Book: Kisah-Kisah dari Kafka
Oleh: S. N. Aisyah
Kafka, salah satu penulis paling otentik yang dimiki oleh dunia sastra. Keunikannya dalam menuangkan imajinasi melahirkan istilah baru Kafkaesque. Kafkaesque istilah yang digunakan untuk mendefinisikan keadaan surealis, absurditas, dan kekelaman seperti yang digambarkan Kafka dalam kisah-kisahnya. Penyerapan istilah Kafkaesque tak hanya digunakan dalam dunia literatur akan tetapi juga telah merambah pada ranah lainya, seperti dalam dunia politik yang juga telah meminjam istilah Kafkaesque dalam mendefinisikan keadaaan perpolitikan yang absurd.
Saya kembali membuka catatan saya terkait buku Metamorphosis And Other Stories versi Indonesia. Sebuah kompilasi karya Kafka cetakan penerbit Immortal Publishing, cetakan pertama pada tahun 2018. Memuat 10 judul cerpen dan novela Kafka, buku ini mampu menarik perhatian saya. Masih ingat bagaimana saya tak bisa berhenti membacanya dalam sekali duduk. Ya, membaca sampai larut malam. Sepuluh cerpen ini memuat absurditas dan surealisme yang kental.
Dibuka dengan cerpen pertama yang berjudul 'Pesan Kaisar', Kafka memberikan sindiran atau mungkin sebuah kenyataan yang menampar dunia modren. Pesan Kaisar bercerita tentang seorang Kaisar yang tengah sekarat meminta seseorang untuk membawakan pesannya pada masyarakat. Begitu menerima pesan tersebut, Sang Pembawa Pesan terjebak dalam acara seremonial, ia terjebak di antara orang-orang yang berbondong dan melakukan berbagai seremoni mengantar kematian Kaisar. Mereka berkerumun ingin melihat mayat Kaisar namun, tak pernah mengetahui pesan apa yang ingin disampaikan Kaisar. Tak ada yang pernah benar-benar tahu derita seorang Kaisar dan tak pernah ada yang tahu rahasia, kemalangan ataupun kesenangan yang disembunyikan di balik istana, tidak rakyat sang Kaisar. Tidak pula para pembaca.
Kisah kedua, Metamorphosis. Mungkin semua orang sudah tahu tentang kisah ini. Namun, yang saya dapatkan dari kisah ini adalah bagaimana Gregor Samsa (yang tiba-tiba menjadi serangga itu) menjadi simbol kelamnya keadaan mental seseorang yang mengalami depresi dan krisis ekstensial. Begitu banyak hal yang dapat dikuliti dari kisah ini. Terlalu dalam dan mengesankan cara Kafka membuat pengibaratannya. Perasaan keterasingan, ketidakberdayaan, namun juga keinginan untuk menjadi berguna, perasaan bersalah, serta cinta yang dalam dan menyedihkan dalam hubungan keluarga direkam dengan pahit-getir. Absurditas metamorfosa Gregor adalah simbolisasi yang sangat menohok.
Kisah ketiga, berjudul 'Keputusan' tidak kalah gelap. Ini benar-benar menyayat hati. Kisah keempat, 'Juru Api', yang berkisah tentang pencarian keadlian antara kalangan bawah dan kalangan atas. Kisah kelima, 'Di Koloni Hukuman', sangat menarik. Kisah ini bercerita tantang seorang komandan, opsir, musafir, terdakwa, dan prajurit. Ini meberikan dinamika yang menarik. Ya, i said that again. Peran masing-masing tokoh di hadapan hukum, mengajak kita untuk melihat perspektif mereka. Musafir sebagai orang pengamat memberikan pandangannya terhadap absurditas hukum di tempat itu. Namun, seperti kisah lainnya, akhir cerita ini sangat kelam.
Kisah selanjutnya, 'Dokter Desa' menggambarkan bagaimana profesi dokter masih sangat asing, penuh dengan pesimistis dan sketipsme oleh warga desa. Dalam kisah ini, digambarkan perjuangan Sang Dokter untuk dapat merawat warga desa.
Kisah ketujuh,'Selembar Kertas Tua', sebuah kritk yang sangat tajam terhadap penguasa. Bertema politik, menjabarkan bagaimana suatu penjajahan terbentuk. Istana sebagai pihak yang mengundang penjajah masuk meskipun sudah dapat mencium bahayanya, namun, tetap dilakukan demi kesenangan sesaat untuk golongan tertentu, mereka abai. Hanya berdiam di dalam istana. Hingga saat perjanjian bilateral benar-benar telah dilanggar dan keadaan semakin memburuk, semuanya sudah terlambat untuk memperbaiki keadaan.
'Seniman yang Kelaparan' kisah kedelapan yang sangat disayangkan. Menggambarkan idealisme yang digiling oleh zaman. Mempertahankan idealisme berarti ditinggalkan oleh pembaruan dan pergerakan zaman yang sudah tak lagi melihat nilai dari sebuah idealisme. Seniman Kelaparan populer dengan idealismenya namun kegembiraan penggemarnya tak bertahan lama dan orang lain tidak mengerti akan seninya. Ia akhirnya mati dalam pertunjukkan di tenda sirkus yang bersebelahan dengan hewan-hewan lainmya. Sebelum kematiannya, tak ada yang benar-benar singgah untuk menikmati pertunjukkannya. Setelah ia mati, dengan mudahnya ia digantikan oleh seekor harimau. Lalu ia dilupakan begitu saja. Kisah kesembilan dan Kesepuluh adalah 'Josephine Sang Penyanyi, Atau Tikus' dan 'Di hadapan Hukum' juga tak kalah mind blowing. Begitu indah dan kelam. Berupa kritik sosial terhadap masyarakat dan hukum.
Semua kisah ini menggambarkan keadaan yang aneh dan janggal. Akan tetapi merupakan simbolisasi yang amat tepat terkait hubungan kehidupan dengan simbolisasi dan kritiknya. Nuansa-nuansa muram dan kekelaman serta tragis amat erat dalam setiap kisah. Menyiratkan betapa menderita jiwa yang menyaksikan semua keyataan pahit hidup yang dituangkannya dalam bentuk fiksi.
Komentar
Posting Komentar