Mental Health

Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpustakaan Soeman H.S., Riau. 

Dokter Susana Pebri, M. Psi., seorang dokter spesialis kesehatan mental dari Rumah Sakit Santa Maria Pekanbaru berkata, "Manusia tidak pernah terlepas dari gangguan mental atau gangguan jiwa."

Gangguan jiwa bukan berarti hanya gila atau hilang akal. Gangguan jiwa ada tingkatannya. Mulai dari gangguan mental ringan, seperti stres ringan hingga gangguan jiwa berat seperti skizofrenia, delusi, depresi berat, dan sebagainya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa gangguan jiwa merupakan sebuah spektrum. Dari yang paling ringan hingga yang berat. Gangguan jiwa berat disebut sebagai psikotik. 

Lalu, bagaimanakah jiwa atau mental yang sehat itu? Kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan individu sehingga ia dapat menyadari potensinya sendiri, mengatasi tekanan hidup secara normal, berfungsi atau bekerja secara produktif, dan berkontribusi pada komunitasnya. (WHO: 2022)

Kesehatan mental berkaitan erat dengan keseimbangan kondisi emosional, psikologis, dan sosial seseorang sehingga ia dapat berfungsi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. 

Salah satu gangguan mental yang umum dan pasti dirasakan oleh setiap individu adalah stres. Setiap individu pasti pernah mengalami gejala stres. Stres sendiri didefinisikan sebagai reaksi yang timbul akibat situasi yang mengharuskan individu untuk beradaptasi. Pemicu stres sendiri terbagia tas dua, yaitu pemicu internal, seperti: ekspektasi, keseimbangan dalam hidup, konflik peran pribadi, dan sebagainya. Berikutnya adalah pemicu eksternal, seperti: situasi keluarga, kondisi lingkungan, tanggung jawab yang harus dipikul, dan sebagainya. 

Apakah stres itu sepenuhnya buruk? Stres dapat menjadi baik atau buruk tergantung pada takarannya dan kesanggupan individu. 

Spektrum stress dapat digambarkan sebagai berikut.


Dari gambar tersebut dapat kita ketahui bahwa berdasarkan reaksi yang dikeluarkan oleh tubuh, stres terbagi atas dua jenis, yaitu distress dan eustress. Distress adalah kadar stress yang tidak sehat. Seperti yang ditunjukan pada bagan tersebut, terlalu sedikit stres akan mengakibatkan ketiadaannya kreativitas, munculnya bosan, kelelahan, dan perasaan tidak puas. Di sisi lain, kadar stres yang terlalu banyak hingga burn out, juga akan menghasilkan kecemasan, serangan panik, marah, lelah ekstrim, dan memicu penyakit lainnya. 

Namun, kita tetap memerlukan stres untuk dapat berkembang. Sebab, kadar stres yang tepat (optimum stress) atau eustress akan menghasilkan kreativitas, progres, motivasi, perubahan, dan insentif atau dorongan untuk bergerak. 

Jika digambarkan dalam diagram kurva, maka dapat kita lihat sebagai berikut:


Penting bagi kita untuk mengelola stres demi terjaganya kesehatan mental. Kenalilah gejala dini atau reaksi tubuh yang dirasakan terhadap kadar stres dalam diri kita. Sebab, penanganan yang tepat dan cepat akan meningkatkan kemungkinan untuk segera sembuh. Gangguan mental yang ditangani dengan tepat dapat sembuh selama bukan berupa gangguan jiwa organik, yaitu, ganguan mental yang dikarenakan adanya kerusakan pada organ. Contohnya seperti dementia. 

Lalu apakah yang harus dilakukan saat mengalami stres? Pengelolaan stres dapat dilakukan dengan memprioritaskan self care, membuat batasan yang sesuai (set boundaries), mengelola ekspektasi, menjaga relasi sosial, dan menciptakan hubungan yang positif. 

Perlu dipahami bahwa setiap orang unik dan memiliki perbedaan dalam perspektif, pengalaman, pengetahuan, serta jalan hidupnya. Pengelolaan stres setiap individu tidak dapat disamaratakan semua. 

Berikut ini beberapa contoh bentuk self-care yang dapat dilakukan untuk mengelola stres:

1. Tidur yang cukup

2. Lakukan hobi

3. Bertemu teman di luar pekerjaan 

4. Olahraga

5. Konsumsi makanan yang sehat (selain makanan enak)

6. Bersikap asertif, yaitu mengutarakan perasaan tanpa melukai orang lain.

7. Rutin relaksasi atau terapi

Salah satu terapi yang dapat dilakukan ialah melalui kegiatan membaca atau disebut juga dengan bibliotherapy.

Bibliotherapy adalah terapi seni kreatif yang memanfaatkan membaca buku untuk dapat membantu anak dan orang dewasa melewati pengalaman emosional. 

Jenis dan media baca bisa berupa apa saja. Bisa berupa puisi, esai, fiksi, non-fiksi. Bisa berupa buku cetak, bergambar atau e-book. 

Terapi membaca ini diharapkan dapat membantu dalam proses memahami dan mengelola emosi melalui menyelami karakter tokoh (dalam buku fiksi) atau bahkan dapat menjadi sarana edukasi tentang kesehatan mental ( dalam tulisan nonfiksi)

Bibliotherapy tak terpaku dalam satu jenis bacaan atau kegiatan membaca. Adapun jenis-jenis Bibliotherapy dapat dilihat pada gambar berikut :


Self care setiap orang berbeda-beda, begitu juga dengan batasan yang dapat ia toleransi, ekspektasi dan kemampuannya untuk memenuhi atau mengelolanya, kondisi relasi sosial, dan hubungan yang dimiliki tidaklah sama antara satu orang dengan  orang yang lainnya. 

Jangan lupa untuk mengevaluasi self care, ekspektasi, batasan, serta koneksi yang kita jalani. Lihat apakah pilihan kita terhadap hal-hal tersebut menghasilkan progres atau tidak. 

Jika cara A bekerja untukmu, belum tentu untuk orang lain. Begitu juga sebaliknya. Perlu diingat lagi, penting untuk memahami perbedaan berdasarkan keunikan individu dan menghindari penghakiman terhadap individu yang sedang mengalami gangguan mental. 

Terakhir, pesan dari Dokter Ana:

"Kita adalah manusia yang berdampak, namun, yang paling utama kita berdampak pada diri sendiri." 

Senin, 13 Oktober 2025

05.49 WIB

Komentar

Postingan Populer