Thought: Kepikiran

Saya kepikiran tentang teori kepribadian. Ada beberapa teori kepribadian yang pernah saya dengar. Misalnya ada teori Big Five, Human Design, MBTI, Enneagram, Empat Tempramen, Dark Triad, dan mungkin masih banyak yang lainnya. Dari semua teori ini, adakah yang bisa menjamin akurasinya seratus persen? Saya rasa hampir tidak ada. Akan tetapi, menariknya, selalu saja ada kemiripan atau pola-pola tertentu yang membuat teori-teori ini muncul. Keenam teori di atas, memiliki vektornya masing-masing. 

Misalnya Big Five yang menilik kepribadian dari sudut pandang lima faktor, yaitu: Keterbukaan (Openness), Kehati-hatian (conscientiousness), ekstraversi (Extraversion), Kemudahan bergaul (Agreeableness), dan Neurotisisme (Neouroticism). Jadi, kepribadian seseorang dilihat dari kadar lima faktor tersebut yang ia miliki dalam dirinya.


Kemudian ada Human Design yang cukup unik dan menarik, sebab ini memetakan kepribadian berdasarkan tanggal, tempat, dan waktu lahir seseorang. Teori ini menggabungkan pengetahuan chakra, astrologi, kabbalah, I ching, dan genetika. Ya, saya juga nggak begitu mengerti apa pun tentang itu. Yang jelas, hasil dari 'tes' human design ditampilkan dalam bentuk bagan yang menyerupai tubuh manusia atau disebut juga dengan bodygraph. Dalam teori ini, ada tiga bagian penting dalam menentukan tipe kepribadian human design, yaitu pusat energi (terdiri atas tiga), saluran (terdiri atas 36), dan gerbang (sebanyak 64). It's kinda a little complicated. Intinya bagian yang aktif dari pusat energi, saluran, dan gerbang inilah yang menentukan tipe kepribadian seseorang. 

Lalu ada MBTI. Sebuah teori kepribadian yang digubah oleh Briggs dengan mengelompokkan kepribadian manusia dalam 16 tipe berdasarkan teori fungsi kognitif  Carl Jung.  Jung mengemukakan bahwa setiap manusia memiliki delapan fungsi kognitif. Yaitu  Extroverted Intuition,  Introverted Intuition, Extroverted Sensing, Introverted Sensing, Extroverted Feeling, Introverted Feeling, Extroverted Thinking, Introverted Thinking, Extroverted Perceiving, Introverted Perceiving, Extroverted Judging, dan Introverted Judging. Lalu Briggs bersaudara menemukan sebuah formula untuk mengelompokan kepribadian berdasarkan kecenderungan penggunaan fungsi kognitif dengan  menuangkannya dalam pengelompokan spektrum Ekstrovert (E) vs Introvert (I), Sensing (S) vs Intuisi (N), Feeling (F) vs Thinking (T), dan Perceiving (P) vs Judging (J)  yang kemudian selanjutnya dikenal dengan 4 huruf yang mewakili dari setiap tipe. Contohnya, ESFP.  Namun, sepertinya MBTI adalah teori kepribadian yang kerap kali disalahpahami dan terlalu disederhanakan oleh banyak orang yang membuat mereka terjerumus dalam steorotip tipe kepribadian MBTI. 

Kemudian ada Enneagram, empat temperamen, dan dark triad. Semua teori kepribadian yang sudah kita bahas ini dapat dikatakan pseudo science, atau begitulah yang dikatakan orang-orang. Namun, kita berbicara dari sudut pandang yang berbeda-beda, kan? Ini membuat saya berpikir tentang hubungan antara kepribadian yang dibentuk seiring berjalannya waktu dengan kepribadian bawaan. Seperti misalnya dalam teori empat temperamen, kepribadian seseorang ditentukan oleh cairan tubuh mana yang mendominasinya. Jika demikian, dapatkah kita artikan bahwa ini semua saling berkesinambungan? Jika semua hal dari diri kita memiliki koneksi internal, maka, apakah mungkin dengan 'merekayasa'tubuh dapat mengubah kepribadian? Bahkan hormon-hormon kita pun semua adalah bentuk reaksi kimia. Lalu bagaimana jika kepribadian yang ditilik berdasarkan kognitif function itu terkait erat dengan pengalaman-pengalaman individunya? Misalnya, bukan tipe kepribadiannya yang membentuk keputusannya, tetapi keputusan (yang didasari dengan beragam faktor) yang dilakukan secara berulang-ulanglah yang membentuk kepribadiannya? Bayangkan jika beberapa bayi lahir di rentang waktu tertentu, kita katakanlah lahir di bulan Desember. Musim dingin atau musim penghujan untuk daerah tropis. Sedikit banyaknya, keadaan lingkungan dapat mempengaruhi suasana hati, maka terjadi reaksi kimia di otak, dan jika itu masa awal perkembangannya, bukankah tidak mungkin kalau bayi-bayi tersebut memiliki suatu kemiripan dalam perkembangannya? Atau Misalnya openess atau agreeableness, apakah itu terkait erat dengan pola pengasuhan sejak dini? 
Semua hal saling terkait dan berkesinambungan. Kita disatukan dan dipisahkan oleh setiap faktor dalam diri kita.

Ya, ini kebiasaan buruk saya. Memikirkan hal-hal  dan kemungkinan-kemungkinan seperti ini sebelum benar-benar mencari tahu. Padahal ini sudah ada jawabannya, jika saya langsung membacanya, kan? 

Saya membayangkan semua teori atau semua sudut pandang terhadap suatu hal  diibaratkan sebagai benang merah yang disusun, seperti kita menyusun benang -benang sebagai jari-jari pada lingkaran yang menutupinya secara penuh. 

Jika kita menggabungkan seluruh perspektif yang ada terkait diri kita, maka kita akan mendapatkan kebenaran utuh, kebenaran yang satu. Bukan tentang hitam-putih atau salah-benar. Tetapi tentang sebuah kebenaran. Tentang diri kita yang seutuhnya.

Oke, saya terlalu meracau. Segitu aja. 

Komentar

Postingan Populer