Fiksi Mini: Belang
Kami tidak banyak bicara. Perjalanan panjang selama 8 jam telah menguras tenaga. Maka, begitu tiba di rumah Nenek pukul 8 malam, kami bersegera membersihkan diri, makan, dan bersiap berangkat tidur. Namun, adikku yang baru berusia 4 tahun tiba-tiba datang menghampiri.
"Apa, Dek?" tanyaku saat ia memelukku dengan erat.
"Takut, Kak," ucapnya. Suaranya sedikit bergetar.
"Takut apa?" tanyaku lagi, seraya merangkul. Berusaha menenangkannya.
"Harimau," katanya dengan nada cadel.
"Harimau? Di mana?"
"Itu, di jendela. Banyak."
"Bentar, ya." Kulepas ia, ia berlari menuju Kakak. Aku segera berangkat membuka tirai satu per satu. Tak ada apa-apa di sana. Sementara adikku sudah bermain dengan kakakku. Mereka tertawa. Sepertinya aku dikerjai. Dengan sedikit kesal, aku menutup tirai.
Malam hari jadi tantangan sendiri bagiku. Aku terlalu terbiasa tidur dengan suara latar, entah tv atau kendaraan yang lalu lalang. Tinggal di kota yang aktif 24 jam memang sedikit menyebalkan, selalu saja ada kebisingan. Akan tetapi, sisi baiknya, aku tak mesti menyetel apapun untuk dapat tertidur.
Di rumah nenek sangat berbeda. Sunyi yang sangat senyap ini mencengkram malam dengan erat. Detak jarum jam terdengar lantang. Aku bahkan dapat mendengar detak jantungku. Helaan napas dan suara dengkuran yang lain tengah tertidur pulas. Aku perlu suara latar, tapi bukan yang seperti ini. Bising kehidupan. Itulah yang membantuku tidur. Ini benar-benar menyiksaku. Mataku tak hendak terpejam. Berulang kali aku berganti posisi badan. Sebelum akhirnya mencoba membaca buku untuk mengalihkan pikiran.
Ini selalu berhasil! Buku dengan mudah mengokupasi perhatianku. Bahkan mengalihkanku dari keinginan tidur dan rasa mengantuk. Saat terbenam dalam untaian huruf, aku mendengar suara garukan di pintu depan. Pasti Si Belang. Kucing nenek. Begitulah yang nenek katakan setiap kali ada yang bertanya tentang suara garukan itu. Meskipun tak ada seorangpun yang pernah melihat Si Belang.
Maka, demi menjaga ketenangan yang batru saja kudapatkan, aku memilih untuk mempercayai nenek. Itu pasti Si Belang. Namun, suara itu lama-lama menjadi ramai. Susul-menyusul. Di segala penjuru rumah. Lalu terdengar auman yang menggelegar. Seketika pandanganku gelap.
Komentar
Posting Komentar