Fiksi Mini: Jangan Dekati Lurah!

Oleh: S. N. Aisyah


Sudah beberapa kali nenek melarang kami turun ke lurah itu. Berbahaya, begitu kata nenek. Namun, bahaya apa yang mungkin dihadang oleh sekumpulan remaja apabila turun ke lembah yang amat landai jika bukan hewan liar, potensi tertimbun longsor, terlelap banjir, dan bencana alam lainnya? 

Tidak, aku tidak mengkerdilkannya. Hanya saja, lurah ini berjarak tak lebih dua puluh langkah dari halaman rumah nenek. Tepat di seberang jalan setapak. Tidak jauh. Bahkan, nenek dapat menjewer seraya menyeret paksa kami dalam hitungan menit bilamana kami tetap tak boleh juga turun ke sana. Tak ada hewan liar di sekitar sini, tak ada tanda-tanda tanah longsor. Bahkan, setiap curah hujan bertonton turun sekalipun, belum pernah lurah itu tergenang air. Dengan kata lain, sejauh yang kami tahu, lurah itu tak mungkin berbahaya. 


Meskipun begitu, kuakui kami tak pernah turun ke sana. Hati kami amat kerdil, setidaknya hingga petang ini. 

Aku, kakak, dan beberapa anak desa lainnya, tengah bermain-main di halaman rumah. Mengerubungi kakak yang baru saja memiliki ponsel kamera baru. Maka, kami bergantian swafoto ria dengan ponsel itu.

"Bisa kau ambil foto kami di sana?" pinta Kakak padaku.

"Nanti nenek marah, Kak." ucapku.

"Tidak apa-apa. Kita tak turun, hanya di tepiannya saja. Lihat, bagus sekali cahaya matahari yang menimpa gunung itu! Jangan lupa ambil sebagai latar."

Itu benar. Matahari senja terlihat bagaikan sepucuk daun emas raksasa di puncak gunung itu. Begitu menawan hati. Maka, demi mengabadikannya, kami beranikan diri menghampiri jurang landai yang menjadi pembatas antara kami dan lembah itu. 

"Geser, geser. Sedikit lagi," begitula arahanku pada kakak dan kawan-kawan.Warna emas di gunung itu perlahan memekat, oranye menyala, seperti api.

"Satu, dua,--"

BRUKK

Kakiku tergelincir. Aku terjatuh lalu bergelinding turun menuju lembah sejauh 10 meter. Untuk sesaat, rasa pusing menguasaiku. Seraya terlentang, kucoba menguasai diri. Lembah ini begitu lembab dan kelam. Tepat di bagian kananku, beberapa meter saja dari jurang tadi, tanaman bersulur merambat rapat. Sesuatu yang agak berkilauan tampak di sana. Ponsel kakak?

Aku mengulurkan tangan, setengah lengan jauhnya ke balik sulur, demi mengambil ponsel itu. Hawa dingin menyergap begitu tanganku menggapai ceruk gelap yang ditutupi tanaman rambat itu.  Di kejauhan, kudengar teriakan, teriakan yang menyerukan namaku. 

Aku segera bangkit, memasukkan ponsel dalam saku celana dan menyahuti mereka. Dengan sigap kembali kudaki jurang landai itu. Begitu tiba di atas, kudapati kawan-kawan tengah mengerubungi Kakak yang menangis sejadi-jadinya.

"Ada apa?" tanyaku dari balik punggung seorang kawan.

Seperti baru saja tersadar, kakak bangkit. Masih menangis. Namun, tatapan matanya amat kosong. Tangisannya terdengar palsu. Perlahan ia mendekatiku. Meraih pundakku. Perlahan pula ia menyeringai. Licik dan menyeramkan. Lalu, ia berbisik,

"Sudahkah kau temukan kawan-kawanku?"

Tawa membahana membelah langit senja. Begitu azan magrib berkumandang, Kakak jatuh pingsan. 

Sedangkan ponsel di sakuku bergetar. Galeri penuh. Semuanya diisi foto kerangka-kerangka dan mayat-mayat di ceruk, di balik sulur, di dasar lurah. 



Komentar

Postingan Populer