Tampilkan postingan dengan label Thoughts. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thoughts. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Mei 2026

Tentang Mimpi

Mungkin di usia sekarang, bermimpi menjadi lebih sulit dibandingkan dengan ketika kita masih lugu dan tidak tahu banyak hal tentang dunia. Betapa paradoxial. Kita dengan mudahnya mencampakkan mimpi ke belakang punggung saat sudah mengenyam asam-garam, pahit-manis, pedas-hambar kehidupan. Ketika  sedikit lebih mengerti cara kerja dunia dan merasa tidak memiliki cukup kekuatan untuk menghadapinya, kita tersurut. Ketakutan dan bersembunyi di balik kata realistis. Sedangkan saat masih kecil dan tak mengerti apapun, kita memiliki keberanian yang besar dalam bermimpi. Oh, benarlah kiranya kanak-kanak memiliki hati yang besar untuk tubuhnya yang kecil. Sementara orang dewasa semakin usia bertambah, semakin menciut hatinya. Memang tak bisa bicara atas dasar permukaan dan simplifikasi saja. Terkadang memang semakin tahu, semakin tak menggebu. Ada kebijaksaan di balik kepala dingin yang meredam gelora hati. Namun, tak jarang pula rasa insecure dan pesimistis yang dilumuri dengan being realistic dan nggak muluk-muluk memegang andil dalam kehidupan manusia 'dewasa'.


Bukankah semakin tahu manusia harusnya semakin maju? Namun, faktanya tidak selalu demikian. Sebagian dari kita, terjebak dalam pengetahuan itu. Tenggelam dalam data-data dan pemahaman dangkal yang bersifat sementara. Ada perbedaan dari kebenaran hakiki dan sepotong pengetahuan yang merupakan bagian dari proses. Sesuatu yang kita lihat dengan lanskap terbatas. Sebatas sudut pandang dan pemahaman subjektif kita. Lalu kita mengamininya menjadi suatu kebenaran mutlak. Kita kira kita sudah cukup tahu untuk menjadi hakim atas takdir kita. Memilih menyerah sebelum benar-benar kalah. Sebuah keputusan egois yang kita lakukan untuk memenangkan kepengecutan dengan menyembelih mimpi. 

Lalu, di kemudian hari, kita akan duduk merenung menyesali kepongahan serta kebodohan. Kejumawaan diri untuk mendahului takdir dengan dalih tak akan melakukan hal yang sia-sia, tanpa pernah benar-benar tahu mana yang sia-sia, mana yang berlandaskan topeng takut gagal atau keengganan meninggalkan zona nyaman. Berhenti sebelum mencoba. 

Benar adanya pemahaman atas diri sendiri dan pemahaman atas dunia luar diperlukan untuk melihat garis singgung takdir dengan kacamata kebijaksanaan. Namun, di atas semua itu, ada hukum alam dan di atasnya lagi ada prerogatif Tuhan. 

Pertanyaannya apakah semua itu sudah masuk dalam pertimbangan untuk memilih berjalan atau berhenti? Atau sudahkah engkau kerahkan usaha terbaik sebelum merengek dan menyuruk dalam kepecundangan diri yang tak mau sedikit menahan dan bertahan dalam kata juang?

Jumat, 29 Mei 2026
09: 18 WIB


Minggu, 26 April 2026

What Does Baking Taught Me

Ramadhan kemarin belajar baking di rumah dengan adik. Coba buat sugar palm cheese cookies dan kue kering sumprit. Pertama kali benar-benar pay attention di permasalahan baking. Dulu, biasanya hanya akan melakukan apapun yang diminta tanpa benar-benar memperhatikan. Bisa dikatakan baking dan memasak bukanlah passion saya. Bagi saya, makanan adalah makanan. makan hanya sekadar makan. Untuk bertahan hidup. Mungkin cita rasa atau selera saya adalah yang terburuk yang pernah ada. Sebab, tak mengerti sama sekali rasa dari makanan. Saya hanya akan melahap makanan selagi ia masih edible dan halal tentunya. 

Pada saat itu, saya benar-benar kehilangan semangat atas hal-hal dan Ramadhan selalu saja membawa suatu kebaikan yang tak bisa saya jelaskan. Mungkin inilah yang dimaksud dengan berkah Ramadhan. Jadi, saat adik saya mengatakan hendak membuat kue, tiba-tiba saja saya minta diajari dari awal. And she was very welcome about it. Lucky me, to have her, right? Alhamdulillah. 

Anyway. Selama belajar baking dengan paying attention, ada beberapa hal yang akhirnya saya sadari:

1. Proses membuat makanan itu, akan sangat menyenangkan jika kita mengerti apa yang sedang kita kerjakan, nggak cuma tunggu intruksi. Meskipun sekadar jadi asisten koki, kalau kita pay attention, semua hal akan menjadi menarik. Dan saya yakin ini tak hanya berlaku untuk baking, tapi untuk setiap hal. Uou start to pay attention when you're interested or YOU CAN PAY ATTENION to MAKE THINGS INTERESTING. 

2. Pertama kali coba menakar, mengadon, mencetak sampai memanggang dalam oven sendiri dengan paying attention, membuat saya mengerti mengapa orang-orang yang suka masak mencintai memasak dan masakan mereka. The feelings grow within the care. Perasaan itu dapat tumbuh dengan perhatian. Dan untuk membuatnya tetap ada, perlu dirawat. Hadir di setiap prosesnya dengan tulus. 

