Book: Memandang Hidup dari Mata Ahmad Tohari

Oleh: S. N. Aisyah 

Judul        : Mata yang Enak Dipandang
Penulis     : Ahmad Tohari
Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan   : Kedua
Tahun       : Maret 2015
Tebal        : 216 hlm, 20 cm
ISBN         : 978--602--03--0045--0

Mata adalah jendela jiwa. Konon, dengan dari matanya, kita dapat mengenal dan memahami pribadi atau seseorang. Dari mata kita juga dapat saling mengerti dan saling berempati. Mata seseorang bercerita banyak tentang dirinya sebab mata menyiratkan jiwa manusia. 

Mungkin saja kita dapat mengenal jiwa Ahmad Tohari dengan menatap lekat pandangan terhadap hidup yang telah ia rekam dalam antologi cerpen Mata yang Enak Dipandang ini. Buku ini berisi 15 kumpulan cerpen Ahmad Tohari yang telah terbit di media massa dari rentang tahun 1983 hingga 1997. Judul Antologi ini diambil dari salah satu cerpennya yang terbit dalam harian Kompas pada 29 Desember 1991. 


Lima belas cerpen yang dimuat dalam antologi ini memiliki ciri khas yang sama, menilik kehidupan rakyat kecil. Ahmad Tohari dapat menyoroti makna besar dari kejadian lumrah yang kerap dialami dalam kehidupan manusia. Ia memiliki kepekaan terhadap pelajaran tersembunyi yang kerap luput atau kita abaikan. 

Dibuka dengan cerpen Mata yang Enak Dipandang, yang berkisah tentang kehidupan seorang pengemis buta dan penuntunnya. Pengemis Buta telah lama menjalani kehidupan dengan mengemis dan telah banyak pula anak yang berganti menjadi penuntunnya. Namun, hari itu, di siang terik, di stasiun kereta api, siapa sangka bahwa hari Pengemis Buta tidaklah seperti biasanya. Pada penuntun barunya itu, dia meminta untuk datang pada orang yang memiliki mata yang enak dipandang. Cerpen ini sangat getir dan menyayat hati. Ia mengajarkan kita tentang arti mata yang enak dipandang di dalamnya, begitu pula dengan 14 cerpen lainnya. 

Dalam 15 cerpen ini, Ahmad Tohari berhasil menyajikan masalah-masalah kemanusiaan yang membongkar titik kelemahan sifat manusia. Tak jarang ia selipkan kritik sosial berupa sindiran terhadap kebiasaan masyarakat. Dengan gaya imajinatif dan surealis, Ahmad Tohari menupas konflik batin manusia dan mampu menyentuh ranah spiritual manusia melalui kisah-kisah orang kecil. 

Komentar

Postingan Populer