Bagian Satu: Selamat Tinggal
Oleh: S. N. Aisyah
Ini sudah hampir pukul sembilan pagi. Sudah lebih dari tiga puluh menit aku menunggu di alun-alun desa. Namun, belum juga ada tanda-tanda kedatangan kawan-kawanku. Mungkin saja mereka lupa, asyik menonton siaran kartun minggu pagi. Oh, atau mungkin mereka masih bermain di sungai? Jangan-jangan mereka tidak bisa datang sebab membantu orang tua bekerja? Apa aku pergi saja?
Kini aku mulai mengingat masa silam, membuat dadaku sesak. Aku ingin menangis. Tapi, anak lelaki tak seharusnya cengeng. Maka kutahan-tahan air mata yang hendak jatuh itu. Entah mengapa, alun-alun terasa lebih sepi. Kantor kepala desa di seberang halaman lengang, markas ibu-ibu PKK juga kosong. Pendopo ini pun tak disinggahi oleh seorang pun selain diriku.
Satu-dua daun rambutan ranggas. Turun dengan anggun, menjumpai kawanannya yang telah dulu gugur dan berserak di tanah. Burung-burung gereja melintas. Berkejar-kejaran dengan riang. Sedang aku, berlamun diri, menanti kawan yang tak kunjung datang. Mungkin saja mereka tidak akan pernah datang. Bisa saja mereka marah padaku atas pengkhianatan ini. Sebaiknya aku kembali ke rumah.
Kususuri jalan setapak yang menjorok menembus perkebunan sawit, beranjak pulang. Rumahku berada sedikit jauh dari sekolah dan rumah kawan-kawanku. Letaknya memang di ujung desa. Itulah sebabnya tempo hari kami bersepakat bertemu di alun-alun. Namun, sepertinya itu tak akan terwujud. Sebentar lagi aku, ayah, ibu, dan adik akan berangkat menuju ibukota provinsi. Menetap di sana.
Syahdu, kusapu setiap jengkal alam dengan mataku. Berusaha merekam setiap ruang dan udara yang menyelubungiku. Mungkin ini perjalanan terakhirku dari alun-alun yang sepi menuju rumah yang tak akan lagi kami tempati. Esok atau lusa saat bangun tidur, aku akan menghirup udara yang berbeda. Entah di sana akan ada alun-alun dan pendopo yang seramah ini atau tidak, yang jelas aku pasti akan merindukan desaku, kawan-kawanku, guruku, Pak RT, Pak RW, tetangga, dan semuanya.
“Yaqeen … Yaqeen!” Ibu memanggilku lantang. Aku tidak sadar bahwa sudah sampai di pekarangan rumah. Kulihat ayah tengah memastikan barang-barang terikat aman di atap mobil. Adikku memangku boneka kelincinya yang usang dan bau. Sedang ibu berjalan menghampiriku.
”Dari mana saja kau? Lekaslah, kita harus berangkat sekarang.” Ibu menarik pelan tanganku. Menuntunku ke mobil.
”Yaqeen, jangan melamun. Besok-besok, jika dapat, kita berkunjung lagi ke sini. Kau bisa bertemu temanmu lagi, insyaallah.” Begitulah ayah melipurku.
Aku hanya menangguk. Segera menempati bangku belakang bersama Jana, adikku.
Ayah memutar kunci, menginjak pedal gas, memutar setir. Kami siap melaju, meninggalkan rumah, sekolah, dan desa yang sudah kudiami selama 12 tahun.
Saat itu, saat roda mobil ayah menyentuh aspal, dari belakang, kudengar suara-suara berteriak.
”Yaqeen!Yaqeen!”Aku menoleh ke jendela belakang. Tampak kawan-kawanku berlarian. Ayah yang juga menyadarinya, menghentikan mobil.
Segera kutemui mereka.
”Kin, maaf kami terlambat.” Taryo berkata sambil terengah-engah.
”Iya, Kin. Ini semua karena si Affan terlambat bangun.”
Aku hanya tersenyum saja. Kulihat hampir semua teman sekelasku datang menghampiri. Mereka bergerombol. Wajah mereka dipenuhi peluh.
“Kin, ini dari kita.” Rara, menyerahkan biskisan padaku. Dengan rikuh kuambil bingkisan itu dari tangannya. Sedangkan kawan-kawan lain senyum-senyum tak karuan.
”Makasih, Ra.”
”Rara aja yang dimakasihin? Kita enggak?” Silvia berkata jahil, disambut dengan olokan dari kawan-kawan lain. Saat suasana semakin riuh, Rafli menenangkan.
”Sudah-sudah! Nanti Yaqeen terlambat. Kin, hati-hati di jalan,ya. Ingat-ingat sama kami.”
Rafli menepuk pundakku. Aku menangguk serta membalas tepukan pelan pundaknya.
Tindakan Rafli disusul oleh yang lain. Satu per satu mereka memberi salam perpisahan. Membuatku mati-matian menahan haru. Saat aku berusaha tak gentar. Tangisan Affan pecah. Ia habis diledek oleh teman-teman.
“Ah, cengeng sekali kamu Affan.” Taryo berceletuk sambil mengacak-acak rambut Affan.
“Kau juga nangis, lihat, matamu merah.” Affan membalas Taryo, sebab tak terima ia yang menjadi tertuduh tunggal.
“Tidak, aku tidak.” Menggeleng-geleng Taryo meyakinkan ucapannya. Sedangkan yang lain hanya manggut-manggut mengiyakan namun dalam hati menolak.
“Sudahlah, jangan menangis. Besok-besok kita jumpa lagi.” Rafli menengahi mereka. Ia tersenyum geli melihat tingkah dua kawannya itu.
“Tentu saja kau senang Rafli, sekarang kau bisa jadi juara satu. Sebab Yaqeen sudah pindah.” Affan meledek Rafli sambil tertawa. Matanya masih terlihat merah.
“Enak, saja. Tapi benar juga katamu.” Seraya mendorong Affan, Rafli menyanggah.
Kami semua tertawa geli. Ayah, menghampiri kami. Menyapa kawan-kawanku dan sedikit mengobrol dengan mereka. Setelah itu aku pamit. Cepat-cepat kualihkan wajahku dari kawan-kawan seperjuanganku.
Lambaian tangan mereka tak henti-henti. Bahkan mereka berlari-lari mengantar mobil kami sambil berteriak.
“Hati-hati di jalan.”
“Semoga dapat kawan baru.”
“Jangan lupakan kami.”
“Jangan lupa pulang lagi.”
“Jangan berlagak jadi anak kota, ya…!”
Aku melambaikan tangan. Menatap mereka hingga mobil berbelok di persimpangan, hingga wajah teman-temanku pun telah hilang. Aku senang dengan teman-temanku. Mereka sangat baik. Dengan Rafli, meskipun kami rival dalam belajar tapi kami juga kawan belajar yang baik. Kuletakkan bingkisan yang mereka beri ke dalam ranselku dengan hati-hati.
Di sampingku, Jana memandangku dengan ejekan. Berkata bahwa aku boleh menangis. Ia tidak akan tertawa. Kupukul pelan kepalanya, membuat keributan kecil di antara kami. Ibu sibuk menenangkan. Kami pun terdiam. Mungkin Jana iri, sebab ia tak diantar temannya. Jangankan diantar, teman saja ia tak punya. Bagaimana mau punya teman jika ia jahil dan jutek begitu. Meskipun ia selalu baik dengan otaknya tapi tidak dengan berteman, ia tak pandai berkawan. Terkadang aku iba padanya. Jika aku begitu, ia akan lebih galak. Entahlah, anak perempuan memang sulit dimengerti. Kami melanjutkan perjalanan dengan diam. Hanya suara sayup percakapan ayah dan ibu yang terdengar. Juga deru pelan mesin. Sesekali mobil berayun melewati jalan yang kasar. Jana kini asyik melihat pepohonan kebun sawit yang berjejer rapi.
Aku memejamkan mata. Sambil berpikir bagaimanakah hari esok? Apakah aku bisa mendapatkan teman baru nanti? Tentu saja bisa. Aku meyakinkan diri. Bagaimana dengan Jana? Apakah ia harus menyesuaikan diri lagi. Baiklah aku hanya harus jadi kakak yang baik baginya. Tapi, bukankah sekolah kami akan berbeda? Pikiranku terus saja membayangkan hari esok dan kemungkinan-kemungkinannya. Aku tak tahu akan seperti apa tempat baru itu. Aku gugup tapi juga bersemangat. Aku sedih juga senang. Aku tak tahu apa yang kurasakan. Aku akan memulai kehidupan sekolah baru di SMP yang baru pula.
Kudengar, setelah berpisah, orang-orang tak lagi sama. Tempat-tempat tak lagi sama. Kedekatan tak lagi erat. Keakraban akan memudar. Temanmu akan berubah. Kau akan berubah. Terutama hubungan kalian, pasti akan berubah. Jarak dan waktu adalah pemisah kuat yang tak dapat dielak.
Tapi, bagiku tidak begitu. Aku akan melihat dan merasakan hal yang sama seperti saat terakhir kita berjumpa. Bagiku, kita bisa mengalami banyak hal yang mengubah diri kita. Hubungan kita akan tetap sama, sampai akhirnya kita memutuskan untuk mengubahnya. Kuharap, hal-hal baik yang terjadi, hal-hal baik yang kita genggam, takkan dengan mudah kita lepaskan tanpa perjuangan. Ah, apa yang kupikirkan? Kenapa pula aku jadi cengeng dan terbawa perasaan?
Komentar
Posting Komentar