Jika demikian, bukankah kemerdekaan semacam itu hanya perpindahan dari dijajah oleh faktor eksternal menjadi terjajah oleh ego sendiri? Dibelenggu oleh kegelapan diri? Apakah kemerdekaan itu? Mengapa kita menginginkannya? Pada dasarnya, manusia hanyalah seorang budak yang memiliki kemerdekaan untuk memilih namun tak pernah merdeka dari konsekuensi pilihannya. Lebih dari itu, manusia hidup dalam aturan, dalam serba keterbatasan. Batas kemerdekaan adalah sebuah kebebasan untuk memilih. Lucunya, tanpa kita sadari, terkadang justru batasan dalam kebebasan memilihlah yang menjamin kestabilan hidup manusia. Selalu ada aturan yang tak dapat dilampaui bila ia ingin hidup dalam kebaikan dan kebahagiaan. Bukankah itu tujuan dari merdeka, mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan? Namun, sayangnya kebebasan tak selalu membawa kebaikan. Merdeka bukan otomatis berbahagia. Banyak pilihan bebas manusia yang menjerumuskannya pada keterpurukan. Hal itu menunjukkan betapa lemahnya manusia.
Manusia hanyalah budak. Tak lebih dari itu. Jika bukan menjadi budak bagi manusia, maka ia akan menjadi budak sesuatu yang lain. Konkret atau abstrak. Baik atau buruk. Berikanlah ia kemerdekaan, kebebasan tanpa konsekuensi, maka kau akan melihat bagaimana merusaknya kemerdekaan itu bagi dirinya sendiri. Maka daripada itu, apakah arti merdeka? Bukankah dapat dikatakan bahwa kemerdekaan adalah suatu kesadaran untuk menghamba. Maka sebaik-baiknya menghamba hanyalah pada Yang Maha Kuasa, Tuhan semesta alam. Yang mengerti dan mencintai makhluknya. Manusia merdeka saat ia terikat-- pada Tuhan. Penyerahan diri. Seutuhnya, sepenuhnya, setulusnya. Merdeka dalam belenggu. Bukankah begitu?
Lalu, apakah aku sudah merdeka? Entahlah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar