Cerpen: Horor
Aku
yakin, setiap orang memiliki ketakutannya. Setiap orang tanpa sadar memilih
ketakutannya. Ya, benar. Memilih. Pernahkah kau berpikir bahwa kaulah yang
dengan sengaja memilih dan mengundang rasa takut dalam hidupmu? Kau yang
memilih bentuk dan wujudnya saat kau memilih jalan hidupmu. Apa maksud omong
kosongku ini? Ayolah, Kawan. Pilihanmu dalam hidup menjelma bagaikan sebuah
undangan bagi harapan dan—sialnya—juga ketakutanmu. Contohnya saja, saat
seseorang yang memiliki sesuatu yang berharga, ia berharap selalu memilikinya.
Bukankah ia jadi takut kehilangan? Orang tamak dan serakah, yang menginginkan
banyak hal, takut kekurangan. Orang yang memilih jadi pengecut, takut akan
hal-hal sepele. Orang yang kuat dan bijak, takut tak bisa mengendalikan
dirinya. Manusia memilih ketakutannya sendiri. Mengundangnya ke ambang pintu.
Lalu membangun horor untuk didiami.
Ah, horor. Bagiku, horor itu lahir di
suatu malam di bulan Agustus. Malam musim panas itu, dilatari langit biru
pekat, bulan penuh mengambang dengan cahaya neon. Menembus awan-awan putih. Menerobos
gorden jendela kamarku yang melayang-layang dihembus angin beku. Bukan, aku
sama sekali tak membuka jendela. Itu hal bodoh yang dapat mengundang
keburukan-keburukan lain yang tak kau inginkan sama sekali. Angin itu datang
dari ventilasi yang rengang, yang nyaris seperti jeruji tahanan. Bayangan
ventilasi itu memenjarakan tubuhku yang berbaring di atas tempat tidur, terbungkus
selimut tebal, dengan mata terbuka lebar, nyaris melotot.
Di
malam musim panas dengan angin malam yang beku, untuk pertama kalinya aku
melihat wujud yang tak kusangka akan mengganggu tidurku setiap malam. Ia adalah
sosok berkulit kusam dengan rambut hitam-pegam. Sosok berwajah sendu yang
melayang di muka jendela kamar, ditimpa cahaya neon rembulan. Ia tersenyum dan
melambai padaku. Sedang aku, terpaku pada tatapan matanya yang tajam menawan.
Sendi-sendiku
menggigil. Kupejamkan mata. Berusaha mengusir penampakan itu dari pandanganku.
Menenangkan pikiran hanya untuk mendapati sosok itu melayang-layang dengan tatapan
penuh kemelitan padaku. Rambut masainya diterpa angin dingin yang kering di
malam agustus. Kantung matanya legam dan bibirnya pucat, ia tersenyum padaku.
”Mau
apa kau?” tanyaku padanya.
”Aku
yang harusnya tanya itu, apa maumu?” Senyumnya lenyap. Berganti dengan ucapan
ketus.
”Apa
maksudmu?” Aku bangkit duduk. Menatapnya dengan heran.
”Kau
yang memanggilku,” jawabnya sambil memutar bola mata. Agaknya ia amat kesal
dengan kebodohanku.
”Hah?
Sinting.” Aku memakinya.
”Ya,
memang kau sinting,” ucapnya acuh tak acuh.
Suara
jangkrik mengisi kesunyian di antara kami.
“Apa?”
tanyaku padanya memecah hening.
“Mengapa
kau seperti itu?” Ia malah balik bertanya.
“Seperti
itu bagaimana?” Si aneh ini selalu saja tidak jelas.
“Seperti
menghindariku,” sahutnya.
“Tentu
saja. Tiba-tiba saja kau datang di jendela orang. Mengaku diundang. Apa kau
bahkan manusia?” Kuajukan pembelaan diri yang tak perlu itu.
“Tanyakan
itu pada dirimu.” Ia terdengar amat serius. Matanya menatap dalam padaku. Ini
sedikit mengerikan.
“Apa
hubungannya dengan aku?” kutuntut jawaban darinya. Akan tetapi, alih-alih
jawaban, aku hanya mendapatkan seringainya yang mengerikan di bawah
bayang-bayang sinar rembulan.
“Kau
akan tahu,” ucapnya berseloroh. Lalu, katanya lagi, “Kau akan bukakan jendela
atau tidak?”
“Buat
apa? Siapa tahu niatmu? Bagaimana kalau kau akan menyakitiku?” ucapku
menantang.
“Buat
apa juga aku begitu? Dasar bodoh. Buka saja. Orang cengeng sepertimu akan tetap
merasa tersakiti terlapas dari kau disakiti atau tidak.” Ia berkata dengan nada
acuh tak acuh.
Ingin
rasanya melayangkan tinju pada wajahnya yang sinis itu. Akan tetapi, kutahan-tahan
dorongan itu dan anehnya, tetap kubuka juga jendela. Udara dingin merangsek
masuk. Ia--masih dengan keadaan melayang--akhirnya duduk bersila di muka meja
kayu tempat aku menumpuk—entah apa. Mulai mengotak-atik semua benda yang ada di
sana. Aku hanya mengekori setiap gerak-geriknya dengan mata.
