berkisah tentang pencarian keadlian antara kalangan bawah dan kalangan atas. Kisah kelima, 'Di Koloni Hukuman', sangat menarik. Kisah ini bercerita tantang seorang komandan, opsir, musafir, terdakwa, dan prajurit. Ini meberikan dinamika yang  menarik. Ya, i said that again. Peran masing-masing tokoh di hadapan hukum, mengajak kita untuk melihat perspektif mereka. Musafir sebagai orang pengamat memberikan pandangannya terhadap absurditas hukum di tempat itu. Namun, seperti kisah lainnya, akhir cerita ini sangat kelam. 

Kisah selanjutnya, 'Dokter Desa'  menggambarkan bagaimana profesi dokter masih sangat asing, penuh dengan pesimistis dan sketipsme oleh warga desa. Dalam kisah ini, digambarkan perjuangan Sang Dokter untuk dapat merawat  warga desa.

Kisah ketujuh,'Selembar Kertas Tua', sebuah kritk yang sangat tajam terhadap penguasa. Bertema politik, menjabarkan bagaimana suatu penjajahan terbentuk. Istana sebagai pihak yang mengundang penjajah masuk meskipun sudah dapat mencium bahayanya, namun, tetap dilakukan demi kesenangan sesaat untuk golongan tertentu, mereka abai. Hanya berdiam di dalam istana. Hingga saat perjanjian bilateral benar-benar telah dilanggar dan keadaan semakin memburuk, semuanya sudah terlambat untuk memperbaiki keadaan. 

'Seniman yang Kelaparan' kisah kedelapan yang sangat disayangkan. Menggambarkan idealisme yang digiling oleh zaman. Mempertahankan idealisme berarti ditinggalkan oleh pembaruan dan pergerakan zaman yang sudah tak lagi melihat nilai dari sebuah idealisme. Seniman Kelaparan populer dengan idealismenya namun kegembiraan penggemarnya tak bertahan lama dan orang lain tidak mengerti akan seninya.  Ia akhirnya mati dalam pertunjukkan di tenda sirkus yang bersebelahan dengan hewan-hewan lainmya. Sebelum kematiannya, tak ada yang benar-benar singgah untuk menikmati pertunjukkannya. Setelah ia mati, dengan mudahnya ia digantikan oleh seekor harimau. Lalu ia dilupakan begitu saja. Kisah kesembilan dan Kesepuluh adalah 'Josephine Sang Penyanyi, Atau Tikus' dan 'Di hadapan Hukum' juga tak kalah mind blowing. Begitu indah dan kelam. Berupa  kritik sosial terhadap masyarakat dan hukum. 

Semua kisah ini menggambarkan keadaan yang aneh dan janggal. Akan tetapi merupakan simbolisasi yang amat tepat terkait hubungan kehidupan dengan simbolisasi dan kritiknya. Nuansa-nuansa muram dan kekelaman serta tragis amat erat dalam setiap kisah. Menyiratkan betapa menderita jiwa yang menyaksikan semua keyataan pahit hidup yang dituangkannya dalam bentuk fiksi. 



Day 19 Breaking The Prison of Mind's Cage

It's Raining! 

Hujannya turun dengan lebat. Langit sangat muram, awan hitam terlalu banyak. Cahaya matahari terlihat seperti lampu neon putih yang separuh tubuhnya sudah sekarat. Baru Jam lima sore, tetapi suasana sangat gelap dan dingin. Deru angin dan hantaman hujan, membawa ketenangan yang janggal. Kalo boleh jujur, ini sangat indah. Pada dasarnya alam itu indah, ciptaan Tuhan indah. Ya, begitulah. 

Sabtu, 11 Oktober 2025

Day 18 Breaking The Prison of Mind's Cage

Hi! Have you done your first step? I know you still figure it out, right? Don't worry, I got you. 
Just remember step by step, one by one. That's how you start. Let's go.

Jumat, 10 Oktober 2025

Thought:

Semoga saja kali ini Palestina bisa benar-benar merdeka. Sudah begitu banyak pengorbanan, perlawanan, air mata, dan doa-doa yang dilangitkan untuk kemerdekaan Bangsa Palestina. Usaha-usaha itu, doa-doa itu, datang dari berbagai kalangan, berbagai tempat, berbagai golongan. Palestina telah banyak kehilangan namun memberikan arti ketabahan dan kekuatan pada dunia. Perlawanannya membuka mata dunia. Dalam dua tahun terakhir, perjuangan Palestina menggemparkan seluruh dunia. Mereka mengajarkan arti iman dan berpegang teguh pada kebenaran dengan kesabaran dan keberanian yang luar biasa. Membuka mata dunia atas segala kemungkaran dan kekejian kaum zionis. Subhannallah. Allahu Akbar. 

Alhamdulillah, tadi pagi, saya mendengar, sudah dinyatakan gencatan senjata, pasukan Israel telah ditarik mundur. Namun, berdasarkan perjalanan sejarah, Israel selalu saja mengkhianati perjanjian. Meskipun begitu, harapan kita tak pernah pupus. Bukan karena kita begitu naif, namun, kita percaya pada Tuhan Semesta Alam yang Maha bijaksana. Hanya pada Allah-lah kita menyembah dan hanya pada Allah-lah kita memohon pertolongan. Hanya pada-Nyalah segala harapan bermuara. Semoga penderitaan Palestina kali ini benar-benar berakhir.

Jumat, 10 Oktober 2025

20: 35 WIB

Day 17 Breaking The Prison of Mind's Cage

Satu hal yang perlu kamu mengerti, jika kamu memang mencintai sesuatu perjuangkanlah ia. Bukan karena kamu berhak mendapatkannya, tetapi sebab ia berhak diperjuangkan. Entah itu seseorang, hubungan, atau mimpi-mimpi.  My brother once said, if your dream doesn't make you wake up for tahajud, it means, you never really wanted it. I think he's right. And i dont't think i did it right--yet.

Thought: Medicine


It was the best sleep ever! It feels like forever since I sleep early, quitely, without any worry, nothing but serenity. Was come to bed early really sleepy. And without me knowing, I fell asleep --probably around 9 p.m. or more, definitely not 10 p.m. (which is so rare)-- and woke up at 3 a.m.  Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Anyway.

Kemarin, pertama kali sejak setelah sekian lama, saya coba untuk memeluk kucing lagi. Those little tiny creatures. Too cute. It was sleeping on my arm. I don't know it could be such as peace to hold them like that. I completey forgot about it until yesterday. My sister scolded me for that but i didn't listen. And ... she was right. later on, the rash came. I can't hid the itch on my face, the eyes redden. Luckily my sister gave me some alergic antidote. My sister said she doesn't have any sympathy for me cause I am the one who is caused the trouble i have. She was right. And i am not looking for some sympathy either. Whatever that i got for touch the cats, it's worthy. Never really feel so good after a long time. They're just like the best medicine ever. That makes me taste my own medicine too. Haha. Anyway.

I jump out of my comfort zone and find those as my another comfortable zone with a price, of course. Make sense. Wish one day this allergic would go away. Anyway. That's it. 

10 Oktober 2025

Kamis, 09 Oktober 2025

Day 16 Breaking The Prison of Mind's Cage

Kebohongan yang kamu ciptakan untuk diri sendiri adalah bahwa kamu terjebak dan buntu. Percayalah, tidak ada satu hal apaun yang abadi kecuali Tuhan Yang Maha Menciptakan. Tidak ada suatu usaha pun yang tak membuahkan hasil. Baik usaha baik atau buruk, maupun hasil yang baik atau buruk. 

Jika diibaratkan ini seperti hukum Newton 3. Setiap aksi mendapatkan  reaksi yang sama besar dan berlawan arah. Dengan kata lain usaha yang kita tuangkan akan kembali pada kita dengan kadar yang sama besar. Setiap tenaga yang kita kerahkan itu selalu kembali pada kita. Mungkin kita hanya tidak menyadarinya. Contohnya saat kita mendorong dinding. Kita mengerahkan gaya untuk mendorong  tembok, gaya itu kembali pada kita dalam bentuk penolakan (seperti juga sentakan saat menembakkan senapan). Akan tetapi, sebab dinding tak bergerak sedikitpun kita mengira bahwa tak ada yang terjadi. Padahal, dinding memberikan kembali gaya itu pada kita. 

Jadi, untuk waktu berikutnya, jangan ragu dengan setiap usaha. Ia akan berwujud dan menghasilkan sesuatu hanya saja kita tak mengetahuinya. Seperti saat mendoirong dinding. Lain kali, cobalah juga mengerahkan daya pada hal yang tak hanya menghasilakan lelah seperti mendorong dinding. Hey! tapi mendorong dinding juga memberikan manfaat seperti melakukan push up dinding. Kamu menjadi semakin kuat. Don't forget to look up to the bright side. Cause, I do always look at it--The Bright side. Even if no one knows. Not even The Bright side itself. 

Kamis 09 Oktober 2025

Rabu, 08 Oktober 2025

Day 15 Breaking The Prison of Mind's Cage

Yang perlu dipelajari adalah mengelola emosi, perasaan, dan pikiran. Kelola asumsi. Jangan berasumsi yang tak perlu. Bukankah kamu banyak belajar dari dia? Ya, tentu saja sulit untuk mengubah sesuatu yang telah hidup menemani dalam diri kita selama bertahun-tahun. Namun, bukankah kamu sudah lihat perspektif baru itu? Bukankah itu dapat dipertimbangkan? Bukankah itu hal yang Indah? Yang ingin kamu perjuangkan? Kamu tidak akan bisa melangkah lebih jauh bila mempertahankan pola pikir yang buruk ini terus. Bukankah kamu sudah belajar darinya? 

Rabu, 08 Oktober 2025

Selasa, 07 Oktober 2025

Day 14 Breaking The Prison of Mind's Cage

Sering kali saat ingin berubah kita bertanya tentang apa yang harus kita lakukan atau kita tambahkan. Akan tetapi jarang bertanya apa yang harus kita lepaskan. Padahal, terkadang, untuk berubah, kita harus melepaskan hal-hal yang menghambat perkembangan diri. Merelakan kesenangan sesaat dan kenyamanan yang tak memberikan kita perkembangan. Kenyamanan yang perlahan-lahan menghancurkan dari dalam. 

It's hard? If you let it be. You've come this far. No, don't compare. Whatever you are, Wherever you are, and Whoever you are now is something about however you did dan why you did it. The rules is still the same. If you wanna different What, Where, and Who you wanna be, change the process into better, change the why and how. Not the YOU. 


Selasa, 07 Oktober 2025

Senin, 06 Oktober 2025

Day 13 Breaking The Prison of Mind's Cage

Mungkin saja perasaan tak karuan itu berasal dari ruminasi pikiran yang tak diselesaikan. Bukan hanya perkara besar, hal-hal yang tampaknya selepe tetapi tak dilaksanakan juga dapat menjadi tumpukan kerikil tajam yang akan membuat perjalanan melelahkan dan menyakitkan. 

Cobalah perlahan-lahan lihat kembali hal-hal apa yang kamu pikirkan dan janjikan untuk diselesaikan. Janji-janji pada diri sendiri. Kata-kata pada diri sendiri yang belum kamu penuhi. Mulailah dari sana. Sesederhana memenuhi satu perkataan atau memegang perkataan sendiri. Mulai dari sana. Misalnya, sesederhana janji untuk menulis satu kalimat hari ini. Sesederhana memenuhi perkataan 'akan menyetrika jam 8 malam' atau 'makan es krim kalau berhasil menyelesaikan sesuatu'.Tampak remeh, namun, jika diabaikan ia akan menjadi pikiran tak selesai. Menguras kepercayaan kita terhadap diri sendiri. Perlahan-lahan, sisir semua pikiran yang tak selesai itu. Jadilah orang yang memegang kata-katanya. Awalnya mungkin terasa sulit. Tapi, percayalah. Kita bisa. 

Lalu, perlahan-lahan pula. Bangunlah dirimu seperti yang kau impikan. Tentu saja, semua hal butuh usaha. Dan, usaha itu akan tetap berharga, berarti, bermakna, walaupun jika nanti berakhir tak seperti yang diharapkan. Bagian terpenting adalah yakin dan usaha. Kemudian serahkan pada Tuhan atas hasilnya. 

Senin 06 Oktober 2025

Fiksi Mini: Bocah

Oleh: S. N. Aisyah


Aku agak sebal dengan adikku. Usianya sudah 8 tahun. Tetapi sangat takut tiap kali pergi ke kamar mandi. Sering kutanya alasan dari tingkahnya itu. Namun, ia tak menjawab hanya merengek saja. Jika tak ingin terlambat sekolah atau berangkat mengaji, aku terpaksa harus menemaninya, berdiri di balik pintu. Begitulah tiap kali ia hendak ke kamar mandi. Sangat nenyebalkan. 

Suatu hari, om dan tanteku datang berkunjung. Mereka membawa sepupu kecil kami. Umurnya baru tiga tahun. Tetapi ia lebih dewasa dari adikku.

Siang itu, selepas bermain hujan. Sepupu kami itu menghilang. Aku yang diamanahi menjaga dua bocah itu langsung kalut. Mencari-carinya berkeliling. Ia tak ada di mana pun. 

Namun, begitu melewati kamar mandi, kudengar ia tertawa. Tak terkira leganya hatiku. Kuhampiri ia. 

"Kakak, kakak liat ni," katanya sambil menyiramkan air ke dinding kamar mandi. Ia tertawa-tawa. 

"Iya, udah, yuk. Nanti masuk angin," bujukku padanya. Aku bermaksud untuk segera mengguyurnya dan membungkusnya dengan handuk. 

"Tunggu, Kak. Liat tu." Ia kembali menyiram dinding. "Liat kena dia kan?"

"Adek siram apa?" Kali ini kuperhatikan dinding itu. Apa mungkin ada semut atau hewan lainnya?

"Itu, kak. Anak tu. Ndak ada kaki. Ndak ada tangan," ujar si kecil seraya menunjuk dan tertawa. 

"Hah?" 

Aku nenoleh berkeliling. Hingga mataku berhenti di kaca kamar mandi.Samar-samar,  dapat kulihat bayangan itu. Seorang anak kecil tak bertangan, tak berkaki. Kuyup tersiram. Ia tertawa dengan bibir yang hampir merobek wajahnya. 


Senin, 06 Oktober 2025


Minggu, 05 Oktober 2025

Day 12 Breaking The Prison of Mind's Cage

It's been cold rainy sunday. Loves this weather. I am so not productive today. Did crazy things instead of useful ones. Then I learn about me. I won't look away for what I am on those moments. Let's try to be better. Just don't quit. Keep trying. Trying and trying. It could be sounds bullshit but only if you let it be one. Please don't give up. Not until your time is up!

Sunday, October 5th 2025

Sabtu, 04 Oktober 2025

Day 11 Breaking The Prison of Mind's Cage

Alasan. Mungkin alasan adalah hal yang sangat diperlukan dalam menjalani sesuatu. Alasan adalah suatu  keadaan, hakikat, atau dasar  yang dimiliki oleh suatu entitas yang mendorongnya untuk bertindak atau tidak terhadap sesuatu. Ia menggerakkan jiwa. Sebagai manusia, memiliki tujuan tanpa alasan seperti menggerakkan mesin untuk menjalankan misi yang tak tahu mengapa misi itu dijalankan. Alasan memberikan makna bagi kehidupan. Ia dapat memaku kita pada satu tujuan. Memberikan arah dan makna. Alasan dapat merekat, mengikat, menggerakkan seseorang lebih kuat dibanding motivasi dan tujuan. Di sisi lain, alasan juga jadi bumerang.Ya, seperti mencari-cari alasan. Membenarkan keadaan yang tidak tepat. Bahkan pembenaran keadaan yang tak tepat itu tetap membuat alasan lebih kuat menggerakan, melepas,  atau mengikat manusia. Jadi, jika kau ingin mencapai sesuatu tanyakan pada dirimu alasan itu. Temukan ia. Kenali. Ciptakan. Sebab ia akan membantumu dalam mencapai tujuanmu. 


Jumat, 03 Oktober 2025

Day 10 Breaking The Prison of Mind's Cage

Jujur terhadap diri sendiri mungkin merupakan cara yang paling tepat untuk mengenal dan memahami diri. Penting untuk mengurangi bias (positif maupun negatif ) dalam diri. Ketika pikiran-pikiran negatif atau bias positif muncul, kita butuh jeda sejenak untuk melihat secara objektif dan lebih jernih. Cobalah untuk mengevaluasi penilaian terhadap diri. Memang sulit untuk dilakukan, namun, tidak ada salahnya dicoba. 

Thought: Halo, Oktober! Nice To Meet You.

Welcome Oktober! There's so many beautiful things born in Oktober. Like rains. Anyway. 

Beberapa rubrik BPMC tidak di publish karena telalu personal dan tidak memiliki insight yang significant untuk orang lain. Ah, ini juga terlalu personal. Anyway. 

Kamis, 02 Oktober 2025

Day 9 Breaking The Prison of Mind's Cage

And we found both sadness and beauty at hospital. Saw so many faces, and witnesses how they embrace their fate. And even in the hardest and worst days there's always something good God gives us. 
"اۗفَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرً"

Rabu, 01 Oktober 2025

Poem: Katakan Saja


Oleh: S. N. Aisyah

Katakan saja pada gundukan 
Tanah tempat kau bersemayam--
6 Kaki dari pijakan manusia, 
Tentang luka-luka yang kau terima

Di jembatan penyeberangan lapuk
Di Jalan Jenderal Sudirman 
Bukankah dering ponsel itu begitu panjang,
Hanya untuk sepatah
Kalimat yang tak cukup menaut sayatan nan kian marak kau emban?

Aku di sini tak lagi dapat menelan asam atau asin
Tak dapat mencicip pedas dan manis
Hanya pahit berduri
Tidak. Bukan semacam simalakama
Bukan pula rebung atau ilalang
Yang siap sedia:
Menyiang atau disiang

Semua tertuang dalam periuk
Jadi tempat semut bersarang 
Juga jentik-jentik,
Mulai menggelitik,
merangsek dalam tubuhmu

Maka, katakan pada cacing-cacing itu
Tentang kata-kata yang disematkan 
Di bahumu

Tentang dosa-dosa 
Nan tak mungkin kau ceritakan
Pada napas-napas
Yang belum berpulang 

Kota Bertuah, 25 Agustus 2025

Mental Health

Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpus...