Thought: Random Saja

Welcome Back! Jadi, ada hal menarik yang saya temui. Baru saja selesai membaca buku Kalau Tak Untung karya Selasih. Jika dipikir-pikir, rata-rata buku yang saya baca itu penulisnya laki-laki. Dapat dihitung penulis perempuan yang saya baca karyanya. Yah, menimbang sempitnya khazanah membaca saya. Penulis perempuan itu antara lain: Enid Blyton, Carol S. Dweck, J. K. Rowling, Jane Austen, Emily Bronte, Harper Lee, Agatha Christie, Suzanne Collins, Marry Shelley, Senja Rindiani, Daras. Yah. Sejauh ingatan saya, setidaknya, selusin penulis perempuan inilah yang bukunya saya baca from cover to cover. Itu pun tak semua karya mereka. Pernah baca N.H. Dini, hingga sekarang belum tamat buku itu. Sudah bertahun-tahun lamanya. Pernah membaca sangat sedikit dari Mira W, tidak pernah menyelesaikannya. Anehnya, saya belum pernah mencicipi karya Dee Lestari, Ayu Utami, Leila S. Chudori, Ziggy, Asma Nadia, Helvi Tiana, dan banyak penulis lainnya. Oh, tentu saya harus mencobanya. Ya, kenapa tidak? 


Mengenang sempitnya jangkauan membaca saya, sepanjang ingatan, sulit menemukan gaya penulisan penulis wanita yang melekat. Tidak, saya tidak mengatakan bahwa mereka tidak bagus. Karya mereka luar biasa. Tak bisa dikatakan betapa jatuh cinta saya dengan Too Kill A Mocking Bird, betapa dulu saya terobsesi dengan Harry Potter, betapa saya tertawa geli ketika membaca Pride And Prejudice dan--tentu saja--menjadikan Mr. Darcy sebagai bare minimum standar lelaki (tidak, bukan terkait hartanya. Lupakan hal  itu), betapa trauma Katniss terasa nyata, betapa relatablenya kengerian Dr. Frankenstein akan pekerjaannya serta betapa malang dan berkenan saya dengan si Monster, betapa hangatnya cerita detektif Agatha, Betapa disayangkan nasib Headcliff, Catherine dan Edgar Linton,  betapa senangnya saya tumbuh membaca Lima Sekawan, dan betapa buku Mindset telah memberikan insight yang besar bagi saya. Begitu pula buku Life Riset dan  Sebelas Babak. 

Intinya ini bukan tentang kualitas karya. Akan tetapi preferensi dari model tulisan. Sejauh ini, penulis favorit saya berdasarkan style menulisnya adalah R. L. Stine, Andrea Hirata, Edgar Allan Poe, dan Fyodor Dostoevsky.  Saya juga menyukai penulisan Kafka dan John Grisham. Setidaknya sejauh yang saya baca. Bukan berarti saya tak menyukai karya-karya Tolstoy, George Orwell, Conan Doyle, Maurice Le Blanc, Ahmad Fuadi, Tere Liye, Dan Brown, dan yang lainnya. Those Master Pieces of them are chef kiss, of course. Siapa yang tak jatuh cinta dengan ide besar dari karya-karya memukau Tolstoy dan kawan-kawan?  Kembali lagi, ini tentang preferensi gaya bahasa. Saya menyukai semua karya bagus akan tetapi saat berbicara tentang enam penulis yang telah saya sebutkan--- terkait penulisannya-- yang saya maksudkan menjadi deretan penulisan favorit adalah bagaimana karya mereka berbicara dari suatu tempat di dalam diri kita. Seolah begitu dekat tak hanya sebagai kawan tandang yang memantik pemikiran saja. Tetapi bersemayam di dalam dada atau bersarang di kepala. Bukan berarti yang lain tidak. Ah, Anda mengertilah maksud saya. 

Saya pun bertanya-tanya apa yang membedakannya. Hingga akhirnya iseng melakukan diskusi aneh dan tentu saja dapat dipertanyakan kredibilitasnya dengan Chatgpt. Yang memberikan saya grafik berikut:


Cukup menarik. 

Lalu, ini membuat saya bertanya. Mengapa dari segi penulisan, saya belum mendapatkan penulis perempuan yang menjadi favorit saya? Bahkan Agatha Christie juga belum cocok. Adakah kaitannya antara gender? Apakah ini tentang pola pikir? Apakah ada perbedaan bahasa tertentu dari kedua gender? Mengapa  J. K. Rowling sengaja membuat namanya seperti itu agar tidak ketara bahwa ia seorang perempuan. Apakah yang membedakan antara penulis perempuan dan lelaki? Apakah itu semua hanya tentang stereotip?  Ataukah ini murni tentang kecenderungan tertentu dalam menikmati karya sastra? Apapun itu, intinya, saya berharap bisa berkenalan lagi dengan lebih banyak buku dan banyak penulis lainnya. Lewat bacaan. 

Kembali kepada Selasih, Kalau Tak Untung. Saya menyadari sesuatu. Saya menjadi dungu dihadapan buku ini.  Buku ini tak dapat saya terka alurnya. Padahal, tema dan plotnya termasuk umum dan sederhana. Meski telah menerka akan seperti apa nuansa bukunya, saya tetap tak tahu bagaimana buku itu akan berakhir hingga benar-benar di penghujung cerita. Menurut saya ini sesuatu yang asing dan menarik. Mungkin perkara ini mudah menerkanya bagi orang lain. Akan tetapi mengapa tidak bagi saya? Ketika saya bercerita tentang buku tersebut, saudara saya dapat menerka dan mengatakan itu hal yang lumrah. Mengatakan bahwa itu kerap terjadi dan bahkan banyak film yang bercerita demikian. Oh, ternyata saya hanya kurang data training-kah? :D Mesti saya akui, kebebalan saya dalam perkara seperti ini. Terlepas daripada itu, buku ini membuat saya merenungkan kembali arti cinta dan bagaimanakah pijakan manusia dalam memperjuangkannya. Agaknya akan baik apabila seseorang memiliki Rasmani-nya tanpa harus menjadi Masrul. Begitulah, saya kira tak elok membongkar isi cerita buku. 

Sepertinya momen membaca buku ini sangat tepat. Saya sedang memerlukan bacaan senada seperti ini hanya untuk menambah ruang baca saja dan mungkin untuk hal lainnya--siapa tahu. Alhamdulillah, seseorang suatu hari mengunggah tentang buku ini dan dengan ulasannya yang bagus, saya tertarik untuk membacanya. Tidak ada penyesalan sedikit pun akan hal itu. 

Oh, sudah pagi. Sudah dulu. Agaknya ini tulisan paling tak jelas kali ini. Apa boleh buat?


Komentar

Postingan Populer