Book: Kekuasaan dan Keadilan dalam Tangis Rembulan di Hutan Berkabut
Oleh: S. N. Aisyah
Judul : Tangis Rembulan di Hutan Berkabut
Penulis : S. Prasetyo Utomo
Penerbit : H2O Publishing
Tahun : Cetakan I, Februari 2009
ISBN : 978-979-19367-0-5
Tangis Rembulan di Hutan Berkabut di tulis oleh S. Prasetyo Utomo, seorang sastrawan kawakan Indonesia yang tulisannya kerap bersileweran di media massa sejak ia menjadi mahasiswa hingga menjadi dosen di perguruan tinggi. Kepiawaiannya dalam menuliskan keresahan dalam masyarakat terekam jelas dalam Novela ini.
Panji, seorang wartawan yang baru saja hengkang dari tempat kerjanya memilih untuk mengunjungi saudaranya, Mas Gun yang tinggal di daerah pedalaman. Siapa sangka keinginannya untuk menenangkan diri dari riuh kota dan patah hati akan idealisme dalam bekerja--yang tak lagi sejalan dengan kantor lamanya--malah membawanya pada keresahan lain yang mesti ia lawan dalam perjuangan. Bahkan, setelah ia tinggal jauh di pedalaman desa, di perut hutan sekalipun, kebusukan dunia mengikutinya.
Dalam pertapaan sunyinya itu, Panji melewati banyak hal. Ia lagi-lagi menyaksikan betapa keadilan dapat digilas oleh para penguasa dan pengusaha. Tak hanya itu, di kedalaman hutan, Panji juga menemukan dinamika karakter manusia, kesemerawutan moral saat manusia dihadapkan dengan hasrat dan kesenangan yang didambakannya. Pemuda itu juga mendapatkan pelajaran berarti akan cinta, pengkhianatan, dan keikhlasan. Ia akhirnya juga dapat mengenal sosok Mas Gun, kakaknya yang dahulu minggat dari rumah.
Konflik-konflik internal dan interpersonal dalam novel ini disajikan dengan gaya santai namun menohok. Bahasa yang lugas dan sesekali poetic menghiasi perjalanan kita dalam merenungkan nasib hutan yang dikelola menjadi kota modren dan nasib warga di daerah hutan tersebut yang menyayat hati.
Penduduk desa tengah bersitegang dengan para penguasa dan pengusaha yang bersepakat untuk membuka hutan menjadi kota baru. Mereka dipaksa tunduk dengan merendahkan martabat mereka sebagai seorang manusia, dibayar hanya dengan kesenangan fana yang bersifat sementara. Sedangkan yang tak tunduk diancam sedemikian rupa hingga disakiti, jika memang diperlukan. Lahan-lahan penduduk desa dirampas dengan keji.
Mereka yang melawan, ditangkap dan dipenjarakan, sehingga tak lagi ada yang berani melawan. Tidak seorang pun kecuali Lik Sukro dan Mas Gun. Dua pejuang tangguh, Lik Sukro yang kehilangan akal sehatnya dan Mas Gun yang dengan teguh memegang amanah sebagai polisi hutan memberikan kita pelajaran akan arti memperjuangkan kebenaran, keteguhan hati mempertahankan apa yang kita percayai, tak peduli dibayar seharga apa.
Banyak sudah tulisan yang mengangkat tema keadilan di mata para penguasa. Namun, di setiap tulisan itu, kita selalu saja menemukan hal baru, sudut pandang baru, dan juga pembelajaran sama dengan pengemasan yang baru. Membahas tentang keadilan, tidak pernah membosankan, terutama bagi manusia yang rindu akan keadilan tersebut. Mungkin dengan membaca novela Tangis Rembulan di Hutan Berkabut Ini, kita akan kembali menyiram nurani tentang nilai-nilai kemanusiaan yang kerap kita damba.
Komentar
Posting Komentar