Apa dan Mengapa

Perjalanan hidup ini begitu melelahkan. Tidak ingat kapan terakhir kali hidup terasa begitu menyenangkan dan menarik. Apakah ini proses dari menemukan jati diri sebenarnya atau kembali pada diri sendiri? 

Tiba-tiba saya teringat, dulu, saat masih kanak-kanak betapa selektifnya dalam banyak hal. Tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Tidak mengikuti arus tetapi bukan berarti selalu memilih jalan yang berbeda. Hanya memilih dan mengikuti hal yang sesuai dengan nilai dan pandangan. Tidak tertutup secara pikiran tetapi sangat tegas secara pendirian. Tidak takut menyuarakan pendapat tetapi sangat menyimpan perasaan dalam-dalam. Tidak mengambil hal-hal secara personal namun saat memberikan sesuatu selalu secara personal. Selalu tahu apa yang saya mau dan apa pendirian saya dalam memilih untuk melakukan atau tak melakukan sesuatu. Tahu apa yang saya suka dan tidak suka. Fokus pada solusi meski keadaan saat kacau dan sangat tertekan. 

Namun, bukan berarti benar secara keseluruhan, tentu saja saat masih kecil banyak juga hal-hal buruk yang tak patut lagi dibawa. Seperti kurang disiplin, keras kepala, kurang sabar, kadang meledak, dan bersikap dingin, berlebihan, bahkan keterlaluan. Hidup secara pilot. Keputusan sadar diambil saat terjadi kejadian tertentu. Ceroboh. Cemas berlebihan dalam beberapa hal. Secara berlebih-lebihan selalu takut menyakiti orang lain. Negatif thinking. Selalu memikirkan kemungkinan terburuk, amarah yang konstan, rendah diri, namun juga tak terlalu begitu emosional? Tidak dapat mengingat beberapa hal dengan baik tetapi bisa menyimpan beberapa hal dengan sangat lama. 

Most of the time, saat kecil hingga masa awal menjadi mahasiswa, saya tak terlalu ingat kejadian sehari-hari (seperti makan dan sebagainya) dan tidak menikmati obrolan basa-basi. Tidak terlalu dapat merasakan emosi positif seperti kebahagiaan dan keceriaan yang bertahan lama tetapi memiliki semangat dan ambisi yang disimpan rapat dalam diri. Berpikir positif dan realistis meskipun saya memiliki kecenderungan negatif thinking, insecure, dan selalu melihat kemungkinan terburuk. Memang saat itu raanya begitu mudah untuk fokus mencari solusi tetapi sangat tidak disiplin untuk dapat mengerti cara kerja dunia. Dengan kata lain naif. Sangat naif dan bodoh. 

Saya tak begitu pandai menelusuri diri secara personal di masa lalu. Jika ditanya bagaimana hidup saya di masa lalu, saya akan menjawabnya biasa saja, sangat datar. Saya bisa menceritakan apa yang terjadi tapi tak mengingat perasaan saya akan hal tersebut. Namun, di satu sisi, sayangnya di saat yang sama, tak banyak yang dapat saya ingat dan ceritakan. 
Anehnya, sekarang, jika saya melihat kembali ke masa lalu saya menyadari bahwa hidup saat itu menyenangkan. Anehnya itu terasa seperti hidup meskipun begitu datar. Anehnya saya tak bosan meskipun hidup saya dikatakan membosankan.

Sekarang, saya dapat merasakan banyak hal dan emosi. Hidup tak lagi terasa datar, namun saya sangat bosan. Hingga pada titik tak lagi menginginkannya. Ya, saya pernah berpikir begitu. Saya tak menyukai hal ini. Perasaan-perasaan ini. Meskipun sedari kecil saya dikatakan sebagai anak yang sensitif, namun, saya tak pernah merasa begitu. Saya tahu saya bukan hanya baper saat melakukan apapun ketika itu. Sekarang, sangat berbeda. Saya dapat merasakan banyak hal seperti hidup dan menggerogoti dari luar dan dalam dan ini sangat menggangu. Sangat menggangu. Saya menjadi sangat sadar dengan perasaan saya dan saya sangat membencinya. Hidup saya konstan, datar, namun perasaan saya seperti rollercoaster. Pikiran saya tak lagi berfungsi seperti dulu. 

Saya terkurung dalam loop pikiran dan sangat sulit fokus mencari solusi. Saya tak tahu apa yang saya sukai dan apa yang saya inginkan. Saya tak lagi mengenali diri sendiri. 

Bukankah menyenangkan rasanya saat kita tahu apa yang kita mau dan tahu siapa diri kita? 

Hilang dan tersesat adalah kata yang sangat tepat menggambarkan diri saya saat ini.  Apakah ini kemunduran atau tahap untuk menjadi diri yang baru? 

Komentar

Postingan Populer