Thought: Manusia, Pengertian, Pemahaman, dan Koneksi
Kita bisa saja berkata bahwa kita tak takut dihakimi ataupun ditolak, dan itu bisa jadi benar. Kita memang bisa berselisih pendapat namun diam-diam kita berharap memiliki satu pemahaman. Bukankah manusia lebih mendambakan pengertian, pemahaman, dan keberterimaan dalam hidup? Memang tak semua harus sama, namun, tidakkah manusia senang saat ia memiliki persamaan pandangan atau hanya sekadar dimengerti? Itulah sebabnya manusia berkelompok berdasarkan pemahaman, ideologi, dan value yang sama.
Krisis eksistensial dan alieanasi terjadi ketika manusia tidak dapat menemukan persamaaan pandangan dan pemikiran dengan individu lainnya. Saat ia tak dapat merasakan keterhubungan dengan orang lain secara lebih mendalam. Merasa tak dimengerti. Perasaan tidak dipahami atau bahkan tertolak, berpotensi membuat manusia merasa terisolasi dalam pikiran dan perasaannya. Di saat seperti ini, yang paling diperlukan oleh manusia ialah mengelola emosi dan pola pikir. Mengelola cara kita menghadapi perbedaan dan keterasingan tersebut. Memahami bahwa perbedaan bukanlah musuh ataupun ancaman akan tetapi peluang untuk dapat saling mengerti meski dalam sudut pandang yang tak sama. Akan lebih mudah untuk saling mengerti saat kita memandang perbedaan sebagai spektrum bukan dikotomi. Mengerti tak harus memahami dan/atau memiliki pandangan yang sama. Tak harus menempuh jalan yang sama. Cukup menerima fakta bahwa meskipun lebih mudah jika semua orang memiliki pemahaman dan ideologi yang sama, akan tetapi perbedaan itu ada. Bukan sebagai ancaman namun peluang untuk saling terhubung dan berkembang.
Jumat, 26 September 2025

Komentar
Posting Komentar