3.  You have to make sure, just in case something is going wrong. Jadi, kalau mengikuti intruksi, suhu dan durasi api yang digunakan oleh panduan ternyata nggak cocok di oven rumah atau mungkin adonan dan cetakannya yang kurang sesuai. Percobaan pertama rada gosong. it's a little bit too brown than it supposed to be. 

4. Sabar dan persisten. Well, nggak perlu penjelasan lebih lanjut.

5. Do it with love. Selama ini saya memasak hanya teknikal. Itu juga tekniknya nggak bagus. Jadi, ya ... begitulah. Kakak saya bilang, kekurangan dari masakan saya itu kurang cinta. Mungkin itu benar, karena jujur memasak hingga saat itu bukanlah hal yang saya nikmati, saya melakukannya karena itu salah satu cara bertahan hidup dan kita memerlukannya. Sejak belajar baking dan ngelihat hasil cetakannya yang lumayan dari hasil itu dan bocil-bocil bilang enak (entah iya atau enggak), itu menghasilkan perasaan yang berbeda. Senang? entahlah.

Jadi, belakangan, sesuatu berubah. Tiba-tiba saja, suatu hari saya makan dan hampir menangis karena rasanya. Entah karena memang enak atau karena ada sesuatu yang salah dengan diri saya waktu itu. Saya bahkan tidak ingat makanan apa yang membuat saya hampir menangis saat itu. Lalu, ada juga saat-saat di mana saya sangat kagum dengan rasa masakan yang biasanya saya tak begitu notice. Ada kalanya saya mulai membandingkan rasa masakan,  dan juga sedikit keecewa dengan rasa yang menurut saya terlalu asin (tetap dihabiskan, kok). Perubahan-perubahan ini membuat saya sedikit terkejut. Anehnya, saya sebelumnya tak pernah terlalu memusingkan soal rasa makanan. Maksudnya, selagi masih edible saya makan. Tidak terlalu picky kecuali untuk beberapa hal yang memang tidak bisa saya konsumsi (urgensi), bukan sekadar tidak suka. Saya makan tanpa protes ataupun (belakangan baru sadar juga tanpa menikmatinya), sebab bergitulah cara saya menghargai dan bersyukur atasnya. Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa menikmati rasa makanan juga bentuk syukur atas nikmat dan karunia dari Tuhan. Serta bentuk penghargaan kepada orang yang telah membuat dan menyajikannya. Kini sudut pandang mekanikal saya dalam perkara makanan dan memasak diketuk palu kecil kue sumprit dan sugar palm cheese cookies yang hanya sebesar kue cubit. But I still want to able appreciate food no matter what and how it taste. Only add that it's good if you can differentiate the taste and enjoy it. 


Minggu, 26 April 2026

09 : 15 WIB

Kamis, 23 April 2026

Racauan (Lagi)

Sudah membuka laman ini sejak keamrin malam, akan tetapi belum tahu juga apa yang mesti dituliskan. Sudah sangat lama sejak menulis rutin itu, sejak tak melakukannya lagi, rasanya mulai kehilangan sesuatu. Di suatu hari, seorang teman pernah bilang, kemampuan itu kalau tak diasah nanti jadi tumpul. katanya, kalau kita menyia-nyiakan bakat yang diberikan Tuhan, nanti akan diambil dari kita. Sebuah insight yang sangat bagus. Sayangnya, saya tak punya bakat, tapi bisa jadi kebiasaan, skill (meski tak begitu bagus), niat, dan bahkan semua hal juga demikian. Jika tak dirawat, tak dijaga, bisa saja kita kehilangannya. Sebab, kita tak lagi pantas memilikinya. Dengan kata lain, Tuhan ambil sebab kita menyia-nyiakannya. Entah di mana si kawan itu sekarang. 

Ada banyak yang ingin dituliskan, tetapi di saat yang sama seperti tak ada hal yang bisa dituliskan. Mungkin karena bahkan dalam kesendirian paling gelap pun terkadang manusia takut akan kejujuran. Takut melihat bayangan dirinya yang penuh borok dan tak sebagus apa yang ia tunjukkan dan perdengarkan. 

Belakangan, saya sangat insecure. Betapa banyaknya wanita yang berdaya dan kuat, merantau sendirian, menghasilkan uang dan membiayai hidupnya sendiri, berani melakukan hal apapun, memiliki skill, cerdas,berkarakter elok, berpendidikan tinggi, punya mimpi dan mewujudkannya, tegar, intinya dapat hidup sendirian. Sesuatu yang saya tak pernah alami atau miliki dalam diri saya. Belum lagi di dunai seperti ini, saya merasa tidak memiliki tempat. semua orang menginginkan orang-orang, wanita yang dapat melakukan apapun sendirian. baik sebagai kenalan, teman, rekan kerja, pegawai, mentor, pasangan. Saya hampir tak dapat melakukan hal apa pun. Ketika merenung sendirian dan mendapati tak ada hal yang dapat saya kerjakan dengan baik, jujur saya sedikit merasa sedih. Meskipun kemampuan dapat di asah, namun, hati saya terlalu lembek untuk berjuang. sangat memalukan. satu-satunya hal yang dapat saya lakukan dengan baik adalah menjadi pecundang. Atau begitulah yang saya pikirkan selama ini. 

