Day 2 Breaking The Prison of Mind's Cage
Hujan! Sore ini hujan lagi. Sungguh menyenangkan berdiri di teras menampung hujan di tangan sementara angin datang menerjang membawa hujan membasahi kita. Jika saja bisa menikmati hujan secara langsung tanpa terlihat oleh orang-orang, tentu kita akan melakukannya. Sayang sekali, sudah terlalu tua, terlihat tak pantas bermain hujan. Ya, terlihat tak pantas bukan tak pantas. Oh, need more privacy. Akan tetapi, tak mengapa, dapat tempiasnya saja sudah senang. Ayah menegur kelakuan kekanakan ini, tentu saja langsung menurut dan masuk ke dalam rumah. Kalau dipikir-pikir, ini benar-benar kekanakan. Mau bagaimana lagi? Jiwa bocah dalam diri ini selalu saja meronta-ronta untuk menyentuh hujan. Ha ha. Begitulah hujan, muram dan riuh namun membawa ketenangan dan kesenangan.Bukankah hujan itu rahmat yang harus disyukuri? Saat menulis ini pun masih terdengar suara hujan yang mulai mereda diselingi oleh gemuruh-gemuruh kecil bersamanya.
Mengapa tulisan ini sangat kaku dan aneh, ya? Sangat geli membacanya.Ya sudahlah. Yuk lanjut lagi.
Tadi kembali baca buku Kecerdasan Matematis. Jadi, berdasarkan pendapat Junaid Mubeen, manusia itu memiliki sistem berpikir hibrid. Yaitu perpaduan manuver dan kerjasama antara bekal pengetahuan awal yang telah terpogram dalam diri manusia dengan algoritma pembelajaran sehari-hari. Dengan kata lain, manusia bukanlah kertas kosong, namun, ia telah memiliki kemampuan dasar yang telah terprogram dalam dirinya.
Misalnya saja, ternyata manusia memiliki persepsi numerik akurat dalam jumlah kecil. Jadi, manusia secara intuitif dapat menghitung dengan tepat jika benda itu kurang dari empat bilangan--tanpa perlu berpikir. Untuk memahaminya, bayangkan apabila kita memasuki sebuah ruangan yang di dalamnya ada tiga orang. Apabila ditanya berapa orang-kah di dalam ruangan? Tentu kita dapat dengan mudah untuk mengatakan bahwa di dalam ruangan ada tiga orang.
Namun, apabila di sana ada 7 orang, otak akan beralih menggunakan persepsi numerik estimasi atau perkiraan. Ini benar-benar menarik. Setelah mengetesnya langsung, saya terkejut. Benar, kita dapat dengan mudah menentukan nilai benda yang kurang dari empat tanpa perlu mengira-ngira. Unik sekali bagaimana kita tak menyadari cara otak bekerja bahkan saat kita menggunakannya. Dunia subconsiousness memang selalu menarik untuk dibahas.
Kembali pada sistem berpikir hibrid. Ahlii saraf kognitif Stanislas Dehaene mengatakan bahwa secara hitungan kasar, DNA kita berisi sekitar 6 miliar byte data. Berarti, DNA kita hanya cukup untuk mengisi satu CD-ROM, hal ini tidak dapat menjelaskan kapasitas otak kita yang--menurut prakiraan--besarnya mencapai 100 terabyte. Dengan kata lain, bahkan manusia sendiri tidak mampu mengidentifikasi semua jenis pengetahuan yang mungkin bisa dilahirkan. Dalam hal ini, Mubeen menyebut bahwa,"DNA kita tidak dapat mengidentifikasi sepenuhnya semua jenis pengetahuan yang bisa kita ciptakan."
Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa kombinasi dari kemampuan bawaan manusia dengan pengalaman hidupnya akan mengaktivasi otak. Setiap pengalaman hidup (baik batin dan lahiriah) kita akan memberikan input (pembaruan data) yang akan mempengaruhi cara kita berpikir dan memandang dunia.
Insight yang sangat bagus. Sepertinya saya harus baca ulang buku ini cover to cover.
Kamis, 25 September 2025.
Komentar
Posting Komentar