A Brand New Shit  Sheet

Udah ganti tahun aja. Banyak belajar dari tahun kemarin. Setidaknya 2025 nggak menjelma The Stranger dari Camus. It's kinda but it's not.  Dengan kata lain, 2025 mengizinkan kita duduk dengan berbagai macam perasaan yang mungkin belum dapat dimengerti-- dan meminta didengar. 

Pergantian tahun, kerap menjadi 'milestone' bagi manusia untuk memulai atau meraih sesuatu. Sebab itulah lahir bebagai macam resolusi tahunan. Di satu sisi, ini dapat dipahami. Sebab pergantian dan perguliran waktu berkaitan erat dengan keselarasan  hidup manusia dalam kelompok dan alam sekitarnya. Akan tetapi, di sisi lain, waktu berupa relativitas bagi setiap individu sehingga menjadikan pergantian tahun atau periode waktu tertentu sebagai milestone untuk memulai atau meraih sesuatu menjadi tak relevan dalam beberapa kondisi. Misalnya saja, untuk berubah menjadi baik. Kita tak perlu menunggu tahun depan untuk melakukan suatu perubahan. Tak perlu menunggu waktu tertentu untuk belajar dan memperbaiki diri. 

Begitu juga untuk mengubah, menambah, memperluas, dan memperdalam perspektif terhadap goals atau resolusi tahunan. Tak sedikit dari kita yang bersemangat untuk merumuskan berbagai macam resolusi tahunan dan  goals-goals tertentu yang ingin kita capai saat memasuki tahun yang baru. Semangat itu mungkin akan menyala di awal-awal, tetapi banyak juga yang kehilangan nyala apinya di tengah jalan Sehingga saat semua resolusi itu mandek, usaha dan semangat untuk mewujudkannya juga dibekukan. Kehilangan momentum dan semangat kerap membuat sebagian dari kita kehilangan fokus untuk mencapai milestone kita itu bahkan mengabaikannya sama sekali. Tak jarang resolusi tahunan hanya menjadi omong kosong tahunan lainnya.  

Itu semua dapat terjadi jika kita mengungkung pergerakan, perubahan, semangat kita dalam perspektif waktu tertentu. Seolah-olah jika kita melewatkan satu momentum, maka kita telah gagal sepenuhnya. Padahal, waktu sendiri bersifat relatif bagi setiap individu.  Seperti definisi kesuksesan dan keberhasilan hidup, tak ada batasan kaku mengenai periode waktu yang diharuskan untuk memenuhinya. Tak batasan kaku yang dapat mendefinisikan apa, siapa, bagaimana, mengapa, di mana, dan kapan sesuatu itu disebut sukses atau berhasil. 

Orang-orang mengatakan bahwa setiap hari adalah lembaran baru untuk dapat mencoba lagi. Bagaimana kalau kita katakan bahwa setiap kesadaran adalah lembar baru untuk kita dapat memulai lagi? Entah itu  dalam kurun tahun, minggu, hari, jam, bahkan detik sekalipun? Jadi, saat kita menyadari ada hal yang salah, ada sesuatu yang tak berjalan dengan baik, di saat itulah keputusan ada di tangan kita. Apakah kita akan mengungkung diri dalam perspektif kaku berputaran waktu atau kita dapat menjadikannya lembar baru untuk belajar, memperbaiki, dan memulai lagi. 


20:43
01 Januari 2026 

Komentar

Postingan Populer