Namun, saya melupakan satu hal. Memang benar, sejak dulu saya tak memiliki hal baik atau istimewa dalam diri saya. Tetapi, saya selalu melakukan hal yang saya bisa. meskipun itu sangat kecil dan tak berarti bagi orang lain, setidaknya dulu  saya tak pernah membandingkan diri dengan siapa pun dan hanya melakukan hal yang bisa saya lakukan. Saya meninggalkan bagian diri itu, seorang yang tidak pernah membandingkan diri secara personal dengan orang lain hanya untuk merasa lebih buruk. saya tekankan secara personal, sebab, tentu saja hidup perlu perbandingan di beberapa sisi namun tidak di bagian lainnya. Skill dan kualitas, perlu dibandingkan bukan secara personal, tetapi secara objektif agar dapat lebih baik lagi. Sementara pribadi atau personal tidak perlu dibandingkan sebab setiap individu berbeda. 

Hal ini yang  belakangan sering saya lupakan. Hal yang dahulu seperti bernapas bagi saja. Hal yang tanpa saya sadari, membantu saya untuk terus berjalan dalam hidup, atas izin Allah. semuanya atas Izin Allah. Dan ... Alhamdulillah sekarang saya diberikan kesempatan kedua untuk kembali menyadarinya. Saya ingin merawatnya agar menjadi orang yang tetap layak untuk dititipi mindset ini. Semoga saja. 

Ah, racauan tak berstruktur lagi. Apa boleh buat. Sampai jumpa!


Senin, 02 Maret 2026

sekilas racauan

Hai. datang lagi. yang penting nulis aja dah. bisa sih tulis di jurnal. tapi pengen aja di sini. megapa ya, manusia selalu saja jatuh di perangkap yang sama? danbodohnya itu perangkap yang ia pasang sendiri. kayak 'lu bego tapi kok segitunya, sih?'.

ternyata manusia memang selemah itu. terlalu lemah untuk bisa bergantung pada diri sendiri. bayangkan, manusia lemah itu bergantung pada manusia lainnya, yang sama rapuhnya. maka, pada manusia, kita tidaklah saling bergantung tetapi saling mendukung. jangan pernah menggantungkan hidupmu pada manusia bahkan jika itu orang yang paling kamu percaya dan paling kamu cintai sekalipun. dan tidak pula pada diri sendiri. sebab manusia adalah makhluk yang amat rapuh, lemah, dan bodoh jika saja Tuhan tidak memberikan sedikit kekuatan dan pengetahuan padanya.

sebuah paradoks kehidupan, orang-orang kuat tidak mengatakan dirinya kuat, tidak menyombongkan diri, tidak pula jumawa atas kekuatannya. mereka tahu pasti bahwa mereka memiliki kelemahan dan dengannya mereka belajar, berlatih, serta menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. dengan menyadari bahwa mereka bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa  bukan pula harus menjadi sesuatu yang harus menguasai dunia, mereka melepaskan ketakutan dan kekhawatiran yang melemahkan dirinya. 

mungkin seperti itu. entahlah. ah, ngantuk sekali. sudah dulu. jangan lupa mampir lagi, ya. baca tulisan-tulisan remukmu ini. 

23.37
Senin, 02 Maret 2026

Sabtu, 21 Februari 2026

Homepage--homesick-home

Baru saja membaca beberapa tulisan yang bagus di substack. Tiba-tiba saja, sesuatu dalam diri saya terpanggil. sesuatu yang rasanya sudah lama sekali tertidur. mengingatkan saya mengapa dulu saya memilih jalan yang saya pilih. Mengingatkan saya mengapa saya jatuh cinta pada dunia baca dan tulis. 
mengingatkan betapa tulisan dan pikiran yang dalam dan tajam, tulisan yang sunyi namun lantang, tenang dan tegas menjadi rumah bagi pikiran dan hati saya. Alhamdulillah. Allah  mempertemukan saya dengan tulisan-tulisan  tersebut. 

Saya homesick! benar-benar homesick. Kilasan perasaan itu datang. saya pernah merasa bersemangat sebelumnya. betapa menyenangkannya. dan tulisan-tulisan yang saya baca di substack itu membuat saya mengingatnya. merindukannya. 

setelah sekian lama tenggelam dalam riuh dan gaduhnya sosial media, saya seperti menemukan satu sudut senyap untuk beristirahat. Oh, pengendalian diri. Ini sangat konyol. Dulu, ketika masih masa BBM dan ponsel internet dengan kemampuan yang  tidak secanggih sekarang, saya tidak tertarik sama sekali. ponsel berinternet yang saya gunakan ketika itu adalah lungsuran dari kakak. ketika hendak mengganti dengan yang baru, saya malah memilih keystone yang minim fitur. ketika sadar bahwa saya baru saja mengganti ponsel, kawan saya bertanya kenapa memilih hp jadul ini. saya jawab, saya tak tertarik menggunakan ponsel 'canggih' saat itu. sebab saya tahu bagaimana diri saya  dan merasa bahwa hal tersebut dapat mengganggu saja. saya katakan pada kawan sekelas itu bahwa saya tak ingin larut bermain game atau berinternet ria. si kawan hanya menatap heran pada saya. mungkin pilihan saya sangat konyol. Saat itu, saya tidak bergabung pada grup mana pun, tidak saling bertukar pesan ria, tidak mendapatkan informasi tambahan kecuali informasi primer yang dibutuhkan melalui fitur pesan singkat yang merupakan kanal informasi utama saat ngampus dulu. Menurut hemat saya, saya hanya membutuhkan informasi yang penting saja. mungkin sedikit terdengar bodoh, ingorant bahkan arogan. tetapi saat itu pikiran saya lebih jelas dan jauh dari bising-bisaing seperti saat ini. Saya dapat memilih secara sadar hidup saya dan mengenal diri serta mengetahui apa yang saya inginkan dalam hidup. saya juga tahu dengan pasti apa yang saya sukai dan tidak. saya tahu apa yang ingin saya konsumsi atau tidak. 

setelah fitur  ponsel pintar berkembang  amat pesat dan dapat menunjang untuk berbagai pekerjaan, pemilihan menggunakan alat ini menjadi lebih masuk akal. Namun, naasnya perangkap firtur hiburan terlihat lebih menggoda. Ya, ini hanyalah tentang kebijaksaan memilih dan menggunakan. dari kecanggihan dunia modren ini, kita bisa meraih manfaat yang banyak dalam waktu singkat. Namun, ternyata hal ini memberikan efek terburu-buru dalam kehidupan. Atau kewalahan banjir informasi yang tak dibutuhkan, bahkan juga  terpenrangkap dalam muslihat-muslihat yang tak kita sadari mengintai di susdut-sudut yang terlihat aman. 

saat ini begitu layar digelar dan digulir, kita langsung disodorkan informasi yang belum tentu kita butuhkan atau inginkan. Namun, dengan kemasan dan hook yang begitu menarik, tanpa sadar kita bertahan di sana. menyerap informasi tersebut. lalu berpindah pada informsi lainya dalam hitungan menit bahkan detik. Otak kita tak diberi waktu untuk memproses dan mengirim signal pada diri kita apakah hal ini benar kita perlukan atau tiak. Nanmun, informasi itu kadung terekam dalam pita otak, menjadi bising dan suara-suara yang menyelubungi pikiran kita (setidaknya sejauh informasi itu bertahan dalam ingatan)  yang tak jarang kita adopsi.

keberlimpahan stok informasi dengan kemudahan akses dapat menjadi bumerang yang menenggelamkan kita dalam lautan  'sampah' informasi. mempercayai bising yang sebenarnya bukan suara hati atau pikiran kita. tidak memproses dan mengendapkan masukan yang baru saja dilahap. 
lalu, kita tersesat, bingung, dan kehilangan diri sendiri. kita berinteraksi dengan banyak hal tetapi tak pernah benar-benar terhubung. mengenal banyak hal  dan orang namun tak pernah benar-benar mengenali diri sendiri. mengetahui banyak hal tetapi tidak memahami lebih dalam. kemudahan akses  dalam waktu singat ini lagi-lagi membuat kita hidup terengah-engah. selalu merasa tertinggal. selalu ingin lekas dalam segala hal. selalu terburu-buru hingga kewalahan. kita menciptakan kegelisahan dan kecemasan yang mungkin seharusnya tak ada dalam hidup kita. ini miris dan konyol di saat yang sama. 

tentu saja di masa  ini  bagi sebagian besar kita internet menjadi tak terhindarkan. tetapi terus-terus bersamanya membuat kita cenderung lupa dengan diri dan hidup kita sesungguhnya. ya, tidak serta merta demikian tetapi sangat rentan adanya. \

oh, homesick! dan beberapa scroll dapat saja menghancurkan perasaan ini. 

09.10
Sabtu, 21 Februari 2026

Selasa, 03 Februari 2026

Thought: Ini Bukan Jumat Tetapi Tak Mengapa

Welcome Februari!

Lucu sekali rasanya membuang banyak waktu hanya untuk terlarut dalam fluktuasi emosi. Bahkan Januari tidak dilewati dengan satu buku pun! Tidak apa-apa. Kita nggak sedang lomba dengan siapa-siapa. 

Mungkin, untuk ke depannya blog ini tidak bisa mengggunakan metode dari April hingga Oktober kemarin. Wah, Oktober tahun lalu adalah masa emasnya blog ini. Sangat produktif. congratulation. That's a proof that you can do that, God willing. Alhamdulillah. Terima kasih untuk semua yang telah menginspirasi di bulan Oktober. Terutama, terima kasih Oktober. 

Nah, bukankah Oktober adalah bukti bahwa yang kita butuhkan itu komitmen, disiplin, konsistensi, integritas, dan melepaskan perfeksionis yang tak masuk akal. Tentu saja lebih daripada itu semua, tidak mungkin mungkin tanpa pertolongan dan izin dari Yang Maha Kuasa. 

Ada banyak hal yang mesti dibereskan, oleh sebab itu, menulis di sini mungkin tak bisa seproduktif Oktober dan beberapa bulan sebelumnya. 

Sangat bersyukur atas segala hal. Alhamdulillah. Semoga Allah mudahkan dan beri jalan. Amin.

Sudah dulu! Jalan lupa mampir lagi buat baca ini, ya! 


06: 08 

Selasa, 03 Februari 2026

Sabtu, 31 Januari 2026

Tidak apa-apa. Tidak apa-apa sekarang untuk menjadi berantakan. Tidak apa-apa menjadi sesuatu yang penuh ketidaksempurnaan. Tidak apa-apa. Bahkan jika tak ada yang mengerti. Mungkin sekarang kau egois. Tidak apa-apa. Asal jangan menyakiti. Tidak apa-apa. Jangan lama-lama egoisnya. Tidak apa-apa. 

Selasa, 27 Januari 2026

Apa dan Mengapa

Perjalanan hidup ini begitu melelahkan. Tidak ingat kapan terakhir kali hidup terasa begitu menyenangkan dan menarik. Apakah ini proses dari menemukan jati diri sebenarnya atau kembali pada diri sendiri? 

