Esai Reflektif: Teko yang Tak Menuangkan Isi

Oleh: S. N. Aisyah


Mungkin, tulisan ini tidak akan berkenaan dengan penulis kawakan. Sebab, saya menuliskannya dari sudut pandang seseorang yang ‘ingin’ menulis. Bukan dari sudut pandang penulis. Untuk kawan-kawan yang juga ‘ingin’ menulis seperti saya, apakah kalian pernah merasakan kebuntuan, macet ide, dan kedangkalan luar biasa saat menulis? Pernahkah kalian bertanya-tanya, ”Mengapa saya tak bisa menulis meskipun sangat ingin menulis?” Tulisan ini saya tujukan kepada diri sendiri dalam upaya mencari jawaban atas kegelisahan terhadap kebuntuan menulis. Setelah merenung sejenak, maka saya menarik kesimpulan bahwa 3 alasan inilah yang menyebabkan tulisan-tulisan dalam laci pikiran tak pernah rampung atau bahkan tak pernah ada sama sekali.


1.      Teko yang Kosong

Pernahkah kalian melihat wadah kosong menuangkan isi? Ya, secara logika, itu tidak mungkin. Untuk dapat menuang, kita harus memiliki isi. Jika wadah terisi penuh, maka secara sadar atau tidak, suka rela atau terpaksa, isi dari wadah tersebut harus dituang atau ia akan tertuang.

Kita ibaratkan, wadah adalah manusia, isi adalah pikiran dan perasaan manusia, sedangkan menulis  adalah salah satu bentuk dari kegiatan menuang itu. Tentu saja, untuk dapat menuang, kita harus memiliki isi. Dengan kata lain, tak hadirnya pikiran dan perasaan dalam diri manusia menjadi alasan terbesar--jika bukan yang utama--dari kelumpuhan menulis.

Bagaimana cara mengatasi masalah teko kosong? Tentu dengan mengisinya. Jika ingin menuangkan sesuatu dengan standar kualitas dan kuantitas yang tinggi, maka, isilah teko itu dengan nutrisi berkadar kualitas dan kuantitas yang tinggi. Membaca, mendengar, mengamati, mengalami, menelusuri, terhubung dengan manusia, alam, dan kehidupan adalah cara-cara yang dapat ditempuh untuk mengisi teko itu.

Kenapa kita sulit menulis? Karena kita kurang peduli. Tak cukup peduli untuk membaca, mendengar, mengamati, mengalami, atau menelusuri. Tidak peduli dengan keadaaan sekitar atau mungkin dengan kondisi diri sendiri. Sikap peduli akan memberikan kita banyak inspirasi. Cobalah berhenti sejenak untuk memedulikan sekitar. Atau mungkin diri sendiri. Sebab, dengan memperhatikan sekitar, kita sebenarnya dapat membantu diri sendiri.    

Pada akhirnya, pemikiran datang dari sebuah kekhawatiran atau kegalauan. Jika tidak memperhatikan apapun, bagaimana kita akan memikirkan sesuatu?

2.      Teko yang Bengong

Apa yang terjadi saat kita terus menerus mengisi teko tanpa henti, tanpa jeda, dan tanpa menuangkan kembali isi teko tersebut? Teko mengalami kelebihan muatan yang menyebabkannya kewalahan sehingga isi teko tumpah di luar kendali. Itulah yang akan terjadi ketika kita terus mengisi kepala dan hati tetapi tidak memiliki kesadaran, alasan, dan tujuan yang jelas dalam mengelola—pada kasus ini kita sebut sebagai menulis-- isi teko tersebut.

Dibutuhkan kesadaran diri, alasan yang kuat dan tujuan yang jelas untuk dapat semangat menulis. Meskipun pemikiran dan perasaan kita meluap, tanpa kesadaran kita tak akan bisa menuliskannya. Begitu juga jika kita tak memiliki alasan untuk menulis, kecil kemungkinan kita akan melakukannya. Bagaimana dengan tujuan? Mungkin kita tak memiliki alasan yang kuat untuk menulis, akan tetapi apabila kita memiliki tujuan dalam menulis, tentu itu akan membantu kita untuk dalam upaya menulis.

Terkadang, hal yang membuat manusia tidak ingin menyelesaikan tulisannya adalah dia tidak memiliki alasan untuk menyelesaikannya. Kebanyakan dari kita tidak memiliki tujuan yang jelas sehingga tidak memiliki motivasi untuk melakukan suatu hal. Maka temukan alasan, tujuan, motivasi, dan kesadaran itu. Kita memerlukan kesadaran, alasan, tujuan, dan motivasi yang kuat agar bisa tetap menulis. Entah apapun itu bentuknya.

3.      Teko Penuang Racun

Apakah kalian pernah melihat teko penuang racun dari Cina kuno?  Teko ini memiliki struktur yang unik, yaitu: dua kompartemen (atas dan bawah) dengan lubang udara pada untuk setiap kompartemen dan leher teko sebagai kanal untuk menuang isi teko (baik kompertemen atas maupun bawah).

Di masa Cina kuno, teko seperti ini digunakan untuk mnyembunyikan racun saat minum dengan musuh. Kompartemen atas diisi dengan minuman, sedangkan kompartemen bawah diisi dengan racun.

Cara kerja teko ini adalah saat menuang, jika lubang udara pada kompartemen bawah ditutup, maka kompartemen bawah tidak akan mengeluarkan isinya. Akan tetapi, kompartemen atas tetap bisa beroperasi dengan baik. Begitu pula sebaliknya. Apabila lubang udara kompartemen atas ditutup saat menuang, maka isi kompartemen ini akan tetap berada di tempatnya sedangkan isi kompartemen bawah yang akan mengalir. Apabila kedua lubang udara ditutup, isi teko akan terkurung pada tempatnya. Sebaliknya, bila kedua lubang udara dibiarkan terbuka, maka isi dari dua kompartemen ini akan mengalir secara bersamaan.

Sekarang kita ibaratkan isi dari teko adalah isi kepala dan hati kita. Input yang kita muat di dalam teko kita. Apakah ia sesuatu yang bermanfaat atau sesuatu yang beracun. Lalu, cara menuang adalah cara kita menjalani kegiatan menulis. Apakah kita fokus, disiplin, dan mengatasi distraksi dengan baik?  

Mungkin kita memiliki banyak ide, terlepas dari input baik atau buruk yang kita miliki, teko kita berisi penuh.  Akan tetapi, sekadar memiliki isi tak menjamin kegiatan menuang akan berhasil—dan bermanfaat.  

Kita punya ide tetapi  tidak juga menuliskannya. Kita anggap menulis susah. Padahal, terkadang kita hanya tidak fokus dan tidak disiplin dalam menuang. Alih-alih menuang dengan menutup lubang udara bawah agar racun tak keluar, kita malah menutup kompartemen atas hingga keracunan. Cara kita dalam megisi dan menuang isi teko menunjukkan disiplin dan fokus kita dalam menulis. Lalu, lubang udara adalah pilihan-pilihan yang dapat menjadi penolong atau distraksi bagi kita.  

Cobalah untuk fokus, mendisiplinkan diri, berkomitmen dan konsisten dalam menulis.  Tidak harus terburu-buru langsung pada hal yang besar. Bisa pada hal kecil dulu. Mengisi teko dengan hal-hal baik lalu memulai langkah kecil dalam menulis. Seperti targetkan menulis minimal satu paragraf, satu halaman, seribu kata, lima belas menit, satu jam, dua jam, dst. Kedisiplinan akan membawa kita pada kebiasaan. Lakukan hal ini secara konsisten dan berkomitmen. Dengan begini, semoga saja otot menulis kita terlatih dengan baik sehingga tidak  akan ada lagi buntu menulis.

Komentar

Postingan Populer