Fiksi Mini: Jam Raksasa
Oleh: S. N. Aisyah
Jarum jam berdentang. Ya, berdentang. Suaranya menggema di gendang telingaku. Jantungku bedenyut kuat. Seperti digengam erat dalam kepalan tangan yang semakin lama, semakin meremukkannya. Mendorong aliran darah ke tengkuk, terus kedalam tengkorak. Kepalaku sepertinya akan meledak. Setiap garis tampak berbayang. Aku tak mau mati di sini.
Berulang kali kucoba untuk bangun tetapi badanku terkunci. Kucoba meredam semua sensasi gila ini. Menyumbat telinga, menutup mata, mengatur napas dengan tenang. Namun, baru saja beberapa detik, dunia seperti berguncang. Kubuka mata, tersentak dengan napas yang memburu.
Lagi-lagi mimpi itu. Ini sudah yang ketiga kalinya dalam sepekan.
Kulirik meja di seberang tempat tidur. Penuh dengan buku, berkas, dan laptop. Sesuatu merayap dalam perutku. Naik terus hingga tenggorokan. Asam. Rasanya asam dan pekat. Kukira, jika tak ditahan, mungkin separuh isi lambungku akan menyembur melalui muntahan. Aku perlu udara segar.
Gorden jendela diembus angin. Bayangannya menari-nari seperti selubung kelam. Aku bangkit. menyibak kain putih itu. Memandang pada tepian pantai, nun puluhan meter jauhnya. Di sana, jejeran pohon pinus memagari sisi terjal pantai. Bergoyang-goyang bagai sekumpulan sekte yang melakukan ritual dengan serempak. Terlihat dingin dan menyeramkan di bawah sinar bulan yang pualam. Akan tetapi, entah mengapa, ketenangan yang ganjil merayap di kudukku.
Aku berdiam diri memandang pada pemujaan alam di tengah malam. Hanyut di dalamnya hingga bandul jam raksasa di sudut lorong penginapan ini kembali berdentang. Dua kali. Pukul dua malam. Kuhela napas panjang. Sebaiknya kembali tidur saja, pikirku. Akan tetapi, begitu berbalik badan, sosok berkelebat menyerang. Ia menyeretku keluar pintu. Terus saja menarik, tak mengindahkan segala upaya pemberontakanku.
Jari-jarinya yang kurus, kering, dan berkuku tajam mencengkram kakiku dengan erat. Ia membawaku pada jam raksasa itu. Kemudian, dibukanya pintu bandul. Melemparkanku ke dalamya. Sebelum menutup pintu itu kembali, ia menyeringai padaku.
"Waktumu telah habis," ucapnya dalam bisikan yang membuatku membatu.
Komentar
Posting Komentar