Bagian Satu: Pemakaman

 Oleh: S. N. Aisyah


Apa yang dibawa oleh kematian? Apa yang dibawa oleh perpisahan jasad dan jiwa manusia? Apakah perpisahan itu menitipkan duka-lara, penyesalan, penghakiman, kesedihan, rindu, kenangan atau mungkin sebuah kebahagiaan?

Rabu kelabu itu, bersama awan hitam yang bergulung-gulung di langit, jenazah Rosmalina ditanamkan ke dalam perut bumi. Doa melantun syahdu. Pelayat berkerumun, mengantar Rosmalina pada pembaringan terakhirnya. Sesekali terdengar isak juga tangis dari karib-kerabat serta kenalannya. Dapat kulihat wajah prihatin kawan arisan, mantan rekan, anggota komunitas, kolega-kolega bisnis suami, tetangga, juga orang-orang lain yang bahkan tak pernah bertatap muka dengannya. Semua seolah berlomba-lomba, menunjukkan betapa sedihnya mereka ditinggal mati oleh nyonya kaya-raya itu. Ya, seolah semua orang merana ditinggal mati oleh Rosmalina. Tapi agaknya tidak bagi pemuda itu.


Ia bertubuh jangkung dengan rambut bergelombang tak tersisir. Di baju putihnya, terpeta sisa-sisa tanah pemakaman. Agaknya membekas saat ia turun mengantar ibunya ke liang lahat. Melihat lelaki itu membuatku bertanya-tanya. Apakah kekosongan dapat memenuhi hati seseorang sedemikian rupa hingga tak ada lagi ruang tersisa,  bahkan hanya untuk setitik emosi? Bahkan hanya untuk setitik air mata?

Setitik air mata. Sesuatu yang tak kulihat di wajah lelaki itu. Sesuatu yang tak tampak menggenang di pelupuk matanya. Meski berulang kali pelayat memandangnya dengan iba, mengusap-usap punggung atau bahunya, meski berulang kali pelukan serta ucapan belangsungkawa dihantarkan, ia tetap sama. Menanggapi dengan teguh dan ketabahan luar biasa. Tidak, mungkin itu bukan sebuah ketabahan. Sebab, tak  ada pilu dalam ucapannya, tak ada emosi di wajahnya, tak ada kepedulian dalam dirinya.

Satu per satu orang-orang yang berduka itu pergi meninggalkan pemakaman. Pepohonan berayun, dedaunan kering berterbangan, seekor kedasih terbang meninggalkan dahan kamboja. Semilir angin menjadi gebu. Meski begitu, hujan tak kunjung turun. Agaknya hujan enggan menyembunyikan air mata peziarah. Atau mungkinkah ia enggan difitnah, jadi air mata di pipi orang-orang yang tak berduka? Atau … mungkin saja langit hanya enggan menangis.

”Lihatlah si bungsu. Tak sedikit pun bersedih. Benar saja, dia itu tak punya hati.” Seorang wanita tambun berkata.

”Benar, anak mana yang tak sedih ditinggal orang tua? Cuma dia,” timpal kawannya. Mereka berjalan menuju parkir. Berjejer memenuhi jalan sambil bergosip ria.

”Buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Air cucuran jatuh ke pelimbahan jua,” timpal wanita lainnya.

”Hem,” Si pemuda berdehem kasar. Membuat tiga wanita itu terlonjak kaget. Mereka tak menyadari bahwa orang yang asyik digunjingnya itu berada tepat di belakang punggung. Aku yang sedari tadi berjalan menunduk juga sedikit terkejut. Tak tahu bahwa lelaki itu berjalan di sampingku, ikut mengantri di belakang mereka yang melangkah seperti siput mengandung.

”Turut belangsungkawa, ya, Nak.”

”Yang tabah, ya.”

”Sabar, ya.”

Bergantian, tiga wanita paruh baya itu berkata dengan gelagapan.

Sekilas, kulihat rahang lelaki itu sedikit mengeras. Hanya sekilas, kemudian ia berlalu, menyibak tiga orang yang tak tahu sopan-santun itu. Ia berjalan menuju sedan hitamnya yang butut, menutup pintu, melaju meninggalkan pemakaman. Aku berjalan menuju parkir. Mengeluarkan sepeda motor dari barisan, kemudian berhenti di tanah lapang seberang pemakaman saat menyadari seseorang memanggilku. Aku bermaksud singgah sekadar menyapa dan bercakap-cakap sejenak.

”Dia sudah pergi? Si bungsu?” tanya Rasti, kawanku, seorang jurnalis media online. Media yang mengkhususkan diri dalam dunia wanita dan isu-isu sekitarnya. Saat ini ia menangani divisi lifestyle. 

”Ya,” sahutku singkat.

”Kudengar hubungan mereka tak baik,” ujarnya dengan nada menyelidik.

”Yang tak baik itu menggunjing orang. Apalagi di makam,” aku menimpali. Terkadang aku kagum dengan keahlian menyelidik kawanku ini. Tapi, tak jarang juga ia menyebalkan.

”Baiklah,” katanya sambil mengelos. Kemudian ia bertanya,”Setelah ini kau ke mana? Ke rumah duka?”

”Tidak, aku sudah di sana kemarin malam.” Jawabanku itu segera kusesali.

”Kemarin?” Ia memasang wajah penasaran lagi. Memang aku bukan tetangga atau kenalan dekat keluarga Rosmalina. Tak ada alasan kuat yang dapat membuatku menjadi peziarah pertama, setidaknya begitu secara logika. Setidaknya begitu bagi Rasti. Namun, aku juga tak ingin menjelaskan padanya alasanku berada di sana kemarin sore.

”Ya. Kau tak datang?” balasku. Berusaha melarikan diri dari penyelidikannya.

”Lembur. Pagi ini aku dapat jatah meliput Bu Rosmalina,” Ia memberikan penjelasan.

Rosmalina, seorang istri pengusaha kontraktor besar di Kota Bertuah. Meski belum lama berdiri, tapi perusahaan milik suaminya itu berkembang amat pesat. Sejak proyek rekonstruksi gedung suatu universitas yang ditanganinya suskes, perusahaan kecil itu kerap menggarap proyek-proyek mega. Hingga kini ia menjadi salah satu perusahaan kontraktor besar di kota metropolitan ini.

Selain statusnya sebagai nyonya besar,  Rosmalina juga seorang pensiunan dosen di salah satu universitas swasta daerah. Di usianya yang menginjak 31 tahun, setelah empat tahun mengajar, ia memilih mundur sebagai dosen, pensiun muda. Lalu ikut suaminya tinggal di ibukota provinsi.

Siapa yang tak kenal Rosmalina, ketua pergerakan komunitas wanita yang kerap mengusung ide dan kegiatan gemilang. Seperti kegiatan amal dan bakti sosial. Begitu banyak prestasi dan sepak terjangnya. Tak ada yang menyangka akan mengucapkan salam perpisahan akhir padanya di usianya yang ke-49 tahun. Sampai saat ini aku tak mendengar penyebab  yang mengantarnya beristirahat panjang. Senja kemarin, beredar kabar bahwa Rosmalina telah berpulang pada Yang Maha Kuasa.

Rasti mulai mengoceh tentang kekejaman redakturnya. Aku sesekali menanggapi. Saat mengobrol, sekilas, kulihat wajah-wajah penuh tangis tadi telah semringah. Mereka asyik mengobrol tentang pekerjaan, bisnis, pencapaian. Ada yang melepas rindu, bercakap ria. Ada yang saling melempar gurauan. Ada pula yang menggunjing seperti tiga wanita tadi.  Semuanya bertingkah seolah tak terjadi apa-apa. Wajah-wajah sedih itu sudah menguar entah ke mana.

Konon, begitulah hidup. Waktu akan terus bergulir, dunia akan terus melaju. Kata orang bijak,  tak elok larut dalam satu kesedihan. Kurasa itu benar. Namun, saat ini yang menjadi tanyaku, apakah mereka bahkan merasa sedih? Adakah kesedihan di balik senyum dan tawa yang hanya selang beberapa saat setelah isak dan sesegukan? Sungguh, apakah yang membujuk orang untuk datang ke pemakaman? Apakah itu bentuk duka yang mendalam? Apakah suatu kepedulian? Suatu penyesalan? Atau suatu penghargaan dan penghormatan? Apakah mungkin itu bentuk kasih sayang? 

Tiba-tiba saja, Rasti tersentak. Ia kembali memastikan kehadiranku di rumah duka kemarin malam. Kujawab ‘ya’, dengan singkat.

”Baiklah. Kalau begitu, aku pulang dulu,” pamitku, menghindari rasa penasaran Rasti yang tak dapat diakali. Segera kuputar kunci, mengabaikan panggilannya.  Langit tampak makin kelam. Meski saat ini sudah pukul sebelas siang, matahari tak kunjung terlihat.

Angin kian berembus. Dedaunan kering berkerisik. Sekilas mataku kembali menembus pagar TPU itu. Peziarah bersegera meninggalkan perkuburan. Menyisakan keluarga mendiang yang tersisa juga bersiap untuk berangkat. Dalam benakku, kembali terlintas sembap di wajah putri Rosmalina. Juga kesedihan yang berenang di mata suaminya. Begitu pula di wajah putra sulungnya. Mereka ditemani semua karib-kerabatnya. Hanya putra bungsu yang telah pergi—entah ke mana.

Aku membawa sepeda motor dengan pelan. Menyusuri jalan kecil pemakaman. Terus berbelok, menuju jalan raya, membelah jalanan kota. Dingin mulai menusuk tulangku. Tak lama kemudian, rinai hujan turun perlahan. Membuatku meninggikan gas sepeda motor. Dalam perjalanan, pertanyaan itu tembali terngiang di kepalaku.

 Apa yang dibawa dalam perpisahan jasad dan jiwa manusia?  Apa yang dibawa oleh kematian?

Komentar

Postingan Populer