Tiba-tiba saya teringat, dulu, saat masih kanak-kanak betapa selektifnya dalam banyak hal. Tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Tidak mengikuti arus tetapi bukan berarti selalu memilih jalan yang berbeda. Hanya memilih dan mengikuti hal yang sesuai dengan nilai dan pandangan. Tidak tertutup secara pikiran tetapi sangat tegas secara pendirian. Tidak takut menyuarakan pendapat tetapi sangat menyimpan perasaan dalam-dalam. Tidak mengambil hal-hal secara personal namun saat memberikan sesuatu selalu secara personal. Selalu tahu apa yang saya mau dan apa pendirian saya dalam memilih untuk melakukan atau tak melakukan sesuatu. Tahu apa yang saya suka dan tidak suka. Fokus pada solusi meski keadaan saat kacau dan sangat tertekan. 

Namun, bukan berarti benar secara keseluruhan, tentu saja saat masih kecil banyak juga hal-hal buruk yang tak patut lagi dibawa. Seperti kurang disiplin, keras kepala, kurang sabar, kadang meledak, dan bersikap dingin, berlebihan, bahkan keterlaluan. Hidup secara pilot. Keputusan sadar diambil saat terjadi kejadian tertentu. Ceroboh. Cemas berlebihan dalam beberapa hal. Secara berlebih-lebihan selalu takut menyakiti orang lain. Negatif thinking. Selalu memikirkan kemungkinan terburuk, amarah yang konstan, rendah diri, namun juga tak terlalu begitu emosional? Tidak dapat mengingat beberapa hal dengan baik tetapi bisa menyimpan beberapa hal dengan sangat lama. 

Most of the time, saat kecil hingga masa awal menjadi mahasiswa, saya tak terlalu ingat kejadian sehari-hari (seperti makan dan sebagainya) dan tidak menikmati obrolan basa-basi. Tidak terlalu dapat merasakan emosi positif seperti kebahagiaan dan keceriaan yang bertahan lama tetapi memiliki semangat dan ambisi yang disimpan rapat dalam diri. Berpikir positif dan realistis meskipun saya memiliki kecenderungan negatif thinking, insecure, dan selalu melihat kemungkinan terburuk. Memang saat itu raanya begitu mudah untuk fokus mencari solusi tetapi sangat tidak disiplin untuk dapat mengerti cara kerja dunia. Dengan kata lain naif. Sangat naif dan bodoh. 

Saya tak begitu pandai menelusuri diri secara personal di masa lalu. Jika ditanya bagaimana hidup saya di masa lalu, saya akan menjawabnya biasa saja, sangat datar. Saya bisa menceritakan apa yang terjadi tapi tak mengingat perasaan saya akan hal tersebut. Namun, di satu sisi, sayangnya di saat yang sama, tak banyak yang dapat saya ingat dan ceritakan. 
Anehnya, sekarang, jika saya melihat kembali ke masa lalu saya menyadari bahwa hidup saat itu menyenangkan. Anehnya itu terasa seperti hidup meskipun begitu datar. Anehnya saya tak bosan meskipun hidup saya dikatakan membosankan.

Sekarang, saya dapat merasakan banyak hal dan emosi. Hidup tak lagi terasa datar, namun saya sangat bosan. Hingga pada titik tak lagi menginginkannya. Ya, saya pernah berpikir begitu. Saya tak menyukai hal ini. Perasaan-perasaan ini. Meskipun sedari kecil saya dikatakan sebagai anak yang sensitif, namun, saya tak pernah merasa begitu. Saya tahu saya bukan hanya baper saat melakukan apapun ketika itu. Sekarang, sangat berbeda. Saya dapat merasakan banyak hal seperti hidup dan menggerogoti dari luar dan dalam dan ini sangat menggangu. Sangat menggangu. Saya menjadi sangat sadar dengan perasaan saya dan saya sangat membencinya. Hidup saya konstan, datar, namun perasaan saya seperti rollercoaster. Pikiran saya tak lagi berfungsi seperti dulu. 

Saya terkurung dalam loop pikiran dan sangat sulit fokus mencari solusi. Saya tak tahu apa yang saya sukai dan apa yang saya inginkan. Saya tak lagi mengenali diri sendiri. 

Bukankah menyenangkan rasanya saat kita tahu apa yang kita mau dan tahu siapa diri kita? 

Hilang dan tersesat adalah kata yang sangat tepat menggambarkan diri saya saat ini.  Apakah ini kemunduran atau tahap untuk menjadi diri yang baru? 

Kamis, 22 Januari 2026

Ya, Ahjuma!

Sekarang jam tiga pagi. Sudah lama sekali rasanya nggak nulis di blog. Sepertinya blog ini cuma sekadar diary. yah, tak ada juga yang membaca selain diri sendiri. Yeah, well.

I've been jumping around here and there just to find an answer of  what I wanna do. What I like and what's my dream. It's seems so irrelevant now to feel this way. I mean, I still wanna have it. Dreams. A vision to live a life that align and can help me to add some supplies and stores of good deed for my after life. But, eventually, it's not as easy as speaking. I don't know what is happening. Probably, I just get distracted. too distracted and detached from real life, the meaning of it and the purpose of what I live for. This endlessly of fatigue and feeling lost and the struggle to get it together. The clash between what's known to be right and what's be done. The Gap of it. It's so annoyyingly frustrated. 

Kemarin membaca bebebrapa tulisan di blog ini dan menemukan fakta betapa semua tulisan itu snagat mentah dan memiliki banyak kekurangan. Ya, pada akhirnya ini hanyalah tulisan-tuisan yang tak melalui proses penanakan. Hanyalah tulisan sekali jadi tanpa editing atau penegndapan untuk mendapatkan perspektif baru dlaam tahap editing. Hampir saja menyerah sepenuhnya denganmenulis, tetapi diingatkan oleh halaman buku NNL yang dipost oleh penulisnya sendiri beberapa hari lalu tentang menulis tak harus menjadi seorang ahli profesional di sana. Ya, menulis hanyalah menumpahkan isi kepala, menenangkan pikiran, merenung, dan proses untuk menemukan sebuah jawaban. 

Saat pikiran kacau balau seperti ini, meracau dalam tulisan tanpa pembaca adalah jalan yang tepat untuk menguraikannya. Bukankah begitu? Mungkin, keterasaingan yang dirasakan oleh para penulis kawakan di masa dahulu-lah yang membuat mereka berbicara dengan kertas dan pena. Menumpahkan pikiran yang takmemiliki telinga untuk mendengarnya, atau hati untuk menampungnya atau pikiran untuk memahaminya. Menulis. Menulis. Sekarang sudah sangat banyak orang yang menulis. Itu adalah hal yang baik. Setiap tulisan akan menemukan pembacanya, bahkan jika itu berarti diri penulis di masa mendatang. Seperti blog ini. Jangan lupa kembali lagi ke sini dan membaca tulisanmu, ya? Teruslah menulis, teruslah  kembali untuk membacanya. Kau selalu diterima di sini.

Sampai nanti.

Kamis, 22 Januari 2026

Kamis, 01 Januari 2026

 A Brand New Shit  Sheet

Udah ganti tahun aja. Banyak belajar dari tahun kemarin. Setidaknya 2025 nggak menjelma The Stranger dari Camus. It's kinda but it's not.  Dengan kata lain, 2025 mengizinkan kita duduk dengan berbagai macam perasaan yang mungkin belum dapat dimengerti-- dan meminta didengar. 

Pergantian tahun, kerap menjadi 'milestone' bagi manusia untuk memulai atau meraih sesuatu. Sebab itulah lahir bebagai macam resolusi tahunan. Di satu sisi, ini dapat dipahami. Sebab pergantian dan perguliran waktu berkaitan erat dengan keselarasan  hidup manusia dalam kelompok dan alam sekitarnya. Akan tetapi, di sisi lain, waktu berupa relativitas bagi setiap individu sehingga menjadikan pergantian tahun atau periode waktu tertentu sebagai milestone untuk memulai atau meraih sesuatu menjadi tak relevan dalam beberapa kondisi. Misalnya saja, untuk berubah menjadi baik. Kita tak perlu menunggu tahun depan untuk melakukan suatu perubahan. Tak perlu menunggu waktu tertentu untuk belajar dan memperbaiki diri. 

Begitu juga untuk mengubah, menambah, memperluas, dan memperdalam perspektif terhadap goals atau resolusi tahunan. Tak sedikit dari kita yang bersemangat untuk merumuskan berbagai macam resolusi tahunan dan  goals-goals tertentu yang ingin kita capai saat memasuki tahun yang baru. Semangat itu mungkin akan menyala di awal-awal, tetapi banyak juga yang kehilangan nyala apinya di tengah jalan Sehingga saat semua resolusi itu mandek, usaha dan semangat untuk mewujudkannya juga dibekukan. Kehilangan momentum dan semangat kerap membuat sebagian dari kita kehilangan fokus untuk mencapai milestone kita itu bahkan mengabaikannya sama sekali. Tak jarang resolusi tahunan hanya menjadi omong kosong tahunan lainnya.  

Itu semua dapat terjadi jika kita mengungkung pergerakan, perubahan, semangat kita dalam perspektif waktu tertentu. Seolah-olah jika kita melewatkan satu momentum, maka kita telah gagal sepenuhnya. Padahal, waktu sendiri bersifat relatif bagi setiap individu.  Seperti definisi kesuksesan dan keberhasilan hidup, tak ada batasan kaku mengenai periode waktu yang diharuskan untuk memenuhinya. Tak batasan kaku yang dapat mendefinisikan apa, siapa, bagaimana, mengapa, di mana, dan kapan sesuatu itu disebut sukses atau berhasil. 

Orang-orang mengatakan bahwa setiap hari adalah lembaran baru untuk dapat mencoba lagi. Bagaimana kalau kita katakan bahwa setiap kesadaran adalah lembar baru untuk kita dapat memulai lagi? Entah itu  dalam kurun tahun, minggu, hari, jam, bahkan detik sekalipun? Jadi, saat kita menyadari ada hal yang salah, ada sesuatu yang tak berjalan dengan baik, di saat itulah keputusan ada di tangan kita. Apakah kita akan mengungkung diri dalam perspektif kaku berputaran waktu atau kita dapat menjadikannya lembar baru untuk belajar, memperbaiki, dan memulai lagi. 


20:43
01 Januari 2026 

Jumat, 21 November 2025

Thought: Hidup

Lalu ada apa sebenarnya di balik kehidupan manusia? Apakah mereka juga menemukan kebingungan seperti seekor anak kucing yang terdampar di hutan belantara? Jauh di dalam pekatnya hijau dedaunan dan matahari yang hanya sebayang dalam telau-telau di atas kepala. Apakah mereka juga mengeong ketakutan dan kedinginan saat hujan datang? Meriang dalam lapar akan kasih sayang yang tak dapat diobati selain dengan belaian lidah dan liur di kepala, tak dapat diobati selain dengan air susu ibu yang dapat menawar luka. Berharap dapat berlindung kembali dalam pelukannya, bergelung di dada dan melengkung di perut lembutnya. Apakah mereka juga pernah minta dikembalikan dalam rahim? Atau menyesali keangkuhan diri-- menyanggupi kehidupan yang kini tak lagi ingin digeluti?

