Book: Dari Bung Hatta untuk Negeri Tercinta
Oleh: S. N. Aisyah
Jika ditanya tentang buku favorit, maka autobigrafi Moh. Hatta ini adalah salah satunya. Mungkin tak perlu penjelasan panjang lebar mengapa. Bukankah judul dan nama penulisnya saja sudah menjelaskan itu semua? Akan tetapi, kali ini menuliskan review ini bukanlah semata untuk memberikan rekomendasi dan penimbangan yang baik untuk pembaca. Hal itu dapat Anda cari di tempat lain dengan kualitas yang lebih apik tentunya. Kesampingkan tentang self-awarness ini, yang terpenting adalah, saya akan tetap menuliskan mengapa buku ini layak dibaca dari sudut pandang seorang awam: sejarah, teknik menulis, pengalaman hidup, dan buku bacaan seperti saya. Untuk kesenangan dan keperntingan pribadi. Haha. Yeah. That's it!
Sebagai buku autobiografi, sudah pasti buku ini berisikan perjalanan hidup Wakil Presiden Pertama Indonesia yang ditulis sendiri oleh beliau. Berbeda dengan buku-buku autobiografi Soekarno dan Banyak orang besar lainnya yang menulis autobiografi di puncak kejayaan, saat sedang bertugas, atau sebagai pertanggung jawaban atas kinerja, Untuk Negeriku : Sebuah Otobiografi ditulis oleh Moh. Hatta saat beliau sudah tidak berada dalam pemerintahan Indonesia lagi. Seperti yang dikatakan oleh sejarawan senior Indonesia, Prof. Dr. Taufik Abdullah, berbeda dengan autobiografi lain, buku ini bercerita tentang memori kehidupan Hatta, Sang Bapak Bangsa dalam melalui berbagai macam peristiwa bersejarah tanpa memaksanya bernada reflektif atau menjadikannya justifikatif. Oleh karenanya, dalam otobiografi Hatta peristiwa-peristiwa itulah yang berbicara.
Memiliki judul asli Mohammad Hatta: Memoir saat pertama kali diterbitkan pada tahun 1979, Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi kini kembali diterbitkan dengan mengganti judul dan membagi naskah berupa satu volume buku setebal 805 halaman itu kedalam tiga jilid. Jilid pertama di beri judul Dari Bukit Tinggi ke Rotterdam Lewat Betawi, jilid kedua berjudul Berjuang dan Dibuang, dan Jilid ketiga berjudul Mengantar Bangsa ke Gerbang Kemerdekaan. Dalam hal menerbitkan ulang memoir bapak bangsa ini, Kompas menyatakan bahwa sedapat mungkin tidak mengubah isi buku. Jikapun ada perubahan, itu berupa foto-foto yang dimuat tak lagi sama persis dengan cetakan sebelumnya sebab foto-foto tersebut tak dapat lagi diakses. Penerbitan ulang ini juga dimaksudkan agar buku ini lebih handy, mudah dibawa ke mana-mana dan lebih fokus serta nyaman saat membacanya. Begitulah isi dari pengantar penerbit.
Terdiri dari tiga jilid, Kompas membagi buku ini dengan penggalan kisah yang tepat takar. Jilid satu, Bukit Tinggi ke Rotterdam memuat perjalanan hidup Bung Hatta dari semasa kecil hingga akhirnya beliau berangkat ke Rotterdam untuk menimba ilmu. Jilid kedua,seperti judulnya, Berjuang dan Dibuang merupakan catatan Bung Hatta ketika Beliau beserta Soekarno, dan seluruh pejuang kemerdekaan Indonesia lainnya beryupaya dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan. Tak hanya itu, dalam jilid dua ini juga memuat perjalanan Bung Hatta, Seokarno, Syahrir, dan pejuang-pejuang lainnya ketika dibuang menjadi tahanan politik. Pada Jilid ketiga, Dibuka dengan kisah bagaimana perang Pasifik akhirnya membawa pengaruh pada kondisi perjuangan kemerdekaan Indonesia pada saat itu serta Proklamasi Indonesia dibacakan oleh Bung Karno pada tangak 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur dan ditutup dengan agresi militer kedua hingga pembentukan dan program Kabinet RIS.
Terlalu banyak yang dapat dipelajari namun terlalu sedikit kemampuan saya untuk menjabarkan pembelajaran dari Autobirografi ini. Bagi saya pribadi, dapat mengenal sosok Hatta dari pemikirannya adalah kesempatan emas yang tak boleh dilewatkan. Membaca buku ini seperti mendengarkan Kakek kita bercerita tentang kehidupannya. Bahasa yang jelas dengan alur yang mudah diikuti. Menurut hemat saya, cara Hatta menyampaikan pandangannya perkara suatu permasalahan itu mengagumkan. Dari buku ini, kita dapat melihat pribadinya dengan lebih dekat. Tak sekadar dari omongan dan penilaian orang lain tentang beliau.
Tak hanya itu, mendapatkan informasi utama dari pelaku sejarah yang tak generik adalah suatu kebahagiaan lain yang dapat diperoleh dari otobiografi ini. Data primer. Sangat daging, bon appetite. Memang Hatta tak bicara secara general untuk sejarah Indonesia dalam buku ini. Akan tetapi, beliau mengungkapkannya dari perspektif yang bersingungan langsung dengan peristiwa itu. Bukan dalam bentuk pembenaran atau pembelaan atas dirinya tetapi lebih pada penceritaan terbuka dan jujur tentang bagaimana peristiwa-peristiwa tersebut ia lalui sedari kecil hingga bersama-sama memperjuangkan bangsa dengan Bapak Bangsa lainnya.
Seperti yang dikatakan oleh Prof. Dr. Taufik Abdullah, banyak yang merujuk pada ingatan Hatta terkait peristiwa sejarah yang terjadi. Tentu saja, sebab Hatta menuliskan buku ini tidak sebagai justifikasi atas tindakannya. Belum lagi pribadi Hatta yang dikenal jujur, correct , sopan, santun, dan aloof. Menjadikan buku ini memiliki kredibilitas yang tak diragukan.
Menurut hemat saya, buku ini hendaknya menjadi salah satu bacaan wajib di sekolah. Sebab, tak hanya pola pikir yang cemerlang, keteguhan hati, prinsip-prinsip hidup, kejujuran, disiplin, dan karakter-karaterk baik lainnya yang patut diteladani dapat kita rasakan di sini secara tersirat. Mungkin, interasksi antar tokoh bangsa adalah salah satu hiburan tersendiri bagi saya. Belajar dan mengenal tokoh-tokoh melalui penuturan Hatta. Membaca tak hanya hal-hal besar, tetapi juga perkara yang mungkin kerap dianggap remeh dari para pejuang bangsa. Ini terasa sangat nyata dan dekat. Tak seperti buku teks pelajaran sejarah yang begitu kaku dan memiliki jarak gaung yang hampa.
Secara teknis ejaan dan bebrapa kata dalam buku ini disesuaikan dengan pengejaan dan bahasa Indonesia kini. Namun, tidak mengubah esensi asli dari memoir Bung Hatta. Setelah membaca buku ini, saya mengerti mengapa beliau menjadi wakil presiden pertama Indonesia. Saya mengerti bahwa perjuangan dan konsep kepahlawanan itu tak lagi menjadi mistis yang diagungkan milik beberapa tokoh tetapi sebagai perjuangan seluruh bangsa yang begitu kompleks dan manusiawi dengan limpahan hikmah di baliknya.
Komentar
Posting Komentar