Cerpen: The Tales of The Grand Old Man
Oleh: S. N. Aisyah
Di nagari Koto Gadang, di tanah Agam, di lindung bukit-bukit yang tinggi, Sutan Mohammad Salim dan Siti Zaenab menerima sebuah anugerah yaitu kelahiran seorang putra. Mungkin saja, keinginan hati terdalam mereka untuk membela kebenaranlah yang membuat mereka menyematkan doa itu dalam nama putranya. Maka, pada hari ke-18 di bulan Oktober 1884, putra mereka lahir dengan menyandang nama Mashudul Haq, Pembela kebenaran.
Bayi kecil itu tumbuh menjadi anak yang cerdas. Hari-hari setelah mengenal huruf, ia habiskan untuk belajar dan membaca buku. Otaknya gemilang, diisi banyak pengetahuan. Di usia tujuh tahun, orang tuanya mengirimnya ke Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar Eropa pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Sebuah sekolah elite yang hanya untuk bangsa Eropa, Timur asing, dan kaum priyayi saja. Beruntung ia lahir sebagai putra bangsawan. Ya, Mohammad Salim seorang Kepala Jaksa di Riau. Siti Zaenab? Wanita itu berasal dari keluarga terpandang.
Anak bangsawan itu tak pernah segan bergabung dengan anak-anak lain di kampungnya. Tak membedakan kawan. Baginya sama saja Eropa atau bukan, priyayi atau bukan, kulit putih atau berwarna. Tak rendah diri di hadapan anak-anak Belanda. Mashudul juga melepas batas-batas semu dalam dunia jajahan.
Meski bersekolah di sekolah anak Eropa, ia tak meninggalkan jati dirinya. Di udara malam Bukittinggi yang dingin, Mashudul tak lupa berangkat menuju surau, bersama anak-anak ranah Minang lainnya pergi mengaji. Ibu asuhnya yang datang dari tanah Jawa kerap memanggilnya dengan sebutan Gus, sebuah panggilan sayang. Kentalnya panggilan itu membuat teman-teman ikut pula memanggilnya dengan nama Agus. Begitulah nama populer Agus, anak Pak Salim terbentuk. Di sekolah pertamanya, ELS, Mashudul Haq terdaftar sebagai siswa bernama ‘August Salim’.
Lulus dari ELS, ia harus meninggalkan Koto Gadang, meninggalkan Agam yang berpagar bukit itu. Semua ia lakukan sebab rasa haus akan ilmu yang tak dapat ditawar sejuk air Bukittinggi sekalipun. Remaja itu tak sekadar membawa status sebagai anak priyayi, yang dapat membuka pintu pendidikan sesempit lubang tikus bagi pribumi. Tidak, itu bukan Agus Salim. Ia memboyong hasil belajar yang cemerlang, menggertakkan gigi, dan membakar bara api di dadanya untuk berlayar ke Batavia. Meneruskan pendidikan di Hogere Burger School (HBS), sekolah menengah elite, seperti ELS.
Salim gila belajar. Daya pikirnya kritis dan tajam. Menguasai suatu bidang bukanlah hal sulit baginya. Pemuda berperawakan kecil itu juga rajin berolahraga. Ia sportif, humoris, ceria, dan sangat lihai berpindah bahasa. Ia pandai membawa diri dalam kelas masyarakat manapun. Semua kelebihan dan keunikannya dilengkapi dengan wajah tampan. Tak heran jika ia populer di masa sekolahnya.
Saat usianya 19 tahun, guru Salim mengirimkan surat pengajuan beasiswa untuknya agar dapat belajar kedokteran ke Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) di Belanda. Apa hendak dikata, usaha gurunya untuk mengirim lulusan terbaik HBS itu tak dapat bersambut. Saat itu pula, Raden Ajeng Kartini mendengar kabar Salim. Kartini yang tak dapat berangkat menjalankan beasiswa, mengajukan pengalihan beasiswa untuk Salim. Entah sebab apa, permohonan Kartini ditolak.
Bukan Kartini jika ia mudah menyerah. Melalui proses panjang yang berlarut-larut, permohonan Kartini akhirnya disetujui. Kabar gembira mengetuk kediaman Agus Salim. Namun, Pemuda itu tak lagi minat bersekolah di Belanda. Ia sudah mantap untuk bekerja. Lagipula, kata Salim, beasiswa itu bukanlah untuknya. Beasiswa itu diberikan hanya karena desakan Kartini.
