Bagian Dua: Sambutan Pinggir Kota

Oleh: S. N. Aisyah


Siang ini amat panas. Sinar matahari  jatuh tepat di wajahku, membuatku sesekali harus mengerjapkan mata. Udara gersang seperti menguar dari hamparan tanah liat kuning. Keringat mengalir di dahiku. Membosankan. Tidak ada hal yang dapat kulihat selain hamparan tanah yang sudah teruk dikeruk. Bekas kerukan tanah itu botak, tak seperti hamparan tanah di kejauhan yang tampak hijau, disesaki pepohonan. Kukira hanya masalah waktu saja tanah hijau itu akan bernasib sama, digunduli dan menjadi gersang. 

 

Jalan beraspal yang berkelok-kelok membelah lahan kuning. Nasib jalan berliku ini tidak berbeda dengan lahan di sekelilingnya, menyedihkan. Meskipun diaspal, tetap saja jalan ini susah untuk dilalui. Lubang-lubang bertebaran di sepanjang jalan. Rasanya, setiap tiga ratus meter berjalan, ada saja lubang. Ditambah lagi permukaan jalan yang bergelombang. Di tempat yang kurang menyenangkan ini, kenapa pula mobil tua Ayah harus berulah? 

 

Tiba-tiba saja ban mobil ayahku pecah dengan suara yang memekakkan telinga, bannya minta diganti. Sebab itu, kami terdampar di pinggir jalan, pada siang terik, di daerah yang gersang. Kesabaranku hampir saja menguap saat  Ayah selesai memasang baut terakhir roda mobil. Aku bersyukur ketika mendengar Ayah meminta agar ibu dan adikku bersiap untuk melanjutkan perjalanan.Sesegera mungkin aku membantu ayah mengemas peralatan, kunci-kunci, ban serta dongkrak. Tunggu?! Kami harus melewati jalan itu lagi!

 

Kini aku terombang-ambing dalam mobil tua Ayah. Sesekali aku hampir gila menahan mual. Perutku berontak. Kubuka jendela, membiarkan angin menyerbu wajahku, mengusir gerah, dan meredakan rasa mual. Meski merasa kesal, aku tetap berusaha sabar. Jalan ini akan berakhir. Sebentar lagi, tak jauh lagi, kami akan tiba di jalan lintas utama. Ya, jalan bergelombang ini akan berakhir. Aku mendengar bahwa jalan yang kami lalui rusak berat akibat tak tahan dengan beban muatan. Entah apa itu maksudnya, aku pun tak mengerti.

 

Kudengar daerah kami ini tanah gambut, tanahnya cenderung lebih lunak sehingga tidak begitu kuat menahan beban. Ironisnya, jalan ini adalah akses yang sering dilalui oleh truk-truk pengangkut, sawit misalnya, atau tanah, atau kayu, atau hal-hal lain, aku tidak begitu paham. 

 

Memang benar, di desaku banyak lahan sawit. Tak jarang penduduk memiliki kebun sawitnya sendiri. Sawit-sawit ini jika sudah didodos akan dibawa pada perusahaan yang akan mengelolanya. Biasanya truk-truk pengangkutlah yang sering lalu lalang dengan muatan yang luar biasa. Letak bangunan perusahaan dan perkampungan kami tidak begitu jauh, bahkan kami terhubung dengan satu jalur, jalan berlubang ini. Terkadang jalan berlubang ini serasa milik pribadi perusahaan.  Ini hanya rumor atau ilmiah, entahlah. Mana kutahu, aku hanya bocah SMP.

 

Setelah empat jam perjalanan yang melelahkan, akhirnya kami memasuki gapura selamat datang ibukota provinsi. Mataku yang sayu, seketika melebar. Aku ingin menuntaskan rasa penasaran tentang ibukota. Pasti asyik. Meskipun hanya kota kecil, tapi tetap saja ini kota metropolitan. Begitulah pemahamanku setelah mendengar pelajaran di sekolah dan menonton televisi siaran daerah. Sebenarnya ayah sering bolak-balik ibukota, tapi tidak denganku dan Jana. Ini adalah kali pertama bagi kami. 

Mobil kami terus melaju, membelah jalan lintas yang berliku dan bergelombang bagai ular hitam yang kusam. Pepohonan hijau memagari punggung jalan. Satu-dua bangunan permanen dan semi permanen berkelebat di pandangan. Kukira, tak sampai sepuluh kilometer kemudian, ayah mengurangi laju mobil. Memutar setir, berbelok ke sebuah gang yang tak begitu lapang. Di gang itu, ilalang tumbuh tinggi. Memagari jalan beton.

 

”Ayah, kenapa berbelok ke sini? Apa kita mau singgah dulu?” sambil melongok ke luar jendela, aku menanyai Ayah.

 

“Kita sudah sampai, Kin.” Ayah menjawab singkat. Tangan Ayah cakap memutar kemudi.

 

”Bukannya kita mau ke kota, Ayah?” Kini Jana yang bertanya. Wajahnya terlihat bingung.

 

”Benar, ” jawab Ayah.

 

“Ibukota provinsi, Ayah?” Jana berusaha meyakinkan dirinya dengan pertanyaan itu.

”Kita sudah di ibukota provinsi. Daerah perbatasan ibukota provinsi dan kabupaten. Secara demografi, wilayah ini masuk kawasan ibukota provinsi. Kamu sudah belajar demografi, Kin?” setelah memberi keterangan pada Jana, dari kaca spion ayah menatapku, bertanya.

 

”Iya, Ayah,” jawabku membenarkan.

 

”Berarti ini bukan pusat kota, Ayah?” Jana kembali meminta penjelasan. Sebab ia sangat ingin ke pusat kota.

 

”Bukan. Kenapa?” Kini ayah telah menurunkan kecepatan. Mobil berjalan dengan sangat santai.

 

”Ayah, anak-anak sudah bersemangat ingin melihat pusat kota.” Ibu membantu menyampaikan kekecewaan kecil kami. 

 

Mendengar itu, setengah tersenyum ayah berkata, ”Oh, begitu. Pusat kota tidak jauh. Hanya 20 – 30 menit berkendara. Tergantung jalan mana.”

 

Di sinilah kami. Meninggalkan desa kabupaten, memulai hidup baru di pinggiran ibukota provinsi. 

 

Mobil ayah terus bergerak hingga kami memasuki halaman sebuah rumah bulatan. Rumah ini sepertinya sudah dibersihkan. Ayah, Ibu, aku dan Jana membawa barang-barang bawaan ke dalam rumah sambil bercerita tentang banyak hal, salah satunya sejarah rumah ini dan alasan kami tinggal di sini. Ayah dan Ibu bergantian menjawab pertanyaanku dan Jana. 

 

 Saat asyik mengobrol, seseorang menghampiri kami. Kemudian, Ayah dan ibu bercakap-cakap dengannya. Kudengar orang itu adalah ketua RT. Tak lama kemudian, dua atau tiga orang lagi muncul. Orang-orang dewasa mengobrol. Aku dan Jana duduk di pelataran beranda yang teduh. 

 

Ini adalah rumah baru kami. Setidaknya bagiku dan Jana. Tadi kata Ayah, Ibu dan Ayah sudah tinggal di rumah ini dulu, saat awal-awal mereka menikah. Lebih tepatnya, ayahku sudah tinggal di sini selama empat tahun masa lajangnya, kemudian setelah ayah dan ibu menikah, mereka tinggal di sini selama setahun. Ayah dan Ibu harus pindah ke desaku sebab tuntutan pekerjaan Ayah. 

 

Rumah ini cukup besar dengan pekarangan yang luas dan pepeohonan rimbun yang membuatnya teduh. Menurutku ini tidak buruk sama sekali. Sepoi-sepoi angin dari pohon itu bertiup. Menerpa wajahku yang merah sebab gerah setelah memindahkan barang-barang. 

 

Aku mengedar pandang. Menyapu setiap senti dengan penasaran. Tak jauh dari perkarangn  rumah, terdapat bunga asoka yang memegari jalan sepatak. Dalam benak, aku bertanya-tanya ke manakah kira-kira jalan itu berujung. 

 

Ketika sibuk menerka-nerka ujung jalan setapak, sesuatu bergerak-gerak di balik bunga asoka. Lalu kulihat sepasang mata merah mengintip di sela-sela daun bunga itu. Aku tak percaya hal yang baru saja kulihat. Aku mulai meragukan mataku. Karena penasaran, kuamati lagi semak asoka itu. 

 

Kali kedua, aku kembali melihat sepasang mata merah. Kuputuskan untuk menghampirinya. Mencari tahu siapa yang memata-matai kami. Saat akan beranjak, tanpa kusadari, Jana telah berada di sana. Terjatuh dan berteriak kencang. Membuatku segera mungkin bangkit dan menghampirinya. Aku tengah membantu Jana berdiri ketika kelebat kain hitam terpontang-panting meninggalkan kami. Apakah itu gerangan?

Komentar

Postingan Populer