Burn In Fahrenheit 451
oleh: S.N. Aisyah
Judul : Fahrenheit 451
Pengarang : Ray Bradbury
Alih bahasa : Celcilia Ros
Editor : Alodia Yovita
Penerbit : Elex Media Komputindo
ISBN : 978-602-02-1320-0
Pertemuan saya dengan buku ini dihantar oleh seseorang yang saya hormati. Beliau mengatakan, ”Buku ini bagus,” dan saya mempercayainya. Buku yang ditulis oleh Ray Bradbury ini berkisah tentang pergolakan yang terjadi dalam diri Guy Montag—tokoh utama--, seorang anggota 451, lembaga pemadam kebakaran yang ironisnya bekerja sebagai penyulut api. Terutama bagi buku. Ya, ini cerita tentang dunia yang melarangmu membaca buku.
Montag begitu menikmati saat api yang disulutnya menyala, kemudian menjalar, lalu membakar habis buku-buku di hadapannya hingga menjadi abu. Kobaran api menerbitkan kobaran senyumnya. Bahkan beberapa saat setelah ia menyelesaikan perkerjaannya sebagai penyulut api, pembakar buku-buku, senyum itu tetap bertahan.
Kesenangan Montag akan pekerjaannya terusik ketika ia bertemu dengan Clarisse—gadis yang begitu berbeda dari orang-orang yang pernah Montag temui. Pertemuan mereka menjadi pemantik bagi kehidupan baru Montag. Membuat ia seolah kehilangan akalnya. Sejak pertemuannya dengan Clarisse, perlahan-lahan, satu per satu peristiwa yang tak biasa menghampiri pemadam kebakaran itu. Hingga ia memutuskan untuk melakukan suatu tindakan besar. Tindakan berisiko yang membuatnya tak dapat lagi kembali pada kehidupan lamanya.
Pergolakan kehidupan Montag membawa saya untuk berhenti sejenak dan berpikir tentang dunia dan kehidupan yang tengah manusia lalui saat ini. Saat ini kehidupan manusia penuh dengan (meminjam istilah Bradbury) ‘stimulus dan sensasi’ sehingga seolah hanya menyisakan sedikit ruang untuk merenung dan berpikir.
Melalui buku ini, Ray seakan menyindir dunia yang menggadang-gadangkan kehidupan utopia sedang mereka tengah hidup dalam distopia. Banyak hal yang ditawarkan oleh Ray dalam kisahnya ini. Tentang kekuasaan, tentang penderitaan, kebahagiaan, keegoisan, tentang kepedulian, permasalahan kehidupan sosial, dan tentu saja tentang buku. Tentang bagaimana buku dapat dicintai dan dapat mempengaruhi kehidupan manusia.
Meskipun Fahrenheit 451 dirilis pada 1953, akan tetapi Ray memilih masa depan sebagai latarnya, di saat teknologi sudah benar-benar canggih dan mengambil banyak peran dalam kehidupan manusia. Kurang lebih seperti era saat ini, bahkan lebih maju lagi agaknya. Dengan latar futuristik yang dikemas dalam kisah distopia, Ray berhasil menyorot konflik sosial-politik yang kerap dirasakan oleh masyarakat dalam suatu pemerintahan. Bahkan, simbolisasi yang ia gunakan sangat relevan dengan permasalahan sosial-politik dunia modern abad 21. Imajinasi Ray dalam mengembangkan ide ceritanya patut diacungi jempol.
Semua pemikiran brilian tersebut dikemas dengan narasi dan deskripsi yang memukau. Satu-dua metafora juga menghiasi buku ini, membuat saya mengambil sedikit lagi waktu untuk memahaminya. Meskipun begitu, kepiawaian Ray ini hanya menambah mutu bukunya saja. Salah satu hal yang dapat dikatakan istimewa dari buku ini ialah terdapat wacana dialog Ray Bradbury seputar karyanya Fahrenheit. Percakapan ini sedikit banyaknya memberikan pembaca gambaran tentang pribadi Ray.
Di tengah lajunya kehidupan, orang-orang berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain tanpa henti, tak jarang dengan ritme yang cepat. Terkadang membuat kita tidak memiliki waktu untuk bercermin atau untuk merenung akan hakikat kehidupan. Mungkin saja, kita dapat meluangkan waktu sejenak, membaca halaman demi halaman Fahrenheit 451 dan ikut terbakar dalam panasnya pemikiran dan perenungan.
Komentar
Posting Komentar