Salim menjadi penerjemah bahasa asing di Jakarta. Patah hati akan Stovia bukanlah penghalangnya untuk tetap belajar. Ah, tidak. Mungkin saja ia tak pernah patah hati pada Belanda. Agus Salim tetap saja menelan buku dan ilmu seolah rasa hausnya saat berangkat ke HBS dulu tak pernah terobati.
Tak lupa pula dibacanya sejarah bangsa. Ia melahap kisah-kisah perjuangan Teuku Umar, Diponegoro, Sultan Hasanuddin, dan sejarah perjuangan lainnya. lambat-laun, api perjuangan berkobar dalam dadanya. Tak sekadar membaca, Salim menganalisis kelebihan, juga mencari sebab gagalnya perjuangan itu. Ia ingin membangunnya kembali. Bersama pemimpin dan pejuang bangsa, melepaskan diri dari penjajahan. Semangat nasionalisme mengakar. Ia tak ingin tunduk pada penjajah. Mungkin pandangan itu pulalah yang membuatnya menolak tawaran di Konsulat Belanda.
Salim kerap berpindah kerja. Sebentar menjadi penerjemah di Jakarta, ia sudah berpindah pula menjadi notaris di Riau. Tak lama kemudian, ia memutar haluan ke perusahaan batu bara. Ia berpindah kerja sebab tak puas dengan pekerjaannya.
Ibunda Salim, risau dengan anaknya yang enggan meniti langkah keluarga, menjadi pegawai Hindia-Belanda. Ia resah akan masa depan putranya karena pekerjaan Salim berganti dan tak tentu. Zaenah bersedih hati, ia pun sampai jatuh sakit.
Pada tahun 1906, hari kelabu tiba. Seperti menelan duri-duri, Salim terpaksa mengucapkan salam perpisahan terakhir pada ibunya. Mengantarkan ibu tidur dalam makam. Kehilangan cintanya itu, melunakkan Salim. Ia mengalah dan menerima jabatan sebagai pegawai Konsulat Belanda di Jeddah.
Salim berdiam di Jeddah bukan semata untuk pekerjaan atau uang. Ia masih haus dan lapar. Di jazirah Arab, selain berhaji, Salim tunak menimba ilmu. Ia memperdalam kajian agama, belajar pada pamannya yang telah dulu tinggal di sana, Ahmad Khatib, seorang ulama besar yang bersahabat dengan K.H. Ahmad Dahlan. Salim bercita-cita menghadiahkan ilmunya pada bangsa Indonesia.
Pekerjaannya sebagai konsulat di Jeddah membuat Salim profesional dalam tata niaga dan perdagangan. Namun, bukan Salim namanya jika ia puas dengan dua bidang pengetahuan saja. Ya, ia juga belajar tata cara kehidupan diplomatik. Di sana jugalah kemampuan bahasa Arabnya bertumbuh. Namun, tak hanya bahasa Arab. Semasa hidupnya Salim menguasai bahasa Belanda, Inggris, Arab, Jerman, Perancis, Jepang, Turki, Jawa, Sunda, Minang, dan Melayu.
Tak ada yang dapat menutupi bakat dan karisma Salim. Bosnya di konsulat mengakui kecakapannya dalam bekerja, meskipun kerap jengkel dengan Salim yang sering mendebatnya. Namun ia dapat berbuat apa? Pemuda itu bekerja sangat baik. Tak ada cacat dalam pekerjaannya. Tak pula pernah ia melebihi tenggat waktu.
Lima tahun bekerja di Jeddah, ia dipanggil pulang ke Indonesia. Pulangnya Salim tak sekadar karena ia ditarik Belanda. Kerinduan pada tanah tercinta, juga mimpi akan kemerdekaan bangsa-lah yang memanggil hati Salim pulang. Setelah kembali, Salim sempat bekerja sebagai pegawai Hindia-Belanda di departemen pendidikan dan kebudayaan, masih dengan gaji dan kehidupan yang mapan. Lalu berpindah-pindah kerja sebab selalu gelisah akan nasib bangsanya.
Akhirnya ia kembali ke Koto Gadang, menikah dan mendirikan sekolah swasta. Sekolahnya itu bagus dan berjalan baik. Namun saat mengikuti tes hulpactie, akte guru, ia gagal dengan alasan tak masuk akal. Salim tak lulus bahasa Belanda, bahasa yang bahkan orang Belanda pun mengakui keahlian Salim. Ia putuskan merantau lagi. Membawa istri dan anak-anaknya ke Pulau Jawa.
