Aku
yakin, setiap orang memiliki ketakutannya. Setiap orang tanpa sadar memilih
ketakutannya. Ya, benar. Memilih. Pernahkah kau berpikir bahwa kaulah yang
dengan sengaja memilih dan mengundang rasa takut dalam hidupmu? Kau yang
memilih bentuk dan wujudnya saat kau memilih jalan hidupmu. Apa maksud omong
kosongku ini? Ayolah, Kawan. Pilihanmu dalam hidup menjelma bagaikan sebuah
undangan bagi harapan dan—sialnya—juga ketakutanmu. Contohnya saja, saat
seseorang yang memiliki sesuatu yang berharga, ia berharap selalu memilikinya.
Bukankah ia jadi takut kehilangan? Orang tamak dan serakah, yang menginginkan
banyak hal, takut kekurangan. Orang yang memilih jadi pengecut, takut akan
hal-hal sepele. Orang yang kuat dan bijak, takut tak bisa mengendalikan
dirinya. Manusia memilih ketakutannya sendiri. Mengundangnya ke ambang pintu.
Lalu membangun horor untuk didiami.
Sabtu, 13 September 2025
Cerpen: Horor
Minggu, 31 Agustus 2025
Cerpen: Batu Tujuh dan Anak Bawang
Oleh: S. N. Aisyah
Lala bersembunyi di balik sebuah drum yang besar. Dari tempatnya bersembunyi, Lala melihat Kak Alfi sedang menyusun batu-batu yang mereka lempar tadi. Lala gelisah, perutnya terasa melilit. Saat kembali melihat Kak Alfi, ternyata Kak Alfi juga melihat Lala. Gawat, Lala ketahuan.
Bagian Dua: Sambutan Pinggir Kota
Oleh: S. N. Aisyah
Siang ini amat panas. Sinar matahari jatuh tepat di wajahku, membuatku sesekali harus mengerjapkan mata. Udara gersang seperti menguar dari hamparan tanah liat kuning. Keringat mengalir di dahiku. Membosankan. Tidak ada hal yang dapat kulihat selain hamparan tanah yang sudah teruk dikeruk. Bekas kerukan tanah itu botak, tak seperti hamparan tanah di kejauhan yang tampak hijau, disesaki pepohonan. Kukira hanya masalah waktu saja tanah hijau itu akan bernasib sama, digunduli dan menjadi gersang.
Sabtu, 16 Agustus 2025
Cerpen: The Tales of The Grand Old Man
Oleh: S. N. Aisyah
Di nagari Koto Gadang, di tanah Agam, di lindung bukit-bukit yang tinggi, Sutan Mohammad Salim dan Siti Zaenab menerima sebuah anugerah yaitu kelahiran seorang putra. Mungkin saja, keinginan hati terdalam mereka untuk membela kebenaranlah yang membuat mereka menyematkan doa itu dalam nama putranya. Maka, pada hari ke-18 di bulan Oktober 1884, putra mereka lahir dengan menyandang nama Mashudul Haq, Pembela kebenaran.
Sabtu, 19 Juli 2025
Bagian Satu: Selamat Tinggal
Oleh: S. N. Aisyah
Ini sudah hampir pukul sembilan pagi. Sudah lebih dari tiga puluh menit aku menunggu di alun-alun desa. Namun, belum juga ada tanda-tanda kedatangan kawan-kawanku. Mungkin saja mereka lupa, asyik menonton siaran kartun minggu pagi. Oh, atau mungkin mereka masih bermain di sungai? Jangan-jangan mereka tidak bisa datang sebab membantu orang tua bekerja? Apa aku pergi saja?
Kini aku mulai mengingat masa silam, membuat dadaku sesak. Aku ingin menangis. Tapi, anak lelaki tak seharusnya cengeng. Maka kutahan-tahan air mata yang hendak jatuh itu. Entah mengapa, alun-alun terasa lebih sepi. Kantor kepala desa di seberang halaman lengang, markas ibu-ibu PKK juga kosong. Pendopo ini pun tak disinggahi oleh seorang pun selain diriku.
Sabtu, 05 Juli 2025
Bagian Satu: Pemakaman
Oleh: S. N. Aisyah
Apa yang dibawa oleh kematian? Apa yang dibawa oleh perpisahan jasad dan jiwa manusia? Apakah perpisahan itu menitipkan duka-lara, penyesalan, penghakiman, kesedihan, rindu, kenangan atau mungkin sebuah kebahagiaan?
Rabu kelabu itu, bersama awan hitam yang bergulung-gulung di langit, jenazah Rosmalina ditanamkan ke dalam perut bumi. Doa melantun syahdu. Pelayat berkerumun, mengantar Rosmalina pada pembaringan terakhirnya. Sesekali terdengar isak juga tangis dari karib-kerabat serta kenalannya. Dapat kulihat wajah prihatin kawan arisan, mantan rekan, anggota komunitas, kolega-kolega bisnis suami, tetangga, juga orang-orang lain yang bahkan tak pernah bertatap muka dengannya. Semua seolah berlomba-lomba, menunjukkan betapa sedihnya mereka ditinggal mati oleh nyonya kaya-raya itu. Ya, seolah semua orang merana ditinggal mati oleh Rosmalina. Tapi agaknya tidak bagi pemuda itu.
Sabtu, 28 Juni 2025
Cerpen: Seorang Kawan
Oleh: S. N. Aisyah
Sedari kecil, sepanjang ingatanku, aku tak pernah benar-benar memiliki harapan tertentu dalam hidup. Mungkin itu pulalah yang jadi sebabku mati suri. Aku tak melabeli diri sebagai manusia dingin dan tak berperasaan seperti yang digandrungi manusia-manuisa sakit abad ini. Lalu berbangga diri karenanya sebab memiliki kecenderungan psikopatis. Tidak. Hal itu hanya dilakukan oleh jiwa yang terperangkap dalam fase remaja pemberontak, ingin tampak berbeda, dan haus akan perhatian. Menurutku itu konyol dan—menghindari kata menjijikkan—itu menggelikan. Oh, tentu saja menyedihkan pula.
Sabtu, 21 Juni 2025
Cerpen: Tujuh Hari Kematian Rahmat
Oleh: S. N. Aisyah
Kamis, 31 Oktober 2024
Bulan sabit tak lagi tampak. Langit teramat gelap. Hujan turun mengguyur. Petir menyambar. Kilat menerobos jendela sebuah rumah yang gelap. Menyingkap penampakan yang mengerikan.
Jumat, 01 November 2024
Dini hari, kerumunan itu berdesak-desakan menjauhi mulut pagar griya mewah yang suram. Sirine ambulans dan mobil patroli polisi menggaung, menyibak kepala-kepala agar beranjak, terpaksa melawan gelombang hasrat melit dalam dada mereka. Di bawah siraman sinar kemuning bulan baru, bayang-bayang pohon merambat bak cakar-cakar yang mencengkram malam. Pantulan cahaya redup dari lampu-lampu serta angin beku awal November yang terus bertiup menegaskan betapa mencekamnya keadaan di dasar ngarai itu.
Sabtu, 14 Juni 2025
Cerpen: Si Anak Sekolah
Oleh: S. N. Aisyah
Ini terlalu terik. Matahari terlalu garang, seakan ia hendak
menantang bumi. Sinarnya menyeruak ke segala
permukaan bumi belahan timur, tepatnya
di tempat aku berada saat ini. Bahkan, di kejauhan,
fatamorgana mulai terlihat—atau sepertinya hanya bagiku saja? Udara terasa begitu panas, segala benda yang
mengandung air segera menguap. Deru kendaraan bermotor yang lalu-lalang
menambah ketidaknyamanan suasana siang ini. Polusi yang dihasilkan oleh
mesin-mesin itu seolah ikut mengejek kami yang tengah berbaris dan menikmati
siang yang gila.
Sabtu, 07 Juni 2025
Cerpen: Sebuket Kebodohan Kita
Oleh: S. N. Aisyah
Kau tahu seberapa bodoh manusia? Ia hanya akan mendengar apa yang ingin ia dengar. Ia hanya akan melihat apa yang ingin ia lihat. Dan ... tentu saja, ia hanya akan memercayai apa yang ingin ia percayai. Manusia bodoh itu seperti kau, seperti dia, dan tentu saja seperti aku.
***
Untuk pertama kalinya, aku menemukan seseorang yang merenggut sebagian besar hidupku. Namun, tak pernah aku keberatan akan hal ini. Sebab, ia pula-lah yang mengisi kembali setiap inchi yang hilang itu. Membuatku menaruh hati padanya. Arum, namanya.
Sabtu, 31 Mei 2025
Cerpen: Lelaki Kunang-Kunang
Oleh: S. N. Aisyah
Kami tidak tahu asal-usulnya. Lelaki itu muncul begitu saja. Ia seperti lahir dari gulungan angin kelabu di bulan Februari. Rambutnya masai. Tumbuh menjulur hingga menutupi tengkuknya. Menggantung tepat di atas pundak. Garis matanya yang tajam kini cekung, tampak mati. Wajahnya dibingkai cambang dan janggut yang tidak terawat. Leher bajunya melar dengan tidak wajar, memperlihatkan tulang selangka yang menonjol dan bidang dada yang amat ringkih. Mempertegas betapa rangka itu jarang diberi makan.
Sabtu, 24 Mei 2025
Cerpen: Si Man
Si Man duduk mencangkung di tepian anak sungai. Sesekali ia menghela napas lesu, mengusap kepala dengan kasar. Rambutnya masai, hidungnya memerah, matanya juga merah dan agak sembap. Agaknya lama sudah ia menangis. Ia merangkul erat lututnya. Berayun-ayun ke muka dan belakang dalam duduknya yang janggal.
Tatapan heran dan menghakimi dari orang-orang di jalanan tak lagi ia pedulikan. Toh, ia sudah banyak menelan tatapan serupa seumur hidupnya. Terlebih pagi tadi, ia tak hanya dihakimi tapi juga direndahkan sedemikian rupa.
Ah, persetan dengan mereka semua. Begitulah pikir Si Man, mencoba untuk tidak peduli. Namun, lambat-laun, semakin ia mencoba melupakan nasib hidupnya, semakin jelas ia dihantui. Terlebih, kembali terngiang perkataan yang acap dilontarkan Emak kepadanya.
Sabtu, 17 Mei 2025
Cerpen: Secangkir Teh dan Segelas Kopi
Ia berdiam diri di hadapan sebuah monitor. Beberapa menit larut dalam hening, kemudian ia berjalan menuju dapur. Tangannya menggapai cangkir teh, namun segera diurungkan niat itu. Dengan langkah gontai, ia berbalik arah, kembali pada monitor, megutak-atik sebuah playlist. Lagu classic retro menggema sayup. Di luar, hujan masih saja turun. Embun menyerbu jendela, menutupi pemandangan kota. Ia duduk sedikit meringkuk. Membenamkan diri dalam sweater, menungkus diri dalam selimut.
Tepat dihadapannya, kursor berkedip-kedip dalam lembar kosong monitor. Meja kerja penuh tumpukan kertas, buku, koran, majalah, kacamata, dan alat tulis. Semuanya menebar tak berpola. Sebuah surat kabar menjuntai pada sisi meja. Lembar kosong monitor dan meja nan penuh itu berbagi rasa yang sama: nelangsa. Sedangkan bola matanya jauh menerawang.
Sabtu, 10 Mei 2025
Cerpen: Mesti Tak Mesti
Petang hari, di penghujung September, angin musim hujan mulai mengiring Kota Bertuah. Udara terasa sedikit lembap. Sesekali deru angin menyenggol palang rambu pemberhentian bus hingga membuatnya seolah berayun mendayu. Palang itu terlihat semenyedihkan halte yang bertengger setia di sampingnya -- tak berpenghuni selain semilir dan deru angin yang sesekali menghampiri. Selang lalulnya beberapa kendaraan, sebuah bus biru merapat. Berpasang-pasang kaki menapaki halte, mengantar kepala-kepala memenuhi halte sempit, melepasnya dari kungkungan sepi. Di antara barisan kepala itu, Ru menyelinap keluar halte. Berjalan tergesa menyeberangi trotoar. Menyusuri dua blok pergedungan, kemudian memasuki salah satunya.
Sabtu, 03 Mei 2025
Cerpen: Mentimun Bungkuk
Oleh: S. N. Aisyah
Minggu itu, di sebuah los pasar, dua wanita muda tengah terlibat dalam suatu percakapan.
”Kurasa, kalau gini terus, aku bisa keluar,” ujar Ren. Wajahnya berkerut, namun tidak terdengar sungguh-sungguh.
”Yah, hal begini mesti ditimbang lagi, kan? Jangan gegabah,” Adrian menimpali. Adrian seorang pegawai swasta. Ia adalah tipikal orang yang bangun bahkan sebelum alaramnya berbunyi. Pegawai yang senantiasa menyeduh kopi sebelum memulai rutinitas harian sebagai pekerja.
”Belum kuputuskan emang. Mesti realistis juga, cari kerjaan tak gampang.” Ren seorang pekerja kontrak yang masih sangat hijau di dunia kerja. Kalau ditaksir, baru tiga tahun ia bekerja sebagai karyawan kontrak setelah masa magangnya berakhir.
”Ini masalah rumit.” Adrian tampak sedikit merenung, agaknya ia terjebak dalam pikirannya sendiri.
”Lihat, lihat mentimun itu!” Ren memecah renungan Adrian. Ia menunjuk ke arah wanita tua di seberang los. Separuh gerai wanita itu disesaki mentimun. Tampak seorang pembeli tengah bernegosiasi.
”Iya, kenapa mentimunnya?” Adrian masih belum mengerti maksud Ren.
Sabtu, 26 April 2025
Cerpen: Manusia Kaktus
Oleh: S. N. Aisyah
Runi membuka pintu rumah. Sambil sedikit bersenandung ia meletakkan tiga kaktus di meja. Kaktus-kaktus itu didapatnya dari Ana, kawan baiknya. The Reluctant Ahjuma tampak bersemangat dengan tiga mainan barunya. Hari-hari sejak kaktus itu tiba, Runi mengurus tanaman mungil itu serta berbicara padanya. Ia menceritakan banyak hal, kebiasaan adiknya yang aneh, betapa ia tidak suka sinar yang terlalu terang, pekerjaan yang terkadang membuatnya ingin menyerah, bahkan acara tv favoritnya. Ia mengira bahwa kaktus akan menjadi kawan karibnya.
Jumat, 11 April 2025
Cerpen: Percakapan di Bahu Jalan
Aku mulai terengah menjajari langkahnya. Lalu lalang kendaraan mengisi jeda panjang dalam percakapan kami.
“Lalu kau akan ke mana?” Akhirnya kata itu melompat juga dari mulutku. Hening. Sesaat kemudian, hanya deru kendaraan lagi yang terdengar. Sedang langkahnya semakin panjang saja.
“Akan ke mana kau?!” Suaraku lebih lantang dari yang kuharapkan. Melesat begitu saja dengan buncah yang tidak terjelaskan.
Akhirnya ia menoleh juga. ”Ke mana saja,” hanya itu yang ia katakan. Ia kembali melangkah.
“Apa maksudmu ke mana saja. Kalau kau tidak punya tujuan, tak bisakah kau tetap tinggal?” Ini pertama kalinya aku mendengar ketidakyakinan darinya.
”Tidak. Kau tau aku tak bisa begitu,” ucapnya lemah. Ia berhenti melangkah. Mengambil tempat di bangku jalan. Aku turut duduk di sisinya. Merasa bersyukur ia memilih berhenti sebab napasku mulai tersengal.
Sabtu, 08 Maret 2025
Cerpen: Tak Ada Hukum Newton Hari Itu?
Oleh: S. N. Aisyah
Hukum II: Perubahan dari gerak selalu berbanding lurus terhadap gaya yang dihasilkan/bekerja, dan memiliki arah yang sama dengan garis normal dari titik singgung gaya benda.
Hukum III: Untuk setiap aksi selalu ada reaksi yang sama besar dan berlawanan arah: atau gaya dari dua benda pada satu sama lain selalu sama besar dan berlawanan arah.
Aku bersyukur akan teori Newton. Sangat berguna dalam kehidupan. Aku kagum pada para fisikawan namun bukan fanatik yang memahami segala macam keabstrakan yang berguna itu. Maksudku, aku harus menjalani tiga kali perbaikan hanya untuk menemukan simpangan vektor sampan yang sedang menyeberang di arus sungai yang kuat. Mungkin itu pulalah yang menjadi sebab salam perpisahanku dengan ilmu benda mati ini. Aku suka belajar, hanya saja tidak rajin mempelajarinya. Kau mengerti maksudku, kan?
Sewaktu sekolah, aku sering membawa buku-buku berat. Buku-buku pelajaran yang tebal-tebal itu sering kutenteng bolak–balik, sekolah—rumah. Tak pernah sedikitpun berniat meninggalkannya di loker seperti teman-teman lain. Buku-buku yang seberat ’beban hidup anak SMA’ itu harus kubawa pulang.
Jumat, 14 Februari 2025
Cerpen
Nyanyian Nur
Oleh: S. N. Aisyah
Mungkin dua dekade lalu, saat berlarian pulang sebelum magrib masih jadi suatu keharusan—setidaknya bagi orang yang tak ingin sandal terbang emak mendarat tepat di badan. Saat berkumpul artinya bermain di tanah lapang, berkejaran, sesekali mengolok kawan sebatas candaan. Juga saat tv analog masih jadi pilihan yang kerap menyatukan—atau juga memecah—kehangatan keluarga. Di saat itulah aku mulai berkenalan dengan suatu takdir dalam hidupku.
Baiklah, demi jiwa melankolis yang sudah lama bersemayam dalam dada. Dengan alunan lagu menemani secangkir kopi dan bara api yang sesekali kutiupkan untuk asa terpendam nan nyaris padam, akan kuberitahu kisah itu, Kawan.
Mental Health
Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpus...
-
Mungkin hal yang paling berat tetapi paling meringkankan adalah memaafkan. Kata sederhana yang rumit. Perlu kebesaran hati dan lapang dada u...
-
Oleh: S. N. Aisyah Kau tahu seberapa bodoh manusia? Ia hanya akan mendengar apa yang ingin ia dengar. Ia hanya akan melihat apa ...
-
5 Rekomendasi Buku Nonfiksi Untuk meningkatkan Kualitas Hidup sumber foto Januari hampir berakhir, nih. Semangat memulai hidup baru di a...
-
sumber gambar Identitas Buku Judul : Atomic Habits Penulis : James Clear Penerjemah : Alex Tri K...