Jumat, 21 November 2025

Rabu, 12 November 2025

Niaga

Setelah menjatuhkan diri dan kalah di medan perang dengan emosi dan pikiran, kuputuskan untuk beridiri lagi. Aku tahu, aku tak ingin menyerah. Meskipun terlihat begitu. Selalu begitu. Apa akhirnya, pertarungan ini hanyalah kekonyolan ego dalam diri. Peperangan melawan sisi kelam yang enggan kita akui. 

Kamis, 06 November 2025

Bulan

Kemarin supermoon. Kabarnya makin malam makin dekat ke bumi. Sayang sekali melewatkannya. Hanya melihat sekitar pukul sembilan malam? Itu saja sudah sangat indah sekali. Diliputi awan-awan strato tipis dengan latar langit hitam yang tenang, cahaya putih kekuningannya sangat terang. Bersinar dengan anggun dan penuh ilham. Tentu saja, tak lupa lukisan motif legendaris orang menenun atau kelinci yang sedang membuat mochi--atau apapunlah itu-- di permukannya. 

Kukira, aku memiliki kesamaan dengan bulan. Tidak, bukan tentang keindahannya. 

Bulan itu terlahir dari puing-puing, hasil benturan bumi dan Theia. Permukaannya tak rata. Terbentuk dari bebatuan bekas gunung berapi,  sisa lava yang telah beku, serta bopeng kawah-kawah hasil tubrukan. Daya tariknya lemah, medan magnetnya kecil. Atmosfirnya yang nyaris hampa, membuatnya tak memiliki pertahanan sendiri. Warnanya sangat kelam, hanya sedikit lebih cerah dari warna aspal cair. 

Dapat kukatakan kami serupa dalam hal-hal tersebut. Bulan tak memiliki cahaya sendiri, tetapi ia menyandang pantulan cahaya matahari. Aku pun sama. Tak memiliki cahaya meski nama terindah disematkan sebagai doa di dadaku. 

Aku mengaguminya, Bulan itu. Ingin menjadi sepertinya. Tidak, bukan terlihat Indah dan menyenangkan mata, menenangkan hati. Bagian itu telah lama kulepaskan. Aku tahu itu tak akan mungkin. 

Saat kukatakan aku ingin seperti bulan, yang kumaksud adalah meskipun ia tak memiliki cahaya sendiri, namun, ia tetap berusaha sebaik mungkin untuk memantulkan cahaya matahari, menerangi malam. Menjaga kestabilan iklim bumi, dengan mempertahankan kestabilan miring porosnya. Bulan membatasi dan memperlambat rotasi bumi agar bumi tak mati beku. Mempertahankan ekosistem dengan gravitasinya terhadap pasang-surut air laut. 

Meskipun terlahir dari puing-puing. Meskipun permukaanya tandus, tak mulus dan kelabu. Meskipun tak punya cahaya sendiri. Ia tetap memberikan usaha terbaiknya agar bermanfaat bagi kehidupan. 

Aku tak hanya ingin berbagi ketandusan dan puing-puing dengannya. Aku pun ingin seperti bulan. Seutuhnya. 

06.57 WIB
Kamis, 06 November 2025

Jumat, 31 Oktober 2025

Thought: My Shining Knight


Pertama kali lihat kesatria beneran. 

So, we--me and my nephew-- were playing together. At first, it was a zombie battle where we were friends (usually we're enemies) fighting the imaginary zombies in our fantasy realm. It was a tough battle. We were really in dangerous position. We were collaborating to fight those zombies.

Till suddenly ... 

Senin, 27 Oktober 2025

So ...

Reading slump dan writing block. Benar-benar parah. Sudah seminggu atau mungkin dua minggu stuck di lembaran awal bab dua dari Buku Mengapa Tidak Pernah Ada yang Memberitahuku. Sejauh--yang tak jauh-- yang sudah dibaca, saya menemukan poin menarik. Dr. Julie Smith menggaris bawahi bahwa, hubungan antara pikiran dan perasaan merupakan hubungan dua arah yang saling mempengaruhi. Jadi, bukan pikiran saja yang dapat mempengaruhi perasaan tetapi juga sebaliknya, perasaan kita dapat mempengaruhi cara berpikir kita pada saat itu. 

Mungkin itulah yang saat ini terjadi dalam reading slump dan writing block ini. Saya jadi ingat teori kepribadian MBTI dengan melihat function stack. Mungkin dapat diibaratkan keadaan terjebak dalam fluktuasi suasana hati dan emosional serta overthinking seperti looping dalam dominant function dan tertiary function. Lalu, saat ingin membebaskan diri dari looping dengan cara yang kurang tepat, akan terjatuh pada kondisi grip. Entahlah. 

Jika terjebak dalam looping, yang perlu dilakukan adalah menstabilkan keadaan dengan mengaktifkan fungsi auxiliary. Jika terjatuh dalam grip, kita perlu kembali terkoneksi dengan fungsi dominan. Begitulah kira-kira, setidaknya yang saya pahami. 

Namun, apakah mungkin seseorang melompat dari loop ke grip, grip ke loop, dari waktu ke waktu, dalam jangka panjang, dan jarang sekali berada dalan keadaan healthy? Itu akan menjadi petaka.

