Book: Sebuah Pengakuan terhadap Pengakuan

Oleh: S. N. Aisyah



Saya akan mengaku. Saya tak begitu ”mengenal” Leo Tolstoy hingga saat ini. 'Pertemuan' pertama saya dengan Leo terjadi saat duduk di bangku sekolah menengah atas. Melalui sebuah buku teks Bahasa Indonesia, saya membaca penggalan cerpen “Berapa Banyak Tanah yang Dibutuhkan Manusia.” Sejak itu, kisah tersebut melekat di hati saya hingga bertahun-tahun kemudian. Tiap kali mengobrol tentang cerpen favorit, saya selalu menyebutkannya. Meski saat itu saya tak tahu apapun tentang Tolstoy bahkan tak pernah ingat judul maupun nama pengarang dari cerpen yang memikat hati saya tersebut. Dan ... tak pernah mencari tahu.


Satu hal yang terukir dalam diri saya terkait cerpen itu ialah betapa sebuah cerpen dapat menjelma  perenungan yang dalam. Membawa saya bercermin, melihat pantulan kegelapan jiwa manusia di dalamnya. Barangkali saya tak pantas bicara banyak tentang Penulis Besar Rusia itu, tetapi saya tak dapat menghentikan racauan kemelut di otak saya tentang Leo Tolstoy--sesedikit saya tahu (ya, tentu saja,  hanya melalui karyanya). Untuk kali ini, saya akan meracau terkait salah satu karya besar dan konroversial Leo Tolstoy  yang ditulis dalam masa krisis pertengahan hidupnya melawan depresi. Ya, Pengakuan. 


Pengakuan dapat dikatakan satu karya semiautobiografi yang amat berani dan lantang. Leo Tolstoy bercerita tentang krisis  di usia 50-annya. Tidak, bukan krisis material. Lebih daripada itu, Leo mengalami krisis batin. Kerap kali ia ingin menggantung atau menembakkan peluru pada dirinya. Hingga akhirnya ia menemukan titik terang yang membawanya keluar dari jeratan depresi. Ia tuliskan perjalanan  spiritual itu dalam sebuah buku Pengakuan yang minim polesan gula dan tergolong berani-- mengingat betapa serat kejujuran  dan keretanan yang dituliskannya dalam Pengakuan ini.


Buku ini berani bukan hanya karena kerentanan yang ditunjukkan oleh Leo, tetapi juga bagaimana ia menantang arus ideologi yang berkembang terhadap konsep agama yang dijalankan dengan agama yang--menurut Leo-- semestinya.


Leo membuka buku  Pengakuan ini dengan menceritakan pengalaman masa muda ketika duduk di bangku sekolah. Saat paham komunisme baru berkembang dan menyebar di Rusia. Saat itu, beberapa anak muda mulai membicarakan konsep bahwa sebenarnya agama insignificant bagi kehidupan manusia. Pemahaman yang merangsang dan menantang pikiran manusia itu menarik minat para pemuda yang bergejolak dan cenderung menyukai kebebasan--terutama dalam berpikir dan bertindak. Maka, banyak anak muda yang mengikuti paham baru ini. Leo, meskipun tetap melakukan ritual keagamaan,  tetapi, ia tak pernah benar-benar menghayatinya. Lambat-laun, ia mulai terpengaruh. Hingga pada akhirnya, kepercayaan Leo terhadap agama dan Tuhan benar-benar memudar dan ditinggalkan.


Kemudian, ia memasuki awal baru, fase baru dalam hidup. Menikmati hidup. Hidup dari hasil kerja kerasnya. Hidup menjadi golongan sosial kelas atas dengan keberlimpahan harta dan kenikmatan dunia, Leo mungkin seharusnya merasa bahagia. Teman-teman sesama 'golongannya' kerap kali mengatakan bahwa mereka melakukan sesuatu yang baik. Memberikan pengajaran hidup bagi orang lain dari tulisan-tulisan yang dilahirkan. Namun, Leo merasa kosong. Tak sedikitpun ia mempercayai bahwa ia telah melakukan sesuatu yang baik. Menurut Leo, bagaimana mungkin ia memberikan pengajaran yang baik jika ia saja tak tahu apa yang ia ajarkan. Namun, hal itu ia simpan sendiri.


Singkatnya, gaya dan pandangan hidup yang ia jalani kerap membuatnya bergidik dan jijik. Semua kesenangan itu seolah tak berarti. Ia dan kaumnya, golongan terpelajar dan kelas atas dalam tatanan sosial. Mereka yang memiliki privilase untuk berbuat lebih baik lagi. Namun, bukan hal itu yang dilihat oleh Leo. Ia selalu mengkritisi dirinya dengan keras dan tak henti memaki, mengutuk diri sendiri. Ia dengan susah payah  melawan keinginan untuk menggantung dirinya setiap kali melihat tali. Bahkan, ia harus menyembunyikan senapan hanya agar tak meletuskannya pada diri sendiri.


Perjuangannya mempertahankan hidup bahkan sempat dikritisinya. Ia terjerumus pada pemahaman nihilism, bahwa hidup pada akhirnya tak berarti apa-apa. Leo yang terguncang kerap merasa pecundang sebab ia tak dapat mengambil nyawanya sendiri. Ia bahkan--saat itu--mengagumi pelaku bunuh diri. Melabeli tindakan itu sebagai tindakan berani. Namun, untung saja, “si pengecut” Leo, memilih menjadi berani dengan tetap hidup meski dalam kesengsaraan yang mencekik lehernya. Ia akhirnya tenggelam dalam sebuah pencarian makna hidup dan mati.


Perjalanan batin dan evolusi pemikiran Leo dari seorang Atheist menjadi seorang yang  beragama dan meyakini Keagungan Tuhan-- bahkan mengkritisi praktik agama yang dimanipulasi oleh golongan elit demi kepentingan pribadi--sangat menarik untuk diikuti. Dalam buku ini, Leo memaparkan perjalanan itu dengan jelas dan sistematis. Membacanya, seolah hidup dalam pikiran dan batin pengarang itu, ikut berevolusi bersamanya. 


Begitu jelas dan --kita asumsikan--jujurnya penjabaran Leo, membuat kita tak hanya dapat memahami jalur tetapi juga asal muasal  gagasan itu. Ya, amat sugestif. Bahkan kita dapat saja mempercayai gaung pikirannya saat ia berkeyakinan untuk bunuh diri itu. Oleh karenanya, sangat penting membaca buku ini secara keseluruhan, from cover to cover. Untuk menghindari kesalahpahaman.


Barangkali, Pengakuan adalah hal yang diperlukan oleh kebanyakan manusia saat ini. Terutama bagi mereka yang berada di masa quarter life crisis atau half life crisis. Bukankah begitu? Suatu waktu di masa hidupnya manusia tiba-tiba seperti terbangun dari tidur panjang dalam sunyi yang menyesakkan dada. Seolah kehidupan yang selama ini  dijalaninya hanya bergerak dalam pergerakan lambat, sinema hitam-putih yang berputar-putar. Menjelma abu-abu penuh keraguan dan kehampaan yang tak dapat dijelaskan.


Lalu, kita mulai bertanya-tanya. Apa yang salah? Mendapatkan kehidupan tetapi kehilangan sesuatu di dalamnya. Lalu, kita mulai mencari-cari penyebabnya. Bertanya ke sana kemari. Mencoba berbagai hal demi mengisi kekosongan itu. Melakukan segala hal, menemui siapa saja. Namun, kita tidak pernah menemui satu  hal. Duduk  dalam renung, berbicara dengan diri sendiri. Melihat ke dalam diri kita yang sebenarnya. Lalu mengaku atas segala hal yang melekat dan hal yang telah kita perbuat. Berhenti sembunyi atau menyangkalnya. Seperti itulah kira-kira Pengakuan itu. 


Fascinating itulah hal yang dapat saya katakan tentang Pengakuan  Leo Tolstoy. Siapa kira mengintip perjalanan Leo Tolstoy dalam pencarian makna hidup dan kembali mempercayai keberadaan Tuhan menarik saya sedalam  ini dengan penjabaran siklus hidup Leo. Dari penganut agama jalur keturunan,  perlahan Leo menjauh dari Tuhan. Ia mendapatkan keberlimpahan nikmat dunia tetapi terpuruk dalam kehampaan dan terjebak dalam keinginan untuk bunuh diri. 


Pada buku ini terlihat betapa kritis ia dalam pencariannya memahami makna hidup dan mati. Seberapa keras perjuangannya melawan keinginan untuk mengakhiri hidup seraya terus mencela diri sendiri.  Betapa dengan otak cemerlang dan kelembutan (atau mungkin bahkan kejernihan) hati, akhirnya ia diselamatkan dari keinginan mengakhiri hidupnya dengan kembali mempercayai Tuhan. Banyak insight dari buku ini yang dapat direnungkan. Membuat saya belajar banyak dan bersyukur pada Allah Swt. Leo menjelaskan bahwa, dalam proses penulisan Pengakuan ia tengah melakukan suatu studi dan pengkajian terkait dogma agama dan kebohongan petinggi, mempolitisasi agama demi kepentingan tertentu. Pengkajiannya itu akhirnya kemudian menjadi naskah buku An Investigation of DogmaticTheology. Sayang sekali, buku tersebut tak pernah diterbitkan. Dibredel pada masanya.


Komentar

Postingan Populer