Tampilkan postingan dengan label Fiksi Mini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi Mini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 November 2025

Fiksi Mini: Meteor

Baru saja kemarin, sebuah meteor jatuh di bukit sunyi. Burung-burung berhamburan, meninggalkan rumah-rumah mereka yang terbakar bara api. Para cacing terkejut, kumbang-kumbang dan serangga lainnya terbatuk-batuk. Meteor panas itu menjelma altar persembahan di puncak bukit berhantu. Tempat tuna-jiwa menyembah setan yang mengkhianatinya.

Sabtu, 08 November 2025

Fiksi Mini: Siluet

Oleh: S. N. Aisyah

Sudah pukul setengah sembilan. Anak-anak yang mengaji telah pulang satu per satu. Menyisakan aku dan adikku. Tetapi, Ayah belum juga datang menjemput. Keluarga Ustaz Susilo sudah bersiap-siap akan makan malam. Rasa segan merayapi diriku. Ketika diundang makan malam, aku dan adikku mohon  izin pamit, beralasan bahwa Ayah sudah terlihat di ujung gang. Datang menjemput. Maka setelah menyalami ustaz dan istrinya, kami berlarian menuju gang itu.

Kamis, 30 Oktober 2025

Fiksi Mini: Nek Ana

Oleh: S. N. Aisyah


Saat itu, magrib menjelang. Aku dan kawan-kawanku tengah asyik bermain. Tidak menyadari bahwa matahari sudah menyerupai semburat  merah-oranye. Suara burung wak-wak menggema dari jauh. Mendengar teriakan ibuku yang memanggil pulang, kami segera bergegas menyudahi permainan lomba memanjat, meninggalkan halaman belakang Nek Ana. Rumah Nek Ana hanya berjarak dua rumah dari rumahku.

Kamis, 23 Oktober 2025

Fiksi Mini: Sunset in July

Hamparan ilalang berayun, menenggelamkan kepalaku. Ilalang-ilalang kering dan kuning, ditimpa oranye petang. Aku berlari. Mendaki, terus mendaki. Meniti puncak, menuju barat. Kian lama, matahari kian tergelincir. Semburat cahayanya perlahan menjadikan langit merah muda--di hamparan awan-awan musim panas yang menggantung seperti permen kapas. Mungkin tak berapa lama lagi, ia akan terbenam dalam kegelapan malam. Habis ditelan dingin. Digulung Agustus yang lebih berwarna. Aku masih membencimu, tentu saja. Namun, kuakui, tak ada sunset yang lebih indah dibanding sunset Juli yang membara, seperti angkara yang bersemayam di dada--untukmu. Mungkin saja aku akan terjun bersamanya--matahari terbenam Juli. Hal yang dapat membuatku mencintai musim panas--yang tak pernah kusuka. Tak ada yang kusesali--tak ada yang ingin kusesali. Bahkan, biarpun nanti langit tak lagi merah muda. 

Kamis, 23 Oktober 2025

Kamis, 16 Oktober 2025

Fiksi Mini: Gerimis

Oleh: S. N. Aisyah



Sore itu, seperti biasa, aku kembali mengasuh bocah kecil ini sementara ibunya--kakakku--menjemput kakaknya di sekolah. Seperti biasa pula, bocah manis tiga tahun itu menendang dan melayangkan tinju ke udara seolah sedang melawalan monster dan zombie lucu seperti film kesukaannya. Ia berkeliaran dengan lincah. Ia akan meminta ikut bermain jika ia ingin, jika tidak, maka lebih baik untuk tidak menganggu transformasinya dan kegilaannya akan super hero. 


Si kecil berambut mangkuk ini mondar-mandir di ruang tamu. Lalu, tiba-tiba ia berlari ke teras, mengejar zombi. Aku mengikutinya. Memintanya untuk bermain di dalam. Namun ia menolak. Dan ... memaksanya bukanlah hal yang baik, maka aku duduk di ambang pintu. Mengawasinya sambil sesekali mengedar pandang. 

Sore itu sangat dingin. Langit gelap, awan-awan hitam bergelantungan seperti kapas berdebu. Angin menderu. Jalanan sepi, tidak seperti biasanya. Ada ketengangan yang aneh. Ponakan manisku masih saja bergulat dengan musuh-musuhnya. Sangat lucu. Tanpa kusadari, senyum terkembang melihat tingkahnya yang mulai berubah menjadi Hulk. 

Dari kejauhan, terdengar suara anak ayam mencicit. Sekali lagi kuedar pandang. Namun, saat itu kudengar ponakan manisku berteriak ketakutan. Ia berlari memelukku dengan erat. Tak menjawabku kecuali dengan tangis yang keras saat kutanya mengapa. Kulempar pandang berkeliling. Tak ada hal yang mencurigakan. Tak ada manusia selain kami, tidak pula hewan. Aku menggendongnya ke dalam rumah. Mengunci pintu.

Segera kupastikan ia tak terluka. Ia terisak bukan main. 
"Adek, kenapa?" tanyaku halus seraya memeluknya. Awalnya ia belum juga bisa menjawab. 
"Adek nggak pa-pa?" tanyaku lagi. 
"A-ada ... antuu," ucapnya disela isak. 
"hush, hush, udah, ya, Hantu itu nggak ada." Sebisa mungkin aku berkata dengan lembut, menenangkannya seraya melihat ke luar jendela. Di sana, dalam gerimis, seorang wanita berbaju putih melayang, rambutnya panjang, matanya merah, dan kakinya berlumur darah. 


Kamis, 16 Oktober 2025

Senin, 06 Oktober 2025

Fiksi Mini: Bocah

Oleh: S. N. Aisyah


Aku agak sebal dengan adikku. Usianya sudah 8 tahun. Tetapi sangat takut tiap kali pergi ke kamar mandi. Sering kutanya alasan dari tingkahnya itu. Namun, ia tak menjawab hanya merengek saja. Jika tak ingin terlambat sekolah atau berangkat mengaji, aku terpaksa harus menemaninya, berdiri di balik pintu. Begitulah tiap kali ia hendak ke kamar mandi. Sangat nenyebalkan. 

Suatu hari, om dan tanteku datang berkunjung. Mereka membawa sepupu kecil kami. Umurnya baru tiga tahun. Tetapi ia lebih dewasa dari adikku.

Siang itu, selepas bermain hujan. Sepupu kami itu menghilang. Aku yang diamanahi menjaga dua bocah itu langsung kalut. Mencari-carinya berkeliling. Ia tak ada di mana pun. 

Namun, begitu melewati kamar mandi, kudengar ia tertawa. Tak terkira leganya hatiku. Kuhampiri ia. 

"Kakak, kakak liat ni," katanya sambil menyiramkan air ke dinding kamar mandi. Ia tertawa-tawa. 

"Iya, udah, yuk. Nanti masuk angin," bujukku padanya. Aku bermaksud untuk segera mengguyurnya dan membungkusnya dengan handuk. 

"Tunggu, Kak. Liat tu." Ia kembali menyiram dinding. "Liat kena dia kan?"

"Adek siram apa?" Kali ini kuperhatikan dinding itu. Apa mungkin ada semut atau hewan lainnya?

"Itu, kak. Anak tu. Ndak ada kaki. Ndak ada tangan," ujar si kecil seraya menunjuk dan tertawa. 

"Hah?" 

Aku nenoleh berkeliling. Hingga mataku berhenti di kaca kamar mandi.Samar-samar,  dapat kulihat bayangan itu. Seorang anak kecil tak bertangan, tak berkaki. Kuyup tersiram. Ia tertawa dengan bibir yang hampir merobek wajahnya. 


Senin, 06 Oktober 2025


Kamis, 25 September 2025

Fiksi Mini: Prasangka

Oleh: S. N. Aisyah

Aku tidak begitu kenal dengan gadis itu. Dia bereputasi sebagai seorang  pendiam, bertampang 'baik', dan berkelakuan 'santun'. Tapi, jangan mau tertipu dengan tampang sok polosnya. Dia hanyalah seorang arogan yang berpura-pura baik di tempat yang menguntungkannya. Di balik sikap kalemnya itu, aku tahu ada yang salah dengan anak ini. 

Kamis, 18 September 2025

Fiksi Mini: Kadar

Oleh: S. N. Aisyah


Berkali-kali kukatakan padanya untuk berhenti. Aku sudah muak. Orang waras mana pun tak akan tahan dengan kelakuannya. Setiap hari ia mengekoriku. Bersusah payah aku memintanya pergi, hanya dibalas seringai.

Kamis, 11 September 2025

Fiksi Mini: Sepuluh kali

Oleh: S. N. Aisyah

Kami tinggal di pondokan dengan tiga kamar. Dua kamar tidur dan satu ruang tamu. Di bagian belakang, Bapak membangun dapur dan tempat MCK.Tak banyak benda di rumah kami. Hanya barang-barang  pokok. Satu dipan dan satu lemari untuk tiap kamar tidur. Sebuah meja kecil di ruang tamu. Selebihnya hanya perkakas kerja dan peralatan rumah tangga. Tidak ada televisi maupun perangkat elektronik lainnya yang bersifat hiburan saja. Bapak membangun sebuah saung kecil di halaman depan rumah, tempat Ibu berjualan kecil-kecilan sedangkan Bapak setiap hari akan pergi meladang. Apabila  senggang, aku dan kakak biasanya  menggantikan Ibu berjualan sementara Ibu membantu Bapak di ladang. 

Kamis, 04 September 2025

Fiksi Mini: Padam

Oleh: S. N. Aisyah


Dahulu, aku sangat benci ketika listrik padam. Apalagi di masa liburan semester sekolah. Susahnya tinggal di pelosok desa, ya, seperti itu. Mengapa  kota besar atau pusat pemerintahan dapat asupan listrik dua puluh empat jam sedangkan kami mesti mengantri giliran pemadaman listrik empat jam (sekali hingga dua kali) dalam sehari? Jika melihat pada tempat yang belum mendapatkan listrik, tentu saja aku bersyukur, tetapi itu lagi masalahnya kan? Apa bedanya hak kami dengan kota besar atau pusat pemerintahan daerah? Apakah sebab kebutuhan listrik kami tak begitu banyak makanya sering dipadamkan untuk penghematan? Bukankah lebih logis jika penghematan dilakukan pada wilayah yang banyak menggunakan listrik? Apa karena faktor keberlangsungan perekonomian? Apapun itu, seorang bocah SMP pinggiran sepertiku hanya ingin menonton film box office di liburan sekolah. Di Tv analog, tentu saja.

Kamis, 28 Agustus 2025

Fiksi Mini: Jam Raksasa

Oleh: S. N. Aisyah


Jarum jam  berdentang. Ya, berdentang. Suaranya menggema di gendang telingaku. Jantungku bedenyut kuat. Seperti digengam erat dalam kepalan tangan yang semakin lama, semakin meremukkannya. Mendorong aliran darah ke tengkuk, terus kedalam tengkorak. Kepalaku sepertinya akan meledak. Setiap garis  tampak berbayang. Aku tak mau mati di sini. 

Kamis, 21 Agustus 2025

Fiksi Mini: Belang

Kami tidak banyak bicara. Perjalanan panjang selama 8 jam telah menguras tenaga. Maka, begitu tiba di rumah Nenek pukul 8 malam, kami bersegera membersihkan diri, makan, dan bersiap berangkat tidur. Namun, adikku yang baru berusia 4 tahun tiba-tiba datang menghampiri. 

Kamis, 14 Agustus 2025

Fiksi Mini: The Ghost Writer

Oleh: S. N. Aisyah


Sudah sepuluh bulan aku berdiam di kos-kosan Bu N. Tak ada yang kukeluhkan dari kos-kosan ini selain perkara kecil yang kadang menyebalkan, yaitu hilangnya barang-barang tertentu saat aku hendak menggunakannya. Pada mulanya, kukira aku yang ceroboh ini mungkin telah salah menaruhnya. Wajar saja, kebiasaan kurang tidur dan makan yang tak karuan membuatku kerap kali berjalan seperti mayat hidup, kehilangan fokus dan  sedikit emosional. Tetangga yang tingal di sampingku kerap mengataiku si gotik. berolok-olok bahwa aku seperti cenayang yang berdiam dalam gua hantu. Hanya karena aku dapat sedikit menerka-nerka kelakuan orang sepertinya.

Kamis, 07 Agustus 2025

Fiksi Mini: Tetangga

Oleh: S. N. Aisyah


Sudah dua malam ini, aku menginap di rumah kakak. Menemaninya dan kepokanakn kecilku yang manis sebab suami kakak dalam perjalanan kerja ke ibukota provinsi. Dua malam di sini, tidak begitu buruk. Meski terletak di sudut pedesaan dengan jarak antar rumah yang relatif jauh, ketenangan dan keheningannya memberikan sedikit hiburan pada sarafku yang kenyang menelan bising kota. 

Kamis, 31 Juli 2025

Fiksi Mini: Perspektif

Oleh: S. N. Aisyah


Konon, katanya semua hanya tentang perspektif. Suatu hal dapat dianggap baik atau buruk, bergantung dari sudut pandang mana kita menilainya. Satu hal dapat memiliki banyak terjemahan. Bergantung pada siapa dan apa dasar penilaiannya. Kau bisa katakan 6 sedangkan orang lain yang berseberangan denganmu akan menyebutnya sebagai 9. Masuk akal bukan? Hal itu dapat saja kubenarkan dalam otakku. Ya, aku menerimanya.

Kamis, 24 Juli 2025

Fiksi Mini: Menolak Gila

Oleh: S. N. Aisyah


Sepertinya kawanku sudah sinting. Ia baru ‘kan beranjak tidur saat sang fajar menyundul langit. Dari senja ke pagi, berkutat dengan buku-buku di kamar. Aku paham ia suka membaca, tetapi tidakkah ini berlebihan? Saat kutanyakan pada si sakit, ia hanya berkata, “Aku tak mau kalah.”

Kamis, 17 Juli 2025

Fiksi Mini: L’Amour

Oleh: S. N. Aisyah


”Katakanlah sesuatu,” ucapnya lirih. Di bawah lampu neon, wajah itu terlihat indah, walau mata beningnya menyala dalam amarah. Namun, tak ada kata yang dapat kuberikan padanya.

”Baiklah. Aku takkan mengganggumu lagi." Ia kembali bersuara setelah lama kami duduk dalam hening.

Ucapannya menaruh sayatan yang tak pernah kuduga. Bukankah ini seharusnya mudah?

Kamis, 10 Juli 2025

Fiksi Mini: Jangan Dekati Lurah!

Oleh: S. N. Aisyah


Sudah beberapa kali nenek melarang kami turun ke lurah itu. Berbahaya, begitu kata nenek. Namun, bahaya apa yang mungkin dihadang oleh sekumpulan remaja apabila turun ke lembah yang amat landai jika bukan hewan liar, potensi tertimbun longsor, terlelap banjir, dan bencana alam lainnya? 

Tidak, aku tidak mengkerdilkannya. Hanya saja, lurah ini berjarak tak lebih dua puluh langkah dari halaman rumah nenek. Tepat di seberang jalan setapak. Tidak jauh. Bahkan, nenek dapat menjewer seraya menyeret paksa kami dalam hitungan menit bilamana kami tetap tak boleh juga turun ke sana. Tak ada hewan liar di sekitar sini, tak ada tanda-tanda tanah longsor. Bahkan, setiap curah hujan bertonton turun sekalipun, belum pernah lurah itu tergenang air. Dengan kata lain, sejauh yang kami tahu, lurah itu tak mungkin berbahaya. 

Kamis, 03 Juli 2025

Fiksi Mini: Jangan Menoleh!

Oleh: S. N. Aisyah


Aku sering kali mendengkus ketika  lagi-lagi mereka  membahas hal itu. Bayangkan saja, ada setan wanita yang mengikuti Sutan Rangkayo minggu lalu. Katanya, minta diantar pulang, membonceng sepeda motor lelaki paruh baya itu. Spontan saja, Sutan Rangkayo turun dan lari terbirit-birit meninggalkan sepeda motornya. 

Kamis, 26 Juni 2025

Fiksi Mini: Merah


Oleh: S. N. Aisyah


Jalanan amat sepi. Bagaimana tidak? Sudah pukul sebelas malam. Hentakan kakiku bergaung. Aku tak dapat menahan diri, menoleh ke belakang hanya untuk mendapati gang yang kosong dan lengang. Dengan perasaan tak nyaman, kupercepat langkah. Lalu buru-buru membuka pintu begitu tiba di kamar kos. 

Mental Health

Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpus...