Fiksi Mini: Prasangka
Oleh: S. N. Aisyah
Aku tidak begitu kenal dengan gadis itu. Dia bereputasi sebagai seorang pendiam, bertampang 'baik', dan berkelakuan 'santun'. Tapi, jangan mau tertipu dengan tampang sok polosnya. Dia hanyalah seorang arogan yang berpura-pura baik di tempat yang menguntungkannya. Di balik sikap kalemnya itu, aku tahu ada yang salah dengan anak ini.
Sabtu kemarin, aku sempat bertemu dengannya di halte bus. Jarak kami tak lebih 10 meter. Aku sedang berjalan ke halte sementara ia sedang duduk di sana sendirian. Tak ada yang 'istimewa' dari bocah ini selain tak banyak omong dan jarak rumahnya yang amat jauh dari kampus.
Aku, sebagai 'kawan' yang kebetulan baru semester ini mengambil kelas yang sama, tersenyum padanya--saat kami bertatap wajah. Namun, bocah itu langsung berpaling, dengan raut yang sangat menyebalkan.
Tak mungkin dia tak kenal aku. Baru hari sebelumya kami berdiskusi di kelas. Benar-benar adu argumen sehat. Lagian, sebelum mengambil kelas yang sama, kami sudah sering bertegur sapa saat ia bergabung dengan rombongan ceriwisnya itu. Sejak Sabtu itu, aku tahu ada yang salah dengannya.
Hari ini, sangkaanku padanya terbukti. Kami tengah mendalami sebuah diktat saat pintu kelas diketuk dan terbuka. Kelas yang sunyi sehabis siraman rohani tentang kedisiplinan (Ya, sebelum menekuni diktat kami didamprat abis-abisan perkara kedisiplinan kehadiran--Ya, ya, benar. Seperti anak sekolahan saja,) sontak tersedot pada sumber suara.
Di sana ia, Si Kalem yang mengangguk sekilas dan melenggang menuju bangku belakang. Ia tersenyum lebar pada kawan-kawannya. Memamerkan keberaniannya, saat berjalan memunggungi Pak Herman. Anak sopan, heh?
Terang saja, seisi kelas dapat melihat pembangkangannya saat itu. Aku menyebut ini bukan melebih-lebihkan. Aku punya alasan. Berani sekali ia masuk saat mahasiswa terlambat lainnya putar balik begitu sampai pintu.
"Udah izin telat, ya?" tanya temannya yang duduk tepat di sampingku. Tampak kaget dengan tingkah Si Anak Baik ini.
"Nggak, kok. Macet parah, tahu, 'kan perjalananku dua jam?" Ia mengambil kursi kosong di samping kawannya itu. Ya, kursi yang telah disediakan untuknya.
"Kok berani masuk?" Kawannya, Si Pink (ya, bajunya selalu berwarna pink) yang duduk tempat di barisan depan kami menoleh ke belakang untuk bertanya.
"Ya, mau belajarlah. Emangnya kenapa?" Hah. Sombong sekali jawaban sok polosnya itu. Pintar sekali dia menyaru jadi anak ambis yang tetap akan belajar meski tsunami menghadang.
"Enggak lihat tanda di pintu?" Kawannya yang lain, Si Kepang Kuda, ikut menoleh kebelakang.
"Tanda apa?" Si Sok Kalem bertanya bodoh.
"Tulisan kalo yang telat nggak boleh masuk." Si Kepang Kuda menjawabnya.
"Hah? beneran?" Seketika Si Kalem pucat pasi. Ia terlihat sangat terkejut. Apa ini sandiwaranya? Kelihat nyata, pandai sekali.
"Masa nggak lihat, sih? Kertas HVS ditempel di pintu. Ditulis pake spidol, gede-gede." Seraya menahan tawa, Si Pink menggeleng tak percaya.
"Yah, gimana, dong?" Si Kalem tak lagi terlihat kalem. Ia panik. Panik sungguhan.
"Udah, udah. 'Kan enggak diusir," kawannya yang duduk di sampingku menenangkan. Begitulah bisik-bisik mereka padam hingga kelas usai. Tidak. Aku tak menguping. Hanya kebetulan mendengarkan.
Selesai perkulihan, mereka mengerubungi pintu dari luar. Dengan jarak satu langkah dari pintu, Si Kalem mesti mendongak dan berjinjit untuk melihat kertas yang ditempel padapintu kaca itu. Ya, dia boncel. Letak kertas itu lebih tinggi darinya.
Teman-temannya tertawa.
"Kacamatamu mana? Pantesan nggak bisa baca dari jauh," ledek Si Pink. Kacamata? Aku tak pernah melihatnya pakai kacamata.
"Patah jumat kemarin. Belum sempat ganti," jawabnya sambil lalu seraya membaca tulisan itu. Apa itu sebabnya ia buang muka. Tak mengenaliku? Tapi, ketika kami diskusi hadap-hadap muka, dia tak pakai kacamata.
"Makanya, jangan lepas pasang mulu."Si Kepang Dua menepuk pelan kepala Si Boncel.
"Iya, ya. Lagian nggak separah itu kok minusnya," seraya menepis tangan kawannya, Si Mata Minus ini menjawab ketus.
"Emang nggak separah itu, kok." Dengan nada sarkas, kawannya yang tadi duduk di sampingku 'membenarkan'.
"Tapi, kok Bapak kasih izin masuk, ya?" tanya Si Kalem-- yang menjadi tanya kami semua.
Oh, tidak. Mengapa aku masih menyimak obrolan mereka? Oke, setidaknya aku sekarang tahu. Si Boncel bukannya Sok Kalem. Ia hanya bermata minus. Ada-ada saja. Aku sudah berburuk sangka padanya. Sekarang, menyingkirlah dari pintu, manusia-manusia. Kalian menghalangi jalan!
Ah, sudahlah.
Kamis, 25 September 2025
Komentar
Posting Komentar