Cerpen: Batu Tujuh dan Anak Bawang

Oleh: S. N. Aisyah


Lala bersembunyi di balik sebuah drum yang besar. Dari tempatnya bersembunyi, Lala melihat Kak Alfi sedang menyusun batu-batu yang mereka lempar tadi. Lala gelisah, perutnya terasa melilit. Saat kembali melihat Kak Alfi, ternyata Kak Alfi juga melihat Lala. Gawat, Lala ketahuan.


Sebentar lagi Kak Alfi sampai di tempai Lala bersembunyi. Lala yakin Kak Alfi melihatnya.  Tapi, ketika Kak Alfi berdiri di samping drum, Kak Alfi segera berbelok dan mencari-cari teman di tempat lain. Lala selamat.  Lala tidak menyangka bahwa Kak Alfi tidak melihatnya. Hari itu Lala senang.

Esoknya, setelah  berganti pakaian dan makan siang, mereka kembali bermain. Lala dan teman-temannya senang memainkan permainan batu tujuh. Mereka akan menyusun batu kemudian melakukan gambreng. Batu-batu itu kemudian dirobohkan. Orang yang kalah gambreng harus menyusun batu, sementara yang lain mencari tempat persembunyian.  Kali ini Lala benar-benar terlambat.

”Tunggu! Lala juga mau ikut gambreng.” Lala berlari mendekati teman-temannya yang sudah berdiri melingkar. Lala selalu terlambat. Ini karena kebiasaannya yang bermalas-malasan dan berlama-lama saat melakukan sesuatu.

” Lala ikut lagi? Nanti dia jaga terus. Kalau sudah begitu, pasti dia menangis” Tono teman mereka yang sekelas dengan Kak Alfi protes. Memang saat kalah dalam bermain, Lala selalu saja menangis. Ia merasa sedih jika tidak menang.

” Iya. Atau nanti dia malah jaga telur busuk.” Rara juga kurang setuju. Terkadang Lala memang malas untuk mencari teman-teman dengan berjalan jauh. Ia akan menunggu di sekitar batu saja. Hal ini menyebabkan teman-teman yang bersembunyi jadi kelamaan menunggu dan memutuskan untuk keluar. Di saaat itulah Lala akan menangkap mereka. Tingkah Lala yang seperti ini tidak disukai teman-temannya. Ia hanya menjaga telur busuk.

” Tidak. Tidak apa-apa. Kita akan main seperti biasa.” Kak Alfi menengahi, Kak Alfi tahu bahwa Lala yang paling muda di antara mereka dan tidak begitu pandai bersembunyi. Tetapi Kak Alfi merasa kasihan apabila Lala ditinggal sendirian dan tidak diajak bermain bersama. Ia pasti akan sedih.

“Lala anak bawang, ya,” Kak Alfi berkata pada Lala dan teman-teman.

Lala bingung. Ia tidak mengerti arti anak bawang yang dikatakan oleh Kak Alfi pada teman-temannya. Apa itu karena dia menangis? Ia kan hanya ingin menang? Apa yang salah? Dan siapa juga yang tidak sedih jika kalah? Wajar saja jika ia menangis. Lala tetap ikut bermain.

Ketika bersembunyi, lagi-lagi Lala ketahuan. Tetapi anehnya temannya yang dapat giliran jaga seolah tidak melihatnya. Lala bingung. Apa ia benar-benar tidak terlihat? Saat temannya berjalan ke arah yang berbeda, Lala keluar dari persembunyiannya. Kemudian ia berlari secepat mungkin ke arah batu yang tersusun. Lala menendang batu itu hingga roboh semua.

” Yah, Lala...”Tono yang mendapat giliran jaga kecewa melihat batu-batu itu ditendang Lala. Sebenarnya ia melihat Lala, tetapi karena Lala anak bawang, jadi Tono pura-pura tidak melihat Lala yang sedang bersembunyi.

”Hahahaha... Aku akan bersembunyi lagi.” Lala  tertawa senang.

”Seharusnya kau tidak keluar. Bersembunyi saja di sana. Kau kan anak bawang.” Teman mereka yang lain juga tidak senang.

”Ah, Kalau ada Lala, aku tidak mau main lagi. Kalau begini aku harus kalah terus, dong? Tidak seru.” Tono berkata dengan kesal. Lala bingung. Ia hanya ingin menang saja. Kenapa mereka malah sebal kepadanya?

”Jangan seperti itu. Ayo kita main lagi.” Rara membujuk Tono.

”Lala, Kamu sembunyi saja, ya. Tidak usah keluar. Nanti Lala tertangkap dan kalah terus.” Kak Alfi berkata pada Lala. Lala heran. Kenapa ia tidak boleh bermain seperti yang lainnya? Padahal teman-temannya yang lain bebas bermain seperti biasanya. Mereka bersembunyi dan keluar untuk merobohkan batu sesuka hati. Kenapa Lala tidak boleh seperti itu? Kakaknya juga menyebalkan. Bukankah seharusnya Kak Alfi membiarkan Lala bermain seperti yang lain? Kenapa Kak Alfi diam saja dan tidak mengizinkannya bermain?