“Payah,”
sambil memandang berkeliling. “Payah,” ujarnya lagi seolah menunggu reaksiku.
Tampangnya sungguh menyebalkan.
“Apa?
Katakan saja!”
“Tidak
ada yang menarik di sini,” ujarnya lagi seraya berkeliling. “Lihat ini? Kau
masih tidur memeluk boneka?” Ia menangkat boneka Cat-Dog dengan ujung jemarinya,
seolah benda itu sangat menjijikkan. Aku segera menyambar boneka itu darinya.
“Mau
apa kau?” tanyaku tajam.
“Tanyakan
itu pada dirimu sendiri,” ucapnya.
“Pergi
saja,” pintaku. Aku sudah bosan.
“Oke,
kenapa kau masih menahanku di sini?” Lagi-lagi pertanyaan gila, dengan gelagat
tak peduli apapun.
“Aku
tidak menahanmu.” Itu benar. Aku tak menahannya. Atau, apakah begitu?
Alisnya
terangkat dengan ekspresi yang memuakkan. Aku mendengkus kasar. Berjalan ke
jendela dan membukanya dengan lebar. Dengan seringai sinis, ia berlalu, terbang
melayang. Sejak itu, setiap malam, aku mulai terbiasa pada penampakan--sosok
bergaun putih, berwajah murung yang menyebalkan--itu hadir di luar jendela
kamar. Melayang-layang dengan anggun namun mencekam. Dan … entah mengapa,
selalu kubuka jendela untuknya. Sesekali kami bercakap-cakap. Lebih tepatnya,
aku yang membual padanya. Dan, tentu saja ia akan mencerca dan menghinaku
dengan sepenuh jiwa kelamnya.
Seperti
malam ini. Ia datang lagi. Wajahnya kecut. Dengan rambut yang acak-acakan.
”Kau
tahu. Esok aku akan menjadi orang yang sukses. Membantu banyak orang,” ujarku
tiba-tiba. Ia hanya memasang wajah mengejek untukku.
”Tapi
kau hanya membual saja. Kerjaanmu bermalas-malasan dan tidur. Kau tak belajar. Tak
berusaha. Kau mempermalukan dirimu.” Ucapannya merendahkanku sedemikian rupa.
”Apa
menurutmu aku mempermalukan diriku? Aku tidak pernah melakukan hal bodoh di
hadapan orang banyak.” Itu benar. Aku tak pernah melakukan tindakan bodoh.
“Tsk,
Di hadapan orang banyak?” Ia tertawa merendahkan, seperti ada hal lain yang
ingin disampaikannya. Seperti menantangku, “bagaimana
di hadapan diri sendiri, di saat kau sendiri?” Seperti itu. Lalu, dengan
sikap mencelanya yang biasa, ia berkata,“Kau hanya pengecut. Coba katakan apa
yang kau maksud dengan tindakan bodoh?!”
“Apapun
yang mereka lakukan dan berakhir mempermalukan diri,” balasku, masa bodoh.
Ia
mendecak lagi, sungguh menjengkelkan. Kemudian, ia berkata sinis, ”Angkuhnya.”
Setelah melempar senyum yang mengejak, ia melanjutkan, ”Menurutmu kau tidak
mempermalukan diri? Apa-apaan janji kosongmu itu kalau bukan penistaan terhadap
diri sendiri? Kau meludahi wajahmu, tahu? Dan katakan tindakan tak bodoh apa
yang telah kau lakukan? Kau bahkan tidak melakukan apa-apa tetapi menghina
orang yang mencoba. Dasar pengecut. Kelihatan jelas, tahu?”
Ada
jeda panjang setelah kata-katanya menebas egoku. Aku hanya diam, tak berkata
apa-apa. Begitu pula dengannya. Akan tetapi, aku tahu bahwa ia menikmati setiap
penghinaan yang dilontarkannya padaku.
”Tadi
siang kupukuli dia.” Kalimatku mengawang tak bertuan.
”Ya?
mengapa kau pukul?” sahutnya. Aku sedikit terkejut. Tersadar bahwa ia masih di
sini. Apakah kami sudah berdiam diri selama itu? Ah, tidak penting.
”Ia
kembali menghina dan mengerjaiku,” ucapku. Suaraku langsung ditelan udara yang
hampa.
”Kau
belum mengatasinya? Belum melaporkannya juga?” Makhluk ini terdengar prihatin.
Aneh sekali.
”Apa
gunanya?” Ya, itu pertanyaan yang tak perlu.
”Agar
mereka bisa menerima ganjaran dari perbuatannya.” Jawaban yang juga tak perlu. Tentu
saja aku tahu apa gunanya.
”Itu
lucu sekali,” sarkasku.
”Jadi
kau tak memukul mereka?” Lalu ia tertawa dengan keras. Menertawaiku dengan
sepenuh hantu.
”Aku
memukulinya, dalam kepalaku. Berulang kali.” Kukatakan itu dengan tegas.
”Dasar
sakit. Kau tak boleh begitu.” Ia seperti tak habis pikir.
”Daripada
kupukul benaran.” Itu benar. Mengapa juga harus kupukul dia?
”Kau
merusak jiwamu. Kau memendam bukan menghadapi masalah.” Ia mengatakannya seolah
aku orang paling bodoh di dunia.
”Tahu
apa kau?”
”Tentu
saja aku tahu. Lebih daripada yang kau tahu. Bahkan aku kenal kau lebih
daripada kau kenal diri sendiri,” jawabannya terdengar amat meyakinkan. Ia
mengusik sesuatu dalam diriku. Lagi-lagi, entah mengapa ia membuatku ketakutan
setengah mati. Juga amat kesal. Semuanya bercampur dalam amarah yang tak tahu
kuajukan pada siapa.
“Pergi
sajalah!” Bentakku. Aku tahu aku mengatakan itu dengan sangat kurang ajar. Toh,
dia tidak peduli dan akan mengejekku lagi. Benar saja. Ia melayang enteng
keluar jendela.
Aku
menutup tirai dengan kasar. Ia hanya tertawa nyaring. Amat nyaring. Sialan! Ia
sangat menyebalkan, tetapi, entah mengapa aku terus mengharapkan kehadirannya. Sial!
Suara tawanya tak berhenti juga. Kututup mata, mencoba mengabaikannya. Berusaha
untuk tidur dalam ruang yang kelam. Sesaat kemudian, suaranya tak lagi
terdengar, namun, berganti dengan suara ketukan jendela. Berulang kali. Makin
lama, makin keras hantamannya.
”Diamlah!”
hardikku padanya.
Angin
dari ventilasi menyibak gorden jendela. Seseorang berdiri di sana. Berdiri. Mengetuk.
“Hai!
Sudah tidur, cupu?!”
Aku
sedikit terkejut. Sangat amat mengenal suara itu. Mau apa dia ke sini?
Aku
tetap dalam posisi. Berpura-pura tak mendengar apapun. Berpura-pura tidur. Lalu
terdengar tawa jahil. Lalu suara cipratan air menabrak jendela. Juga suara
benda yang menimpa jendela kamarku. Sepertinya mereka tahu bahwa aku tinggal
sendiri malam ini.
“Memang
pecundang! Kau akan diam saja?” Tiba-tiba saja sosok itu sudah berada di
sisiku. Ia berbisik setengah mengejek. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan,” ucapnya
dengan penuh sugestif. ”Ayo, lakukanlah.”
Suara-suara
tawa yang memuakkan itu masih terdengar di luar jendela. Bau got dan telur
busuk menguar. Darahku mendidih. Aku segera bangkit. Akan kubuat mereka
menyesal.
***
Malam
berlalu dengan tenang. Sudah sebulan sejak kejadian itu. Si sosok misterius tak
pernah lagi mengunjungiku. Terkadang aku ingin membual padanya, namun, ia tak
pernah datang lagi. Maka, malam-malam yang kulalui terasa lebih menyiksa. Aku
bolak-balik saja di kamar. Tiduran di lantai. Hampir hilang akal. Tak tahu apa
yang harus kulakukan apabila malam datang menyergap. Sering kusibak gorden.
Mengira ia akan muncul seperti malam-malam yang lalu. Namun, sia-sia. Makhluk
sialan itu lenyap entah ke mana. Terkadang, aku kembali mengulang dalam kepala, malam
terakhir saat kuhardik ia--menyuruhnya pergi, dan menyesali perkataanku itu.
Kini,
kepalaku hendak pecah setiap kali mendengar suara ambulans atau sirine patroli
polisi.
Payah. Aku mengulangi
ucapanya dulu. Payah. Kuedarkan
pandang pada ruang kelam yang muram ini. Dia benar. Tidak ada yang menarik di
sini. Aku berjalan mendekati meja. Melirik pada buku-buku, jurnal tak berisi,
serta kertas-kertas bersih. Pena dan
pensil tergeletak menyedihkan. Kursor hanya berkedip-kedip di laman kosong
laptop. Di luar sana, hujan mengguyur. Lampu kamar berkedap-kedip seperti
kursor yang tak kunjung beranjak tempat, pupus harapan. Kuhampiri jendela yang diterpa
tempias air. Membukanya dengan lebar. Seketika angin dan hujan menampar muka--juga kasurku. Dingin, tajam, dan menusuk kulit. Rasanya wajahku seperti baru saja
digores ujung pena. Aku memandang jauh ke bawah sana, di jalan raya, tempat sirine
nyaring bergema. Begitu pula suaranya dalam kepala.
Kau tahu apa yang harus kau lakukan. Ayo, lakukanlah.
Kota
Bertuah, 13 September 2025
Komentar
Posting Komentar