Fiksi Mini: Bocah

Oleh: S. N. Aisyah


Aku agak sebal dengan adikku. Usianya sudah 8 tahun. Tetapi sangat takut tiap kali pergi ke kamar mandi. Sering kutanya alasan dari tingkahnya itu. Namun, ia tak menjawab hanya merengek saja. Jika tak ingin terlambat sekolah atau berangkat mengaji, aku terpaksa harus menemaninya, berdiri di balik pintu. Begitulah tiap kali ia hendak ke kamar mandi. Sangat nenyebalkan. 

Suatu hari, om dan tanteku datang berkunjung. Mereka membawa sepupu kecil kami. Umurnya baru tiga tahun. Tetapi ia lebih dewasa dari adikku.

Siang itu, selepas bermain hujan. Sepupu kami itu menghilang. Aku yang diamanahi menjaga dua bocah itu langsung kalut. Mencari-carinya berkeliling. Ia tak ada di mana pun. 

Namun, begitu melewati kamar mandi, kudengar ia tertawa. Tak terkira leganya hatiku. Kuhampiri ia. 

"Kakak, kakak liat ni," katanya sambil menyiramkan air ke dinding kamar mandi. Ia tertawa-tawa. 

"Iya, udah, yuk. Nanti masuk angin," bujukku padanya. Aku bermaksud untuk segera mengguyurnya dan membungkusnya dengan handuk. 

"Tunggu, Kak. Liat tu." Ia kembali menyiram dinding. "Liat kena dia kan?"

"Adek siram apa?" Kali ini kuperhatikan dinding itu. Apa mungkin ada semut atau hewan lainnya?

"Itu, kak. Anak tu. Ndak ada kaki. Ndak ada tangan," ujar si kecil seraya menunjuk dan tertawa. 

"Hah?" 

Aku nenoleh berkeliling. Hingga mataku berhenti di kaca kamar mandi.Samar-samar,  dapat kulihat bayangan itu. Seorang anak kecil tak bertangan, tak berkaki. Kuyup tersiram. Ia tertawa dengan bibir yang hampir merobek wajahnya. 


Senin, 06 Oktober 2025


Komentar

Postingan Populer