Fiksi Mini: Nek Ana
Oleh: S. N. Aisyah
Saat itu, magrib menjelang. Aku dan kawan-kawanku tengah asyik bermain. Tidak menyadari bahwa matahari sudah menyerupai semburat merah-oranye. Suara burung wak-wak menggema dari jauh. Mendengar teriakan ibuku yang memanggil pulang, kami segera bergegas menyudahi permainan lomba memanjat, meninggalkan halaman belakang Nek Ana. Rumah Nek Ana hanya berjarak dua rumah dari rumahku.
Teman-temanku berlari kencang, sebab, di kejauhan Ibu mereka telah datang membawa sapu lidi. Aku yang memanjat pohon paling tinggi, turun belakangan. Mendapati sendalku tak ada di bawah sana. Kebingungan, kutelusuri halaman belakang yang penuh pohon itu. Begitu tiba di tepian lereng, di arah selatan rumah Nek Ana, kulihat Nek Ana sedang berdiri di sana, di tepi lereng, membelakangiku.
"Nek, nampak sendal Adi, Nek?" tanyaku dengan sesopan mungkin.
Nek Ana hanya diam, jarinya menunjuk rumahnya. Atau lebih tepatnya, pintu samping rumahnya. Begitu mataku menjatuhkan pandangan di sana, tampak Nek Ana yang tengah berdiri di depan pintu itu, hendak menutupnya. Pandanganku gelap seketika.
Kamis, 30 Oktober 2025
Komentar
Posting Komentar