Fiksi Mini: The Ghost Writer
Oleh: S. N. Aisyah
Ya, kuketahui bahwa dialah yang sering 'meminjam' barang-barang yang kerap hilang itu. Sebab, pada akhirnya dikembalikan juga, aku tak pernah ambil pusing. Terserah sajalah. Aku selalu punya cara untuk memecahkan masalah sepele begitu. Lagipula kos ini jaraknya amat dekat dengan kampus belum lagi harganya yang terlalu murah untuk fasilitas dan tempat strategisnya. Maka kuabaikan saja perkara kecil itu. Tetanggaku itu menyebalkan tetapi bukan orang jahat. Setidaknya begitulah menurut hematku.
Sebagai mahasiswa kere, aku tak punya pilihan lain selain bekerja sambilan untuk membiayai hidup. Akan tetapi, karena bertemu orang bukanlah hobiku, maka aku mulai menjadi seorang joki tugas. Ya, pekerjaan haram itu kerap membuatku mimpi buruk. Hidupku makin tak tenang saja dibuatnya. Aku mengambil banyak tawaran joki tugas karena uangnya lumayan. Sebab itulah tidurku tak kunjung cukup.
Suatu pagi, setelah bergadang semalaman, aku memutuskan untuk tidur. Masih pukul tujuh. Paling tidak aku bisa tidur dua atau tiga jam sebelum kelas dimulai pukul sepuluh nanti. Maka kuputuskan untuk menutup mata dan memastikan kamarku gelap gulita. Rasanya baru saja mataku tertutup, ponselku bergetar hebat. Alaram yang kusetel pukul 09. 30 telah berulang kali menyala. Hanya sepuluh menit sebelum kelas. Segera kubasuh muka dan berganti pakaian. Saat hendak kukunci kamar, tetanggaku yang menyebalkan itu berkata, "Rajin sekali kau, ngetik dari tengah malam sampai jam sembilan pagi. Nggak capek?"
"Aku baru bangun," sahutku.
"Udah enggak usah sungkan. Banyak job, ya? Takut dimintai traktir, heh? Aku dengar suara kau mengetik," ocehnya sambil cengengesan.
Memang, aku suka menghantam keyboard saat mengetik, dan tipisnya dinding kosan ini sama saja dengan memasang kelambu di tengah kota. Hampir tak ada privasi. Akan tetapi, setelah kupikir tabiatnya, ia pasti hanya berbual lagi.
"Aku tidur," kataku lagi.
"Ah, serius? Kalau gitu siapa yang ngetik?" Ia tampak tak percaya. Aku hanya mengangkat bahu, lalu berpamit dengan tergesa.
Kukira, masalah ketik mengetik itu telah selesai. Ternyata aku salah.
Joki tugas sudah tak kulakukan lagi. Sebab, aku kapok dan aku tak mau mengambil pekerjaan haram itu. Aku sudah mendapat kerjaan baru, sebagai penjaga pustaka prodi yang sempit, pengap, dan tak ada pengunjung itu. Gerahnya bagaikan neraka bagi mahasiswa tetapi surga untukku.
Memang gajinya tak sebanyak pekerjaanku yang sebelumnya. Namun, setimpal dengan keringat yang kukeluarkan untuk pekerjaanku di sana. Lagipula, aku diberi izin menggunakan waktu senggang dan fasilitas di perpus angker itu yang untuk keperluanku. Kumanfaatkan saja semua untuk mengerjakan tugas kuliah, menulis artikel ke media, dan melakukan kerjaan sampingan remote lainnya sebagai freelancer online.
Begitulah putusnya hubunganku dengan kerjaan haram sebagai joki. Aku tak lagi bergadang hanya untuk mengetik. Meskipun begitu, anehnya, protes tentang ribut-ribut mengetik makin menjadi-jadi. Kini protes tak hanya datang dari seorang saja. Maka, dengan frustasi, aku membeli sebuah cctv. kupasang di kamar. Mengarah pada meja tempat laptop biasanya kutaruh saat malam.
Satu-dua hari sejak di kamera terpasang, tak terlihat apa-apa. Aku tak lagi mendapat keluhan. Akan tetapi, kira-kira sudah dua bulan kemudian, seseorang kembali protes padaku. Saat itu, aku hanya meminta maaf dan berniat mengecek rekaman namun melupakannya begitu saja.
Pada malam harinya, tiba-tiba saja aku terbangun oleh suara hantaman jemari di keyboard. Sangat kencang dan keras bunyinya. Aku segera membuka mata, mendapati seseorang sedang mengetik di laptopku. Ia menoleh dan tersenyum lebar dengan menyeramkan.
Komentar
Posting Komentar