Thought: Halo, Oktober! Nice To Meet You.

Welcome Oktober! There's so many beautiful things born in Oktober. Like rains. Anyway. 

Beberapa rubrik BPMC tidak di publish karena telalu personal dan tidak memiliki insight yang significant untuk orang lain. Ah, ini juga terlalu personal. Anyway. 


Kemarin, menyempatkan diri mengikuti dua seminar. Membuat saya menyadari beberapa hal. Dari dua seminar ini, ada dua kutub yang berbeda tetapi saling melengkapi sudut pandang (yang mungkin sangat sulit untuk direkam dalam tulisan ini). Seminar-seminar ini (sekurangnya ada 10 seminar dan workshop dalam 4 hari) adalah rangkaian festival literasi yang diadakan di Pustaka Soeman H.S.. Bersifat umum dan gratis dengan kuota terbatas. 

Pada seminar pertama, perbedaan generasi terlihat nyata  sebab pesertanya memiliki rentang usia yang beragam, kira-kira dari usia 15 ke 40 something. Pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang peserta membuat saya terharu  dan menganggap bahwa itu sangat menggemaskan. Generation gap is real. Generasi awal milenial di Indonesia mungkin belum begitu terpapar dengan isu-isu mental health.  Sementara di sisi lain, remaja usia sekolah menengah  saat ini sudah mengikuti seminar mental health. Fascinating. Awarness yang baik jika diarahkan dengan baik. 

Yang membuat menarik adalah dalam seminar yang dimaksudkan untuk membicarakan "isu kesehatan mental di dunia kerja sebagai prioritas bukan pilihan" ini, audiens yang beragam menyebabkan pergeseran atmosfir dalam seminar yang tidak lagi berfokus pada dunia kerja sebab banyaknya peserta yang masih berusia remaja. Jika mengikuti preferensi pribadi, hal ini agak disayangkan. Namun, melihat secara keseluruhan ini merupakan angin segar dalam kepedulian terhadap kesehatan mental sejak dini. 

Adanya pergeseran tema membuat studi kasus yang dijabarkan lebih luas. Ini kurang-lebih memberikan insight yang beragam--meski tidak dalam--dengan penjabaran materi yang jelas dan tepat sasaran berdasarkan audiens. Saya mengagumi cara narasumber, Dokter  Ana, yang dapat bermanuver dan beradaptasi, mengatasi perubahan itu dengan cakap meskipun tentu saja tidak sempurna dengan perencanaan yang sudah ada. Rasanya ini sangat berharga mendapat contoh langsung pengolahan stress yang baik dari seorang praktisi kesehatan mental. 

Seminar kedua terkait dengan Publik speaking. Narasumbernya seorang wanita muda berusia 32 tahun, Mbak Fia. Sangat kagum dengan cara beliau berbicara dan menyampaikan materi kepada audiens yang sebagian besar adalah kaum muda gen-z. Beliau mengatakan bahwa publik speaking bukan hanya tentang apa yang akan kita sampaikan tetapi juga bagaimana cara kita menyampaikan sesuatu. Teori visualisasi diri juga dibutuhkan dalam skill public speaking. Bagian yang sangat saya sukai adalah pernyataan bahwa good speaker itu harus memiliki wawasan yang luas, make sense. Ini menentang anggapan bahwa seorang public speaker yang penting jago ngomong. 

Banyak sekali insight yang bisa didapatkan hanya dalam satu hari. Alhamdulillah. Semoga saya bisa tuliskan insight dari dua seminar tersebut dalam tulisan terpisah. 

Sudah dulu. 

03 Oktober 2025

Komentar

Postingan Populer