Day 5 Breaking The Prison of Mind's Cage
Bodoh. Satu kata sederhana yang dapat memicu beragam reaksi jika diucapkan pada orang lain. Kata ini dapat menyinggung sseorang, menyakiti harga diri orang lain, membuatnya sedih, atau mungkin membuat orang itu percaya dengan label yang telah diberikan padanya. Namun, di sisi lain, ada juga yang tak bereaksi apa-apa ketika dikatakan bodoh. Ya, tentu saja ini masuk pada ranah bagaimana kita menyikapi komentar atau perlakuan orang lain terhadap diri kita.
Anyways,
Kembali pada kata bodoh. Bagaimana jika kata itu diberikan kepada kita? Bagaimana jika kita sendiri adalah seorang yang bodoh?
Selamat! ketika kita masih dapat menyadari kebodohan artinya kita masih memiliki kesempatan untuk belajar.
Berdasarkan KBBI bodoh dapat diartikan sebagai
a tidak lekas mengerti; tidak mudah tahu atau tidak dapat (mengerjakan dan sebagainya); bongak;
a tidak memiliki pengetahuan (pendidikan, pengalaman);
a cak terserah (kepadamu)
Penting untuk menata sudut pandang saat perasaan bodoh menghampiri. Jangan pernah berhenti mencoba atau takut mencoba hanya karena kita merasa bodoh. Kebodohan bukanlah suatu hal yang buruk. Ia merupakan sinyal bagi kita untuk terus memperbaiki diri dan belajar. Jika bodoh terdeteksi, maka yang perlu dilakukan hanyalah menyuntikan penangkalnya, yaitu belajar.
Boleh jadi kita tidak lekas mengerti, tidak tangkas, dan tidak memiliki pengetahuan. Akan tetapi, kita memiliki bakat penangkal bodoh. Ya, belajar.
Jika jenis kebodohan kita adalah tidak lekas mengerti, tidak mudah tahu atau tidak dapat mengerjakan sesuatu, maka belajar akan menjadi obatnya. Lamban dalam menegrti suatu hal berarti kita hanya perlu meluangkan usaha dan waktu yang lebih terhadap hal tersebut. Mudah dikatakan, sulit dilakukan, Namun, sangat berdampak jika dilaksanakan.
Jika jenis kebodohan kita adalah tidak memiliki pengetahuan (pendidikan atau pengalaman) yang perlu dilakukan adalah carilah pengetahuan dan pengalaman itu dengan belajar. Belajar tak mesti di ruang-ruang kelas, belajar dapat di mana saja. Mudahnya akses infromasi saat ini memungkinkan kita untuk lebih terpapar dengan sumber-sumber pengetahuan.
Jika jenis kebodohan kita adalah terserah pada diri kita, dalam artian tak ada yang peduli, ini lebih bagus. Artinya kita dapat memilih hal mana yang akan kita pedulikan. Apa yang hendak kita pelajari. Atau jalan manakah yang akan kita tempuh.
Semua ini kembali lagi pada pilihan kita. Apakah memiliki kebodohan membuat kita berhenti atau bangkit darinya. Kita selalu punya pilihan dan setiap pilihan selalu ada konsekuensinya.
Sebuah pepatah dari Imam Syafi,"Barang siapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar, maka akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya,"
Merasa bodoh adalah hal yang baik jika disertai dengan kesadaran untuk belajar bukan malah menangisi nasib dan berhenti mencoba karenanya. Yang berbahaya adalah tak mau mengakui kebodohan dan selalu merasa pintar atau hebat sehingga tak mau membuka kesempatan untuk diri belajar dan berkembang.
Sabtu, 28 September 2025
Komentar
Posting Komentar