Minggu, 28 September 2025

Day 5 Breaking The Prison of Mind's Cage

Bodoh. Satu kata sederhana yang dapat memicu beragam reaksi jika diucapkan pada orang lain. Kata ini dapat menyinggung sseorang, menyakiti harga diri orang lain, membuatnya sedih, atau mungkin membuat orang itu percaya dengan label yang telah diberikan padanya. Namun, di sisi lain, ada juga yang tak bereaksi apa-apa ketika dikatakan bodoh. Ya, tentu saja ini masuk pada ranah bagaimana kita menyikapi komentar atau perlakuan orang lain terhadap diri kita. 

Anyways,

Kembali pada kata bodoh. Bagaimana jika kata itu diberikan kepada kita? Bagaimana jika kita sendiri adalah seorang yang bodoh?

Selamat! ketika kita masih dapat menyadari kebodohan artinya kita masih memiliki kesempatan untuk belajar.  

Berdasarkan KBBI bodoh dapat diartikan sebagai

a tidak lekas mengerti; tidak mudah tahu atau tidak dapat (mengerjakan dan sebagainya); bongak;
a tidak memiliki pengetahuan (pendidikan, pengalaman);
a cak terserah (kepadamu)


Penting untuk menata sudut pandang saat perasaan bodoh menghampiri. Jangan pernah berhenti mencoba atau takut mencoba hanya karena kita merasa bodoh. Kebodohan bukanlah suatu hal yang buruk. Ia merupakan sinyal bagi kita untuk terus memperbaiki diri dan belajar. Jika bodoh terdeteksi, maka yang perlu dilakukan hanyalah menyuntikan penangkalnya, yaitu belajar.

Boleh jadi kita tidak lekas mengerti, tidak tangkas, dan tidak memiliki pengetahuan. Akan tetapi, kita memiliki bakat penangkal bodoh. Ya, belajar. 

Jika jenis kebodohan kita adalah tidak lekas mengerti, tidak mudah tahu atau tidak dapat mengerjakan sesuatu, maka belajar akan menjadi obatnya. Lamban dalam menegrti suatu hal berarti kita hanya perlu meluangkan usaha dan waktu yang lebih terhadap hal tersebut. Mudah dikatakan, sulit dilakukan, Namun, sangat berdampak jika dilaksanakan.

Jika jenis kebodohan kita adalah tidak memiliki pengetahuan (pendidikan atau pengalaman) yang perlu dilakukan adalah carilah pengetahuan dan pengalaman itu dengan belajar. Belajar tak mesti di ruang-ruang kelas, belajar dapat di mana saja. Mudahnya akses infromasi saat ini memungkinkan kita untuk lebih  terpapar dengan sumber-sumber pengetahuan. 

Jika jenis kebodohan kita adalah terserah pada diri kita, dalam artian tak ada yang peduli, ini lebih bagus. Artinya kita dapat memilih hal mana yang akan kita pedulikan. Apa yang hendak kita pelajari. Atau jalan manakah yang akan kita tempuh. 

Semua ini kembali lagi pada pilihan kita. Apakah memiliki kebodohan membuat kita berhenti atau bangkit darinya. Kita selalu punya pilihan dan setiap pilihan selalu ada konsekuensinya. 

Sebuah pepatah dari Imam Syafi,"Barang siapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar, maka akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya,"

Merasa bodoh adalah hal yang baik jika disertai dengan kesadaran untuk belajar bukan malah menangisi nasib dan berhenti mencoba karenanya. Yang berbahaya adalah tak mau mengakui kebodohan dan selalu merasa pintar atau hebat sehingga tak mau membuka kesempatan untuk diri belajar dan berkembang. 

Sabtu, 28 September 2025

Sabtu, 27 September 2025

Day 4 Breaking The Prison of Mind's Cage

Apakah suatu bakat yang melekat erat dengan manusia? Bakat apakah yang pasti dimiliki oleh manusia? Jawabannya adalah belajar. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk belajar. Tidak ada satupun manusia hidup yang tak memiliki kapasitas untuk belajar. Bukti nyata dari pernyataan bahwa bakat setiap manusia adalah belajar ialah manusia itu sendiri. Manusia lahir dengan kemampuan yang terbatas, namun, seiring berjalannya waktu, manusia menumbuhkan keahlian yang dipelajarinya dari lingkungan ataupun melalui instingnya. 

Junaid Mubeen dan Tujuh Prinsip Kecerdasan Matematis: Superioritas Manusia Terhadap Mesin


Perkembangan pesat dalam teknologi, terutama AI menuai berbagai tanggapan dan kontroversi.  Maraknya penggunaan Artificial Intelligence (AI) di berbagai bidang memunculkan semangat dan tanggapan positif bahwa manusia tak perlu lagi bekerja keras jika semua itu bisa dilakukan oleh mesin dengan tingkat akurasi yang tinggi bahkan 'sempurna'. Penggunaan mesin juga memangkas banyak biaya. 

Sedangkan, di sisi lain, pesatnya penggunaan teknologi AI memunculkan kekhawatiran bahwa suatu saat nanti peran manusia akan digantikan oleh robot. Bahkan, ada yang sampai mengkhawatirkan bahwa suatu saat AI akan menguasai dunia. Mungkin itu terdengar terlalu ekstrem, tetapi tentu saja kekhawatiran itu nyatanya ada di kalangan beberapa golongan.  

Sudah banyak artikel dan penelitaian yang menjabarkan pro dan kontra AI. Lalu bagaimanakah baiknya kita menyikapi hal ini? Apakah suatu saat AI akan benar-benar menggantikan manusia? 

Jumat, 26 September 2025

Day 3 Breaking The Prison of Mind's Cage

Saya bertanya-tanya, mengapa menamai rubrik ini sebagai Breaking The Prison of Mind's Cage. Nama itu begitu saja muncul saat saya mulai menuliskannya. Lalu, kemudian saya berpikir, mengapa menamakannya demikian? Penjara pikiran? Bagaimana keluar dari penjara pikiran? Dengan menjadi optimistis? Dengan menjadi selalu positif? Bahkan saya menuliskan ini seraya berpikir, apa arti rubrik ini bagi saya? Apa bedanya dengan kolom Thought? Pada dasarnya dalam kedua rubrik ini saya sama-sama menulis bebas. Menulis apapun yang ada dalam pikrian tanpa perlu merasa dibatasi atau terikat. 

Thought: Manusia, Pengertian, Pemahaman, dan Koneksi


Kalau dipikir-pikir, menakutkan juga saat orang-orang tahu apa yang kita pikirkan. Tapi, mungkin juga bukan begitu. Pada dasarnya manusia ingin dimengerti. Untuk dimengerti, tentu manusia perlu membagikan pemikirannya. Ternyata, yang kita takutkan bukanlah tereksposenya pikiran kita, namun, bagaimana reaksi orang terhadap pikiran itu. Mungkin yang kita takutkan adalah penghakiman dan penolakan atas pemikiran itu bukan pemikirannya. Benar, tidak semua orang takut untuk berbeda pendapat. Tidak semua orang juga takut tak diterima. Mereka yang tak takut akan penghakiman dan penolakan orang lain itulah yang berani mengemukakan (atau dalam kasus lain membungkam) pemikirannya.

Kamis, 25 September 2025

Fiksi Mini: Prasangka

Oleh: S. N. Aisyah

Aku tidak begitu kenal dengan gadis itu. Dia bereputasi sebagai seorang  pendiam, bertampang 'baik', dan berkelakuan 'santun'. Tapi, jangan mau tertipu dengan tampang sok polosnya. Dia hanyalah seorang arogan yang berpura-pura baik di tempat yang menguntungkannya. Di balik sikap kalemnya itu, aku tahu ada yang salah dengan anak ini. 

Day 2 Breaking The Prison of Mind's Cage

Hujan! Sore ini hujan lagi. Sungguh menyenangkan berdiri di teras menampung hujan di tangan sementara angin datang menerjang membawa hujan membasahi kita. Jika saja bisa menikmati hujan secara langsung tanpa terlihat oleh orang-orang, tentu kita akan melakukannya. Sayang sekali, sudah terlalu tua, terlihat tak pantas bermain hujan. Ya, terlihat tak pantas bukan tak pantas. Oh, need more privacy. Akan tetapi, tak mengapa, dapat tempiasnya saja sudah senang. Ayah menegur kelakuan kekanakan ini, tentu saja  langsung menurut dan masuk ke dalam rumah. Kalau dipikir-pikir, ini benar-benar kekanakan. Mau bagaimana lagi? Jiwa bocah dalam diri ini selalu saja meronta-ronta untuk menyentuh hujan. Ha ha. Begitulah hujan, muram dan riuh namun membawa ketenangan dan kesenangan.Bukankah hujan itu rahmat yang harus disyukuri? Saat menulis ini pun masih terdengar suara hujan yang mulai mereda diselingi oleh gemuruh-gemuruh kecil bersamanya.

Mengapa tulisan ini sangat kaku dan aneh, ya?  Sangat geli membacanya.Ya sudahlah. Yuk lanjut lagi.

Rabu, 24 September 2025

Day 1 Breaking The Prison of Mind's Cage

Saya sedang berpikir untuk menutup jendela. Saya sangat ingin sendiri dan mendengar suara-suara dalam kepala ini. Tak peduli seberapa menakutkannya ia. Mungkin saya hanya akan meracau untuk beberapa saat. Meninggalkan sebentar jadwal yang sudah saya atur untuk blog ini. Saya kira, permasalahan ini tak akan selesai jika saya tak benar-benar menghadapinya. 

Jumat, 19 September 2025

Thought:

Tidak mungkin ada yang akan mengubah nasib seorang manusia jika bukan dirinya sendiri. Ketika kita berpikir bahwa waktu kita telah habis dan mejadi terpuruk karenanya, kita hanya akan semakin menghabiskan waktu dengan sia-sia. Benar, untuk mengubah karakter dan pola pikir membutuhkan waktu. Oleh sebab itulah, manusia harus melakukannya tanpa membuang-buang waktu dan energi dengan menyesali masa lalu. 

Kamis, 18 September 2025

Fiksi Mini: Kadar

Oleh: S. N. Aisyah


Berkali-kali kukatakan padanya untuk berhenti. Aku sudah muak. Orang waras mana pun tak akan tahan dengan kelakuannya. Setiap hari ia mengekoriku. Bersusah payah aku memintanya pergi, hanya dibalas seringai.

Rabu, 17 September 2025

Poem: Bayang

Oleh: S. N. Aisyah 


Dalam kegelapan

Angin berhembus

nyalakan gemertak dari dahan-dahan

yang digerus musim panas,


tanah-tanah 

di lintasan itu merekah sudah

setiap retaknya antarkan sebuah ingatan:


sol sepatu bertambah inchi

berdempul tanah kuning,

malam sebelum pendakian ke sekolah,

hujan bertandang 


badai air dan udara, 

gelegar petir, 

juga sambaran kilat di atas pasir putih

menyatu dalam bingkai jendela

biru kelabu


kadang kala bayang-bayang itu datang

samar-samar 

amat samar

semakin samar

hingga aku tak lagi tahu

arti secarik kenangan 

yang datang seperti hantu itu


ranting-ranting bergemeretak

daun-daun mati jatuh

berderai

pulang pada 

kehampaan malam 

yang tak kunjung usai




Sabtu, 13 September 2025

Cerpen: Horor

Oleh: S. N. Aisyah

Aku yakin, setiap orang memiliki ketakutannya. Setiap orang tanpa sadar memilih ketakutannya. Ya, benar. Memilih. Pernahkah kau berpikir bahwa kaulah yang dengan sengaja memilih dan mengundang rasa takut dalam hidupmu? Kau yang memilih bentuk dan wujudnya saat kau memilih jalan hidupmu. Apa maksud omong kosongku ini? Ayolah, Kawan. Pilihanmu dalam hidup menjelma bagaikan sebuah undangan bagi harapan dan—sialnya—juga ketakutanmu. Contohnya saja, saat seseorang yang memiliki sesuatu yang berharga, ia berharap selalu memilikinya. Bukankah ia jadi takut kehilangan? Orang tamak dan serakah, yang menginginkan banyak hal, takut kekurangan. Orang yang memilih jadi pengecut, takut akan hal-hal sepele. Orang yang kuat dan bijak, takut tak bisa mengendalikan dirinya. Manusia memilih ketakutannya sendiri. Mengundangnya ke ambang pintu. Lalu membangun horor untuk didiami.

Jumat, 12 September 2025

Thought: Percobaan Kecil


Sekarang saya sangat mengerti ide-ide orang yang mengungkapkan jika saja ada alat yang dapat langung menangkap, menerjemahkan, dan mengeksekusi langsung pikiran kita. Itu pasti sangat memudahkan. Yah, mungkin ini hanyalah pemikiran dari  rasa malas sesaat  dan tidak ingin atau tidak memiliki ketahanan dan kesabaran untuk mewujudkan pikirannya itu dalam dunia nyata. Saya tidak katakan bahwa semua yang berpikiran demikian adalah pemalas. Akan tetapi saya mengerti asal muasal keinginan itu --sepertinya.

Kamis, 11 September 2025

Fiksi Mini: Sepuluh kali

Oleh: S. N. Aisyah

Kami tinggal di pondokan dengan tiga kamar. Dua kamar tidur dan satu ruang tamu. Di bagian belakang, Bapak membangun dapur dan tempat MCK.Tak banyak benda di rumah kami. Hanya barang-barang  pokok. Satu dipan dan satu lemari untuk tiap kamar tidur. Sebuah meja kecil di ruang tamu. Selebihnya hanya perkakas kerja dan peralatan rumah tangga. Tidak ada televisi maupun perangkat elektronik lainnya yang bersifat hiburan saja. Bapak membangun sebuah saung kecil di halaman depan rumah, tempat Ibu berjualan kecil-kecilan sedangkan Bapak setiap hari akan pergi meladang. Apabila  senggang, aku dan kakak biasanya  menggantikan Ibu berjualan sementara Ibu membantu Bapak di ladang. 

Rabu, 10 September 2025

Book: Digital Fortess, The Uncrackable Code

Oleh: S. N. Aisyah

Judul            : Digital Fortess
Penulis         : Dan Brown
Penerjemah : Prisca Primasari
Penerbit       : Bentang
Tebal            : 492 hlm; 18cm
Tahun Terbit: 2018
ISBN             : 978-602-291-395-5

Digital Fortess merupakan sebuah novel yang berkisah tentang Susan Fletcher, seorang kriptografer senior yang bekerja di National Security Agency (NSA). Suatu hari, saat Susan tengah berlibur ke Spanyol dengan tunangannya, David Becker (seorang guru bahasa), ia mendapat telepon darurat dari bosnya, Wakil Direktur Pelaksana NSA Komandan Strathmore. 

Sabtu, 06 September 2025

Artikel: Anhedonia, Ketika Hidup Terasa Hampa

Oleh: S. N. Aisyah


Apa itu Anhedonia?

Anhedonia adalah keadaan ketika seseorang tidak dapat merasakan kesenangan atau  kehilangan minat terhadap sesuatu. Anhedonia bukan sekadar perasaan bosan atau tak tertarik saja. Penderitanya dapat kehilangan kemampuan untuk merasa senang, gembira, bahagia, tertarik atau termotivasi bahkan pada hal-hal yang dahulu ia senangi. Berbeda dengan analgesia (ketidakmampuan merasakan sakit), penderita Anhedonia tetap dapat merasakan sakit, sedih, luka, dan emosi negatif lainnya. 

Apa penyebab Anhedonia?


Jumat, 05 September 2025

Thought: (Late) Welcome September!

Welcome September! 


Pertama.

Agustus adalah bulan yang berat. Begitu pula September-September yang lalu. Banyak sejarah peristiwa kelam di bulan September. Semoga saja, hujan yang berjatuhan di bulan ini pada akhirnya menyuburkan bibit-bibit kebaikan untuk kita semua. Ini terdengar sangat aneh dan canggung menjadi terlalu positif tetapi mungkin tak ada salahnya menaruh harapan baik untuk masa depan yang cerah bagi manusia. Semoga bangsa ini menjadi lebih baik. Begitu pula seluruh umat manusia di dunia. Kaum-kaum tertindas, semoga segera Allah merdekakan. 

Kamis, 04 September 2025

Fiksi Mini: Padam

Oleh: S. N. Aisyah


Dahulu, aku sangat benci ketika listrik padam. Apalagi di masa liburan semester sekolah. Susahnya tinggal di pelosok desa, ya, seperti itu. Mengapa  kota besar atau pusat pemerintahan dapat asupan listrik dua puluh empat jam sedangkan kami mesti mengantri giliran pemadaman listrik empat jam (sekali hingga dua kali) dalam sehari? Jika melihat pada tempat yang belum mendapatkan listrik, tentu saja aku bersyukur, tetapi itu lagi masalahnya kan? Apa bedanya hak kami dengan kota besar atau pusat pemerintahan daerah? Apakah sebab kebutuhan listrik kami tak begitu banyak makanya sering dipadamkan untuk penghematan? Bukankah lebih logis jika penghematan dilakukan pada wilayah yang banyak menggunakan listrik? Apa karena faktor keberlangsungan perekonomian? Apapun itu, seorang bocah SMP pinggiran sepertiku hanya ingin menonton film box office di liburan sekolah. Di Tv analog, tentu saja.

Poem: Ternyata

Oleh: S. N. Aisyah

Kemarin aku lihat

seekor tikus

lucu

kami bernyanyi tikus makan sabun

Kini aku paham kenapa 

kasus korupsi tak pernah bersih


Mental Health

Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpus...