Fiksi Mini: Perspektif

Oleh: S. N. Aisyah


Konon, katanya semua hanya tentang perspektif. Suatu hal dapat dianggap baik atau buruk, bergantung dari sudut pandang mana kita menilainya. Satu hal dapat memiliki banyak terjemahan. Bergantung pada siapa dan apa dasar penilaiannya. Kau bisa katakan 6 sedangkan orang lain yang berseberangan denganmu akan menyebutnya sebagai 9. Masuk akal bukan? Hal itu dapat saja kubenarkan dalam otakku. Ya, aku menerimanya.


"Woi! Kecil. Ngelamun, ayo pulang!" Empat kawanku sudah bersiap untuk pulang bersama. Aku segera bangkit, bergabung dengan mereka. 

Harus kukatakan, pulang jam dua siang adalah keputusan yang sangat buruk. Mau bagaimana lagi? Jam sekolah membuat kami mau tak mau menempuh jalanan pada jam titik terpanas sinar matahari. Aku dan keempat kawanku, berjalan sambil mengobrol. Karena letak sekolah dengan jalan besar tempat lewatnya angkutan umum mengharuskan kami berjalan sekitar 500 meter dan harus menyeberang jalan besar sebanyak dua kali, maka obrolan tidak penting ini sangat membantu. 

"Woi, woi, woi. Bentar. Nyebrang dulu." Kami berhenti tepat dihadapan zebra cross. 
"Anak SD, mana?Anak SD, di tengah." Lalu aku dan seorang kawan, ditempatkan di tengah.
Ini menyebalkan. diperlakukan seperti anak kecil hanya karena tidak cukup tinggi. Meski sedikit sebal, aku dan si kurcaci lain menurut. Menyeberang jalan diapit oleh tiga manusia yang baik hati itu.

Maksudku, ini hanya tentang perspektif. Jika sekiranya tiba-tiba terik ini berubah menjadi gelegar badai petir, maka peluang disambar duluan oleh petir lebih kecil bagi orang pendek dibandingkan dengan orang yang lebih tinggi. Terutama jika kami berada di tanah lapang. Oke, pernyataan terakhir mungkin terlalu jauh dengan keadaanku saat ini. Kami di hiruk-pikuk kota metropolitan kecil, bukan di tanah lapang tak bertuan. 

Hal menyebalkan dari kota metropolitan yang masih indah, tenang, dan santai ialah terlalu santai. Bahkan menunggu angkutan umum pun hampir 45 menit. Ya, benar-benar membuang waktu. Tetapi aku mencintai kota kecil ini. Jadi tak masalah. Oke, terkadang, ya, masalah. 

Kami melewati jalan utama kota hingga terus melaju melewati bangunan dan pepohonan yang berjajar di sepanjang jalan. Satu per satu penumpang dan teman-temanku sampai di kediaman mereka. Kini, tinggal aku sendiri.
Duduk di pojok angkot, menikmati suasana jalan seraya dikipasi angin dari jendela angkot yang terbuka. 

Pak Supir, pria paruh baya itu mengemudi dengan amat tenang. Santai. Begitu pula denganku. Menikmati perjalanan lengang tanpa beban itu. Hingga akhirnya keheningan itu dipatahkan oleh Pak Angkot.

"Turun mana, Buk?" tanya bapak itu seraya melihat pada spion kabin. Pasti aku yang ditanya, kan? Hanya aku penumpang yang tersisa.

"Di ujung, Dek." jawabku. Bapak itu mengangguk, memahami bahwa aku akan turun di titik akhir pemberhentian angkot.

"Di sini, Buk?" tanya Pak supir retoris. 

"Iya, Dek." jawabku. Aku segera turun. Membayarkan ongkos seharga potongan pelajar. 

"Eh?!" Pak supir terkejut. Kuucapkan terima kasih. Lalu segera balik badan, melarikan diri dengan seragam putih dongker itu. 

Konon katanya, semua hanya tentang perspektif.  Namun, yang menjadi tanya dalam kepalaku, adakah takaran tertentu dari sebuah perspektif? Dapatkah kita menaksir keberterimaannya jika perspektif begitu fleksibel, dinamis, dan abstrak?

Komentar

Postingan Populer