Salim tak pernah menyekolahkan anaknya di sekolah rakyat apalagi di sekolah anak Eropa. Ia tak percaya pendidikan bergaya Eropa itu. Bersama dengan istrinya, Zainatun Nahar, mereka mendidik anak-anak di rumah.
Salim melepas kehidupannya yang nyaman, melepas status priyayi. Ia memilih berjuang penuh, menyokong saudara setanah air dengan segala kemampuannya. Ia menjadi jurnalis, ia turut dalam organisasi masyarakat. Ia terjun dalam dunia politik.
Ia berturut-turut ikut memperjuangkan kemerdekaan. Ia telah mencicipi peran dalam Panitia BPUPKI, PPKI, Piagam Jakarta, Perundingan Linggarjati, Perjanjian Renville, Konferensi Meja Bundar, sebagai diplomat ia bertandang ke negara-negara timur meraih dukungan dan pengakuan kemerdekaan Indonesia, menjadi penasihat menteri luar negeri, menjadi dosen di dalam dan luar negeri, menuangkan pemikirannya dalam bentuk buku, serta peran-peran lainnya. Kegemilangannya, membuat ia mendapat julukan The Grand Old Man. Cocok pula dengan tampilannya, berkumis serta jenggot panjang yang memutih. Nan kerap mengundang cemooh dari orang yang tak senang padanya; ia terlihat seperti kambing.
Keputusannya membela kebenaran, bangsa, agama, dan tanah air itu membawanya pada kehidupan yang sulit. Ia miskin, begitu miskin hingga tak memiliki uang untuk membeli kain kafan bagi jenazah bayinya. Ia begitu miskin hingga makan dengan nasi, mentega, dan kecap saja. Jika saja ia mau, kedudukan dan jasanya dapat memberikan kehidupan layak. Jika Salim sedikit lebih mementingkan dirinya, tak perlulah ia ke mana-mana dengan baju yang bertambal. Jika saja Salim berkehendak, tentu saja ia tak harus hidup berpindah-pindah dari satu kontrakan kumuh di gang kecil ke kontrakan lain yang tak jauh berbeda kondisinya. Jika saja ia bersuara, tentu saja ia tak harus hidup tanpa listrik hanya karena tak mampu membayarnya.
Tapi begitulah sang Pembela Kebenaran. Ia jujur. Ia tak dapat disogok. Tidak di siang benderang atau di pekatnya malam paling kelam sekali pun. Ia begitu menyulitkan musuh, hingga harus menjadi tawanan. Memilih hidup sengsara. Jangankan uang haram, uang halal pun Salim dapat menolaknya. Bagi Salim dan keluarganya rasa syukurlah yang lebih diutamakan. Baginya hidup sebagai priyayi dengan segenap kecukupan atau sebagai orang biasa dengan segala kekurangan sama saja. Bagi Salim, berhadapan dengan Duke of England atau rakyat jelata dari negeri terjajah tak ada bedanya. Ia tak canggung. Baginya tak ada batasan semu yang dibuat-buat oleh ketamakan dan keangkuhan manusia. Bagi Mashudul Haq, tak ada yang lebih pantas dibela dan diperjuangkan selain kebenaran.
Siang hari, pukul 14.45, hari keempat bulan November 1954, The Grand Old Man menutup usia. Ia mengembuskan napas terakhir di ranjang Rumah sakit Umum Jakarta. Esok harinya, 23 jam 45 menit kemudian, jasadnya tertanam di makam pahlawan Kalibata.
Mungkin saja perkataan Willem Schermerhorn, ketua delegasi Belanda di Linggarjati itu benar, “Salim si negosiator yang tangguh, pandai bicara, dan ahli berdebat itu hanya memiliki satu kekurangan: selama hidupnya ia melarat.”
Kota Bertuah, 15 Agustus 2023
Sumber:
Mukayat. 1985. Agus Salim- Karya dan Pengabdiannya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
https://faisalbasri.com/.../haji-agus-salim-kisah.../
https://khazanah.republika.co.id/.../masa-kecil-haji-agus...
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/11/06/sisi-nyentrik-agus-salim-beralih-jadi-vegetarian-hingga-sekolahkan-anaknya-di-rumah
Komentar
Posting Komentar