Day 1 Breaking The Prison of Mind's Cage
Saya sedang berpikir untuk menutup jendela. Saya sangat ingin sendiri dan mendengar suara-suara dalam kepala ini. Tak peduli seberapa menakutkannya ia. Mungkin saya hanya akan meracau untuk beberapa saat. Meninggalkan sebentar jadwal yang sudah saya atur untuk blog ini. Saya kira, permasalahan ini tak akan selesai jika saya tak benar-benar menghadapinya.
Saya sadar, bahwa memaki dan mengeluh tak akan memberikan solusi. Barang kali saya hanya banyak omong. Ya, Jika benar demikian, saya hanya perlu untuk mengakuinya dan memutuskan apa langkah saya selanjutnya tentang hal itu. Saya ingin menjadi orang yang bicara seperlunya saja. Semua butuh proses. Maka yang perlu saya lakukan adalah berjuang dan bersabar dalam perjalanannya.
Saya putuskan untuk mengambil waktu. Membiarkan diri menjadi nyaman tanpa ancaman atau kekhawatiran apapun meskipun hanya sedetik dalam satu hari. Ini memang tidak bijak untuk menulis dan mempublish hal-hal begini. Akan tetapi, saya tahu, satu-satunya pembaca setia blog ini adalah diri saya sendiri. Jadi, tidak masalah.
Ponsel saya baru saja mati setelah seharian saya gunakan ... dan saya tak berniat untuk menyalakannya lagi. Meskipun sebaiknya saya mengunggah beberapa hal di instagram--mengingat baru saja beberapa hari yang lalu saya memutuskan untuk membagikan fiksi mini secara berkala di sana--akan tetapi, saya kira tak perlu mengkhawatirkan hal itu. Tak perlu mengkhawatirkan apa-apa dulu. Saya akan ambil waktu. Sebentar saja, hingga saya mendapatkan stabilitas diri.
Kegagalan-kegagalan adalah tempat belajar.. Mudah untuk mengatakan, namun, sulit untuk dikerjakan. Sampai hari ini, saya sangat takut membagikan pada orang lain mimpi-mimpi dan cita-cita saya. Saya tak berani mengatakan secara lantang keinginan saya. Mungkin, sebaiknya memang bukan dikatakan, tetapi dijalani, dilakukan.
Saya sadar bahwa kemampuan menulis saya menurun drastis. Meskipun sbeelumnya tidak dapat dikatakan baik, akan tetapi sekarang lebih parah lagi. Tidak apa-apa. Tentu saja, pisau yang diletakkan lama akan menjadi tumpul. Apalagi jika diletakkan dekat air, ia akan berkarat. Mari kita tarik napas, dan mulai mengasah atau bahkan mereparasinya. Saya hanya perlu lebih berani dalam menulis. Jujur dan berani. Dua hal yang sangat sulit dilakukan tanpa bias dalam menulis rahasia kita, akan tetapi dalam waktu yang sama juga merupakan dua hal yang menjadi napas dalam tulisan itu sendiri.
Saya paham bahwa saya tertinggal jauh dalam hal apapun. Tidak apa-apa. Toh, sekarang akhirnya saya sadar. Saya akan memberikan diri saya kesempatan sekali lagi. Saya berhak memberikan diri saya kesempatan sekali lagi, dan berhak pula menerimanya dari diri sendiri.
Hari ini, saya benar-benar mencoba tak mengkhawatirkan apapun. Tak mengambil tanggung jawab apapun bahkan dalam urusan pekerjaan rumah. Lihatlah orang-orang baik ini, mereka membiarkannya, tak menuntut saya sedikitpun. Semoga Allah selalu memberkahi mereka semua.
Saya berusaha tak merasa bersalah seperti yang selalu saya lakukan. Saya membiarkan diri saya dimanjakan tinimbang terus-menerus menolaknya dan merasa bersalah akan hal itu. Saya berpikir, mungkin ini yang saya butuhkan. Tidak melulu dihantui rasa bersalah sebab tak mampu dan tak bertanggung jawab. Jadi, saya hanya meminum susu cokelat dengan tenang tanpa mengambil tanggung jawab apapun. Oh, saya baru sadar, lagi-lagi saya melewatkan waktu makan. Pantas saja tubuh saya seperti melayang.
Oh, betapa egosentrisnya mengenang berapa banyak kata 'saya' di sini. Tidak apa-apa. Perlahan-lahan dikurangi. Terakhir, saya sangat benci dan jijik akan jurnal harian, tetapi tampaknya ini adalah awal saya menuliskannya. Taste my own medicine.
Rabu, 24 September 2025
Komentar
Posting Komentar