Cerpen: Horor

Oleh: S. N. Aisyah

Aku yakin, setiap orang memiliki ketakutannya. Setiap orang tanpa sadar memilih ketakutannya. Ya, benar. Memilih. Pernahkah kau berpikir bahwa kaulah yang dengan sengaja memilih dan mengundang rasa takut dalam hidupmu? Kau yang memilih bentuk dan wujudnya saat kau memilih jalan hidupmu. Apa maksud omong kosongku ini? Ayolah, Kawan. Pilihanmu dalam hidup menjelma bagaikan sebuah undangan bagi harapan dan—sialnya—juga ketakutanmu. Contohnya saja, saat seseorang yang memiliki sesuatu yang berharga, ia berharap selalu memilikinya. Bukankah ia jadi takut kehilangan? Orang tamak dan serakah, yang menginginkan banyak hal, takut kekurangan. Orang yang memilih jadi pengecut, takut akan hal-hal sepele. Orang yang kuat dan bijak, takut tak bisa mengendalikan dirinya. Manusia memilih ketakutannya sendiri. Mengundangnya ke ambang pintu. Lalu membangun horor untuk didiami.


Ah, horor. Bagiku, horor itu lahir di suatu malam di bulan Agustus. Malam musim panas itu, dilatari langit biru pekat, bulan penuh mengambang dengan cahaya neon. Menembus awan-awan putih. Menerobos gorden jendela kamarku yang melayang-layang dihembus angin beku. Bukan, aku sama sekali tak membuka jendela. Itu hal bodoh yang dapat mengundang keburukan-keburukan lain yang tak kau inginkan sama sekali. Angin itu datang dari ventilasi yang rengang, yang nyaris seperti jeruji tahanan. Bayangan ventilasi itu memenjarakan tubuhku yang berbaring di atas tempat tidur, terbungkus selimut tebal, dengan mata terbuka lebar, nyaris melotot.

Di malam musim panas dengan angin malam yang beku, untuk pertama kalinya aku melihat wujud yang tak kusangka akan mengganggu tidurku setiap malam. Ia adalah sosok berkulit kusam dengan rambut hitam-pegam. Sosok berwajah sendu yang melayang di muka jendela kamar, ditimpa cahaya neon rembulan. Ia tersenyum dan melambai padaku. Sedang aku, terpaku pada tatapan matanya yang tajam menawan.

Sendi-sendiku menggigil. Kupejamkan mata. Berusaha mengusir penampakan itu dari pandanganku. Menenangkan pikiran hanya untuk mendapati sosok itu melayang-layang dengan tatapan penuh kemelitan padaku. Rambut masainya diterpa angin dingin yang kering di malam agustus. Kantung matanya legam dan bibirnya pucat, ia tersenyum padaku.

”Mau apa kau?” tanyaku padanya. 

”Aku yang harusnya tanya itu, apa maumu?” Senyumnya lenyap. Berganti dengan ucapan ketus.

”Apa maksudmu?” Aku bangkit duduk. Menatapnya dengan heran.

”Kau yang memanggilku,” jawabnya sambil memutar bola mata. Agaknya ia amat kesal dengan kebodohanku.

”Hah? Sinting.” Aku memakinya.

”Ya, memang kau sinting,” ucapnya acuh tak acuh.

Suara jangkrik mengisi kesunyian di antara kami.

“Apa?” tanyaku padanya memecah hening.

“Mengapa kau seperti itu?” Ia malah balik bertanya.

“Seperti itu bagaimana?” Si aneh ini selalu saja tidak jelas.

“Seperti menghindariku,” sahutnya.

“Tentu saja. Tiba-tiba saja kau datang di jendela orang. Mengaku diundang. Apa kau bahkan manusia?” Kuajukan pembelaan diri yang tak perlu itu.

“Tanyakan itu pada dirimu.” Ia terdengar amat serius. Matanya menatap dalam padaku. Ini sedikit mengerikan.

“Apa hubungannya dengan aku?” kutuntut jawaban darinya. Akan tetapi, alih-alih jawaban, aku hanya mendapatkan seringainya yang mengerikan di bawah bayang-bayang sinar rembulan.

“Kau akan tahu,” ucapnya berseloroh. Lalu, katanya lagi, “Kau akan bukakan jendela atau tidak?”

“Buat apa? Siapa tahu niatmu? Bagaimana kalau kau akan menyakitiku?” ucapku menantang.

“Buat apa juga aku begitu? Dasar bodoh. Buka saja. Orang cengeng sepertimu akan tetap merasa tersakiti terlapas dari kau disakiti atau tidak.” Ia berkata dengan nada acuh tak acuh.

Ingin rasanya melayangkan tinju pada wajahnya yang sinis itu. Akan tetapi, kutahan-tahan dorongan itu dan anehnya, tetap kubuka juga jendela. Udara dingin merangsek masuk. Ia--masih dengan keadaan melayang--akhirnya duduk bersila di muka meja kayu tempat aku menumpuk—entah apa. Mulai mengotak-atik semua benda yang ada di sana. Aku hanya mengekori setiap gerak-geriknya dengan mata.

“Payah,” sambil memandang berkeliling. “Payah,” ujarnya lagi seolah menunggu reaksiku. Tampangnya sungguh menyebalkan.

“Apa? Katakan saja!”

“Tidak ada yang menarik di sini,” ujarnya lagi seraya berkeliling. “Lihat ini? Kau masih tidur memeluk boneka?” Ia menangkat boneka Cat-Dog dengan ujung jemarinya, seolah benda itu sangat menjijikkan. Aku segera menyambar boneka itu darinya.

“Mau apa kau?” tanyaku tajam.

“Tanyakan itu pada dirimu sendiri,” ucapnya.

“Pergi saja,” pintaku. Aku sudah bosan.

“Oke, kenapa kau masih menahanku di sini?” Lagi-lagi pertanyaan gila, dengan gelagat tak peduli apapun.

“Aku tidak menahanmu.” Itu benar. Aku tak menahannya. Atau, apakah begitu?

Alisnya terangkat dengan ekspresi yang memuakkan. Aku mendengkus kasar. Berjalan ke jendela dan membukanya dengan lebar. Dengan seringai sinis, ia berlalu, terbang melayang. Sejak itu, setiap malam, aku mulai terbiasa pada penampakan--sosok bergaun putih, berwajah murung yang menyebalkan--itu hadir di luar jendela kamar. Melayang-layang dengan anggun namun mencekam. Dan … entah mengapa, selalu kubuka jendela untuknya. Sesekali kami bercakap-cakap. Lebih tepatnya, aku yang membual padanya. Dan, tentu saja ia akan mencerca dan menghinaku dengan sepenuh jiwa kelamnya.

Seperti malam ini. Ia datang lagi. Wajahnya kecut. Dengan rambut yang acak-acakan.

”Kau tahu. Esok aku akan menjadi orang yang sukses. Membantu banyak orang,” ujarku tiba-tiba. Ia hanya memasang wajah mengejek untukku.

”Tapi kau hanya membual saja. Kerjaanmu bermalas-malasan dan tidur. Kau tak belajar. Tak berusaha. Kau mempermalukan dirimu.” Ucapannya merendahkanku sedemikian rupa.

”Apa menurutmu aku mempermalukan diriku? Aku tidak pernah melakukan hal bodoh di hadapan orang banyak.” Itu benar. Aku tak pernah melakukan tindakan bodoh.

“Tsk, Di hadapan orang banyak?” Ia tertawa merendahkan, seperti ada hal lain yang ingin disampaikannya. Seperti menantangku, “bagaimana di hadapan diri sendiri, di saat kau sendiri?” Seperti itu. Lalu, dengan sikap mencelanya yang biasa, ia berkata,“Kau hanya pengecut. Coba katakan apa yang kau maksud dengan tindakan bodoh?!”

“Apapun yang mereka lakukan dan berakhir mempermalukan diri,” balasku, masa bodoh.

Ia mendecak lagi, sungguh menjengkelkan. Kemudian, ia berkata sinis, ”Angkuhnya.” Setelah melempar senyum yang mengejak, ia melanjutkan, ”Menurutmu kau tidak mempermalukan diri? Apa-apaan janji kosongmu itu kalau bukan penistaan terhadap diri sendiri? Kau meludahi wajahmu, tahu? Dan katakan tindakan tak bodoh apa yang telah kau lakukan? Kau bahkan tidak melakukan apa-apa tetapi menghina orang yang mencoba. Dasar pengecut. Kelihatan jelas, tahu?”

Ada jeda panjang setelah kata-katanya menebas egoku. Aku hanya diam, tak berkata apa-apa. Begitu pula dengannya. Akan tetapi, aku tahu bahwa ia menikmati setiap penghinaan yang dilontarkannya padaku.

”Tadi siang kupukuli dia.” Kalimatku mengawang tak bertuan.

”Ya? mengapa kau pukul?” sahutnya. Aku sedikit terkejut. Tersadar bahwa ia masih di sini. Apakah kami sudah berdiam diri selama itu? Ah, tidak penting.

”Ia kembali menghina dan mengerjaiku,” ucapku. Suaraku langsung ditelan udara yang hampa.

”Kau belum mengatasinya? Belum melaporkannya juga?” Makhluk ini terdengar prihatin. Aneh sekali.

”Apa gunanya?” Ya, itu pertanyaan yang tak perlu.

”Agar mereka bisa menerima ganjaran dari perbuatannya.” Jawaban yang juga tak perlu. Tentu saja aku tahu apa gunanya.

”Itu lucu sekali,” sarkasku.

”Jadi kau tak memukul mereka?” Lalu ia tertawa dengan keras. Menertawaiku dengan sepenuh hantu.

”Aku memukulinya, dalam kepalaku. Berulang kali.” Kukatakan itu dengan tegas.

”Dasar sakit. Kau tak boleh begitu.” Ia seperti tak habis pikir.

”Daripada kupukul benaran.” Itu benar. Mengapa juga harus kupukul dia?

”Kau merusak jiwamu. Kau memendam bukan menghadapi masalah.” Ia mengatakannya seolah aku orang paling bodoh di dunia.

”Tahu apa kau?”

”Tentu saja aku tahu. Lebih daripada yang kau tahu. Bahkan aku kenal kau lebih daripada kau kenal diri sendiri,” jawabannya terdengar amat meyakinkan. Ia mengusik sesuatu dalam diriku. Lagi-lagi, entah mengapa ia membuatku ketakutan setengah mati. Juga amat kesal. Semuanya bercampur dalam amarah yang tak tahu kuajukan pada siapa.

“Pergi sajalah!” Bentakku. Aku tahu aku mengatakan itu dengan sangat kurang ajar. Toh, dia tidak peduli dan akan mengejekku lagi. Benar saja. Ia melayang enteng keluar jendela.

Aku menutup tirai dengan kasar. Ia hanya tertawa nyaring. Amat nyaring. Sialan! Ia sangat menyebalkan, tetapi, entah mengapa aku terus mengharapkan kehadirannya. Sial! Suara tawanya tak berhenti juga. Kututup mata, mencoba mengabaikannya. Berusaha untuk tidur dalam ruang yang kelam. Sesaat kemudian, suaranya tak lagi terdengar, namun, berganti dengan suara ketukan jendela. Berulang kali. Makin lama, makin keras hantamannya.

”Diamlah!” hardikku padanya.

Angin dari ventilasi menyibak gorden jendela. Seseorang berdiri di sana. Berdiri. Mengetuk.

“Hai! Sudah tidur, cupu?!”

Aku sedikit terkejut. Sangat amat mengenal suara itu. Mau apa dia ke sini?

Aku tetap dalam posisi. Berpura-pura tak mendengar apapun. Berpura-pura tidur. Lalu terdengar tawa jahil. Lalu suara cipratan air menabrak jendela. Juga suara benda yang menimpa jendela kamarku. Sepertinya mereka tahu bahwa aku tinggal sendiri malam ini.

“Memang pecundang! Kau akan diam saja?” Tiba-tiba saja sosok itu sudah berada di sisiku. Ia berbisik setengah mengejek. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan,” ucapnya dengan penuh sugestif. ”Ayo, lakukanlah.”

Suara-suara tawa yang memuakkan itu masih terdengar di luar jendela. Bau got dan telur busuk menguar. Darahku mendidih. Aku segera bangkit. Akan kubuat mereka menyesal.

***

Malam berlalu dengan tenang. Sudah sebulan sejak kejadian itu. Si sosok misterius tak pernah lagi mengunjungiku. Terkadang aku ingin membual padanya, namun, ia tak pernah datang lagi. Maka, malam-malam yang kulalui terasa lebih menyiksa. Aku bolak-balik saja di kamar. Tiduran di lantai. Hampir hilang akal. Tak tahu apa yang harus kulakukan apabila malam datang menyergap. Sering kusibak gorden. Mengira ia akan muncul seperti malam-malam yang lalu. Namun, sia-sia. Makhluk sialan itu lenyap entah ke mana. Terkadang, aku kembali mengulang dalam kepala, malam terakhir saat kuhardik ia--menyuruhnya  pergi, dan menyesali perkataanku itu.

Kini, kepalaku hendak pecah setiap kali mendengar suara ambulans atau sirine patroli polisi.

Payah. Aku mengulangi ucapanya dulu. Payah. Kuedarkan pandang pada ruang kelam yang muram ini. Dia benar. Tidak ada yang menarik di sini. Aku berjalan mendekati meja. Melirik pada buku-buku, jurnal tak berisi, serta kertas-kertas bersih. Pena  dan pensil tergeletak menyedihkan. Kursor hanya berkedip-kedip di laman kosong laptop. Di luar sana, hujan mengguyur. Lampu kamar berkedap-kedip seperti kursor yang tak kunjung beranjak tempat, pupus harapan. Kuhampiri jendela yang diterpa tempias air. Membukanya dengan lebar. Seketika angin dan hujan menampar muka--juga kasurku. Dingin, tajam, dan menusuk kulit. Rasanya wajahku seperti baru saja digores ujung pena. Aku memandang jauh ke bawah sana, di jalan raya, tempat sirine nyaring bergema. Begitu pula suaranya dalam kepala.

Kau tahu apa yang harus kau lakukan. Ayo, lakukanlah.


Kota Bertuah, 13 September 2025


Komentar

Postingan Populer