Lala tetap diperlakukan seperti anak bawang. Lala tidak ingin bermain lagi. Apa serunya bermain jika ia hanya bersembunyi. Sementara yang lainnya berkejar-kejaran dengan seru. Ia selalu tertinggal di belakang. Lala merasa kesepian. Apalagi, Kak Alfi juga bermain bersama mereka. Apakah Kak Alfi benar-benar tidak ingin bermain bersama Lala?

Lala merasa sedih. Ia kecewa dengan teman-temanya. Ia juga kecewa pada kakaknya. Memang Lala kurang pandai bersembunyi. Larinya juga kurang cepat. Ia terkadang ceroboh. Apakah hanya karena itu ia tidak boleh bermain?

Besoknya Lala tidak bermain bersama teman-temannya. Ia jalan-jalan di taman kota. Taman kota mereka sangat indah. Taman kota ini selalu ramai. Jaraknya juga dekat dengan rumah. Di sana banyak hewan-hewan lucu. Ada kucing, kelinci, kupu-kupu, capung, juga ada kolam ikannya. Bagus sekali. Lala duduk di bawah pohon. Ia melihat ada seekor kelinci di balik bunga Asoka.

Hidung kelinci itu bergerak-gerak dengan lucu. Lala ingin sekali memegangnya. Lala mendekati kelinci itu perlahan-lahan. Ketika jaraknya tinggal beberapa langkah, kelinci itu melompat dengan lincah. Lala mengejarnya. Kelinci itu bersembunyi di balik pohon. Lala kembali mendekatinya. Namun, kelinci lucu lagi-lagi menghilang. Ini sangat seru. Kelincinya tidak mudah ditangkap. Ia juga pintar bersembunyi. Lala  menolehkan kepala ke sana- kemari. Mencoba menemukan kelinci yang lucu itu.

Sepanjang jalan, Lala  membungkuk. Ia mencoba menemukan kelinci di antara rerumputan. Saat asyik mencari kelinci, tiba-tiba kepala Lala menabrak sesuatu.

”Lala, kenapa di sini sendiri? Apa yang kamu cari?” Ternyata Lala menabrak kaki Kak Alfi.

Lala hanya diam saja. Ia tidak mau menjawab. Untuk apa kakaknya peduli. Bukankah Kak Alfi tidak sayang padanya? Bukankah Kak Alfi lebih senang bermain bersama teman-teman?

”Kakak mencarimu. Ayo main sama teman-teman.”

”Tidak mau. Aku tidak mau jadi anak bawang. Apa serunya cuma bersembunyi dan tidak boleh bermain seperti yang lain. Lebih baik aku mengejar kelinci saja di sini.” Lala menjawab kakaknya dengan cemebrut.

”Jadi Lala sedang mencari kelinci?” tanya Kak Alfi.”Kakak ikut, ya?”

Lala mengangguk. Ia senang Kak Alfi mau mencari kelinci bersamanya. Ia senang Kak Alfi mau bermain bersamanya.

Lala dan Kak Alfi Mereka menjulurkan kepala ke sana-sini. Di balik ilalang, tampak seekor kelinci lucu yang sedang menghidu-hidu sesuatu. Hidungnya bergerak-gerak. Kelinci itu sangat menggemaskan. Mereka berjalan perlahan mendekati kelinci. Sayangnya, si kelinci lari lagi. Lala dan Kak Alfi tertawa.

”Seru, ya, Kak. Kelincinya lincah sekali, susah ditangkap.”

”Iya,” sahut kak Alfi.

Tiba-tiba Lala teringat sesuatu.”Sekarang Lala tahu, kenapa Lala selalu jadi anak bawang. Karena Lala mencari tempat bersembunyi yang mudah dan tidak berusaha lari lebih cepat. Lala juga tidak mau berusaha mencari teman-teman. Hanya menjaga telur busuk. Kemudian Lala suka menangis jika kalah. Makanya permainannya jadi tidak seru,” Lala berkata sambil merenung.

”Tidak apa-apa, Lala. Bagus jika kamu menyadarinya. Juga jangan cengeng lagi saat bermain, ya. Kakak akan mengajarimu berlari lebih cepat dan bersembunyi lebih baik.” Kak Alfi menyemangatinya.

”Bernahkah, Kak?” Lala merasa senang mendengarnya. Kak Alfi mengangguk. Ternyata Lala salah. Ia kira Kak Alfi tidak sayang padanya dan tidak ingin mengajaknya bermain bersama teman-teman lagi.

Besoknya ketika pergi ke lapangan bermain, Lala terkejut. Teman-teman sudah berkumpul dan membawkan Lala sebuah kue.

”Lala, maafkan kami, ya, sudah jahat kepadamu.” Rara menghampiri Lala. Ia memegang tangan Lala. Teman-teman lain menangguk setuju.

”Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf, selama ini aku cuma mau menang sendiri. Juga sangat cengeng.” Lala meminta maaf pada teman-temannya.

”Ayo kita bermain bersama.” Rara mengajak Lala. Mereka mengumpulkan batu-batu lalu memulai permainan.

Sejak hari itu mereka bermain dengan ceria. Tidak ada yang curang dan menangis lagi.

Komentar

Postingan Populer