Seperti terjebak dalam loop fluktuasi suasana hati dan emosi, dan ketika berhasil keluar dari lingkaran setan itu, ternyata dalam pelarian grip, melakukan tindakan impulsif yang hanya membuat kita menyesal. Itu memang petaka jika kita tidak segera menstabilkan fluktuasi tersebut. Kembali menggunakan fungsi dengan seimbang. 

Entahlah. 

Btw, What's your type? 

Jumat, 17 Oktober 2025

Thought: Well ...

Well, beberapa kali ingatin diri kalau nulis langsung di blog nggak bakal jamin pasti aman. But, i didn't consider it as that priority karena ini cuma tempat latihan nulis. And ... boom! Beberapa draft yang udah selesai kehapus karena buka dari apps hp. My awkward hands and stupid brain who can't even focus! It has no trash icon in it. Even tho, tried some way, still I can't recover it. I was panic but told myself not to. I knew it will happen and decided it wasn't my priority before. Actually i never really thought the digital media/gadget as my priority right now (yeah, what and odd way to be a conventionalist). I mean, isn't it good to write in other platform like Medium or elsewhere. I brushed it off cause It is just some practice things. No one read it anyway. And it hits me now. Losing that finished little garbage drafts somehow sting me. My works. My garbages. Anyway. Learn my lesson. Should back it up all, I think. Suddenly it happened to be matter. Even if it's just practice field. Alright. feel free to judge. I am judging myself too right now, 

Jumat, 10 Oktober 2025

Thought:

Semoga saja kali ini Palestina bisa benar-benar merdeka. Sudah begitu banyak pengorbanan, perlawanan, air mata, dan doa-doa yang dilangitkan untuk kemerdekaan Bangsa Palestina. Usaha-usaha itu, doa-doa itu, datang dari berbagai kalangan, berbagai tempat, berbagai golongan. Palestina telah banyak kehilangan namun memberikan arti ketabahan dan kekuatan pada dunia. Perlawanannya membuka mata dunia. Dalam dua tahun terakhir, perjuangan Palestina menggemparkan seluruh dunia. Mereka mengajarkan arti iman dan berpegang teguh pada kebenaran dengan kesabaran dan keberanian yang luar biasa. Membuka mata dunia atas segala kemungkaran dan kekejian kaum zionis. Subhannallah. Allahu Akbar. 

Alhamdulillah, tadi pagi, saya mendengar, sudah dinyatakan gencatan senjata, pasukan Israel telah ditarik mundur. Namun, berdasarkan perjalanan sejarah, Israel selalu saja mengkhianati perjanjian. Meskipun begitu, harapan kita tak pernah pupus. Bukan karena kita begitu naif, namun, kita percaya pada Tuhan Semesta Alam yang Maha bijaksana. Hanya pada Allah-lah kita menyembah dan hanya pada Allah-lah kita memohon pertolongan. Hanya pada-Nyalah segala harapan bermuara. Semoga penderitaan Palestina kali ini benar-benar berakhir.

Jumat, 10 Oktober 2025

20: 35 WIB

Thought: Medicine


It was the best sleep ever! It feels like forever since I sleep early, quitely, without any worry, nothing but serenity. Was come to bed early really sleepy. And without me knowing, I fell asleep --probably around 9 p.m. or more, definitely not 10 p.m. (which is so rare)-- and woke up at 3 a.m.  Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Anyway.

Kemarin, pertama kali sejak setelah sekian lama, saya coba untuk memeluk kucing lagi. Those little tiny creatures. Too cute. It was sleeping on my arm. I don't know it could be such as peace to hold them like that. I completey forgot about it until yesterday. My sister scolded me for that but i didn't listen. And ... she was right. later on, the rash came. I can't hid the itch on my face, the eyes redden. Luckily my sister gave me some alergic antidote. My sister said she doesn't have any sympathy for me cause I am the one who is caused the trouble i have. She was right. And i am not looking for some sympathy either. Whatever that i got for touch the cats, it's worthy. Never really feel so good after a long time. They're just like the best medicine ever. That makes me taste my own medicine too. Haha. Anyway.

I jump out of my comfort zone and find those as my another comfortable zone with a price, of course. Make sense. Wish one day this allergic would go away. Anyway. That's it. 

10 Oktober 2025

Jumat, 03 Oktober 2025

Thought: Halo, Oktober! Nice To Meet You.

Welcome Oktober! There's so many beautiful things born in Oktober. Like rains. Anyway. 

Beberapa rubrik BPMC tidak di publish karena telalu personal dan tidak memiliki insight yang significant untuk orang lain. Ah, ini juga terlalu personal. Anyway. 

Jumat, 26 September 2025

Thought: Manusia, Pengertian, Pemahaman, dan Koneksi


Kalau dipikir-pikir, menakutkan juga saat orang-orang tahu apa yang kita pikirkan. Tapi, mungkin juga bukan begitu. Pada dasarnya manusia ingin dimengerti. Untuk dimengerti, tentu manusia perlu membagikan pemikirannya. Ternyata, yang kita takutkan bukanlah tereksposenya pikiran kita, namun, bagaimana reaksi orang terhadap pikiran itu. Mungkin yang kita takutkan adalah penghakiman dan penolakan atas pemikiran itu bukan pemikirannya. Benar, tidak semua orang takut untuk berbeda pendapat. Tidak semua orang juga takut tak diterima. Mereka yang tak takut akan penghakiman dan penolakan orang lain itulah yang berani mengemukakan (atau dalam kasus lain membungkam) pemikirannya.

Mental Health

Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpus...