Fiksi Mini: Padam

Oleh: S. N. Aisyah


Dahulu, aku sangat benci ketika listrik padam. Apalagi di masa liburan semester sekolah. Susahnya tinggal di pelosok desa, ya, seperti itu. Mengapa  kota besar atau pusat pemerintahan dapat asupan listrik dua puluh empat jam sedangkan kami mesti mengantri giliran pemadaman listrik empat jam (sekali hingga dua kali) dalam sehari? Jika melihat pada tempat yang belum mendapatkan listrik, tentu saja aku bersyukur, tetapi itu lagi masalahnya kan? Apa bedanya hak kami dengan kota besar atau pusat pemerintahan daerah? Apakah sebab kebutuhan listrik kami tak begitu banyak makanya sering dipadamkan untuk penghematan? Bukankah lebih logis jika penghematan dilakukan pada wilayah yang banyak menggunakan listrik? Apa karena faktor keberlangsungan perekonomian? Apapun itu, seorang bocah SMP pinggiran sepertiku hanya ingin menonton film box office di liburan sekolah. Di Tv analog, tentu saja.


Sejak penerimaan lapor, aku sudah menghapal jadwal tayang film Spiderman. Rabu malam, Spiderman 1, Kamis malam Spiderman 2. Maka sejak Sabtu, aku sudah menanti-nanti saat untuk menontonnya. Seperti yang senin lalu, Rabu malam, tepat pukul  7, listrik padam. Program Box Office itu baru akan mulai, harapanku pupus sia-sia. Meskipun kecewa tetapi tak mengapa.  Awalnya. 

Semua menjadi masalah pada saat lstrik kembali padam kamis malam. Aku hampir saja menangis. Tidak, bukan karena bersedih tetapi kesal. Tahun lalu, saat baru setengah jalan menonton Spiderman 2, listrik juga padam. Tak kepalang kesal hatiku. Tipikal bocah SMP labil, aku mengomel akan hal tak penting.  Saat omelanku terus berlanjut, seseorang membekap mulutku. 

"Sttt. Berisik," katanya berbisik di telingaku. Itu suara kakak. Aku yang makin sebal, menepis tangannya.

"Apa sih, Kak?"  nadaku menjadi tinggi. 

"Apa?" tanya kakak muncul dari pintu dapur membawa sebatang lilin yang menyala. Api lilin menari-nari kecil di tangan kakak--mengikuti irama langkahnya. Menerangi lorong hingga ke ruang tamu tempatku menonton TV. Jantungku seolah berhenti sejenak. Tidak mungkin. Baru saja kakak berbisik di sampingku. 

Aku menoleh ke samping. Kakak tengah duduk melotot pada Kakak yang membawa lilin. 

"Siapa dia?" tanya Kakak yang duduk di sampingku. Suaranya lirih. Amat menyeramkan. Seketika ruangan gelap kembali.



Komentar

Postingan Populer