Sabtu, 31 Januari 2026

Tidak apa-apa. Tidak apa-apa sekarang untuk menjadi berantakan. Tidak apa-apa menjadi sesuatu yang penuh ketidaksempurnaan. Tidak apa-apa. Bahkan jika tak ada yang mengerti. Mungkin sekarang kau egois. Tidak apa-apa. Asal jangan menyakiti. Tidak apa-apa. Jangan lama-lama egoisnya. Tidak apa-apa. 

Selasa, 27 Januari 2026

Apa dan Mengapa

Perjalanan hidup ini begitu melelahkan. Tidak ingat kapan terakhir kali hidup terasa begitu menyenangkan dan menarik. Apakah ini proses dari menemukan jati diri sebenarnya atau kembali pada diri sendiri? 

Tiba-tiba saya teringat, dulu, saat masih kanak-kanak betapa selektifnya dalam banyak hal. Tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Tidak mengikuti arus tetapi bukan berarti selalu memilih jalan yang berbeda. Hanya memilih dan mengikuti hal yang sesuai dengan nilai dan pandangan. Tidak tertutup secara pikiran tetapi sangat tegas secara pendirian. Tidak takut menyuarakan pendapat tetapi sangat menyimpan perasaan dalam-dalam. Tidak mengambil hal-hal secara personal namun saat memberikan sesuatu selalu secara personal. Selalu tahu apa yang saya mau dan apa pendirian saya dalam memilih untuk melakukan atau tak melakukan sesuatu. Tahu apa yang saya suka dan tidak suka. Fokus pada solusi meski keadaan saat kacau dan sangat tertekan. 

Namun, bukan berarti benar secara keseluruhan, tentu saja saat masih kecil banyak juga hal-hal buruk yang tak patut lagi dibawa. Seperti kurang disiplin, keras kepala, kurang sabar, kadang meledak, dan bersikap dingin, berlebihan, bahkan keterlaluan. Hidup secara pilot. Keputusan sadar diambil saat terjadi kejadian tertentu. Ceroboh. Cemas berlebihan dalam beberapa hal. Secara berlebih-lebihan selalu takut menyakiti orang lain. Negatif thinking. Selalu memikirkan kemungkinan terburuk, amarah yang konstan, rendah diri, namun juga tak terlalu begitu emosional? Tidak dapat mengingat beberapa hal dengan baik tetapi bisa menyimpan beberapa hal dengan sangat lama. 

Most of the time, saat kecil hingga masa awal menjadi mahasiswa, saya tak terlalu ingat kejadian sehari-hari (seperti makan dan sebagainya) dan tidak menikmati obrolan basa-basi. Tidak terlalu dapat merasakan emosi positif seperti kebahagiaan dan keceriaan yang bertahan lama tetapi memiliki semangat dan ambisi yang disimpan rapat dalam diri. Berpikir positif dan realistis meskipun saya memiliki kecenderungan negatif thinking, insecure, dan selalu melihat kemungkinan terburuk. Memang saat itu raanya begitu mudah untuk fokus mencari solusi tetapi sangat tidak disiplin untuk dapat mengerti cara kerja dunia. Dengan kata lain naif. Sangat naif dan bodoh. 

Saya tak begitu pandai menelusuri diri secara personal di masa lalu. Jika ditanya bagaimana hidup saya di masa lalu, saya akan menjawabnya biasa saja, sangat datar. Saya bisa menceritakan apa yang terjadi tapi tak mengingat perasaan saya akan hal tersebut. Namun, di satu sisi, sayangnya di saat yang sama, tak banyak yang dapat saya ingat dan ceritakan. 
Anehnya, sekarang, jika saya melihat kembali ke masa lalu saya menyadari bahwa hidup saat itu menyenangkan. Anehnya itu terasa seperti hidup meskipun begitu datar. Anehnya saya tak bosan meskipun hidup saya dikatakan membosankan.

Sekarang, saya dapat merasakan banyak hal dan emosi. Hidup tak lagi terasa datar, namun saya sangat bosan. Hingga pada titik tak lagi menginginkannya. Ya, saya pernah berpikir begitu. Saya tak menyukai hal ini. Perasaan-perasaan ini. Meskipun sedari kecil saya dikatakan sebagai anak yang sensitif, namun, saya tak pernah merasa begitu. Saya tahu saya bukan hanya baper saat melakukan apapun ketika itu. Sekarang, sangat berbeda. Saya dapat merasakan banyak hal seperti hidup dan menggerogoti dari luar dan dalam dan ini sangat menggangu. Sangat menggangu. Saya menjadi sangat sadar dengan perasaan saya dan saya sangat membencinya. Hidup saya konstan, datar, namun perasaan saya seperti rollercoaster. Pikiran saya tak lagi berfungsi seperti dulu. 

Saya terkurung dalam loop pikiran dan sangat sulit fokus mencari solusi. Saya tak tahu apa yang saya sukai dan apa yang saya inginkan. Saya tak lagi mengenali diri sendiri. 

Bukankah menyenangkan rasanya saat kita tahu apa yang kita mau dan tahu siapa diri kita? 

Hilang dan tersesat adalah kata yang sangat tepat menggambarkan diri saya saat ini.  Apakah ini kemunduran atau tahap untuk menjadi diri yang baru? 

Kamis, 22 Januari 2026

Ya, Ahjuma!

Sekarang jam tiga pagi. Sudah lama sekali rasanya nggak nulis di blog. Sepertinya blog ini cuma sekadar diary. yah, tak ada juga yang membaca selain diri sendiri. Yeah, well.

