Sabtu, 22 November 2025
Fiksi Mini: Meteor
Sabtu, 08 November 2025
Fiksi Mini: Siluet
Kamis, 30 Oktober 2025
Fiksi Mini: Nek Ana
Oleh: S. N. Aisyah
Saat itu, magrib menjelang. Aku dan kawan-kawanku tengah asyik bermain. Tidak menyadari bahwa matahari sudah menyerupai semburat merah-oranye. Suara burung wak-wak menggema dari jauh. Mendengar teriakan ibuku yang memanggil pulang, kami segera bergegas menyudahi permainan lomba memanjat, meninggalkan halaman belakang Nek Ana. Rumah Nek Ana hanya berjarak dua rumah dari rumahku.
Kamis, 23 Oktober 2025
Fiksi Mini: Sunset in July
Kamis, 16 Oktober 2025
Fiksi Mini: Gerimis
Senin, 06 Oktober 2025
Fiksi Mini: Bocah
Kamis, 25 September 2025
Fiksi Mini: Prasangka
Kamis, 18 September 2025
Kamis, 11 September 2025
Fiksi Mini: Sepuluh kali
Kamis, 04 September 2025
Fiksi Mini: Padam
Oleh: S. N. Aisyah
Dahulu, aku sangat benci ketika listrik padam. Apalagi di masa liburan semester sekolah. Susahnya tinggal di pelosok desa, ya, seperti itu. Mengapa kota besar atau pusat pemerintahan dapat asupan listrik dua puluh empat jam sedangkan kami mesti mengantri giliran pemadaman listrik empat jam (sekali hingga dua kali) dalam sehari? Jika melihat pada tempat yang belum mendapatkan listrik, tentu saja aku bersyukur, tetapi itu lagi masalahnya kan? Apa bedanya hak kami dengan kota besar atau pusat pemerintahan daerah? Apakah sebab kebutuhan listrik kami tak begitu banyak makanya sering dipadamkan untuk penghematan? Bukankah lebih logis jika penghematan dilakukan pada wilayah yang banyak menggunakan listrik? Apa karena faktor keberlangsungan perekonomian? Apapun itu, seorang bocah SMP pinggiran sepertiku hanya ingin menonton film box office di liburan sekolah. Di Tv analog, tentu saja.
Kamis, 28 Agustus 2025
Fiksi Mini: Jam Raksasa
Oleh: S. N. Aisyah
Jarum jam berdentang. Ya, berdentang. Suaranya menggema di gendang telingaku. Jantungku bedenyut kuat. Seperti digengam erat dalam kepalan tangan yang semakin lama, semakin meremukkannya. Mendorong aliran darah ke tengkuk, terus kedalam tengkorak. Kepalaku sepertinya akan meledak. Setiap garis tampak berbayang. Aku tak mau mati di sini.
Kamis, 21 Agustus 2025
Fiksi Mini: Belang
Kamis, 14 Agustus 2025
Fiksi Mini: The Ghost Writer
Kamis, 07 Agustus 2025
Fiksi Mini: Tetangga
Oleh: S. N. Aisyah
Sudah dua malam ini, aku menginap di rumah kakak. Menemaninya dan kepokanakn kecilku yang manis sebab suami kakak dalam perjalanan kerja ke ibukota provinsi. Dua malam di sini, tidak begitu buruk. Meski terletak di sudut pedesaan dengan jarak antar rumah yang relatif jauh, ketenangan dan keheningannya memberikan sedikit hiburan pada sarafku yang kenyang menelan bising kota.
Kamis, 31 Juli 2025
Fiksi Mini: Perspektif
Kamis, 24 Juli 2025
Fiksi Mini: Menolak Gila
Oleh: S. N. Aisyah
Sepertinya kawanku sudah sinting. Ia baru ‘kan beranjak tidur saat sang fajar menyundul langit. Dari senja ke pagi, berkutat dengan buku-buku di kamar. Aku paham ia suka membaca, tetapi tidakkah ini berlebihan? Saat kutanyakan pada si sakit, ia hanya berkata, “Aku tak mau kalah.”
Kamis, 17 Juli 2025
Fiksi Mini: L’Amour
Oleh: S. N. Aisyah
”Katakanlah sesuatu,” ucapnya lirih. Di bawah lampu neon, wajah itu terlihat indah, walau mata beningnya menyala dalam amarah. Namun, tak ada kata yang dapat kuberikan padanya.
”Baiklah. Aku takkan mengganggumu lagi." Ia kembali bersuara setelah lama kami duduk dalam hening.
Ucapannya menaruh sayatan yang tak pernah kuduga. Bukankah ini seharusnya mudah?
Kamis, 10 Juli 2025
Fiksi Mini: Jangan Dekati Lurah!
Oleh: S. N. Aisyah
Sudah beberapa kali nenek melarang kami turun ke lurah itu. Berbahaya, begitu kata nenek. Namun, bahaya apa yang mungkin dihadang oleh sekumpulan remaja apabila turun ke lembah yang amat landai jika bukan hewan liar, potensi tertimbun longsor, terlelap banjir, dan bencana alam lainnya?
Tidak, aku tidak mengkerdilkannya. Hanya saja, lurah ini berjarak tak lebih dua puluh langkah dari halaman rumah nenek. Tepat di seberang jalan setapak. Tidak jauh. Bahkan, nenek dapat menjewer seraya menyeret paksa kami dalam hitungan menit bilamana kami tetap tak boleh juga turun ke sana. Tak ada hewan liar di sekitar sini, tak ada tanda-tanda tanah longsor. Bahkan, setiap curah hujan bertonton turun sekalipun, belum pernah lurah itu tergenang air. Dengan kata lain, sejauh yang kami tahu, lurah itu tak mungkin berbahaya.
Kamis, 03 Juli 2025
Fiksi Mini: Jangan Menoleh!
Oleh: S. N. Aisyah
Aku sering kali mendengkus ketika lagi-lagi mereka membahas hal itu. Bayangkan saja, ada setan wanita yang mengikuti Sutan Rangkayo minggu lalu. Katanya, minta diantar pulang, membonceng sepeda motor lelaki paruh baya itu. Spontan saja, Sutan Rangkayo turun dan lari terbirit-birit meninggalkan sepeda motornya.
Kamis, 26 Juni 2025
Mental Health
Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpus...
-
Mungkin hal yang paling berat tetapi paling meringkankan adalah memaafkan. Kata sederhana yang rumit. Perlu kebesaran hati dan lapang dada u...
-
Oleh: S. N. Aisyah Kau tahu seberapa bodoh manusia? Ia hanya akan mendengar apa yang ingin ia dengar. Ia hanya akan melihat apa ...
-
5 Rekomendasi Buku Nonfiksi Untuk meningkatkan Kualitas Hidup sumber foto Januari hampir berakhir, nih. Semangat memulai hidup baru di a...
-
sumber gambar Identitas Buku Judul : Atomic Habits Penulis : James Clear Penerjemah : Alex Tri K...
