Junaid Mubeen dan Tujuh Prinsip Kecerdasan Matematis: Superioritas Manusia Terhadap Mesin


Perkembangan pesat dalam teknologi, terutama AI menuai berbagai tanggapan dan kontroversi.  Maraknya penggunaan Artificial Intelligence (AI) di berbagai bidang memunculkan semangat dan tanggapan positif bahwa manusia tak perlu lagi bekerja keras jika semua itu bisa dilakukan oleh mesin dengan tingkat akurasi yang tinggi bahkan 'sempurna'. Penggunaan mesin juga memangkas banyak biaya. 

Sedangkan, di sisi lain, pesatnya penggunaan teknologi AI memunculkan kekhawatiran bahwa suatu saat nanti peran manusia akan digantikan oleh robot. Bahkan, ada yang sampai mengkhawatirkan bahwa suatu saat AI akan menguasai dunia. Mungkin itu terdengar terlalu ekstrem, tetapi tentu saja kekhawatiran itu nyatanya ada di kalangan beberapa golongan.  

Sudah banyak artikel dan penelitaian yang menjabarkan pro dan kontra AI. Lalu bagaimanakah baiknya kita menyikapi hal ini? Apakah suatu saat AI akan benar-benar menggantikan manusia? 


Mungkin uraian berikut dapat memberikan sedikit sudut pandang untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dalam sebuah buku, seorang matematikawan menuliskan bahwa kecerdasan matematis yang dimiliki manusia adalah salah satu nbentuk superioritas manusia atas mesin. Buku tersebut berjudul Kecerdasan Matematis. 

Kecerdasan Matematis adalah sebuah karya dari Junaid Mubeen seorang lulusan Phd dari Universitas Oxford di bidang matematika. Sebagai seorang ahli matematika, peneliti, pendidik, inovator, dan penulis, maka tak heran saja jika ia menerbitkan buku yang memberikan persepsi terhadap matematika dalam kehidupan. Terutama di abad modren ini, saat teknologi telah amat canggih yang dapat membantu manusia memecahkan masalahnya. Ketergantungan akan kemudahan akses dalam memecahkan masalah ini membuat manusia melupakan kecerdasan yang dimilikinya. 

Junaid mengatakan bahwa banyak sekali persepsi yang keliru terkait kecerdasan matematika. Umumnya pada pendidikan matematika di sekolah, orang hanya terpaku bahwa tolak ukur kecerdasan matematika hanya terbatas pada keahlian kalkulasi. Padahal, matematika lebih dari sekadar berhitung cepat dan tepat. Matematika adalah suatu sistem berpikir. Sistem berpikir guna memecahkan masalah, adalah bagian dari kecerdasan matematika. Dalam bukunya ini, Mubeen menjelaskan tujuh prinsip dasar kecerdasan matematis yang dimiliki oleh manusia yang membuatnya superior daripada mesin. Menurut Mubeen 5 dari 7 prinsip dalam kecerdasan matematis, berkaitan dengan cara berpikir manusia sedangkan dua lainnya berkaitan dengan cara mengatur pikiran dan menuangkannya. Lima poin tersebut akan dituliskan pada urutan lima teratas dalam daftar berikut kemudian disusul oleh dua poin lainnya. 

1. Estimasi

Dalam bukunya, Mubeen (2022) mengatakan bahwa secara alamiah manusia memiliki pemahaman akan bilangan yang didasarkan pada perkiraan bukan pada akurasi (persepsi numerik alami). Pemahaman numerik secara alami ini disebut dengan estimasi. Manusia memiliki bakat alami dalam memperkiraan sesuatu, ini membuktikan bahwa akurasi kalkulasi bukanlah satu-satunya pertanda kecerdasan matematis pada diri seseorang. Akan tetapi, kemampuan untuk memperkirakan sesuatu-lah yang membangun kecerdasan matematis itu. Dalam bukunya, Mubeen memberikan beberapa contoh kasus nyata. Salah satunya adalah Estimasi (taksiran) luas keliling bumi  yang dilakukan Eratosthenes, seorang kepala pustaka Perpustakaan Alexandria pada tahun 250 SM. Atas estimasi akurat dengan perbedaan tak lebih dari 15 persen dan dalam keterbatasan teknologi (yang tidak secanggih saat ini), ia dijuluki sebagai bapak geografi.

2. Representasi

Manusia yang dianugerahi kecerdasan bahasa dan kemampuan untuk mengabstraksi lingkungan sekitarnya membuatnya lebih unggul dari hewan lain bahkan dari mesin. Dua kecerdasan tersebut membantu manusia untuk membentuk suatu kemampuan luar biasa dalam merepresentasikan beragam pengetahuan secara efektif. Kemampuan untuk merepresentasikan sesuatu membantu manusia dalam membangun kecerdasan matematis (kecerdasan pemecahan masalah)

3. Penalaran.

Dari matematika (ilmu perhitungan atau bilangan), kita mengetahui bahwa  kerangka logis adalah elemen paling kuat untuk membuktikan kebenaran permanen. Oleh karena itu, dalam memperoleh kecerdasan matematika, kemampuan kita untuk menalar sesuatu secara logis dapat menyelamatkan dari klaim-klaim yang meragukan. Tidak seperti mesin yang hanya akan mengolah data yang ada sesuai dengan intruksi atau peraturan yang mengikatnya. Kemampuan nalar kritis adalah keunggulan manusia terhadap mesin.

4. Imajinasi

Meskipun kebenaran dari matematika tak terlepas dari serangkaian aksioma atau asumsi awal, namun, sebagai manusia kita memiliki kemampuan imajinasi yang memungkinkan kita untuk terlepas dari ikatan kesepakatan dan mempelajari konsekuesni logis dari pilihan yang kita buat. Kecerdasan matematika berkaitan erat dengan imajinasi. Sebab matematika memberikan ruang untuk berimajinasi akan kemungkinan konsep-konsep menarik dan terkadang aplikatif yang ditemukan yang mungkin saja dapat melanggar aturan (tidak seperti mesin yang tertambat kaku pada aturan).

5. Bertanya.

Kemampuan untuk bertanya adalah keunggulan manusia dari mesin. Jika mesin dapat menjawab masalah atau pertanyaan berdasarkan data dan aturan yang ada, manusia memiliki kemampuan menilai pertanyaan seperti apakah yang layak untuk dijawab. Manusia juga memiliki kemampuan untuk menciptakan atau memprediksi persoalan-persoalan baru yang tak hanya sebatas komputasi rutin saja. 

6. Karakter

Secara biologis, pikiran sadar dan bawah sadar manusia merupakan bentuk khas dari kecerdasan biologis. Pikiran sadar dan bawah sadar manusia membentuk karakteknya. Kesadaran diri untuk memilah karakter inilah yang menjadikan manusia unggul daripada mesin. Untuk dapat memecahkan masalah, manusia memerlukan karakter dan kecakapan memilah informasi dan mengatur kecepatan dalam memecahkan suatu masalah. Ketahanan diri, value, empati, dan hal-hal yang menunjukkan sisi kemanusiawian adalah keunggulan manusia daripada mesin. 

7, Kolaborasi

Manusia dapat melakukan kolaborasi produktif dengan manusia lainnya dalam upaya memecahkan masalah. Bagaimanapun juga, perspektif beragam yang dimiliki oleh manusai tentu tidak akan sama dengan perspektif data yang ada pada mesin.

Demikianlah tujuh keunggulan kecerdasan matematis manusia dibandingkan mesin dari buku Kecerdasan Matematis oleh Junaid Mubeen. 

Manusia memiliki sesuatu yang tak bisa digantikan oleh mesin. Bagaimana pun juga, ketergantungan pada mesin hingga menyia-nyiakan kemampuan manusia bukanlah pilihan. Lalu apakah kita harus meninggalkan AI sepenuhnya? Tentu saja tidak. Sebab AI hanya alat, maka ia membutuhkan operator yang lebih unggul darinya. Secanggih apapun suatu mesin, ia tetap memerlukan manusia sebagai auditor untuk dapat memecahkan masalah dengan efektif, efisien, relevan, dan humanis. Dibanding berpikir bahwa manusia akan dikusai AI, bukankah lebih baik jika manusia yang mengusai AI? Tentu saja bukan dengan cara bergantung padanya, tetapi menjadi pengendali yang dapat memanfaatkannya.

Komentar

Postingan Populer