I've been jumping around here and there just to find an answer of  what I wanna do. What I like and what's my dream. It's seems so irrelevant now to feel this way. I mean, I still wanna have it. Dreams. A vision to live a life that align and can help me to add some supplies and stores of good deed for my after life. But, eventually, it's not as easy as speaking. I don't know what is happening. Probably, I just get distracted. too distracted and detached from real life, the meaning of it and the purpose of what I live for. This endlessly of fatigue and feeling lost and the struggle to get it together. The clash between what's known to be right and what's be done. The Gap of it. It's so annoyyingly frustrated. 

Kemarin membaca bebebrapa tulisan di blog ini dan menemukan fakta betapa semua tulisan itu snagat mentah dan memiliki banyak kekurangan. Ya, pada akhirnya ini hanyalah tulisan-tuisan yang tak melalui proses penanakan. Hanyalah tulisan sekali jadi tanpa editing atau penegndapan untuk mendapatkan perspektif baru dlaam tahap editing. Hampir saja menyerah sepenuhnya denganmenulis, tetapi diingatkan oleh halaman buku NNL yang dipost oleh penulisnya sendiri beberapa hari lalu tentang menulis tak harus menjadi seorang ahli profesional di sana. Ya, menulis hanyalah menumpahkan isi kepala, menenangkan pikiran, merenung, dan proses untuk menemukan sebuah jawaban. 

Saat pikiran kacau balau seperti ini, meracau dalam tulisan tanpa pembaca adalah jalan yang tepat untuk menguraikannya. Bukankah begitu? Mungkin, keterasaingan yang dirasakan oleh para penulis kawakan di masa dahulu-lah yang membuat mereka berbicara dengan kertas dan pena. Menumpahkan pikiran yang takmemiliki telinga untuk mendengarnya, atau hati untuk menampungnya atau pikiran untuk memahaminya. Menulis. Menulis. Sekarang sudah sangat banyak orang yang menulis. Itu adalah hal yang baik. Setiap tulisan akan menemukan pembacanya, bahkan jika itu berarti diri penulis di masa mendatang. Seperti blog ini. Jangan lupa kembali lagi ke sini dan membaca tulisanmu, ya? Teruslah menulis, teruslah  kembali untuk membacanya. Kau selalu diterima di sini.

Sampai nanti.

Kamis, 22 Januari 2026

Kamis, 01 Januari 2026

 A Brand New Shit  Sheet

Udah ganti tahun aja. Banyak belajar dari tahun kemarin. Setidaknya 2025 nggak menjelma The Stranger dari Camus. It's kinda but it's not.  Dengan kata lain, 2025 mengizinkan kita duduk dengan berbagai macam perasaan yang mungkin belum dapat dimengerti-- dan meminta didengar. 

Pergantian tahun, kerap menjadi 'milestone' bagi manusia untuk memulai atau meraih sesuatu. Sebab itulah lahir bebagai macam resolusi tahunan. Di satu sisi, ini dapat dipahami. Sebab pergantian dan perguliran waktu berkaitan erat dengan keselarasan  hidup manusia dalam kelompok dan alam sekitarnya. Akan tetapi, di sisi lain, waktu berupa relativitas bagi setiap individu sehingga menjadikan pergantian tahun atau periode waktu tertentu sebagai milestone untuk memulai atau meraih sesuatu menjadi tak relevan dalam beberapa kondisi. Misalnya saja, untuk berubah menjadi baik. Kita tak perlu menunggu tahun depan untuk melakukan suatu perubahan. Tak perlu menunggu waktu tertentu untuk belajar dan memperbaiki diri. 

Begitu juga untuk mengubah, menambah, memperluas, dan memperdalam perspektif terhadap goals atau resolusi tahunan. Tak sedikit dari kita yang bersemangat untuk merumuskan berbagai macam resolusi tahunan dan  goals-goals tertentu yang ingin kita capai saat memasuki tahun yang baru. Semangat itu mungkin akan menyala di awal-awal, tetapi banyak juga yang kehilangan nyala apinya di tengah jalan Sehingga saat semua resolusi itu mandek, usaha dan semangat untuk mewujudkannya juga dibekukan. Kehilangan momentum dan semangat kerap membuat sebagian dari kita kehilangan fokus untuk mencapai milestone kita itu bahkan mengabaikannya sama sekali. Tak jarang resolusi tahunan hanya menjadi omong kosong tahunan lainnya.  

Itu semua dapat terjadi jika kita mengungkung pergerakan, perubahan, semangat kita dalam perspektif waktu tertentu. Seolah-olah jika kita melewatkan satu momentum, maka kita telah gagal sepenuhnya. Padahal, waktu sendiri bersifat relatif bagi setiap individu.  Seperti definisi kesuksesan dan keberhasilan hidup, tak ada batasan kaku mengenai periode waktu yang diharuskan untuk memenuhinya. Tak batasan kaku yang dapat mendefinisikan apa, siapa, bagaimana, mengapa, di mana, dan kapan sesuatu itu disebut sukses atau berhasil. 

Orang-orang mengatakan bahwa setiap hari adalah lembaran baru untuk dapat mencoba lagi. Bagaimana kalau kita katakan bahwa setiap kesadaran adalah lembar baru untuk kita dapat memulai lagi? Entah itu  dalam kurun tahun, minggu, hari, jam, bahkan detik sekalipun? Jadi, saat kita menyadari ada hal yang salah, ada sesuatu yang tak berjalan dengan baik, di saat itulah keputusan ada di tangan kita. Apakah kita akan mengungkung diri dalam perspektif kaku berputaran waktu atau kita dapat menjadikannya lembar baru untuk belajar, memperbaiki, dan memulai lagi. 


20:43
01 Januari 2026 

Mental Health

Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpus...