Sabtu, 31 Mei 2025

Cerpen: Lelaki Kunang-Kunang

Oleh: S. N. Aisyah


Kami tidak tahu asal-usulnya. Lelaki itu muncul begitu saja. Ia seperti lahir dari gulungan angin kelabu di bulan Februari. Rambutnya masai. Tumbuh menjulur hingga menutupi tengkuknya. Menggantung tepat di atas pundak. Garis matanya yang tajam kini cekung, tampak mati. Wajahnya dibingkai cambang dan janggut yang tidak terawat. Leher bajunya melar dengan tidak wajar, memperlihatkan tulang selangka yang menonjol dan bidang dada yang amat ringkih. Mempertegas betapa rangka itu jarang diberi makan.

 

Jumat, 30 Mei 2025

Thought: Racauan yang Tak Selesai dalam Sepekan

Dini hari saat tulisan ini mulai ditulis adalah saat saya tengah berusaha untuk menulis tetapi tak dapat menghasilkan apapun selain rasa frustrasi. Rasanya kepala saya yang kopong, amat kosong. Seakan otak saya terbakar hingga jadi abu yang kemudian melayang, tinggalkan tempurung kepala. Saya tak dapat memanggil ingatan apapun  yang dapat saya tuliskan dengan benar. 

Sudah pasti ini sebab saya amat kurang membaca, 'kan? Maka apa yang harus saya tuliskan kali ini?

Oh, lebih baik menulis tentang film yang saya tonton saja. A Good Girl's Guide to Murder. Sebuah serial pendek yang menarik. Saya suka cara film ini menggaris-bawahi bahwa manusia tidak melulu hitam putih. Sisi gelap-terang  manusia dikemas dengan apik dalam serial pendek ini. Perpecahan jiwa  pada tokoh-tokoh serial ini dilatari dengan alasan yang  masuk akal. Rahasia gelap tokoh -tokoh  terbongkar oleh Pip,  si protagonis yang cerdas namun naif. Mengingatkan saya pada serial lainnya Adolescences, yang  memiliki tema dan nuansa yang sama dengan titik fokus isu yang sedikit berbeda.

Kamis, 29 Mei 2025

Fiksi Mini: Buron!

Oleh: S. N. Aisyah


Sudah enam pekan lamanya sejak wanita muda itu diselamatkan. Saban hari ia berkurung diri dalam kamar. Merajuk. Minta diizinkan pergi menjenguk tahanan kota yang dulu kerap jadi buron.
”Keluarlah, Nak. Apa yang kau inginkan dari menjenguk orang tak beradab, yang tahunya merampas orang dengan menyandera?” Begitulah Sang Ibu  membujuknya.

Sabtu, 24 Mei 2025

Cerpen: Si Man

Oleh: S. N. Aisyah


Si Man duduk mencangkung di tepian anak sungai. Sesekali ia menghela napas lesu, mengusap kepala dengan kasar. Rambutnya masai, hidungnya memerah, matanya juga merah dan agak sembap. Agaknya lama sudah ia menangis. Ia merangkul erat lututnya. Berayun-ayun ke muka dan belakang dalam duduknya yang janggal.

 

Tatapan heran dan menghakimi dari orang-orang di jalanan tak lagi ia pedulikan. Toh, ia sudah banyak menelan tatapan serupa seumur hidupnya. Terlebih pagi tadi, ia tak hanya dihakimi tapi juga direndahkan sedemikian rupa.

 

Ah, persetan dengan mereka semua. Begitulah pikir Si Man, mencoba untuk tidak peduli. Namun, lambat-laun, semakin ia mencoba melupakan nasib hidupnya, semakin jelas ia dihantui. Terlebih, kembali terngiang perkataan yang acap dilontarkan Emak kepadanya.

 

Kamis, 22 Mei 2025

Fiksi Mini: Tangkap Penipunya!

Oleh: S. N. Aisyah

Di  suatu malam, aku dan kawanku terlibat sebuah perdebatan yang membawa kami pada suatu kesimpulan. Bahwa, kebanyakan manusia itu seorang penipu. Tetapi, sifat penipu itu tidak lahir begitu saja. 

Coba saja kau bayangkan, bagaimana mungkin sesuatu lahir begitu saja? Maksudku, segala sesuatu  itu tak lepas dari rantai sebab-akibat. 

Nah, perkara tipu-menipu, ia lahir dari kerusakan. Jangan tanya apa maksudku. Kau pasti paham maksudku. Aku yakin bahkan kau sendiri sering ditipu oleh dirimu, kan? 

Selasa, 20 Mei 2025

Poems: Rumah Duka

oleh: S. N. Aisyah


Lalu harus ke manakah duka akan dibawa?


apakah  pada sungai yang tak lagi mengalun

tak lagi menerjang bebatuan

dengan sapaan syahdu?


apakah pada langit yang selalu muram

acap kali lupa undang mentari, 

sibuk berkabung dengan awan hitam?


apakah pada lautan yang tak lagi 

mengirim ombak ke tepian

sebab angin enggan singgah barang sebentar?


Ke manakah duka harus bersemayam

jika tidak pada makam

yang telah kusediakan?


Negeri Bertuah, 18 Mei 2025




Senin, 19 Mei 2025

Books: Saat ’Nemesis’ Menjadi Nemesismu

oleh: S. N. Aisyah




Judul buku    : Nemesis

Penulis           : Agatha Christie 

 

Seberapa buruk sikap skeptis dapat memengaruhi hidup seseorang? Sebenarnya saya juga tak tahu tapi dalam skala yang lebih kecil, saya sudah mendapatkan hantaman dari skeptism itu.

 

Saya sering melewati rak buku Agatha Christie saat mengunjungi perpustakaan wilayah. Agatha Christie adalah salah satu nama besar dalam dunia literasi bergenre misteri-thriller-detektif. Tapi, tak tahu mengapa, saat itu  saya tak kunjung membaca bukunya. Meski beberapa kali mengambil dan menimbangnya dalam tangan, buku Agatha Christie itu akhirnya kembali saya taruh dengan keragu-raguan  ke rak.

 

Sabtu, 17 Mei 2025

Cerpen: Secangkir Teh dan Segelas Kopi

Oleh: S. N. Aisyah


Ia berdiam diri di hadapan sebuah monitor. Beberapa menit larut dalam hening, kemudian ia berjalan menuju dapur. Tangannya menggapai cangkir teh, namun segera diurungkan niat itu. Dengan langkah gontai, ia berbalik arah, kembali pada monitor, megutak-atik sebuah playlist. Lagu classic retro menggema sayup. Di luar, hujan masih saja turun. Embun menyerbu jendela, menutupi pemandangan kota. Ia duduk sedikit meringkuk. Membenamkan diri dalam sweater, menungkus diri dalam selimut.

 

Tepat dihadapannya, kursor berkedip-kedip dalam lembar kosong monitor. Meja kerja penuh tumpukan kertas, buku, koran, majalah, kacamata, dan alat tulis. Semuanya menebar tak berpola. Sebuah surat kabar menjuntai pada sisi meja. Lembar kosong monitor dan meja nan penuh itu berbagi rasa yang sama: nelangsa. Sedangkan bola matanya jauh menerawang.

 

Sabtu, 10 Mei 2025

Cerpen: Mesti Tak Mesti

Oleh: S. N. Aisyah


Petang hari, di penghujung September, angin musim hujan mulai mengiring Kota Bertuah. Udara terasa sedikit lembap. Sesekali deru angin menyenggol palang rambu pemberhentian bus hingga membuatnya seolah berayun mendayu. Palang itu terlihat semenyedihkan halte yang bertengger setia  di sampingnya -- tak berpenghuni selain semilir dan deru angin yang sesekali menghampiri.  Selang lalulnya beberapa kendaraan, sebuah bus biru merapat. Berpasang-pasang kaki menapaki halte, mengantar kepala-kepala memenuhi halte sempit, melepasnya dari kungkungan sepi.  Di antara barisan kepala itu,  Ru  menyelinap keluar halte. Berjalan tergesa menyeberangi  trotoar. Menyusuri dua blok pergedungan, kemudian memasuki salah satunya.

Rabu, 07 Mei 2025

Tentang Pulang

Perjalanan hidup adalah perjalanan singkat yang panjang menuju pulang. Dari tempat kita berpijak menuju rumah, tak hanya satu jalan yang terbentang. Dalam perjalanan ini terkadang kita menemukan jalan yang lurus, berliku, rata, berbatu, berlacah, datar, terjal atau landai. Jarak yang kita lalui dapat jauh, dekat, lancar, mandat, lapang atau padat. Terkadang ada pula jalan buntu. Tidak semua orang melewati jalan yang sama. Tidak semua orang mengetahui setiap jalan dengan baik. Tidak perlu merasa tertekan, ambillah waktumu untuk memilih jalan terbaik menuju rumah. 

Sabtu, 03 Mei 2025

Cerpen: Mentimun Bungkuk

Oleh: S. N. Aisyah


 Minggu itu, di sebuah los pasar, dua wanita muda tengah terlibat dalam suatu percakapan.

”Kurasa, kalau gini terus, aku bisa keluar,” ujar Ren. Wajahnya berkerut, namun tidak terdengar sungguh-sungguh. 

”Yah, hal begini mesti ditimbang lagi, kan? Jangan gegabah,” Adrian menimpali. Adrian seorang pegawai swasta. Ia adalah tipikal orang yang bangun bahkan sebelum alaramnya berbunyi. Pegawai yang senantiasa menyeduh kopi sebelum memulai rutinitas harian sebagai pekerja.

”Belum kuputuskan emang. Mesti realistis juga, cari kerjaan tak gampang.” Ren seorang pekerja kontrak yang masih sangat hijau di dunia kerja. Kalau ditaksir, baru tiga tahun ia bekerja sebagai karyawan kontrak setelah masa magangnya berakhir.

”Ini masalah rumit.” Adrian tampak sedikit merenung, agaknya ia terjebak dalam pikirannya sendiri.

”Lihat, lihat mentimun itu!” Ren memecah renungan Adrian. Ia menunjuk ke arah wanita tua di seberang los. Separuh gerai wanita itu disesaki mentimun. Tampak seorang pembeli tengah bernegosiasi.

”Iya, kenapa mentimunnya?” Adrian masih belum mengerti maksud Ren.

Jumat, 02 Mei 2025

That One Friend in Your Life


Saya tidak tahu persis kapan mulanya saya menikmati kegiatan membaca. Sejauh ingatan yang bisa saya raih, itu saat duduk di taman kanak-kanak. Ketika itu, di sampul belakang buku pelajaran (kalau tidak salah) ada sebuah cerita bergambar singkat tentang seorang anak yang malas sekolah, ia selalu bangun terlambat. Hingga suatu hari, ia terburu-buru berangkat sekolah. Saat itu, saat ia memutuskan tidak malas bersekolah, ia mendapati sekolah sepi. Ya, hari itu hari minggu. Entah mengapa cerita tersebut membekas bagi saya. Saya masih ingat betapa seringnya cerita itu saya baca ulang. Itulah ingatan paling usang yang saya miliki tentang membaca. Kini, saya selalu senang jika menemukan buku bagus.

Kamis, 01 Mei 2025

Tentang Mereka yang Menangis Demi Senyum Kita Hari Ini



Cerita dikit, boleh, ya. Jadi buku "Mereka Menangis Demi Senyum Kita Hari Ini" itu berisi kumpulan cerpen biografi pahlawan Indonesia. Buku ini berangkat dari niat baik owner, staf dan admin komunitas KLPK untuk ningkatin semangat anak bangsa buat ngenal lagi tokoh-tokoh hebat Indonesia dan belajar keteladan dari beliau-beliau (tahulah keadaan bangsa sekarang gimana. Iya, termasuk saya juga πŸ˜…). Nah dari niat itu, KLPK ngadain event menulis cerpen biografi pahlawan nasional juga daerah. Hasil penjaringan naskah ini nanti akan diterbitkan oleh Penerbit PKP (ya, ownernya yg itu, yg populer itu. Apalagi buat mak-mak, dah. Pasti ngefans, kan? Gak apa-apa kok. Ownernya kagak cuma menang populer doang, karyanya juga bagus). 


Saya untuk pertama kalinya ngeberaniin diri buat ikutan event. Mayan bisa sambilan belajar, pikir saya. Proses menulisnya bukan main. Karena ini biografi, mesti pakai sumber yg benar. Jadi, ya, riset dan pengolahan data serta fakta penting banget. Abis, dah nyelam internet dan nyariin buku pahlawan. Masih ingat gimana nervousnya saya bacain buku yang bahas Agus Salim (saya milih mengangkat cerita beliau) berulang kali, takut salah memahami πŸ˜…. 


Setelah buat kerangka dan coret-coretannya, saya nemu masalah baru. "Gila, gimana caranya jadiin ini naskah kagak kayak laporan, ya?" Akhirnya saya berusaha semampu saya buat ngejadiin kisah luar biasa dan rekam perjalanan hidup serta karir Agus Salim yg panjang dan banyak itu dalam satu cerpen. πŸ˜… Nerves saya nulisnya (semoga saia bagus dan bermanfaat). Ini event juga landasannya harus bisa dibaca anak-anak dan dewasa (Banyak pembaca PKP adalah org yg terjun ke dunia pendidikan atau peduli pendidikan). Tantangan banget, kan? Saya berdoa moga di naskah saya kagak ada fakta yang melenceng dan jadi fitnah. Setelah ngecek berkali-kali, naskahnya saya kirim. 



Dan... Kaget banget waktu tahu kalau naskah saya lolos kurasi juri, sekaget pas ngelihat naskah-naskah teman-teman penulis lain yang bagus-bagus banget. Ternyata ada banyak gaya bercerita dan banyak pahlawan yang memperjuangkan Indonesia tapi namanya nggak terlalu luas dikenal. Bahkan ada beberapa pahlawan yang saya baru tahu keberadaannya πŸ˜”. 

Emang keren penulis-penulis ini, pikir saya. πŸ‘



Setelah ditentukan siapa saja yang lolos kurasi, mulai deh bedah naskah. Wah, ini seru, sih. Ngobrol bareng editor PKP tentang naskah. Bukan berarti lolos penilaian juri naskah saya langsung selamat dan siap terbit. Tak semudah itu, Ferguso. Mbak editor (Mbak Vinny) baik banget. Obrolan kita open banget dan kagak ngejudge. Mbaknya kagak serta-merta coret atau hapus sana-sini. Prosesnya diskusi. Juga diberi kesempatan buat ngejelasin sudut pandang kita sebagai penulis utk mempertahankan atau memberi alasan mengapa menulis demikian. Di samping ngasih ilmu kepenulisan juga tentunya.



Mbaknya juga gak segan bagi-bagi tips dan cerita pengalaman sebagai penulis yang dieditori teman editor lain (meskipun mbaknya juga editor). Kira-kira, kata Mbaknya gini, "Penulis bakal susah objektif menilai karyanya tanpa ada editor selain diri sendiri. Kita bakal sulit ngelepasin ego kita tentang karya sendiri." Saya manggut2 atas pernyataan ini. 



Nggak nyangka sekarang semua proses itu sudah terlewati. Saya sangat bersyukur atas pelajaran ini. Makasih banget PKP dan KLPK. Kuylah baca di sini KLPK App



Mental Health

Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpus...