Cerpen: Mentimun Bungkuk
Oleh: S. N. Aisyah
Minggu itu, di sebuah los pasar, dua wanita muda tengah terlibat dalam suatu percakapan.
”Kurasa, kalau gini terus, aku bisa keluar,” ujar Ren. Wajahnya berkerut, namun tidak terdengar sungguh-sungguh.
”Yah, hal begini mesti ditimbang lagi, kan? Jangan gegabah,” Adrian menimpali. Adrian seorang pegawai swasta. Ia adalah tipikal orang yang bangun bahkan sebelum alaramnya berbunyi. Pegawai yang senantiasa menyeduh kopi sebelum memulai rutinitas harian sebagai pekerja.
”Belum kuputuskan emang. Mesti realistis juga, cari kerjaan tak gampang.” Ren seorang pekerja kontrak yang masih sangat hijau di dunia kerja. Kalau ditaksir, baru tiga tahun ia bekerja sebagai karyawan kontrak setelah masa magangnya berakhir.
”Ini masalah rumit.” Adrian tampak sedikit merenung, agaknya ia terjebak dalam pikirannya sendiri.
”Lihat, lihat mentimun itu!” Ren memecah renungan Adrian. Ia menunjuk ke arah wanita tua di seberang los. Separuh gerai wanita itu disesaki mentimun. Tampak seorang pembeli tengah bernegosiasi.
”Iya, kenapa mentimunnya?” Adrian masih belum mengerti maksud Ren.
”Coba perhatikan ibu itu memilih mentimun. Hanya timun yang lurus yang ia pilih untuk ditimbang. Begitu juga dengan pembeli sebelumnya.” Ren menjelaskan, namun Adrian tidak menimpali, hanya pandangan ‘lanjutkan’ yang ia berikan. Kemudian, Ren meneruskan, “Lihat timun-timun bungkuk itu. Persis seperti kita. Aku dan kau. Juga semua pekerja kalangan bawah, semua masyarakat yang dianggap golongan dua.” Di sudut gerai, tergeletak mentimun bungkuk yang tersisih dari seleksi alam perniagaan. Ren dan Adrian memandang mentimun malang dengan prihatin.
“Kenapa? Kenapa kita sama?” Adrian bertanya.
”Dengan timun bungkuk? Karena dalam perniagaan tak ada yang memilih timun bungkuk untuk ditimbang. Sedang dalam dunia egois, kita, golongan bawah adalah golongan yang tak pernah dipertimbangkan. Seolah usaha kita selama ini sia-sia. Nasib kita sama seperti timun bungkuk yang tak pernah dipilih untuk ditimbang. Kita hanya akan berujung dipurukkan ke dalam goni, lalu ditimbang bersama-sama sebagai spesies yang sama. Tidak ada kualitas spesial. Dan juga bukan apa-apa!” Ren sedikit berapi, juga terdengar sesal dalam suaranya. Adrian, terlihat tak begitu yakin dengan apa yang ia pikirkan. Setelah beberapa detik berlalu, ia manggut-manggut, seakan ia setuju dengan ucapan Ren.
Mereka berdua masih memerhatikan gerai mentimun. Pengunjung terakhir gerai itu baru saja pergi ketika seorang wanita sepuh berjalan melewati gerai. Pemilik gerai menyapa wanita itu. Dagangan timunnya ludes, kecuali setumpuk besar mentimun bungkuk. Kedua wanita bercakap akrab, kemudian pemilik gerai memberikan satu plastik mentimun dengan cuma-cuma. Wanita sepuh tersenyum bahagia. Setelah berulang kali mengucapkan terima kasih, ia pun pergi. Ren dan Adrian ikut tersenyum, pandangan keduanya masih terpaku pada gerai di seberang.
Penjual mentimun bersiap mengemas barang-barangnya. Sepertinya ia cukup berdagang hari ini. Ia mulai memasukkan mentimun bungkuk ke dalam karung ketika seorang pembeli lain menghentikannya.
”Bu, tunggu! Saya mau beli timunnya.” Calon pembeli itu tampak tergesa.
”Wah, tinggal timun bungkuk ini, Buk. Lainnya sudah habis.” Pedagang timun menjelaskan, ia tampak menyesal saat mengatakannya.
”Tak apa, Bu. Toh masih bisa dimakan, ini juga bagus.” Pembeli itu berujar setelah dilihatnya tumpukan mentimun yang belum dikemas.
”Ibu mau berapa?” Pedagang dengan sigap bertanya sambil menimbang timunnya.
”Sekilo, Bu.”
”Boleh dibawa saja, Buk. Saya sudah mau pulang juga.” Penjual itu tersenyum sangat tulus.
“Nggak, Bu, saya beli dengan harga biasa, ya. ‘Kan sama-sama mentimun, kalau begini ibu nanti bisa rugi,” Pembeli menolak. Terjadi perdebatan kecil hingga salah seorang mengalah. Pembeli menyerahkan uang, penjual menerima uang.
“ Terima kasih, Buk. Jarang-jarang ada pembeli yang menghargai barang dagangan seperti Ibu.”
“ Saya juga terima kasih, Bu.” Begitulah akhir dari jual-beli mentimun bungkuk.
Lagi, di seberang kios, Andrian dan Ren tersenyum. Lalu mereka beradu pandang.
”Sepertinya tak masalah jadi timun bungkuk. Walau tak dipertimbangkan, masih bisa membuat orang lain bahagia. Masih bermanfaat, meski tak dihargai oleh banyak orang.” Adrian memecah diam antaranya dan Ren dengan kembali membahas analogi timun bungkuk. Ia melanjutkan, “Suatu hari nanti, timun bungkuk pada akhirnya akan menemukan pembeli yang memilihnya, bahkan saat lapak nyaris tutup.”
“Setuju!” Ren berkata seraya mengangguk.
“Ren, udah satu jam kita duduk di sini. Ayo pulang!” Adrian mengajak Ren. Ren melirik arlojinya. Ia tersentak.
“Yuk, Dri!” Ren menyusul Adrian membayar pesanan mereka yang sudah tandas dilahap. Setelah memastikan barang belanjaan aman di tangan, mereka berjalan keluar pasar.
Komentar
Posting Komentar